Diselamatkan hanya karena anugerah, bukan dari perbuatan baik

lha memang apa perlu-nya “menghakimi” seseorang yang memahami bahwa “perbuatan berkorelasi dengan dengan iman”?

Apaan sih ini?

Membantu siapa om maksudnya?

Kasus Al-Maidah 51 masih bergulir, dari sana kita melihat bahwa ada kelompok yang menafsirkan ayat sesuai konteksnya dan ada yang menjadikannya berdiri sendiri yang menuntut untuk segera dilakukan. Demikian juga dengan tulisan-tulisan rasul Paulus maupun bapa-bapa gereja berabad-abad yang lalu, semua sebaiknya dilihat dalam konteksnya.

Benar kita diselamatkan karena kita diberi begitu saja status selamat oleh Allah, bukan karena kita telah berbuat sesuatu yang sudah sepatutnya untuk menerima keselamatan itu. Paulus membedakanya antara upah pekerja dan hadiah. Keselamatan itu hadiah, bukan upah kita karena telah mentaati perintah agama.

Namun saat bicara tentang perbuatan baik, kita bicara tentang setelah menerima hadiah tersebut. Berbeda konteks dengan ayat-ayat yang anda copaskan. Jika anda tidak paham konteksnya maka akan ribut. Keselamatan itu sudah dalam genggaman kita, saat perintah untuk berbuat baik itu turun kepada kita. Dalam Ibrani 3:14-19 disebutkan bahwa orang Israel yang ditebus dari perbudakan Mesir artinya menerima keselamatan dengan cuma-cuma dari Allah, tetapi ternyata mereka binasa di padang gurun gagal masuk ke negeri perjanjian, sebab mereka tidak taat (ayat 18), yang mana ketidak taatan mereka diartikan ketidak percayaan mereka (ayat 19).

Saat Filipi 1:12 menulis pesan “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” ini bukan tentang sebelum ia menerima keselamatan tetapi setelah ia menerima keselamatan cuma-cuma itu. Ayat itu diawali dengan pujian Paulus karena mereka senantiasa taat sejak mereka pertama kali diselamatkan (ada hubungan erat antara taat dan percaya). Pesan takut dan gentar ini sama seperti pesan dalam Ibrani diatas, tentang orang Israel yang telah ditebus Allah dari Mesir ternyata mereka binasa di padang gurun ditolak Allah dengan sumpah. Karena itu walau anda sudah diselamatkan jangan takabur.

Jadi apakah keselamatan bisa hilang? Jangan takut tidak semudah itu hilang, sebab kasih-Nya teramat besar atas kita, Ia telah mengutus ROH KUDUS menemani kita, memberikan kekuatan kepada kita agar tetap berdiri sampai akhir (Efesus 1:13-14). Namun demikian, kita juga harus sadar, darah-Nya bukan mainan, bukan murahan, bukan untuk dilecehkan, sebab kita sejatinya belum benar-benar diselamatkan.

Roma 8:24-25, Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

Keselamatan kita akan kita terima penuh, seperti orang Israel masuk ke tanah perjanjian, demikian juga jika Yesus telah datang menjemput kita dan membawa kita masuk ke dalam Kerajaan Allah, barulah kita benar-benar telah diselamatkan-Nya, bukan lagi masih dalam bentuk iman dan pengharapan.

bersambung dibawahnya…

…sambungan dari atasnya

Selama dalam dunia ini, kita seperti berjalan dalam padang gurun. Dimana kita semua membaca dalam Kitab Suci, bahwa Allah menuntut ketaatan bangsa Israel, dan kepada kita juga sama sebab itu adalah gambarannya, tetapi bukan ketaatan atas perintah hukum Taurat, melainkan atas firman Kristus. Tidak sulit bagi kita untuk taat, seperti yang dikatakan Yesus sendiri dalam Matius 11:30, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” Perintah untuk berbuat baik itu ringan sebab berangkatnya bukan dari perintah harus begini dan begitu atau jangan ini dan itu, tetapi berangkat dari iman kita. Kalau kita mengaku percaya maka kita juga akan berbuat seperti apa yang kita percayai. Disinilah perbuatan iman itu menyempurnakan iman kita, jika iman itu tidak nampak dalam perbuatan hanya dibibir dan pikiran saja, maka itulah yang disebut iman yang mati.

Jadi jika kamu mengaku percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah, Juruselamat, Mesias, namun tetap hidup terus menerus dalam berbagai dosa, maka pantaskah saya bertanya seperti apakah kamu menghormati korban Anak Allah? Perhatikan Roma 11 ini:

19 Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas.
20 Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!
21 Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.
22 Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.

Jangan pernah sekalipun berfikir tentang sekali selamat tetap selamat dengan cara pandang yang menghinakan darah Kristus, yang menilai murahan darah Kristus. Bacalah Roma 6:17-22 tentang untuk apa kita dimerdekakan oleh Kristus, bukan agar kita berbuat dosa dengan aman, tetapi agar kita menjadi hamba kebenaran, menghasilkan buah kebenaran yang membawa kita pada pengudusan. Kudus dan suci itu berbeda, kudus adalalah memisahkan dari yang najis. Allah menyucikan kita dari dosa-dosa kita, tetapi Allah menuntut kita hidup kudus, sama seperti bangsa Israel di padang gurun. Untuk itu perlu ketaatan akan firman Kristus dan singakatnya disebut perbuatan baik.

Konteks yg saya bahas adalah konteks padang gurun, bukan konteks di Mesir, tentang orang yang diselamatkan. Dimana setelah kita ditebus Allah dari perbudakan dosa dan dibenarkan dengan cuma-cuma oleh Allah bukan karena kita telah berbuat sesuatu yang baik atau telah tanpa cacat cela menjalankan perintah Taurat. Saat kita telah menjadi orang benar, kita harus hidup dalam kebenaran Allah. Iman yang hanya teori dan omongan saja tidaklah membawa kita masuk kedalam tanah perjanjian. Dibutuhkan perbuatan iman dan gereja mendefinisikan dalam dua kata, “perbuatan baik” yang penjabarannya panjang. Jika alergi dengan kata “perbuatan baik” berhubung dibohongi orang pakai kitab suci untuk saling memusuhi sesama Tubuh Kristus, baiklah kita ganti dengan “perbuatan kasih”.

Apakah perbuatan kasih menyelamatkan kita? Tidak!

Perbuatan kasih ada tanda bahwa kita memiliki iman yang hidup yang dapat menghantarkan kita sampai kepada seluruh janji Allah. Seperti halnya parut kecil di lengan kiri atas apakah parut itu menyelamatkan kita dari cacar? Tidak! Parut itu hanya tanda saja bahwa kamu sudah punya antibodi cacar. Tanda-tanda yang muncul itu bukan penyebab keselamatan itu, tetapi hasil dari keselamatan yang diberikan oleh Allah secara cuma-cuam. Anda tidak dapat memperhitungkan hal itu sebagai syarat keselamatan, itu hanya tanda bahwa kamu telah diselamatkan-Nya. Jika tanda itu tidak ada, seorang Kristen yang hidup terus menerus dalam dosa-dosanya dan tidak pernah menguduskan dirinya bagi Allah, tetapi hidup bagi dirinya sendiri, apakah ia termasuk yang mati dipadang gurun atau yang dibawa masuk ke tanah pernjanjian? Bukankah keduanya juga ditebus dan diselamatkan Allah dengan cuma-cuma dari perbudakan Mesir?

Demikian semoga menyadarkan. Ingat konteksnya!

Intinya iman tanpan perbuatan itu sia" saja percuma… Bukan orang yg memanggil" Tuhan yg selamat tapi yg melakukan kehendak Bapa di surga yang selamat itu intinya…

Kenapa dibilang dengan iman menyelamatksn sekali untuk selama" bagi kami iman itu ada yang asli dan yang tidak
Ini misal seseorang sangat mengasihi ayahnya dan penggemarnya benar" percaya padanya 100persen tidak mau mengecewakannya pastilah sesorang itu mengikuti perbuatan ayahnya… Bila dia tidak mengikuti atau paling tidak berusaha mengikuti perbuatan dan perintah ayahnya orang ini tidak benar" beriman pada ayahnya itu.

Ini jadinya kayak pembuktian terbalik gitu ;D

mending daripada sok nanya-nanya terus…
mending elo jawab dulu pertanyaan dari jaman baheula yang engga elo jawab-jawab bro…

[b]Pertanyaan itu justru KARENA MENGIKUTI JALAN PIKIRAN ELO yang TIDAK MENCARI-CARI PARAMETER PERBUATAN apapun lho…

coba gw ulangi dikit & diperjelas:
Sesuai dengan doktrin ajaran aleph yang mengira bahwa “Tuhan menyelamatkan hanya karena IMAN DOANG”,
maka…

  1. Jika seseorang hobi makan berlebihan tetapi dia mengaku beriman sejati, apakah dia selamat?
  2. Jika seseorang suka pelihara kucing tetapi dia mengaku beriman sejati, apakah dia selamat?
  3. Jika seseorang pakai daster ungu tetapi dia mengaku beriman sejati, apakah dia selamat?
  4. Jika seseorang berkelakuan bejat tetapi dia mengaku beriman sejati, apakah dia selamat?
  5. Jika seseorang melakukan perbuatan dosa berulang-ulang tetapi dia mengaku beriman sejati apakah dia selamat?

gampang kan?
jika mengacu pada ajaran elo yang mengatakan IMAN DOANG, maka pada kelima pertanyaan diatas KONDISI “IF” nya sudah terpenuhi semua kan?
maka, THEN-nya harusnya jawabannya sama semua kan?

Coba kita uji VALIDITAS DOKTRIN ALEPH gimana…
silakan dijawab…

jawab dulu baru situ nyuruh2 orang lain… gitu urutannya…[/b]

tanya aja pada diri sendiri, perbuatan itu hasil dari iman atau bukan ? klo anda beriman tentu akan mengikuti apa yang diperintahkan Yesus, itulah tanda orang percaya, pahami kitab Yakobus dengan baik-baik

udah berkali-kali mas saya tanya ke diri sendiri…
bahwa karena:

  • perbuatan adalah manifestasi iman
  • perbuatan adalah salah satu indikator tangible / visible dari kesejatian iman

maka, pernyataan bahwa “IMAN SAJA, tanpa perbuatan bisa menyelamatkan” adalah HOAX

herannya…
mas aleph terus-terus-an menyebarkan hoax ini dan malah “menghakimi” orang-orang yang berpendapat “ada korelasi iman dan perbuatan” sebagai kelompok yang “ajarannya kurang murni yesus”, dan malah sok-sok-an mau mengkoreksi karena katanya berhalusinasi merasa sok diperintah oleh Tuhan…

gimana coba…
wkwkwkw…

padahal mah… silakan aja mau berkeyakinan gimana…
lha wong justru indikator-nya itu kan bisa terlihat dari buah-iman nya masing-masing… (yaitu perbuatan kan?)
wkwkw…

eh… malah sok-sok berkoar-koar mau sok mengkoreksi kelompok lain,
padahal “buah-iman” nya sendiri aja ENGGA DIANGGAP PENTING, soalnya prinsipnya “IMAN DOANG”…
wkwkw

luar biasa kan lucu-nya?

waduh ternyata sudah sadar diri mas
bagus lah

saya mah cuma mo ketawa2 saja

biar mas cadang aja yang ngeladenin anda mas
entar kalo ikutan dibilang keroyokan
terus play victim
males ach

Iman itu adalah percaya kepada kasih karunia Tuhan yang menyelamatkan dan mengerti bahwa dengan perbuatan tidak mungkin manusia dapat diselamatkan.

Jadi seperti kita mendapat suatu hadiah yang berharga secara cuma-cuma. Kita cuma bisa menerima hadiah tersebut dan berterima kasih dengan penuh ucapan syukur.
Semakin hari, ketika semakin menyadari betapa berharganya hadiah tersebut dimana dengan usaha kita tidak mungkin kita bisa membeli hadiah tersebut, semakin pula hati kita penuh ucapan syukur kepada sang pemberi hadiah.

Luapan ucapan syukur dari hati ini akan tercermin dalam perbuatan kita untuk ingin menyenangkan sang pemberi hadiah. (Istilahnya perbuatan kita otomatis muncul)

Tapi ketika kita mulai mengalihkan pandangan dari betapa berharganya hadiah ini dan betapa kasihnya sang pemberi hadiah, lalu melihat kepada perbuatan diri sendiri serta menanyakan “Sudahkah perbuatan saya cukup baik untuk dipandang layak menerima hadiah ini?”.
Itu menyebabkan perlahan-lahan motivasi kita akan bergeser, bukan lagi dari luapan ucapan terima kasih dari hati tapi beralih pada suatu kewajiban untuk dipenuhi untuk melayakkan diri.

Demikian pula dengan iman dan keselamatan.
Seharusnya kita terus fokus memandang kepada Kristus sang sumber keselamatan itu. Dan perbuatan baik kita muncul dari luapan hati dan ungkapan syukur karena sudah diberi keselamatan oleh Tuhan.
Sayangnya banyak orang yang lebih suka memandang yang kelihatan. Lebih mudah memandang diri sendiri dan perbuatan diri sendiri untuk menilai layak atau tidak untuk menerima keselamatan.

Semoga tulisan saya bisa memberikan sedikit pencerahan dan dijauhkan dari para troll.

Yak 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
Kiranya tertangkap bahwa yang bergaris bawah itu menjelaskan: iman saja, bila tidak disertai perbuatan, adalah mati. Bukan selamat.

Salam olahraga.

hadeeeh… balik lagi kesini…
engga ada kalimat lain mas?

coba dong tolong ditunjukkan scr jelas… siapa sih yg bilang “Manusia diselamatkan KARENA PERBUATAN SAJA” ??

hadeeeh… kebiasaan onani opini kok masih diterus-terusin…
situ ngebayangin siapa sih? wkwkw…

Jadi seperti kita mendapat suatu hadiah yang berharga secara cuma-cuma. Kita cuma bisa menerima hadiah tersebut dan berterima kasih dengan penuh ucapan syukur. Semakin hari, ketika semakin menyadari betapa berharganya hadiah tersebut dimana dengan usaha kita tidak mungkin kita bisa membeli hadiah tersebut, semakin pula hati kita penuh ucapan syukur kepada sang pemberi hadiah.

Luapan ucapan syukur dari hati ini akan tercermin dalam perbuatan kita untuk ingin menyenangkan sang pemberi hadiah. (Istilahnya perbuatan kita otomatis muncul)

Tapi ketika kita mulai mengalihkan pandangan dari betapa berharganya hadiah ini dan betapa kasihnya sang pemberi hadiah, lalu melihat kepada perbuatan diri sendiri serta menanyakan “Sudahkah perbuatan saya cukup baik untuk dipandang layak menerima hadiah ini?”.
Itu menyebabkan perlahan-lahan motivasi kita akan bergeser, bukan lagi dari luapan ucapan terima kasih dari hati tapi beralih pada suatu kewajiban untuk dipenuhi untuk melayakkan diri.

Demikian pula dengan iman dan keselamatan.
Seharusnya kita terus fokus memandang kepada Kristus sang sumber keselamatan itu. Dan perbuatan baik kita muncul dari luapan hati dan ungkapan syukur karena sudah diberi keselamatan oleh Tuhan.
Sayangnya banyak orang yang lebih suka memandang yang kelihatan. Lebih mudah memandang diri sendiri dan perbuatan diri sendiri untuk menilai layak atau tidak untuk menerima keselamatan.

Semoga tulisan saya bisa memberikan sedikit pencerahan dan dijauhkan dari para troll.

Pertanyaan kedua yang engga elo jawab dari dulu-dulu adalah:
INDIKATOR apa yang dapat ALEPH gunakan untuk mengevaluasi / merefleksikan bahwa IMAN ALEPH sudah SEJATI?

coba kebiasaannya kalo ditanya itu njawab ya…
bukannya nanya yg lain atau malah ngomel-ngomel engga jelas gini…

ada DUA PERTANYAAN yang dari dulu engga elo jawab malah plintat-plintut ngoceh engga jelas terus…
kapan mau maju-nya sih elo?

Semoga elo berkenan membuka hati atas jamahan ROH KUDUS ya…
sehingga Iman elo bisa menjadi sejati…

salam

NB:
di pasar baru lagi banyak promo diskon toko tekstil tuh…
pasti banyak pilihan kain ungu buat daster dan sorban… wkwkw…
jangan sampe kelewatan lho…

Waduh, susah amat pertanyaannya…
…wah…siapa ya???

ok, saya nyerah deh…
Jadi siapa sih yg bilang “Manusia diselamatkan KARENA PERBUATAN SAJA”?

Ente tau ya? Saya kok gak ketemu.

Pertanyaan kedua yang engga elo jawab dari dulu-dulu adalah: [b]INDIKATOR apa yang dapat ALEPH gunakan untuk mengevaluasi / merefleksikan bahwa IMAN ALEPH sudah SEJATI?[/b]

coba kebiasaannya kalo ditanya itu njawab ya…
bukannya nanya yg lain atau malah ngomel-ngomel engga jelas gini…

ada DUA PERTANYAAN yang dari dulu engga elo jawab malah plintat-plintut ngoceh engga jelas terus…
kapan mau maju-nya sih elo?

Semoga elo berkenan membuka hati atas jamahan ROH KUDUS ya…
sehingga Iman elo bisa menjadi sejati…

salam

NB:
di pasar baru lagi banyak promo diskon toko tekstil tuh…
pasti banyak pilihan kain ungu buat daster dan sorban… wkwkw…
jangan sampe kelewatan lho…


Sudah sering saya bahas. Ente ingatannya cekak ya.

Kalau saya percaya kasih karunia Allah, ya itu namanya saya beriman. Gitu aja kok.

gak usah ngomong trall troll
diskusi yang bener aja
kalo situ niat diskusi yang baik orang lain pun akan menanggapi dengan baik
jadi berkaca aja dech

oke kita lanjut

saya ada pertanyaan
lihat yang saya bold dari statement anda

yang saya tanyakan bila ada orang yang bergeser dan semakin bergeser dan akhirnya mungkin, sekali lagi saya bilang mungkin bahkan keluar dari jalur
apa yang terjadi??
apakah hadiah itu tetap dia dapatkan??

simple answer ya mas
saya gak niat debat

lah kagak ngarti… kan situ yg nulis ndiri?

salah bayangin ladyboy ya?
wkwkw…

Sudah sering saya bahas. Ente ingatannya cekak ya.

Kalau saya percaya kasih karunia Allah, ya itu namanya saya beriman. Gitu aja kok.


Lho… yg ditanya itu INDIKATOR nya mas…

hadeeh…

Misal:

  • Apa indikatornya aleph tahu bahwa aleph kebanyakan makan lemak babi?
    oh, karena hasil lab darah aleph minggu lalu menunjukkan total kolesterolnya lewat batas…

itu namanya indikator…
BUKANnya:
Aleph tahu aleph kebanyakan makan lemak babi karena aleph merasa makan babinya sudah banyak.

itu namanya bukan indikator tapi sok merasa doang

semoga jelas ya mas…

Pertama-tama untuk mengerti, anda harus ubah dulu cara pandangnya.
Tuhan itu tidak sedang menuntut sesuatu dari manusia. Tidak sedang men-judge manusia, kalau berhasil melakukan tuntutan akan diberi sesuatu. Atau kalau gagal akan dihukum.

Tuhan itu mau menolong manusia. Tuhan ingin manusia menerima pertolongan Tuhan.
Kalau kita percaya kepada pertolongan Tuhan, itu namanya beriman.

Semoga sampai sini cara pandangnya sudah ngerti.

Kemudian, pertanyaan anda,
Kalau ada orang yang semakin bergeser, artinya tidak lagi secara terus menerus memandang kepada TUhan untuk berharap pertolongan dariNya, maka akibatnya akan rugi sendiri. Dia harus berjuang sendiri dalam kehidupan ini. Yang mana bisa besar sekali kemungkinannya dia jatuh dalam dosa yang harmful bagi kehidupannya.

Pada akhirnya bila dia mati, dia akan tetap masuk surga, karena Tuhan tetap setia pada janjiNya meskipun manusia tidak setia.

Saya gak pernah bilang kok.
Saya sih yakin gak ada ajaran kristen aliran manapun yang bilang keselamatan hanyalah melalui perbuatan saja.
Kalau yang bilang karena anugerah plus iman plus ini plus itu plus ono plus PERBUATAN BAIK, itu banyak.

Tapi kalau ente pikir pake logika,
Misalnya untuk selamat formulanya harus butuh A+B+C+D.
Bukankah saya bisa bilang bahwa berarti keselamatan tergantung ada atau tidaknya D?
Meskipun memang tidak bisa dibilang keselamatan hanya tergantung D.

Itulah yang saya kritisi, banyak yang koar-koar untuk selamat harus ada perbuatan baik tapi gak mau kalau dibilang keselamatan tergantung perbuatan baik.

Ngerti logic-nya mas?
Jangan bayangin ladyboy mlulu…

Lho... yg ditanya itu INDIKATOR nya mas...

hadeeh…

Misal:

  • Apa indikatornya aleph tahu bahwa aleph kebanyakan makan lemak babi?
    oh, karena hasil lab darah aleph minggu lalu menunjukkan total kolesterolnya lewat batas…

itu namanya indikator…
BUKANnya:
Aleph tahu aleph kebanyakan makan lemak babi karena aleph merasa makan babinya sudah banyak.

itu namanya bukan indikator tapi sok merasa doang

semoga jelas ya mas…


Saya sarankan ubah cara pandang dulu seperti yang saya tulis untuk mas Pepeng di atas.
Jadi sebenarnya gak ada indikator-indikatoran.
Kalau saya denger injil atau baca Firman Tuhan dan percaya, itu artinya saya beriman.
Kalau misalnya mulai bergeser dan ragu, baca Firman lagi, atau denger Firman supaya imannya tumbuh lagi.
Begitu mas.

Anda cari indikator karena pola pikirnya masih ‘berusaha melakukan tuntutan Tuhan’. Maka jadinya ya menghakimi orang lain, yaitu dengan nuduh orang lain sok merasa doang.

kok sama saja bo’ong???

kalau tidak ada penyelamatan dr Tuhan Yesus, maka siapapun, dan apapun perbuatanya tidak bisa selamat. sepakat kan?? pokoknya tertutuplah segala kemungkinan selamat… tidak bisa… tidak ada tiket PASTI tidak bisa masuk. gitu kan?

nah, trus apa dengan karya penyelamatan Yesus otomatis semua orang selamat? apa dengan pegang tiket orang tiba2 cring…!, masuk? kalau otomatis selamat, maka sama aja boong dong ajaran2 untuk bertahan dlm kebaikan? mau tau terimakasih kek, mau enggak kek krn dikasih hadiah… mau dibuang kek hadiahnya, pokoknya selamat?? kan enggak?

itu artinya bahwa keselamatan yg kita peroleh dari Allah membuat kita yang tadinya tidak mungkin selamat menjadi BISA dan mungkin sekali selamat. dengan begitu, logisnya, ketika sudah memungkinkan selamat, maka ada tugas manusia, yaitu, MENGERJAKAN KESELAMATAN itu dengan takut dan gentar (Fil 2:12)

untuk bisa mendapat gelarsarjana maka anda harus menjadi mahasiswa di universitas.
tanpa adanya universitas di dunia ini, maka otomatis juga tidak ada gelar sarjana.
namun, apakah dengan masuk dan diterima menjadi mahasiswa, anda otomatis bergelar sarjana? tentu tidak, anda harus menyelesaikan studi anda dengan takut dan gentar.

jadi, sekali lagi,

tanpa adanya kurban Yesus dikayu salib, TIDAK ada dan tidak akan pernah ada keselamatan didunia ini.
bersyukur atas besarnya kasih Allah, maka Ia mengorbankan putraNya yang tunggal Yesus Kristus, untuk menebus dosa semua umat manusia, dan dengan demikian, kita menjadi BISA diselamatkan.

maka, sebagai umatnya, sebagai rasa terimakasih kita, sebagai wujud peertanggungjawaban, sebagai penggenapan karya Allah, maka hidupkanlah Iman kita dalam perbuatan (Yakobus 2:18, Yakobus 2:20, Yakobus 2:26)

Ingin berkomentar atas ini:

Yak 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. Ulangi: Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati dengan kata lain, tidak selamat. Adalah ngimpi kalo mengatakan “Dengan beriman pasti selamat”, sebab, Yak 2:26.

Jadi, memang benar untuk selamat harus ada perbuatan baik. Meski perbuatan seseorang tergolong baik, dia tidak akan selamat jika tidak melalui Tuhan Yesus Kristus.

Salam olahraga.

Bagian manusia hanyalah percaya, yaitu menerima keselamatan yang diberikan Tuhan.
Ayat tentang mengerjakan keselamatan, itu bukan untuk meraih/mengapai/mempertahankan keselamatan. tapi untuk mengerjakan keselamatan yang sudah dikerjakan Tuhan dalam diri kita.

Kalau ada andil effort manusia dalam keselamatan itu berarti ayat yang mengatakan keselamatan adalah kasih karunia itu omong kosong. Dan segala kemuliaan hanya bagi Tuhan, juga omong kosong, karena manusia turut andil dalam pekerjaan keselamatan.