Christmas

Benar ngak sich TUHAN YESUS lahir pada tanggal 25 Desember?

nggak bener sister, jangankan itu, tahun berapa Tuhan lahir, itupun sangat sulit ditentukan, apalagi tanggal persisnya.

jadi perayaan tanggal 25 Desember itu bukan merayakan :“tanggal lahirnya” tetapi MERAYAKAN LAHIRNYA.

jadi bolehkah anda merayakan KELAHIRAN TUHAN YESUS bukanpada 25 Desember ??? wah sangat boleh sister, yang berguna bagi kita adalah KITA MENGINGAT DAN BERSUKACITA BAHWA ALLAH MAHA KUDUS berkenan mengunjungi riumah kita yang berdosa dan jorok ini, dan mau mencuci kudus dengan darahNYA.

jadi kalo sista mengajak pendeta anda merayakan Natal pada tanggal 11-11-11 [mantap tanggal nomor cantik :slight_smile: ] maka siapapun tidak dapat mengkritik sister dan jemaat sister … dan tidak ada tapi-tapian … :smiley:

nah sekarang MENGAPA 25 DESEMBER???

jawabnya … ya hitungt-hitung kita menyatukan dengan kebahagiaan pendahulu-pendahulu kita dan angkatan masa kini dan masa depan yang bersaksi dalam sukacita pada tanggal yang sama …

jadi jika semua Kristen dunia menggeser Natal ke tanggal 17 Agustus wah hebat bagi Indonesia … tetapi tidak asyik bagi orang Tomor Leste … jadi kita sepakatlah, oke karena harinya no problem, maka baiklah gereja saya ikut tanggal semua gereja Katolik dan gereja Protestan Eropa sudah lakukan … no problemo at all, bahkan ini lebih baik, karena kesaksian kita sedunia menjadi lebih semarak …

ada tuduhan paganisme disini ??? hehehehehe bukankah kita sudah sepakat bahwa soal hari adalah no problemo ???

:smiley: oke sis ? :smiley:

salam kenal —> Petra9

Setuju pendapat Petra di atas. Kita tidak tahu persisnya kapan hari dan tanggalnya Jesus dilahirkan, tetapi kita rayakan kelahiranNya dengan sukacita. Kita tidak tahu kapan Jesus akan kembali datang, tetapi kita menantikanya dengan sukacita.

Syalom

Aku hanya sedikit bingung. soalnya ada beberapa buku yang mengatakan bahwa tanggal 25 desember itu lebih tepatnya hari lahirnya dewa matahari dengan kata lain kita turut merayakan hari lahirnya dewa matahari donk…

@inkak

Sebenarnya, jika anda lebih rajin berjalan jalan di FK, anda sudah pasti akan menemukan jawabannya sis. Tetapi karena anda masih newbie, saya coba berikan saja jawabannya, agar mudah, ok.

Memang ada beberapa teori tentang asal mula Natal dan Tahun Baru. Menurut Catholic Encyclopedia, pesta Natal pertama kali di sebut dalam “Depositio Martyrum” dalam Roman Chronograph 354 [edisi Valentini-Zucchetti (Vatican City, 1942) 2:17). Dan karena Depositio Marrtyrum ditulis sekitar tahun 336, maka disimpulkan bahwa perayaan Natal dimulai sekitar pertengahan abad ke-4. Kita juga tidak tahu secara persis tanggal kelahiran Kristus, yang diperkirakan sekitar 8-6 BC. St. Yohanes Chrysostom berargumentasi bahwa Natal memang jatuh pada tanggal 25 Desember, dengan perhitungan kelahiran Yohanes Pembaptis. Karena Zakaria adalah iman agung dan hari Atonement jatuh pada tanggal 24 September, maka Yohanes lahir tanggal 24 Juni dan Kristus lahir enam bulan setelahnya, yaitu tanggal 25 Desember. (sumber: New Catholic Encyclopedia, Vol. 3: Can-Col, 2nd ed. (Gale Cengage, 2002), p.655-656.)

Dan banyak orang yang mempercayai bahwa kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember adalah berdasarkan tanggal winter solstice (25 Desember dalam kalendar Julian), karena pada tanggal tersebut, matahari mulai kembali ke utara. Dan pada tanggal yang sama kaum kafir /pagan berpesta “dies natalis Solis Invicti” (perayaan dewa Matahari). Pada tahun 274, kaisar Aurelian menyatakan bahwa dewa matahari sebagai pelindung kerajaan Roma, yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember. Hal ini juga berlaku untuk tahun baru, yang dikatakan berasal dari kebiasaan suku Babilonia. Dan semua itu adalah masih merupakan spekulasi.

Pertanyaannya, anggaplah bahwa data histori tersebut di atas adalah benar, dan pesta Natal diambil dari kebiasaan kaum kafir, apakah kita sebagai orang Kristen boleh merayakannya? Jawabannya YA, dengan beberapa alasan:
Dari alasan inkulturasi. Kita tidak harus menghapus semua hal di dalam sejarah atau kebiasaan tertentu di dalam kebudayaan tertentu, sejauh itu tidak bertentangan dengan ajaran dan doktrin Gereja dan juga membantu manusia untuk lebih dapat menerima Kekristenan. Essensi dari perayaan Natal ini adalah kita ingin memperingati kelahiran Yesus Kristus, yang menunjukkan misteri inkarnasi. Dan karena Yesus adalah terang dunia (Lih Yoh 8:12; Yoh 9:5), adalah sangat wajar untuk mengganti penyembahan kepada dewa matahari dengan Allah Putera, Yesus, Sang Terang Dunia. Dan karena Yesus adalah “awal dan akhir” dan datang “untuk membuat semuanya baru” (Wah 21:5-6), maka tahun kelahiran Kristus diperhitungkan sebagai tahun 1. Dengan ini, maka orang-orang yang tadinya merayakan dewa matahari, setelah menjadi Kristen, mereka merayakan Tuhan yang benar, yaitu Yesus. Dan orang-orang tersebut akan dengan mudah menerima Kekristenan dan sebaliknya Gereja juga tidak mengorbankan nilai-nilai Kekristenan.

Namun di satu sisi, Gereja tidak pernah berkompromi terhadap hari Tuhan, yang kita peringati sebagai hari Minggu. Disini Gereja tahu secara persis, kematian Tuhan di kayu salib jatuh pada hari Jumat dan kebangkitannya adalah hari Minggu. Pada masa gereja awal, ada yang memaksakan untuk mengadakan hari Tuhan pada hari Sabat (mulai hari Jumat sore sampai Sabtu malam). Namun beberapa Santo di abad awal mempertahankan bahwa hari Tuhan harus hari Minggu dengan alasan: 1) Yesus bangkit pada hari Minggu, 2) Yesus memperbaharui hukum dalam Perjanjian Baru dengan hukum yang baru. Dengan dasar inilah Gereja berkeras untuk mempertahankan hari Minggu sebagai hari Tuhan. Namun dalam kasus perayaan Natal, tidak ada yang tahu secara persis hari kelahiran Tuhan Yesus.
Kalau kita amati, manusia dalam relung hatinya, mempunyai keinginan untuk menemukan penciptanya.

Penyembahan kepada dewa matahari adalah merupakan perwujudan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada manusia, dalam hal itu adalah matahari, yang dipandang dapat memberikan kehidupan bagi mahluk hidup pada waktu itu. Namun sesuai dengan prinsip “grace perfects nature atau rahmat menyempurnakan sifat alamiah” (lihat St. Thomas Aquinas, ST, I, Q.1, A.8.), maka tidak ada salahnya untuk mengadopsi tanggal yang sama, dengan menyempurnakan konsep yang salah sehingga menjadi benar, dalam hal ini penyembahan terhadap dewa terang/matahari dialihkan penyembahan kepada Yesus, Sang Sumber Terang. Kalau kita perhatikan, tanggal 1 Mei adalah hari buruh sedunia (Labour day) yang disponsori kaum komunis, namun Gereja memperingatinya sebagai hari St. Yosep pekerja (ditetapkan oleh Paus Pius XII, tahun 1955). Gereja ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa St. Yosep seharusnya menjadi figur bagi para buruh, dimana dengan mencontoh figur St. Yosep, maka dunia dapat dibangun dengan lebih adil. Juga permulaan tahun baru, Gereja menjadikan hari tersebut perayaan “Maria, bunda Allah”.

Adalah baik untuk mempunyai tanggal tertentu (dalam hal ini 25 Desember untuk perayaan Natal), yang setiap tahun diulang tanpa henti sampai pada akhir dunia. Tanggal ini senantiasa akan mengingatkan kita akan kelahiran Yesus Kristus. Kalau kita mengadakan quesioner di seluruh dunia, dengan pertanyaan “Kita memperingati apakah pada tanggal 25 Desember?” saya yakin bahwa hampir semua jawaban akan mengatakan “Natal, atau kelahiran Kristus” dan bukan merayakan dewa matahari.

Untuk umat Katolik, dengan masa adven, Gereja menginginkan agar seluruh umat Katolik mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Sang Raja. Dari sini kita melihat bahwa Gereja justru menyuruh umat-Nya untuk berpartisipasi dalam persiapan Natal, yang jatuh tanggal 25 Desember.

Syalom

@bruce : thanks buat infonya… :slight_smile:

JBU :wink:

tanggal 25 tetap bersyukur karena kelahiran-Nya^^…
emmm bentar lagi nih… dah ndak sabar feel the spirit of christmas^^

Tgl 25 desember di tetapkan

GBU