Dewan Penasihat Paus Minta Uskup Tanggung Jawab atas Kasus Paedofil

Dewan Penasihat Paus Minta Uskup Tanggung Jawab atas Kasus Paedofil

Dewan Penasihat yang dibentuk oleh Vatikan mengusulkan agar para uskup dan otoritas gereja lainnya bertanggung jawab jika mereka gagal melaporkan dugaan pelecehan seksual atau melindungi anak-anak dari uskup yang paedofil.

Setelah pertemuan pertamanya, dewan mengatakan peraturan gereja saat ini kurang aktual.

Dewan menyatakan akan membentuk protokol yang bersih dan efektif untuk mengatasi permasalahan pelecehan seksual ini.

Anggota dewan termasuk seorang perempuan, Marie Collins yang dilecehkan saat masih kanak kanak oleh seorang uskup tetapi dipaksa otoritas gereja lokal untuk tetap diam.

Wartawan BBC di Roma, David Willey mengatakan inilah untuk pertama kalinya Vatikan mendengarkan langsung opini dari seorang korban pelecehan seksual pastur.

Marie Collins yang berasal dari Irlandia adalah satu dari empat anggota perempuan dalam komite penasehat Paus Fransiskus.

Ia diperkosa oleh petugas gereja rumah sakit Katolik seperempat abad lalu saat ia masih berusia 13 tahun.

Tetapi seperti layaknya banyak korban lain, ia bungkam dan diminta untuk mempertahankan nama baik orang yang memperkosanya.

Setelah cukup lama, Collins baru mengajukan keluhannya kepada Uskup Dublin.

Vatikan telah berulang kali dituduh gagal menanggapi skandal pelecehan seksual sejak bertahun-tahun.

Vatikan akan menjawab tuduhan bahwa Tahta Suci itu melanggar konvensi PBB tentang penyiksaan yang ditandatangani Vatikan pada 2002 pekan depan di Jenewa.

(nwk/nwk)

Sumber :http://news.detik.com/read/2014/05/04/094041/2572462/934/dewan-penasihat-paus-minta-uskup-tanggung-jawab-atas-kasus-paedofil?9922022

Komentar: Mudah-mudahan para oknum pastur pedofil bejad penyiksa anak-anak tak berdosa di proses hukum semuanya dan oknum-oknum uskup yang melindungi/menutup-nutupi perbuatan bejad oknum-oknum pastur pedofil biadab juga dihukum sesuai dengan perbuatannya.

Komentar: Mudah-mudahan para oknum pastur pedofil bejad penyiksa anak-anak tak berdosa di proses hukum semuanya dan oknum-oknum uskup yang melindungi/menutup-nutupi perbuatan bejad oknum-oknum pastur pedofil biadab juga dihukum sesuai dengan perbuatannya.

Sangat sependapat.
Bahkan seharusnya dihukum lebih berat.
Karena status seorang agamawan dituntut lebih bermoral dibanding manusia awam.
Begitu pula polisi, jaksa, hakim, yang melanggar hukum HARUS lebih berat dihukum dibanding warga awam.

Sikat habis phedopilia.

wahhh
bisa ya, uskup melakukan pedofil…

guru kencing berdiri gimana dengan muridnya ngikuti teladan guru ?? :cheesy:

murid murid, jangan ikuti teladan pimpinan umatmu yeeeee… itu dosa, bejat dan memalukan
siapa itu “muridnya” ?

Bisa, pendeta korupsi, jemaat koruptor.
Pendeta menipu, jemaat rampok.
Pendeta selingkuh, jemaat bikin panti pijat mesum.

Udah biasa tuh.

:mad0261:

ooo ternyata ada murid yang jawab.
kamu ikuti ajaran dan teladan guru gak ?
jangan ya itu dosa, adalah pekerjaan iblis yang menyusup…keinginan daging, kenikmatan sesaat
gak boleh ya,
jangan sekali kali mencoba ya…
racun yang mematikan…

ikutilah TEKLADAN YESUS SAJA

OOT lagi OOT lagi.
Kapan bisa cerdas ya golongan ini?

Paling tidak punya rasa malu dong, OOT di semua thread.
Parragh

Itu hanya oknum sis dan puji syukur Bapa Paus yang sekarang sangat pro terhadap pemberantasan oknum-oknum demikian, terbukti dengan pernyataan dewan penasihat Paus di berita tsb.

Yang menarik barangkali alasan para oknum uskup, kenapa kok melindungi bawahannya yang biadab para oknum pastur pedofil itu? Alasan klasik tentu untuk menjaga “kemaluan/harga diri” Gereja…Dibalik itu saya pikir ada hubungan pula dengan masalah yang dihadapi Gereja Katolik belakangan ini yaitu “kekurangan imam”. Nah kalau saja para oknum uskup bersifat terbuka dikuatirkan bakalan lebih lagi berkurang para imam-imam tertahbis yang pada akhirnya mengganggu pelayanan umat Katolik secara keseluruhan.

Yang mengejutkan sekaligus merupakan kabar gembira, ada wacana untuk menanggulangi kekurangan imam Katolik yaitu dengan membolehkan imam menikah :)…berikut saya copaskan beritanya…

Apakah Imam Menikah Menjadi Agenda Paus Fransikus Berikut?

Paus Fransiskus mengatakan bahwa ia lebih suka untuk mengajukan pertanyaan daripada memberi komentar tentang isu-isu atau mengubah doktrin, dan ia sudah mengalami banyak perdebatan dengan komentarnya tentang gay dan berbicara tentang topik-topik seperti perceraian dan Komuni, seperti yang terjadi baru-baru ini dengan seorang wanita di Argentina.

Percakapan terakhir di antara Bapa Suci dan seorang uskup Brasil tentang kekurangan imam dan gagasan imam menikah muncul menanggapi kekuarang ini. Apakah gagasan ini menjadi agenda Paus berikut?

Gagasan ini dimulai ketika Uskup Erwin Krautler, seorang uskup kelahiran Austria yang memimpin sebuah keuskupan besar di Brasil, beraudiensi pribadi dengan Paus Fransiskus pada 4 April di Vatikan.

Dalam pertemuan tersebut, Uskup Krautler dan Paus Fransiskus mencontohkan tentang kekurangan imam mempengaruhi pelayanan Gereja, terutama di belahan bumi selatan. Keuskupannya secara geografis yang terbesar di Brasil, hanya memiliki 27 imam dengan 700.000 umat Katolik, kebanyakan dari mereka mungkin menghadiri Misa hanya beberapa kali dalam setahun.

Bersambung…

Sambungan…

Paus Fransiskus bercerita tentang sebuah keuskupan di Meksiko dimana paroki memiliki diakon tapi tidak ada imam, dan Paus bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terus seperti itu – saat Uskup Krautler mengangkat ide imam menikah.

“Paus menjelaskan bahwa dia tidak bisa mengambil segala sesuatu sendiri dari Roma. Kita para uskup lokal, yang mengenal baik dengan kebutuhan umat kita, harus ‘corajudos,‘ atau ‘berani’ dalam bahasa Spanyol, dan membuat saran konkret,” kata uskup itu kepada sebuah media Austria hari berikutnya.

Paus Fransiskus, menurut Uskup Krautler, menginginkan konferensi waligereja nasional untuk “mencari dan menemukan konsensus tentang reformasi dan kita kemudian harus membawa usulan untuk reformasi tersebut ke Roma. … Terserah para uskup untuk membuat usulan, kata Paus lagi.”

Bagi para uskup lain tidak butuh waktu lama untuk menanggapi isyarat itu.

Tiga uskup di Inggris mengatakan mereka berencana mengangkat isu imam yang menikah pada pertemuan Konferensi Waligereja Inggris dan Wales pada Mei. Perubahan tersebut bisa membantu meringankan kekurangan imam di keuskupan-keuskupan mereka, kata mereka, seraya mencatat bahwa banyak dari mereka memiliki imam menikah dan sudah direncanakan untuk mengizinkan para klerus Anglikan itu untuk dikonversi.

“Saya akan mengatakan secara pribadi bahwa pengalaman saya dari imam menikah telah menjadi salah satu yang sangat baik,” kata Uskup Thomas McMahon kepada The Tablet, mingguan Katolik.

Uskup McMahon dari Brentwoodnya mengatakan ia memiliki 20 mantan imam Anglikan, banyak dari mereka telah menikah.

“Orang-orang melihat imam mereka sebagai hamba Allah, untuk menuntun mereka kepada Tuhan,” kata Uskup McMahon.

Paus Fransiskus akan terbuka dengan perubahan itu dan itu tidak terlalu mengejutkan.

Kemudian Paus Fransiskus berkomentar bahwa sementara ia mendukung untuk mempertahankan selibat “hingga saat ini,” itu adalah masalah hukum Gereja dan tradisi, bukan doktrin: “Ini adalah masalah disiplin, bukan iman. Hal ini dapat diubah.”

Baru-baru ini, Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Kardinal Parolin, menggemakan pandangan tersebut dalam komentarnya belum lama ini dan ia mengatakan bahwa selibat “bukan merupakan dogma Gereja dan dapat dibahas karena merupakan tradisi Gereja.”

Jadi, apakah pilihan selibat sebuah kemungkinan nyata di bawah Paus Fransiskus? “Saya pikir topik itu terbuka untuk dibahas,” kata Pastor Thomas Reese, seorang imam Yesuit dan analis senior untuk National Catholic Reporter.

Setidaknya ada tiga alasan mengapa Paus Fransiskus mungkin dapat menerima pembahasan:

Satu, sementara imam menikah sering dilihat sebagai bagian dari agenda reformasi “liberal” termasuk pentahbisan imam wanita dan menjungkirbalikan ajaran tentang homoseksualitas dan pengendalian kelahiran, itu tidak. Bahkan, pejabat Gereja di seluruh dunia secara berkala mengusulkan imam menikah.

Dua, karena selibat merupakan sebuah masalah hukum dan tradisi, bukan doktrin atau dogma, hal itu dapat dibahas atau bahkan diubah tanpa memberikan isyarat bahwa seluruh struktur ajaran Gereja akan pecah. Reformasi seperti itu akan menjadi cara yang pragmatis menangani masalah pastoral, dan telah menerima dorongan dari Paus Emeritus Benediktus XVI, seorang konservatif, yang mengizinkan beberapa pastor Anglikan menikah untuk menjadi imam Katolik.

Tiga, Paus Fransiskus telah membingkai reformasi selibat sebagai salah satu yang harus muncul dari konteks lokal, yang memperkuat desentralisasi kekuasaan dan otoritas dalam Gereja. Selibat bisa menjadi sarana yang berguna untuk memecahkan masalah ketika mempromosikan kolegialitas dan gagasan perubahan organik dalam agama Katolik.

“Jika, secara hipotetis, agama Katolik Barat akan meninjau kembali masalah selibat, saya pikir itu akan melakukannya karena alasan budaya … tidak begitu banyak sebagai pilihan universal,” ungkap Paus Fransiskus tahun 2010, yang saat itu masih sebagai kardinal, tiga tahun sebelum ia menjadi Paus.

Sebenarnya, hal itu tidak mengherankan bahwa isu tersebut muncul dalam diskusi antara Paus Fransiskus, seorang Argentina, dan uskup Brasil karena para uskup di Amerika Latin, Afrika dan Asia sering membahas tentang perlunya untuk mempertimbangkan sebuah perubahan.

Sumber: http://keuskupanbogor.or.id/aggregator/sources/1

Skandal memalukan yg sebenarnya sdh lama terendus
hanya saja selama ini dicoba utk ditutup2i
Hidup selibat memang tdk cukup dibuktikan dgn berjubah

Komentar atas berita “Apakah Imam Menikah Menjadi Agenda Paus Fransikus Berikut?”: Saya ikut mendoakan dan mendorong agar segera terjadi perubahan ke arah yang lebih baik tentunya, karena bagaimanapun imam adalah manusia normal, bukan manusia kebiri sehingga barangkali dengan diijinkan menikah dapat meminimalisasi kejadian buruk pedofilia serta menambah minat dan panggilan untuk menjadi imam Katolik sehingga krisis imam dalam Gereja Katolik sekaligus dapat diatasi.

Kalau memang magisterium menyatakan imam boleh menkah, maka itulah yang akan dilaksanakan.

Tetapi resiko berikutnya akan muncul, karena dengan berkeluarga, dan punya anak anak, kebutuhan hidup akan naik. Korupsi seperti yang terjadi pada para pendeta yang menikah akan terjadi.

Dan sekali lagi, tidak ada jaminan pendeta yang menikah tidak berkeinginan selingkuh, karena yang mencoba memperkosa saja ada koq.

Kembali kepada setiap manusianya, diberikan kebebasan bisa disyukuri, tetapi ada yang justru menuntut lebih.

Sejauh ini, keputusan Gereja Katolik untuk melarang para imamnya menikah sudah sangat tepat.

Ya benar, kalau masalah korupsi karna mau hidup mewah, mencuri …selibat-tidak selibat sama saja tetapi dalam kasus pedofil tentu oknum pendeta beristri lebih kecil kemungkinannya, palingan itu oknum selingkuh atau kawin 2…Kalau para oknum pastur/imam karena tidak ada istri untuk menyalurkan hasrat, tidak tahan (kejahatan bukan hanya ditentukan sikap orang, tetapi juga situasi dan kondisi)… Anus/dubur anak-anak kecil jadi sasaran, dari kasus-kasus yang baru terungkap diyakini pedofil di kalangan oknum pastur/imam seperti fenomena gunung es…Celakanya seperti kita baca dalam berita diatas bahwa Gereja Katolik kekurangan imam…Lah kan jadi dilema, mau bongkar sampai ke akar-akarnya itu fenomena gunung es pedofilia (istilah bro BRC : Sikat habis phedopilia) akibatnya sudah kekurangan imam terus harus dikurangi lagi karena penegakan hukum maka tentu pelayanan bagi umat Katolik menjadi terganggu…Atau haruskah sementara ditutup-tutupi demi kemaslahatan umat Katolik dalam menerima pelayanan Ekaristi? Maka tentu akibatnya sikat habis phedopilia cuma OMDO…Jadi wacana diatas “Apakah Imam Menikah Menjadi Agenda Paus Fransikus Berikut?”. saya kira baik sebagai jawaban atas krisis imam sekaligus meminimalisir kejahatan kemanusiaan pedofilia dikalangan oknum imam Katolik apabila Paus Fransiskus memberi lampu hijau dengan membolehkan imam Katolik menikah…Setuju tidak setuju terserah saja :slight_smile:

Salam

nih ada link yang penyeimbang:
http://www.reformation.com./

kenapa pemberitaan negatif tentangGereja Katolik yang HARUS selalu dibesar2kan oleh media?
Karena Gereja Katolik selalu menyuarakan kebenaran yang berkaitan dengan hal-hal moral, dimana posisi Gereja Katolik ini sangat tidak populer.

Sudah baca beritanya belum ade? Yang menyelidiki dan hendak membongkar praktek biadab para oknum pastur/imam pedofil yang hidup selibat bukan dari kaum anti Katolik melainkan dari internal Katolik dalam hal ini Dewan Penasihat yang dibentuk oleh Vatikan…Demikian.

Salam

Sungguh kata kata yang tidak patut ditulis di sebuah forum Kristen, apakah kamu tidak bisa sedikit melakukan self cencor agar tidak terkesan forum sampah?

Nah. Kembali harus saya jelaskan, bahwa orang yang tidak menikah, maupun menikah, memiliki hasrat yang sama, dan itu yang harus diperjuangkan oleh manusia yang beriman dan bermoral.
Siapapun pelakunya, tindakan phedopil adalah salah dan wajib dihukum berat, begitu juga dengan perselingkuhan, atau perkosaan.

Tetapi, karena terlihat bahwa ternyata ada juga pendeta, yang sudah pasti tidak selibat, dan juga punya ajaran iman dan moral, ternyata juga melakukan perkosaan, pelecehan, dan perselingkuhan. Maka manusia jenis ini seharusnya dihukum lebih berat dibanding seorang imam Katolik yang memang pada dasarnya tidak menikah. Sudah sempat ‘merasakan’ koq masih ‘cari lagi’, gitu kan?

Dan pada kasus korupsi, ternyata pendeta menikah yang korupsi, bisa dicermati lebih banyak terberitakan, karena sorang imam Katolik tidak berkeluarga dan TIDAK MEMILIKI HARTA PRIBADI, sehingga tidak ada perlunya korupsi.

Mana yang lebih baik untuk peayanan kepada umat?
Gereja Katolik memutuskan hidup selibat lebih baik, seperti juga dilakukan oleh kebanyakan para rasul Jesus saat itu. Seperti juga dikatakan oleh Paulus :

1Kor 7:1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin,

1Kor 7:2 tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.

1Kor 7:3 Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya.

1Kor 7:4 Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya.

1Kor 7:5 Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.

1Kor 7:6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.

1Kor 7:7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.

1Kor 7:8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.

1Kor 7:9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.

1Kor 7:10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku–tidak, bukan aku, tetapi Tuhan–perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.

oh kasian si uskup ( pribadi ) …
tidak tahan hidup sendiri
ingin menikmati : kenikmanatan dunia

Sebenarnya, terhadap pertanyaan ini:

secara terang benderang, Paus Fransiskus sudah memberi pikirannya yang dilansir di berita itu, yaitu pada:

Menurut saya, tanda petik pada “hingga saat ini” dan “Ini adalah masalah disiplin, bukan iman. Hal ini dapat diubah” di komentar Paus Fransiskus itu adalah buatan reporter. Karena tanda petik itu, maka asosiasi dalam pikiran pembaca menjadi dinamis menebak-nebak.

Bagi penganut Anglikan atau sejenisnya, dimana imam diperbolehkan menikah, akan dengan senang hati menerjemahkan pikiran Paus Fransiskus berikutnya ialah bahwa Paus Fransiskus melalui kursi kepausan akan membuka peluang bagi imam menikah. Bagi orang yang menganut pentingnya seorang imam berdisiplin, akan menerjemahkan pikiran Paus Fransiskus berikutnya ialah, bawa Paus Fransiskus akan tetap mempertahankan imam harus selibat.

Anglikan mengizinkan imam menikah, dan Katolik masih eksis sesuai janji Tuhan Yesus Kristus bahwa Tuhan Yesus Kristus menyertai Gereja yang didirikan-Nya sampai kepada akhir zaman. Gereja yang didirikan hanya satu. Artinya, menurut saya, meski di berita mengenai dugaan sikap Paus Fransiskus berikutnya dikemukakan pembandingan Gereja terhadap kumpulan yang memiliki imam menikah, bukan berarti Paus Fransiskus akan berpendapat bahwa imam Katolik diijinkan menikah.

Dari pemilihan nama Paus Fransiskus, dimana Fransiskus adalah anak seorang kaya, namun Fransiskus meninggalkan kekayaan orang tuanya dan hidup sederhana demi cinta pada Tuhan dan sesama, maka Paus Fransiskus akan teguh memilih imam harus selibat. Jika Gereja mengijinkan imam menikah, maka konsentrasi imam akan terpecah dalam melayani umat dan menghidupi keluarganya. Artinya, pelayanan kepada Tuhan menjadi tidak total.

Tentang Anglikan yang memiliki imam menikah, jumlah imam yang makin tidak seimbang dengan jumlah umat, banyaknya umat yang menerima misa beberapa kali saja dalam setahun, itu semua bukan menjadi alasan Paus Fransiskus mengubah perselibatan imam. Saya berkeyakinan, Paus Fransiskus akan mengikut kemanusiaan Yesus Kristus yang tidak menikah.

Menjadi imam Katolik bukanlah pilihan karena sulitnya mencari pekerjaan. Menjadi imam Katolik adalah pilihan bebas, tanpa paksaan. Banyak calon imam Katolik yang terpaksa dikembalikan ke keluarganya, hanya karena masalah yang kelihatan sepele.

Contoh, seorang keponakan saya yang dihilangkan kemungkinannya menjadi imam, hanya karena dituduh merokok di ruang guru. Hanya masalah tempat merokok, dia kehilangan kesempatan menjadi imam.

Artinya, jumlah imam Katolik yang sedikit, bukan alasan untuk mempermudah syarat menjadi imam Katolik, sehingga disiplin yang dipelihara selama ini lalu dilepas begitu saja. Yesus Kristus bilang, Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:62).

Tentang kejatuhan beberapa imam Katolik, yaitu mereka yang mengingkari pilihannya dengan melakukan perbuatan yang tidak layak, saya kira manusiawi. Yudas Iskariot yang dipilih oleh Yesus sendiri juga memilih jatuh, bukan karena direncanakan Tuhan, tetapi karena tergiur dengan uang 30 keping perak. Jadi, kalau ada imam Katolik yang tergiur dengan hal duniawi, dia memang tidak layak menjadi imam Katolik.

@Pasiatar

Bro, janganlah dibandingkan seorang imam Katolik dengan pendeta abal abal.
Seorang imam Katolik harus ikut seminari menengah, seminari tinggi, dan melanjutkan ke pendidikan ke Roma, secara strata pendidikan saja, levelnya S2 minimal. Penguasaan bahasa paling sedikit harus menguasai bahasa Inggris, bahasa Italy, bahasa Latin, itu minimal. Bagaimana dibandingkan dengan yang cuma 1 tahun? Bahkan ada juga yang cuma lewat kursus kilat tanpa gelar S.Th? Jauuuh lah.

Disiplin, sejak di seminari juga dalam kongregasi, sudah sangat ketat. Bagaimana hendak dibandingkan dengan pendeta abal-abal yang nyambi sebagai salesman, atau sebagai pengusaha? Ya beda banget.

Belum lagi kaul hidup selibat, kaul hidup miskin, jangan dibandingkan dengan pendeta abal-abal yang masih suka dugem dan bermain perempuan? Bumi dan langit…

Saya sebut pendeta abal-abal, untuk membedakan dengan pendeta yang memang sungguh sungguh melayani ya, karena walaupun masih dibawah imam Katolik, ada juga pendeta yang sungguh sungguh punya ilmu dan iman serta perbuatan yang layak dipuji.

:smiley:

Maksudnya bro Parsiattar berita diatas tidak dapat dipertanggungjawabkan keberannya dan manipulatif? Saya mengambilnya dan copas bukan dari situs anti Katolik kok, melainkan dari http://keuskupanbogor.or.id/aggregator/sources/1 dipostingkan tanggal 02/05/2014 - 13:07. Tetapi jika memang bro sebagai penganut Katolik dapat membuktikan bahwa berita itu manipulatif (akal-akalan reporternya, untuk mengarahkan kepada ketidakbenaran misalnya) dengan berita resmi dari badan resmi Gereja Katolik yang membantah artikel yang saya postingkan itu maka tentu dengan memohon maaf sedalam-dalamnya saya akan menarik/menghapus berita yang sudah saya poskan disini.

Saya mengerti penjelasan bro mengenai sulitnya untuk menjadi imam dan betapa panggilan hidup selibat itu adalah panggilan mulia untuk melayani Tuhan segenap waktu bagi calon imam Katolik begitu juga dengan kejatuhan imam Katolik adalah hal yang sangat manusiawi, karena imam juga manusia. Dan saya setuju sekali dengan pendapat bro " kalau ada imam Katolik yang tergiur dengan hal duniawi, dia memang tidak layak menjadi imam Katolik". Masalahnya khusus dalam kasus-kasus pedofilia…Oknum imam/uskup yang diduga melakukan pelecehan seksual pada anak-anak terkesan malah dilindungi, masalahnya sengaja ditutup-tutupi kalaupun ada tindakan palingan dipindahkan dari tempat dia bermasalah ke tempat lainnya…Ada apa ???

Salam