Denominasi disahkan oleh Allah, pribadi, ataukah pemerintah?

Apakah ada yang punya pendapat tentang siapa yang melegalkan suatu denominasi? Allahkah, atas nama pribadikah, atau pemerintah setempat?

Terimakasih.

waduh bingung juga bro untuk menjawab…
hahahaahaha

Makanya saya tanya bro, hehehe…
Kalo yang saya terawang sih, pemerintah kayaknya. Apalagi di Indonesia ini. Herannya kalo mazhab dalam Islam, entah Sunni, Siah, Sufi dll, tidak perlu legal-legalan. Buddha juga tidak ada pembedaan antara Theravada, TzuChi, Maitreya dll. Tapi kalo Kristen koq dibedakan antara Katolik dan Protestan?
Negara koq ngatur agama?

waduh… iya juga yah…
tapi ada sebagian orang yang berpendapat bahwa “denominasi itu tidak masalah asal tetap pada Kristus”, artinya yang melegalkan beberapa “pribadi” atau manusianya sendiri.

begitupun saya heran, bahwa Tuhan Yesus mendirikan Gereja, bukan Denominasi, artinya Tuhan Yesus tidak pernah membuat sebuah denom…
kembali, yang membuat atau melegalkan denominasi ini adalah “pribadi” atau manusianya sendiri…

mungkin ada pemikiran lain lagi…

Indonesia adalah negara dengan ideologi Pancasila, dimana menempatkan dirinya sebagai yang menjembatani berbagai agama untuk mengayominya, bukan untuk menentukan dan mengatur kepercayaan masing-masing agama.

Jadi adanya denominasi bukan pemerintah yang menetapkan. Diakuinya agama-agama di Indonesia secara hukum hanyalah bentuk pencatatan. Silahkan baca arti dan maksud denominasi dalam Kekristenan agar jelas disini http://id.wikipedia.org/wiki/Denominasi_Kristen

Jika ingin tahu daftar denominasi yang ada, silahkan buka disini http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_denominasi_Kristen

Denominasi ada dengan sendirinya bersamaan dengan terbentuknya organisasi gereja, yang dibedakan dari pengajarannya masing-masing.

Sebutan mudah untuk denominasi adalah aliran. Aliran agama Kristen.

Apakah itu berarti negara mendasarkan otoritasnya pada pendapat pribadi? Tapi seperti mazhab agama lainpun banyak yang atas nama pribadi bukan? Mazhab TzuChi misalnya, pendirinya masih hidup hingga kini. Mazhab ini tentunya punya perbedaan dari mazhab lain karena jika tidak beda, tidak perlu pake nama lain selain agama Buddha.

“Keputusan lain menyangkut kode etik. Umat Buddha sekalipun menganut sekte yang berbeda, merupakan keluarga besar dengan satu Guru Agung yang sama.”

http://buddhayana.or.id/spirit.php?page=5

Kalo disini,

Kristen protestan dan Kristen katolik adalah 2 agama yang berbeda.

oleh karena itu saya BINGUNG.

dan pada kesimpulan saya, lebih tepatnya manusia yang melegalkan “denominasi” itu.

Itu sekedar pencatatan agama yang resmi diakui berdasarkan organisasi yang mewakili mereka.

Karena KWI tidak termasud gereja-gereja protestan, pentakosta, babtis dan lain-lainnya, maka untuk mewakili yang lain, pada tahun 1949 dibentuklah PGI yang menyatukan seluruh gereja diluar gereja katolik.

Jadi jangan heran kalau dicatat hanya dua Kristen, bukan puluhan aliran Kristen.

Sedangkan Islam di Indonesia hanya satu golongan, sunni doang. Syiah baru masuk tahun 1990-an. Jika keduanya ada mungkin agama Islam yang resmipun akan ada dua. Juga dengan Ahmadiah. Secara hukum negara ini sebenarnya wajib melindungi dan menaungi mereka dan tidak ikut menentukan doktrin (lihat berita).

Hindu juga ada satu golongan, Hindu Bali dan Budha mewakili semua kepercayaan tionghua.

Saat konghucu menyatakan bahwa mereka bukan sekedar budaya dan tradisi, maka pemerintah menambahkan agama konghucu sebagai daftar agama yang ayomi dan difasilitasi (secara hukum sebenarnya sejak 1965, baru ditegakan jamannya Gus Dur).

Apa gunanya disebut agama yang resmi? Agar mereka mendapatkan hak-hak mereka sesuai agamanya masing-masing dimata hukum. Jadi negara tidak ikut campur urusan dapur tiap agama.

Kenapa tidak SATU agama Kristen saja jika yang Buddhist saja bisa?

Pemerintah setempat.

Salam

yah kembali lagi bro… makanya saya simpulkan bahwa yang meng-legalkan denominasi itu adalah manusia sendiri dengan segala reasonnya…

Yang melegalkannya terhadap manusia, tentu saja manusia dengan segala syarat dan peraturan tentang legalitas. Gemana sih :tongue:

GBU

Kalau ajaran beda mestinya agama beda.

Jadi tidak masalah keselamatan bukan karena agama. Jadi jangan dipusingin. Yang penting ikuti jalan Kristus.

hmmm… ini sama apa sama??

bro, Agama itu membuat jalan kepada Kristus…
lihat aja denom demi denom, beda-bedakan jalannya, dan saling mengklaim jalannya paling tepat dan saling menghina satu sama lain,

ya apa iya???

denom itu kan kumpulan orang2 dengan paham sama.

Masing2 tentu mengklaim dirinya paling benar. Kalau merasa dirinya tidak benar ya ikuti saja yang dianggap benar,

Jadi tanpa paksaan apa2 silahkan memilih yang dianggap paling benar.

Bro merasa katolik paling benar, oleh sebab itu bro ikut katolik. Kalau bro tidak merasa katolik paling benar lalu bro percaya yang mana paling benar, silahkan ikuti saja yang bro merasa paling benar.

Yang penting jangan sampai bunuh2an itu tidak boleh. Sekedar memilih atau mendirikan denominasi baru itu hak masing2.

Itu bukan suatu yang mengerikan seperti membunuhi yang tidak sejalan dengan pahamnya.

dikit koreksi yah… sejak kapan “Katolik” menjadi Denom??

Denomkan memiliki jalan masing-masing, dan menganggap paling benar, Jika jalan yang mengarah Kristus ada yang tidak benar, artinya bagaimana caranya sampai pada Kristus kalau jalannya salah?

jadi penasaran… kira-kira seperti apa?

Katakan katolik bukan denom, Tapi bro kan menganggap katolik paling benarkan?

Itu hak bro dan mungkin bro percaya diluar gereja katolik tidak ada keselamatan? atau bro sudah ikut hasil konsili vatican II.

Saya tidak terlalu jelas juga konon konsili vatican II mengatakan siapa saja asal berbuat baik akan selamat walaupun tidak mengakui Yesus satu2nya juru selamat. Apa benar demikian bro?

Kalau bro tanya saya jalan keselamatan ya terima Yesus sebagai satu2nya juru selamat. Apakah bro mau bergereja secara formal atau sekedar bergereja tidak formal yaitu bersama teman2 kelompok kecil berkumpul dan berdoa dan sama2 menyembah Tuhan, Bagi saya tidak masalah. Roh Kudus mampu memimpin kita tanpa harus bergereja formal.

begini bro… kita belajar fokus pada diskusi…
yang kita bahas sekarang adalah masalah denom…

bukan tentang hasil konsili Vatikan II, bukan saya tidak mau, namun bukan tempatnya…
kembali aja:
[i]"Denomkan memiliki jalan masing-masing, dan menganggap paling benar, Jika jalan yang mengarah Kristus ada yang tidak benar, artinya bagaimana caranya sampai pada Kristus kalau jalannya salah?

jadi penasaran… kira-kira seperti apa?"[/i]

jika denom ini legal, itu karena siapa? apakah Allah yang melegalkan atau siapa?