Darah Mereka Tertumpah di Suriah

Presiden Bashar al-Assad, yang menghadapi tantangan di seluruh negeri karena gaya pemerintahannya yang otokrasi, mengirim pasukan keamanan ke Deraa dan dua kawasan lainnya di pinggiran Ibukota Damaskus yang memanas untuk menekan aksi protes. Kemarin pagi, di sekitar kota yang terkepung di Deraa, Suriah Selatan terdengar ledakan senapan dan artileri.

Menurut warga setempat, sekitar 4-5 ribu polisi dan tentara Angkatan Darat juga beberapa tank menutupi jalanan. Menurut Syrian Observatory for Human Rights, ada yang menembaki rumah-rumah warga selagi tidur. Banjir darah dimana-mana. Dalam dua hari terakhir ada 20 orang tewas. Meski begitu, tuntutan perubahan lewat demonstrasi tetap menyala. Organisasi pembela HAM Suriah, Sawasiah menyatakan polisi sudah menangkap 500 simpatisan pro-demokrasi di seluruh negeri.

Terkait Suriah yang berdarah, pemerintah Amerika Serikat kemarin (26/4) meminta warganya tak pergi ke negeri itu. Amerika juga memerintahkan staf non esensial di kedutaan besar di Damaskus untuk meninggalkan Suriah. Seorang diplomat PBB menyatakan Dewan Keamanan PBB yang disponsori Perancis, Portugal, dan Inggris mengutuk kekerasan dan mendesak moderasi. Draf itu didukung Sekretaris Jendral PBB, Ban Ki-moon yang mneyerukan suatu investigasi independent.

Sejak gelombang aksi protes melanda Suriah pertengahan Maret lalu, sudah lebih dari 400 nyawa melayang akibat kekerasan pasukan keamanan. Perang melanda negara-negara yang rakyatnya menginginkan pemerintahan baru, pemerintahan yang tidak diktaktor. Darah dari 400 orang lebih tertumpah ke tanah Suriah, ribuan lainnya di tanah Mesir, Afghanistan, dan negara-negara yang berbeda. Berapa banyak darah lagi yang akan tertumpah?

Source : berbagai sumber/lh3