Dibui karena Hina Yogya, Florence Sihombing Disorot Dunia

http://cdn1-e.production.liputan6.com/medias/729030/big/016033700_1409215699-28082014-florence.jpg

Membaca status yang dituliskan oleh Florence, onliner geram.

Liputan6.com, Yogyakarta - Nama Florence Sihombing langsung terkenal karena ucapannya yang menyulut kemarahan warga Daerah Istimewa Yogyakarta dan berujung pada bui. Tak hanya di Indonesia, tapi juga dunia. Sejumlah media asing mengabarkannya.

Seperti berita yang dimuat Harian Inggris Dailymail bertajuk “Indonesian student faces six years in jail for defaming an ENTIRE city by calling it ‘stupid’ on social media.”

Dituliskan bahwa mahasiswi jurusan hukum Florence Sihombing terancam dipenjara karena menulis status di media sosial yang mengkomplain pelayanan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Yogyakarta.

“Mahasiswi pascasarjana itu ditangkap pada Sabtu pagi. Kata pengacaranya, wanita 26 tahun itu masuk antrean bahan bakar non-subsidi ketimbang masuk antrean motor di bagian bahan bakar bersubsidi. Dia pun ditolak petugas untuk mengisi bensin,” tulis Dailymail, Selasa (2/9/2014).

Kantor Berita Australia ABC mewartakan kabar serupa lewat berita berjudul “Indonesian student faces hearing over ‘Yogyakarta is stupid’ social media post”. Dijelaskan bahwa Florence harus menjalani sidang kode etik di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Dia ditangkap setelah pesannya di media sosial menuai protes karena dia menyebut Yogyakarta 'miskin, bodoh, dan tak berpendidikan,” tulis ABC.

Kabar soal Florence juga dimuat di media Amerika Serikat Wall Street Journal lewat artikel bertajuk “Social Media Backlash Ebbs into Support for Indonesian Student”. Dipaparkan bahwa polisi menginterogasi Florence setelah dilaporkan sejumlah lembaga di Yogyakarta.

Florence sebelumnya telah menyatakan permohonan maafnya kepada seluruh warga Yogyakarta dan Sultan Hamengkubuwono X. Dia telah dibebaskan dari bui dengan penangguhan penahanan.

Perempuan itu kini baru menjalani sidang etik selama dua jam di UGM. Pada kesempatan tersebut, dia mengaku menyesal atas perkataannya itu. Dia berjanji tak akan mengulanginya lagi.

Selain yang kontra, ada juga beberapa pihak yang pro pada Florence. Berbagai elemen masyarakat di Yogyakarta baru-baru ini menyatakan dukungan kepada Florence Sihombing dan menolak dilanjutkannya kasus ke ranah hukum. Mereka terdiri dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers, LBH Yogyakarta dan KMIP (Komisi Masyarakat Informasi Publik).

Staf LBH Pers, Masjidi, mengatakan kasus Florence ini dikhawatirkan menjadi sebagai pasal karet untuk menjerat anggota masyarakat lain. Sehingga harus dihentikan.

“Kami menyatakan sikap untuk mencabut pasal 27 ayat 3 dan pasal 28 ayat 2 UU Informatika dan Transaksi Elektronik karena bertentangan dengan hak asasi manusia yaitu kebebasan berpendapat dan dilindungi dalam pasal 28, pasal 28 E ayat 2 dan 3 UUD 1945, UU No 9 tahun 1998 tentang Tata Cara Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan UU No 12 tahun 2005 tentang Ratifikasi Hak Sipil Politik,” ujar Masjidi. (Ali)

Secara moral dan etika, FS sungguh patut dikasihani. Tidak salah kalau orang Yogya menjadi marah dan mengadukannya kepada polisi. Sikapnya arogan, layak diberi pelajaran.

Tetapi, penjara jelas bukan hukuman yang setimpal, terlebih lagi masih banyak para penghujat dan pemfitnah yang sudah diadukan ke polisi sampai sekarang masih bebas merdeka.

Seharusnya, diberi hukuman yang bersifat membina moral saja, misalnya kerja sosial di Yogya selama beberapa waktu, mulai dari menyapu jalanan, merawat orang tua di panti jompo, tujuannya biar kapok dan tidak arogan lagi. Dan lebih dari itu, belajar menjaga mulut (tulisan) nya agar tidak ngablak.

ya…pepatah bilang mulutmu adalah harimaumu… :slight_smile: maka hati - hati dan bijaksana memakai lidah …apalagi di sosial media… :tuzki70:

semoga cepet selesai urusannya…

Gila gak sih

Florence ni menghina di medsos ancaman hukuman 6 tahun penjara

Sedangkan menyuap hakim MK, korupsi ratusan milyar hanya kena 4 tahun penjara, denda hanya ratusan juta rupiah, itupun mau banding :smiley:

Sebagai efek kejut, saya setuju dengan pemidanaan FS, tetapi dari segi keadilan sepertinya tidak tepat.

Saya 110% setuju dengan pendapat ini

hukuman yang menghina moral diberikan hukuman yang bersifat moral juga, ga usa le pake masuk penjara segala

Biarkan dia mengajukan banding, kena hakim Artidjo Alkostar, baru kapok dia, he he he he

Amin

Semoga di Indonesia tak ada lagi hakim kek Akil Mochtar

Kalooo… menurut TS sendiri begimana ? :azn:

Kalau menurut teori Abu Nawas, FS ini terkena dampak kebijakan rezim yang tidak penuh 2 bulan lagi demisioner. Karena diskusi rezim hampir demisioner dengan rezim terpilih tidak membuahkan kebijakan penaikan harga BBM, maka BBM tetap langka di pasar, karena Pertamina membatasi BBM Bersubsidi. Pertamina membatasi jumlah BBM Bersubsidi ke pasar karena jumlah beban subsidi untuk BBM Subsisi pada APBN sudah sangat tinggi, bila BBM Subsidi dilepas bebas ke pasar maka APBN akan ‘jebol’. Maka, langkalah BBM di pasar.

Karena kelangkaan BBM Subsidi, maka pengantre berjubel di SPBU, termasuk FS. FS seorang mahasiswa disiplin ilmu hukum. Mungkin dia berpikir, jika BBM Subsidi langka, agar tidak ngantre berkepanjangan, dia masuk barisan pertamax. Apa nyana, dia diusir, sepeda motor tidak ‘layak’ ngantre di barisan mobil, padahal FS ngantre bukan karena mobil ato motor, melainkan karena BBM Subsidi dan pertamax.

Kecewa, dia pulang ke rumah dan melepas uneg-uneg di media yang dapat dibaca oleh seluruh dunia. Apa lacur, entah karena kehilangan kontrol kejiwaan, FS yang sedang mengikuti program S2 keceplosan ngedumel, yang membangkitkan amarah warga Yogyakarta. FS harus menaggung, menjadi pesakitan, meski beberapa saat.

Jadi, kalo diurut, begini:
rezim hampir demisioner tidak menaikkan harga BBM
V
BBM Subsidi dibatasi masuk pasar
V
BBM Subsidi menjadi langka
V
Terjadi antrean pembeli BBM Subsidi
V
FS ngantre di BBM Pertamax
V
FS diusir dari antrean BBM Petamax
V
FS ngedumel melalui sosial media yang dapat dibaca seluruh dunia
V
Warga Yogya marah
V
FS ditangkap dan dijadikan pesakitan

Begitu kisahnya.
Jadi, sumber soalnya adalah ketidaksediaan rezim yang hampir demisioner menaikkan harga BBM Bersubsisi. :smiley: :char11:

Bukan demisioner, tetapi sedang bersiap diri untuk menjadi sekjen PBB, bayangin… PBB.
Mantab kan, hebat kan…

;D

Sorry OOT, gak nahan kalau ngebayanginnya…

Emang sebenarnya persoalan yang terjadi di dalam keluarga tidak lepas dari kesalahan orang tua dalam mengatur anak

Ada kebajikan lokal yang berbunyi : Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung.

Rupanya sis FS lupa akan hal tersebut.
Atau ortunya lupa mengajakan…

Menurut logikaku, kemungkinan besar, FS ini lupa pada kebajikan itu. Mengingat, dia sudah menyelesaikan pendidikan S1, disiplin hukum pula, tetapi sampai ceroboh begitu, itu karena lupa. Walaupun orang tuanya kelupaan mengajarkan kebajikan seperti itu, idealnya, selama mengecap pendidikan dari sekolah dasar, ke lanjutan pertama, ke lanjutan atas, sampai selesai S1-Hukum, dia pasti sudah mendapat pelajaran kebajikan seperti itu. Namun, karena kecerobohan atau kelabilan jiwa, yahh… apa yang terjadi terjadilah.

Salam logika macam-macam.

Apa ga krna namanya ya?? Biasa… minoritas. Terus dmanfaatin oknum tertentu buat bilang “inilah moral minoritas!”

Kagak juga, emang orangnya gemblung juga itu, udah tau banyak yang ngantri malah mau serobot

Perilakunya memang pantas untuk dihukum, namun apakah harus hukum pidana?

Sedangkan yang jelas2 kejahatan HAM berat seperti korupsi aja hukumannya ga separah itu, hukum indo ini memang masih tumpul keatas, tajam kebawah