Dalam Kemiskinan Haruskah Kita Cemburu?

Ide tulisan dari : Mengapa Mereka (bukan kristen) Juga Mendapat Berkat? - Diskusi Umum Kristen - ForumKristen.com
(Terima kasih kepada sis Alice, yang telah mengangkat ayat ini)


Orang Kristen susah? Jangan heran, memang demikianlah yang terjadi pada sebagian besar umat Allah. Tuhan YESUS tidak menjanjikan kita akan kaya raya. Cukuplah berkat yang kita terima untuk makan secukupnya. Bukankah memang hal ini yang selalu kita doakan dalam “Doa Bapa Kami” ?

Dan kalau ternyata doa kita tersebut terwujud, yaitu diberi makanan secukupnya… (bukan sekenyangnya) lalu mengapa lagi kita masih merasa kurang? Bukankah ini malah sesuai sekali dengan yang kita doakan? Saudara minta kue di kasih kue, apa yang salah? Kalau dikasih tempe baru salah. Bukankah begitu? Apa mungkin “Doa Bapa Kami” harus kita revisi sedikit, “berilah kami kekayaan yang melimpah” begitu…?

Saudara, kemiskinan yang mungkin kita diderita, janganlah dijadikan ukuran akan keimanan kita. Tidak ada kaitan apapun antara kemiskinan dan keimanan kita. Juga, janganlah dikaitkan dengan kemalasan kita. Karena tidak sedikit orang-orang yang miskin itu bukan karena kemalasan mereka, tetapi lebih sering karena kesempatan yang tidak mereka peroleh.

Jadi diharapkan, kita sebagai orang percaya jangan pernah lagi menghakim orang yang miskin dengan mengatakan karena dia malas. Tidak selamanya begitu saudara. Apalagi kalau saudara mulai mengait-ngaitkannya dengan keimanan seseorang… wah, bisa bahaya sekali. (menghakimi saja sudah tidak boleh apalagi kalau sudah menilai iman seseorang)

Gereja-gereja yang memiliki paham hedonisme mungkin mencoba mengaitkannya demikian. Tetapi sebagai umat Tuhan, kita seharusnya dapat memahami bahwa itu sama sekali tidak benar. Harus kita sadari bahwa Tuhan Yesuspun tidak memilih orang kaya sebagai “keluargaNya” selama di dunia ini. Padahal tidaklah susah bagi Tuhan untuk melakukan itu.

Melihat orang lain sukses jangan membuat kita kecil hati apalagi sampai merasa iri.

Saya pernah melihat satu film yang memberikan satu kata bijak. (saya sesuaikan sedikit)
“Menyangka teman kita hidup miskin, kita sedih. Tetapi melihat kenyataan teman kita jauh lebih sukses dari kita, kita lebih sedih lagi…” inilah ego kehidupan kita manusia.

Tidak sepantasnya kemakmuran orang dunia membuat kita - orang percaya - menjadi iri. Kalau kita mengalami pertumbuhan rohani, kita tidak akan lagi melihat hal duniawi sebagai ukuran. Jadi kalau sekarang saudara masih memiliki perasaan demikian, baik iri, cemburu ataupun merasa minder dengan kesuksesan seseorang, berarti saudara masih harus lebih banyak bersekutu dan mendalami Firman Tuhan. Carilah gembala dan saudara seiman yang dapat mendewasakan iman saudara.

Saudara pada dasarnya tidak sendirian dalam menghadapi semua perasaan itu. Pada dasarnya kita manusia memang tidak dapat lepas dari perasaan demikian jikalau kita tidak mengerti apa rencana Tuhan bagi kita. Karena itulah kita perlu memahami apa sebenarnya yang Tuhan inginkan dari kita. (saya tidak berbicara tentang orang Kristen yang kaya. Tetapi orang Kristen yang miskinlah yang saya fokuskan dalam hal ini).

Tentang perasaan iri dan cemburu ini, kita akan mendapatkan gambaran yang sangat baik dari Alkitab kita. Yaitu pada kitab Mazmur 73. Saya membagi dalam empat bagian dari ayat-ayat yang ada pada pasal ini.

Kemakmuran orang dunia yang membuat umat Tuhan iri.

Mazmur 73
73:1. Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.
73:2 Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.
73:3 Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.
73:4 Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka;
73:5 mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.
73:6 Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan.
73:7 Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan.
73:8 Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.
73:9 Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi.
73:10 Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah.

Kekecewaan umat Tuhan.

73:13 Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.
73:14 Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.
73:15. Seandainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu,” maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.
73:16 Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,

Jawaban dari Tuhan.

73:17 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.
73:18 Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur.
73:19 Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!
73:20 Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina.

Kesadaran umat Tuhan.

73:21. Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,
73:22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu.
73:23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.
73:24 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.
73:25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.

Inilah tuntunan yang paling baik bagi kita. Saat kita merasa iri dan cemburu pada dunia ini, sudah selayaknya kita mencari Tuhan dan bertanya… “Tuhan, apa rencanaMu bagi saya…??”

Ini jauh lebih baik dari pada yang dibiasakan sebagian orang dengan mencari-cari jawaban secara duniawi. Dengan kekuatannya sendiri.

Mazmur 73
73:16 Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku,

Tapi carilah jawabannya melalui jalan Tuhan

Mazmur 73
73:17 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah,…

Saat jawaban dari Tuhan kita terima, maka saat itu juga kita akan bersyukur kepadaNya. Sama seperti yang dialami oleh Asaf di atas demikian juga yang dialami oleh rasul Paulus dalam konteks yang sedikit berbeda. (Asaf berkaitan dengan hal duniawi tapi Paulus berkaitan dengan hal rohani)

Filipi 3
3:6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.
3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

Demikianlah saudara, menjadi miskin bukanlah dosa, bukan juga menunjukkan kadar keimanan saudara. Tetapi saat saudara memerlukan jawaban, maka carilah jawaban itu dari Tuhan, maka jika saudara telah mendapatkannya, saudara tidak akan lagi memandang kemiskinan atau kemalangan saudara sebagai sesuatu yang memalukan.

Tegakkanlah wajah dan yakinkan diri, bahwa Tuhan punya suatu rencana atas saudara dalam kemiskinan atau kemalangan saudara itu (sudah tentu hal ini bukan karena kemalasan dan kecerobohan kita yah?). bagaimana saudara bisa tahu akan hal itu? Bertanyalah kepada Tuhan sama seperti Asaf telah bertanya kepada Tuhan.

Jadilah kuat dalam keadaan saudara. Jangan pernah minder karena semua kekayaan duniawi. Sebab semuanya itu sama sekali tidak berharga di mata Tuhan. Semoga apa yang kita bicarakan ini dapat berguna bagi pertumbuhan iman kita masing-masing. Ambil pembelajaran yang saudara rasa perlu, buang yang saudara rasa tidak perlu.

Amin.
:slight_smile:

“Bukan seberapa banyak yang kita miliki tetapi seberapa banyak yang kita nikmati, itulah yang mendatangkan kebahagiaan.”

~Charles H. Spurgeon, Penulis

Bahwa semua manusia memiliki keinginan untuk dapat memiliki kekayaan itu adalah hal manusiawi sekali, bahkan Tuhanpun memproyeksikan kekuasaan bagi manusia dibumi. Akan tetapi manusia kan tidak sempurna, bisa saja kita sudah berbuat salah atau atas kita berbuat salah yang membuat proyeksi itu “tercuri”. Nah memahami ini diperlukan bagi setiap orang percaya dan kenyataan bahwa Dia memberikan kepada siapa Dia mau berikan.
Apakah kita harus cemburu? Jelas tidak.
Apakah kita boleh meminta kehidupan kita berkembang? Jelas boleh.
Apakah kita harus tetap menerima dengan apa yang ada meskipun mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita doakan. Karena berkat kita tidak tahu datangnya.

Kenapa orang percaya menjadi cemburu atas kekayaan orang lain?? Lingkungan, kemarin malam diTV ada talkshow, dimana disana salah satu orang menyatakan, “subsidi itu amanat uud yang tidak memandang status sosial, karena semua rakyat disebut disana.” Nah kalau kita mau jujur, benar apa yang dinyatakan oleh sumber tersebut, ketika pemerintah menyatakan “orang2 kaya -menikmati- apa yang tidak seharusnya bagi mereka”, hal ini menimbulkan suatu pola pikir, “orang kaya jahat”,… Nah ini pembentukan pola pikir kecemburuan, kemarahan, dst… Nah lingkungan membentuk pola pikir.

Kedua, banyak atau mungkin sebenarnya semua gereja, menyatakan bahwa “berkat adalah bentuk kehadiran Tuhan dalam kehidupan seseorang”. Ini timbul pemikiran bahwa yang tidak mendapat berkat banyak tidak dibela Tuhan. Secara tidak sengaja, gereja dan pengajar sendiri mendirikan tembok pemisah antara mereka yang diberkati dan mereka yang masih dibawah. Padahal Tuhan mengajarkan bahwa barangsiapa diberkati dia memiliki tanggungjawab untuk “mengangkat yang belum terberkati”… Tapi kan kalau menyatakan ini kan menyatakan “kebijakan atau ajaran tidak populer”…

Ketiga, jangan hanya kita salahkan mereka yang mengajar dan yang sudah kaya. Tapi coba kita lihat diri yang belum sukses sendiri, kita sendiri seringkali "sangat senang dibuai dengan janji janji mimpi “para motivator”. Kalau kita tunjukan bahwa kita gak butuh “motivator”, tapi butuh pelayan Tuhan, mungkin juga semua bisa juga berubah. (Tapi ini manusiawi juga, siapasih yang gak mau berhasil? Siapasih yang gak mau dimotivasi? Tetapi kadang itu tidak menjadi madu tetapi racun karena kenyataannya berkat diberikan semau Tuhan, bukan dengan syarat2 tertentu, meskipun memang ada janji…

Orang yang kaya adalah orang yg selalu mensyukuri.

Orang yg miskin adalah orang yg selalu merasa kurang.

Kalau dengan apa yg sudah dimiliki masih merasa kurang,… maka… akan selalu merasa kuranglah dia.

Punya mobil, masih kurang … bilang mobil butut (padahal dibandingkan gelandangan, jelas dia berlebihan)

dst.

memang demikianlah bro…balada manusia.

kecemburuan mau tidak mau bisa menghinggapi diri kita saat kita melihat orang lain bisa sukses… bahkan bila mereka saudara seiman sekalipun…

saat teman gereja kita membuka toko barunya… kita yang masih karyawan kecil jadi minder…
saat teman seangkatan kita lagi meresmikan rumah barunya… kita yang seangkatan dengan dia masih jadi “kontraktor”…
buntut2nya… rasa ingin seperti mereka timbul juga… akhirnya cuma bisa bergumam…“enak yah mereka…”

nah, disadari atau tidak, ini juga cemburu akan keberhasilan orang lain… buntut2nya nanti mulai membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain… “apa sih yang kurang dari saya kok dia diberkati saya tidak???”

sebenarnya… masih banyak sekali orang2 yg percaya YESUS beranggapan bahwa yang namanya diberkati itu artinya diberi harta duniawi… wah, dia lupa yang namanya berkat sorgawi… (mungkin hal ini juga terpengaruh dg banyaknya pdt.2 yg mengajarkan berkat itu adalah harta kekayaan dunia)

setiap ada orang buka toko baru… pdt di undang dan khotbahnya… “wah, syukurlah si A mendapat berkat dari Tuhan…”
besok lagi di undang untuk meresmikan rumah baru orang lain… khotbahnya " Wah, kita bersyukur kalau sekarang si B juga diberkati Tuhan…"

ini memang tidak salah…tetapi penekanan berkat dari Tuhan pada harta duniawi… dapat membuat org yg belum mendapatkan harta duniawi tersebut menjadi minder dan merasa belum di berkati Tuhan… gawat kan? mengapa gak di tekankan bahwa berkat itu lebih ke hal sorgawi…

gitu dech…!

dan…

Alkitab juga mencatat ternyata kecemburan dari umat Allah pun sudah terjadi di jaman dulu…
tinggal bagaimana kita mengatasi rasa cemburu itu… apakah dengan cara kita atau dengan cara yang telah ditunjukkan oleh si Asaf

salam :slight_smile:

Sejauh saya tahu sih hanya berpola pikir, “manusiakan manusia”, jangan disangkali, jangan dituntut dalam kesempurnaan, oraang pasti ada cemburunya, ya yang sudah bersyukur ya jangan hakimi saudaranya tapi ajarkan bersyukur atau kalau belum bisa ya arahkan kecemburuannya menjadi hal positif. Karena penghakiman tidak menjadikan orang menjadi lebih baik, malah cenderung tidak memanusiakan manusia. Itu aja sih.
Kalau ada pendapat berbeda ya silahkan saja, ya berarti kita beda, gak perlu terlalu dierdebatkan.

Shalom Aleykhem.

Yang miskinkan bakalan kepangkuan abraham,kenapa harus cemburu ???
mungkin yang kaya yang cemburu karena engga di pangku

GBU