Dibutakan Zaman

Baru-baru ini seorang Malasya menjabat tangan saya dengan kencang.
“Kamu seorang Kristen bukan”, katanya, “kalau saja kamu di sini tanggal 25 kemaren kita sudah berdoa, bersekutu, mengucap syukur kepada TUHAN atas kasihNYA, Juruselamat kita datang, dirayakan hari ini”, begitu dia melanjutkan dengan semangat.

Saya baru mengenalnya detik, menit itu, dia langsung mengucapkan kata-kata yang mengagumkan.
“Mereka membuka kaleng minuman, bir, makan sepuasnya, bersenang-senang”,
“tetapi mereka tidak memahami makna natal itu”, dia melanjutkan terus perkataannya, dan menilai sekitarnya.

Saya hanya tersenyum, dan bangga mendengar seorang yang berpendirian seperti itu.

Di lain waktu, ketika berjabat tangan dengan seorang teman kerja, dan kemudian mengobrol ke sana kemari, tibalah suatu pertanyaan: “Kamu agamanya apa, Kristen kan? jadi minum-minum bisa dong”, dia melanjutkan perkataannya.
“Saya memang bisa saja minum, karena tidak ada larangan untuk minum, tetapi badan saya tidak kuat untuk minum”, guman saya, minuman beralkohol tentunya yang sedang kita bicarakan.

Yang membuat saya kaget adalah bahwa ada suatu pandangan bahwa jika seorang adalah Kristen, maka meminum alkohol adalah suatu kebiasaan yang tidak perlu batas toleransi.

Saya berpikir, mungkin telah banyak orang menjadi salah tanggap kepada iman kita oleh karena kita sendiri. Kita membenamkan kebiasaan yang kemungkinan bisa meracuni pemikiran orang terhadap orang lain yang kemungkinan satu iman dengan kita.

Natal dengan segala kemeriahannya mungkin pernah dirancang untuk menghibur orang-orang terluka, sebagai simbol kemeriahaan dunia atas kasih KRISTUS yang hadir, tetapi komunikasi dari inti itu hilang sehingga direnggut oleh kebiasaan-kebiasaan yang buruk.

Bisa jadi kita membuat jaman membutakan orang yang ingin melihat kasih karunia TUHAN. Betapa perlunya kita hati-hati, dan bijaksana.

Mazmur. 90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mungkin kita harus meminta ampun, siapa tahu kita telah membuat beberapa orang menjadi buta, kita menjadi perantara dari batu sandungan jaman, sehingga orang terhambat mendengar Firman Tuhan.