Demi Keselamatan, Orangtua Ramai-ramai Lempar Anak

Sejumlah penumpang terjun ke laut dan para orangtua memindahkan anak-anak mereka saat sebuah feri yang mengangkut lebih dari 1.000 orang tenggelam pada tengah malam, Minggu (6/9), di perairan Filipina selatan. Sembilan orang tewas dan lebih dari 30 orang belum diketahui nasibnya dalam kecelakaan ini.

Sekitar 900 orang berhasil diselamatkan dari Superferry 9 kemarin pagi setelah salah satu sisi kapal ini miring di posisi 15 kilometer dari lepas pantai provinsi Zamboanga del Norte.

Kepala pengawal pantai Laksamana Wilfredo Tamayo menjelaskan terbaliknya feri ini mengejutkan sejumlah penumpang dari tidur mereka. Rasa takut yang mencekam itu pula yang mendorong banyak penumpang terjun ke laut yang tampak pekat di tengah kelamnya malam.

Salah satu penumpang Reymark Belgira mengaku banyak orangtua melemparkan anak-anak mereka ke sekoci yang berada di bawah feri. Sementara Belgira sendiri tetap bertahan di atas kapal.

“Saya bertahan di atas feri selama beberapa jam sampai fajar menyingsing. Saya tidak bisa terjun ke air di tengah malam,” jelas Belgira.

Tim penyelamat berhasil memindahkan 926 dari 968 penumpang dan awak kapal ke 2 kapal komersil terdekat, sebuah kapal angkatan laut dan kapal penangkap ikan. Upaya pencarian masih dilakukan terhadap 33 orang yang belum diketahui nasibnya dalam kecelakaan yang juga belum diketahui penyebabnya.

Kecelakaan angkutan laut umumnya terjadi di kepulauan Filipina karena badai tropis. Tahun lalu, sebuah feri terbalik setelah diterjang oleh topan berkekuatan besar sehingga menewaskan lebih 800 orang yang menumpangi kapal itu di Filipina tengah.

Pada Desember 1987, feri Dona Paz tenggelam setelah bertabrakan dengan sebuah tanker bahan bakar sehingga menewaskan lebih dari 4.341 orang. Kecelakaan di Filipina itu termasuk kecelakaan terburuk di dunia.

terangdunia