Diskusi Purgatory Oleh Bapa Gereja Perdana

DEAR [email protected]

Terlepas dari penjelasan penjelasan yang sudah di utarakan oleh netter netter semua yang ada di theart ini…APAKAH ANDA SENDIRI MEEMPERCAYAI…?? MEYAKINI DAN MENG_IMANI SERTA MENG_AMINI atau tidak…??? Mengenai “PRUGATORY” tsb…???

Salam GBU

Ditolak sejak pertama kali dikumandangkan oleh Gereja Katolik Roma tahun 1160 AD (setelah Skismatik Besar tahun 1054 AD).

Pertanyaan kedua itulah yang justru akan kita bahas di Thread ini secara perlahan-lahan (karena banyak sekali bahannya).

@ brother fantioz kalau boleh tahu, dari tradisi Bapa gereja siapa sajakah ajaran Purgatory itu? dan apa saja ajarannya?

**this is really honest question. because i want to know the history about it.
many thanks for any answers.

GBU

Lho kan sudah saya posting pandangan Gereja Katolik Roma mengenai Purgatory di postingan awal…

Best Regard,
Daniel FS

@Bro Avatar
Betul kata Bro Daniel, udah ada di awal thread. Bisa juga dilihat di situs church father http://www.churchfathers.org/category/salvation/purgatory/

Just info & compare saja. Orang Yahudi saat ini juga mempercayai Purgatory dengan definisi yang lebih berani, yaitu max 12 bulan di purgatory. Untuk dasar ajarannya dari mana, silakan tanya sendiri ke netter Yahudi :).

Mungkin hari ini saya posting2 terakhir di FK, udah mulai menyiapkan acaran Natal. Selamat Natal bagi netter yang merayakan tanggal 25 Desember (Gregorian Date). Bagi yang merayakan 6-7 Januari (Julian Date), nanti aja ya ucapannya :D.

Shalom Aleikhem.

Bagi kaum Orthodox, Theosis belum dapat dicapai seseorang selama ia belum mengalami kebangkitan tubuh seperti YESUS KRISTUS.

Berikut ini merupakan kutipan dari doktrin Orthodox,

The Latins developed the theory of the purifying fire, that the souls of all men, righteous and unrighteous, will pass through what they call purgatory after leaving their bodies. The patristic tradition speaks of purifying the heart, but that has a different meaning. The Latins’ theory of purgatory is a misinterpretation and distortion of the relative passages in Holy Scripture and the Fathers of the Church and has been used for other purposes.

Source: Life After Death. Metropolitan Hierotheos. Bab 5

Menurut Gereja Orthodox Timur, munculnya doktrin Purgatorium hanyalah karena misinterpretation (kesalahan interpretasi) pada Tradisi Rasuli (seperti yang saya kemukakan dalam sumber diatas), jadi entah lagi kalau menurut Protestan ada alasan khusus… :slight_smile:

Best Regard,
Daniel FS

Ortodox Timur mnolak purgatory, ttp juga berdoa utk org mati…

ada ksmaan n p’bedaan antara ktolik dan ortodox, sama kduanya mndoakan utk org mati ttp ortodox tdk mngakui purgtory…

bsa tlg d jlskan utk apa brdoa utk org mati itu?

sblmny kmu mngtakan utk :

  1. Mengenang dan meneladani hidup mereka (bagi mereka yang ditinggalkan).
  2. Memberkati mereka dan membantu agar meningkat dari satu kemuliaan kepada kemuliaan yang lebih tinggi.

mnurut sya krang jls utk point 2… knp, kr ortodox tdk mnjelaskn prosesnya apa, bgmn…?

katolik juga mndoakan org mati supaya org yg didoakan dpt dikuduskan, jika sblmnya kurang kdus… prosesny dinamakan purgatory - penyucian… jd katolik jelas utk mningkatkan level kkudusan dinmakan pnyucian… :happy0062:

pandngan katolik :

St. Agustinus (354-430) mengajarkan, bahwa hukuman sementara sebagai konsekuensi dari dosa, telah dialami oleh sebagian orang selama masih hidup di dunia ini, namun bagi sebagian orang yang lain, dialami di masa hidup maupun di hidup yang akan datang; namun semua itu dialami sebelum Penghakiman Terakhir. Namun, yang mengalami hukuman sementara setelah kematian, tidak akan mengalami hukuman abadi setelah Penghakiman terakhir tersebut.[6]

St. Gregorius Agung (540-604),“Kita harus percaya bahwa sebelum Pengadilan [Terakhir] masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seorang menentang ROH KUDUS, ia tidak akan diampuni, ‘di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, [sedangkan dosa] yang lain di dunia lain.”[7]

Bagi kaum Orthodox, Theosis belum dapat dicapai seseorang selama ia belum mengalami kebangkitan tubuh seperti YESUS KRISTUS.

Berikut ini merupakan kutipan dari doktrin Orthodox,

The Latins developed the theory of the purifying fire, that the souls of all men, righteous and unrighteous, will pass through what they call purgatory after leaving their bodies. The patristic tradition speaks of purifying the heart, but that has a different meaning. The Latins’ theory of purgatory is a misinterpretation and distortion of the relative passages in Holy Scripture and the Fathers of the Church and has been used for other purposes.


Yang saya bold, maksudnya the latins siapa ya? Bapa Gereja latin atau siapa?

Untuk dasar dari tulisan Bapa Gereja ada di terjemahan saya :

http://thedidit.wordpress.com/2009/03/08/purgatory-api-pencucian/

Maaf ada typo seharusnya Api Penyucian, bukan Pencucian. Kalau Orthodox menolak Tertullian, masih ada tulisan Bapa Gereja yang lain seperti Origen, Cyril of Jerusalem, Gregory of Nyssa, Agustine of Hippo, Gregorius Agung Dialogos.

Soal Tertullian sebenernya bidat Montanism yang dianut tidak terlalu terkait dengan Purgatory. Tapi itu hak Orthodox kalau mau menolak semua tulisan Tertullian.

Next, sama seperti pertanyaan Onyxs, tentang mendoakan orang mati, saya juga agak bingung, bagaimana posisi-posisi jiwa sesaat setelah orang mati? Masuk surga dengan berbagai tingkatan atau bagaimana? Trus doanya bisa membawa ke tingkatan yang lebih tinggi begitu? Bagaimana posisi jiwa yang masih berdosa, tapi bukan dosa maut?

Shalom Aleikhem

Prosesnya adalah melalui rasa tak layak/malu pada nous (jiwa) manusia, inilah maksud dari kata-kata “penghukuman dan atau api” yang dituliskan oleh Bapa Gereja.

Proses Deifikasi tersebut dilakukan melalui doa-doa Gereja Universal dan Sakramen Ekaristi, bukan oleh Api yang berdiri sendiri seperti konsep Api Purgatory dan juga Indulgensi.

katolik juga mndoakan org mati supaya org yg didoakan dpt dikuduskan, jika sblmnya kurang kdus.. prosesny dinamakan purgatory - penyucian.. jd katolik jelas utk mningkatkan level kkudusan dinmakan pnyucian.. :happy0062:

pandngan katolik :

St. Agustinus (354-430) mengajarkan, bahwa hukuman sementara sebagai konsekuensi dari dosa, telah dialami oleh sebagian orang selama masih hidup di dunia ini, namun bagi sebagian orang yang lain, dialami di masa hidup maupun di hidup yang akan datang; namun semua itu dialami sebelum Penghakiman Terakhir. Namun, yang mengalami hukuman sementara setelah kematian, tidak akan mengalami hukuman abadi setelah Penghakiman terakhir tersebut.[6]

St. Gregorius Agung (540-604),“Kita harus percaya bahwa sebelum Pengadilan [Terakhir] masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seorang menentang ROH KUDUS, ia tidak akan diampuni, ‘di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, [sedangkan dosa] yang lain di dunia lain.”[7]

Sudah saya jelaskan diatas, mengenai apa yang dimaksudkan oleh Bapa Gereja mengenai “api” dan “penghukuman” menurut Gereja Orthodox Timur.

Yang saya bold, maksudnya the latins siapa ya? Bapa Gereja latin atau siapa?

Gereja Katolik Roma setelah skisma.

Untuk dasar dari tulisan Bapa Gereja ada di terjemahan saya :

http://thedidit.wordpress.com/2009/03/08/purgatory-api-pencucian/

Maaf ada typo seharusnya Api Penyucian, bukan Pencucian. Kalau Orthodox menolak Tertullian, masih ada tulisan Bapa Gereja yang lain seperti Origen, Cyril of Jerusalem, Gregory of Nyssa, Agustine of Hippo, Gregorius Agung Dialogos.

Ya terima kasih, kalau bisa formatnya lebih dirapikan…

Soal Tertullian sebenernya bidat Montanism yang dianut tidak terlalu terkait dengan Purgatory. Tapi itu hak Orthodox kalau mau menolak semua tulisan Tertullian.

Next, sama seperti pertanyaan Onyxs, tentang mendoakan orang mati, saya juga agak bingung, bagaimana posisi-posisi jiwa sesaat setelah orang mati? Masuk surga dengan berbagai tingkatan atau bagaimana? Trus doanya bisa membawa ke tingkatan yang lebih tinggi begitu? Bagaimana posisi jiwa yang masih berdosa, tapi bukan dosa maut?

Shalom Aleikhem

Tingkat Deifikasi dalam Orthodox Timur:

  1. Pemurnian hati [Purification of heart], ini baru mulai diperoleh ketika seseorang menerima KRISTUS.
  2. Pencerahan Nous (jiwa) [Ilumination of Nous], ini dapat diperoleh saat hidup maupun sesudah wafat, Santo & Santa berada dalam Deifikasi tingkat ini.
  3. Theosis, proses Theosis ini dapat dicapai jika telah mengalami kebangkitan badan, Bunda Maria berada dalam kepenuhan Deifikasi tingkat ini.

Jadi bagi Orthodox Timur, tidak ada siksaan/hukuman yang bersifat “sakit fisik” seperti Purgatory melainkan hanya siksaan jiwa saja seperti rasa tak layak/malu yang amat mendalam.

The saint [Mark Eugenicus] ends by saying: Since the prayers of the Church reach all, we do not need to receive the purifying fire. Purification and salvation are brought about by the goodness and philanthropy of God.

Source: Life After Death. Metropolitan Hierotheos. Bab 5

Demikianlah pandangan Gereja Orthodox Timur mengenai tulisan Bapa Gereja tersebut.

Best Regard,
Daniel FS

Prosesnya adalah melalui rasa tak layak/malu pada nous (jiwa) manusia, inilah maksud dari kata-kata "penghukuman dan atau api" yang dituliskan oleh Bapa Gereja.

Proses Deifikasi tersebut dilakukan melalui doa-doa Gereja Universal dan Sakramen Ekaristi, bukan oleh Api yang berdiri sendiri seperti konsep Api Purgatory dan juga Indulgensi.

Kalau menurut katekismus Gereja Katolik, konsep seperti itu sebenernya juga sesuai. Karena katekismus hanya berbicara ada proses pemurnian.

The Church gives the name Purgatory [b]to this final purification of the elect[/b], which is entirely [b]different from the punishment of the damned[/b]
Hanya saja, ada keterangan tambahan :
The tradition of the Church, [b]by reference to certain texts of Scripture[/b], speaks of a [b]cleansing fire

Justru istilah api ini digunakan karena banyaknya referensi bahwa Tuhan sering memanifestasikan diriNya, juga menggunakan Api dalam berbagai hal.

Yang referensi Alkitab kita bicarakan di thread lain saja. Yang dari bapa gereja :

Karena jika di atas pondasi KRISTUS kamu sudah membangun tidak hanya emas, perak dan, batu mulia (1 Kor 3), tetapi juga rumput kering, jerami, dan kayu, apa yang kamu harapkan ketika jiwa akan terpisah dari badan? Akankah kamu masuk ke surga dengan rumput kering dan jerami, dan kayu, dan dengan begitu mengotori kerajaan Tuhan? atau oleh karena rintangan-rintangan ini kamu akan tidak menerima penghargaan untuk emas, perak, dan batu muliamu, bukankah ini tidak adil?. [b]Kamu terikat dengan api yang akan membakar material, untuk Tuhan kita, dan bagi mereka yang bisa mengerti hal-hal surgawi disebut Api Penyucian[/b] . [b]Tetapi api ini tidak menghanguskan makhluk[/b], tetapi apa yang dibangun oleh makhluk ini, kayu, jerami dan rumput kering. [b]Ini adalah manifestasi bahwa api menghancurkan kayu, yaitu kesalahan kita dan kemudian kembali ke penghargaan dari pekerjaan agung kita” Origen, Homili pada Yeremia, PG 13:445, 448 (244 M).[/b]

Tentang Bapa Gereja Origen, apakah Orthodox mengakui atau tidak, saya tidak tahu.

“Ketika jiwa seseorang meninggalkan badannya dan sisa antara sifat buruk dan baik masih ada, ia tidak bisa mendekati Tuhan hingga api pemurni akan membersihkan noda yang memenuhi jiwa itu. Api yang sama itu di sisi lain akan membatalkan ketidak jujuran, dan kecenderungan akan kejahatan” [b]Gregory Nyssa, Khotbah pada Kematian[/b], PG 13:445,448 (sebelum 394 M).

Masih ada beberapa quotes dari bapa Gereja yang lain. Maaf blog saya kurang rapi. Dulu sebenernya yang rapi saya taruh di geocities, tapi geocities udah discontinue dan file-enya hilang.

Dalam diskusi purgatory di thread lain saya juga mengatakan setuju dengan istilah Anda (melalui rasa tak layak/malu pada nous (jiwa) manusia). Tapi saya juga sedang mengkaji frase Paulus berikutnya “seperti dari dalam api”. Dan kebetulan beberapa Bapa Gereja ternyata mengkaji hal yang sama. Dan tahunnya adalah tahun sebelum skisma.

Tentang indulgensi saya pernah bertanya ke Rm. Kyril, apakah Orthodox ada indulgensi, beliau belum menjawab waktu itu. Terima kasih Anda sudah menjawab. Tentang doa-doa untuk deifikasi, mungkin sudah sama tujuannya antara Katolik dan Orthodox. Demikian juga Sakramen Ekaristi untuk deifikasi. Tentang Indulgensi sifatnya memang ekstra-sakramental (diluar 7 sakramen), selevel dengan doa-doa, tapi “dibungkus” seperti penitensi pada sakramen penance. (Ref : http://www.newadvent.org/cathen/07783a.htm)

Gereja Katolik Roma setelah skisma.
IMO ini masalah penafsiran saja. Seperti penafsiran kita terhadap Alkitab. Mungkin kita perlu membaca lebih detail tulisan-tulisan Bapa Gereja tersebut. Tapi sebenernya intinya adalah adanya "state of being" penderitaan afterlife dalam rangka penyucian/deifikasi.

Oh ya, Anda mengatakan bukan oleh Api yang berdiri sendiri seperti
, misalkan tidak didoakan dan tidak ada persembahan melalui Ekaristi bagaimana? Apakah proses deifikasi akan berhenti?

Tingkat Deifikasi dalam Orthodox Timur: 1) Pemurnian hati [Purification of heart], ini baru mulai diperoleh ketika seseorang menerima KRISTUS.
OK
2) Pencerahan Nous (jiwa) [Ilumination of Nous], ini dapat diperoleh saat hidup maupun sesudah wafat, Santo & Santa berada dalam Deifikasi tingkat ini.
Kalau sudah wafat tapi masih ada dosa, seperti Anda katakan akan menderita malu, tidak layak dsb. Posisinya dimana?
3) Theosis, proses Theosis ini dapat dicapai jika telah mengalami kebangkitan badan, Bunda Maria berada dalam kepenuhan Deifikasi tingkat ini.

Di Katolik ada istilah kesempurnaan Beatific Vision (berhadapan muka dengan Allah Bapa). Kalau di Orthodox harus berada di posisi mana untuk bertemu muka dengan Allah Bapa yang Maha Kudus?

Jadi bagi Orthodox Timur, tidak ada siksaan/hukuman yang bersifat "sakit fisik" seperti Purgatory melainkan hanya siksaan jiwa saja seperti rasa tak layak/malu yang amat mendalam.
Saya juga setuju. Istilah siksaan itu sangat relatif di dunia Roh. Kita juga tidak tau roh menderita itu yang bagaimana, tapi sudah pasti menderita. Hanya saja istilah Api (manifestasi Tuhan) memang jadi rujukan yang kuat, sampai-sampai Paulus juga mengatakannya "seperti dari dalam api". Menurut penafsiran saya, ada semacam proses, [b]masuk-keluar-diselamatkan[/b] dari dalam api begitu.
The saint [Mark Eugenicus] ends by saying: Since the prayers of the Church reach all, we do not need to receive the purifying fire. Purification and salvation are brought about by the goodness and philanthropy of God
Sudah saya tanyakan di atas, seandainya tidak ada doa-doa dan sacramental gift untuk si jiwa (hampir mustahil ya? :D), apakah deifikasi terhenti? Doa-doa dan Sacramental Gift akan tidak ada jika Gereja Katolik dan Orthodox hilang dari muka bumi hehehe. Eh tapi masih ada Gereja yang Jaya di sorga yang mendoakan ya? Apa betul begitu?

Shalom Aleikhem

@ Daniel

Prosesnya adalah melalui rasa tak layak/malu pada nous (jiwa) manusia, inilah maksud dari kata-kata "penghukuman dan atau api" yang dituliskan oleh Bapa Gereja.

Proses Deifikasi tersebut dilakukan melalui doa-doa Gereja Universal dan Sakramen Ekaristi, bukan oleh Api yang berdiri sendiri seperti konsep Api Purgatory dan juga Indulgensi.

Prsesny melalui rasa tak layak/ malu…?

ada bbrapa p’tanyaan dlm benak saya :

  1. mnrt Ortodox timur apkh stlh mndoakan org mati, org mati itu mjdi Pede atau d’ Pedekan shingga tdk lagi malu thdap Tuhan?
  2. apkh prses ini dpt d’sebut pemPeDean?
  3. Apkh “api” bisa mmbuat malu? Sprti judul film “trbakar api cmburu (malu)”??
  4. apkh dgn hilangny malu disini brarti mnderita?

seperti pertanyaan fantioz juga…

Anda mengatakan [b]bukan oleh Api yang berdiri sendiri seperti , misalkan tidak didoakan dan tidak ada persembahan melalui Ekaristi bagaimana? Apakah proses deifikasi akan berhenti?

ini apkh brarti doa2 kita seolah2 mnibulkan “api” utk org2 mati shingga mrk mndapat malu?
jika doa2 kita trhenti apkh otomatis org2 lgs dipedekan shingga lgs brtemu dgn Allah atau msh ada dlm tmpat antara malu dan tidak malu?

Kebalik :), maksud saya, doa-doa kita dan Eucharist Sacramental Gift justru seolah-olah “memadamkan” api, sehingga malu-nya berkurang. Kalau doa-doanya berhenti, mungkin “rasa malu” itu masih tersisa dan proses pengudusan terhenti. Kelanjutannya bagaimana, saya tidak tahu.

Shalom Aleikhem

Menurut doktrin yang dikemukakan oleh Gereja Katolik Roma pada Konsili Ferrara-Florence tahun 1438 - 1439 AD mengenai Purgatorium adalah sebagai berikut:

  1. Tempat/kategori ketiga selain Sorga dan Neraka, jadi bukan Sorga dan bukan Neraka.

http://www.davidmacd.com/images/purgatory.jpg

  1. Api Purgatory adalah api yang diciptaan Allah.
  2. Setelah Proses Purgatory maka jiwa manusia menerima upah sepenuhnya (received perfect crown) di Sorga.
  3. Upah sepenuhnya tersebut adalah menerima Esensi Allah.

Inilah beberapa permasalahan (entah kalau ada lagi) yang ditolak oleh Gereja Orthodox dalam doktrin Purgatorium.

Yang referensi Alkitab kita bicarakan di thread lain saja.

Ya, saya setuju, supaya tidak Out Of Topic.

Yang dari bapa gereja :
Karena jika di atas pondasi KRISTUS kamu sudah membangun tidak hanya emas, perak dan, batu mulia (1 Kor 3), tetapi juga rumput kering, jerami, dan kayu, apa yang kamu harapkan ketika jiwa akan terpisah dari badan? Akankah kamu masuk ke surga dengan rumput kering dan jerami, dan kayu, dan dengan begitu mengotori kerajaan Tuhan? atau oleh karena rintangan-rintangan ini kamu akan tidak menerima penghargaan untuk emas, perak, dan batu muliamu, bukankah ini tidak adil?. [b]Kamu terikat dengan api yang akan membakar material, untuk Tuhan kita, dan bagi mereka yang bisa mengerti hal-hal surgawi disebut Api Penyucian[/b] . [b]Tetapi api ini tidak menghanguskan makhluk[/b], tetapi apa yang dibangun oleh makhluk ini, kayu, jerami dan rumput kering. [b]Ini adalah manifestasi bahwa api menghancurkan kayu, yaitu kesalahan kita dan kemudian kembali ke penghargaan dari pekerjaan agung kita” Origen, Homili pada Yeremia, PG 13:445, 448 (244 M).[/b]

Tentang Bapa Gereja Origen, apakah Orthodox mengakui atau tidak, saya tidak tahu.

Sepengetahuan saya, Origen masih diakui, nanti saya akan cari dulu bacaan lengkapnya Origen yang menyatakan hal tersebut. Secara bertahap saya masih memprioritaskan baca-baca surat Bapa Gereja dibawah tahun 200 AD, biasa… soalnya di Protestan ndak pernah nyentuh sama sekali dulu…

We take great pains until God’s fire enters into our sanctuary, our heart. God, who is a fire, consumes all lusts, all stirrings of passion, all predispositions, and all hardness of heart, and darkness both within and without, both visible and spiritual.
—St.Yohanes Klimakus (Abad ke-7)—

Jadi, “api” tersebut justru ada didalam hati manusia, bukan berada diluar seperti Purgatorium.

“Ketika jiwa seseorang meninggalkan badannya dan sisa antara sifat buruk dan baik masih ada, ia tidak bisa mendekati Tuhan hingga api pemurni akan membersihkan noda yang memenuhi jiwa itu. Api yang sama itu di sisi lain akan membatalkan ketidak jujuran, dan kecenderungan akan kejahatan” [b]Gregory Nyssa, Khotbah pada Kematian[/b], PG 13:445,448 (sebelum 394 M).

Masih ada beberapa quotes dari bapa Gereja yang lain. Maaf blog saya kurang rapi. Dulu sebenernya yang rapi saya taruh di geocities, tapi geocities udah discontinue dan file-enya hilang.

Dalam diskusi purgatory di thread lain saya juga mengatakan setuju dengan istilah Anda (melalui rasa tak layak/malu pada nous (jiwa) manusia). Tapi saya juga sedang mengkaji frase Paulus berikutnya “seperti dari dalam api”. Dan kebetulan beberapa Bapa Gereja ternyata mengkaji hal yang sama. Dan tahunnya adalah tahun sebelum skisma.

Kita tidak akan mengkaji frase Rasul Paulus dari Alkitab sesuai dengan pembatasan topik,
Tolong berikan sumber kajian Konsili sebelum Skisma mengenai Purgatorium.

Tentang indulgensi saya pernah bertanya ke Rm. Kyril, apakah Orthodox ada indulgensi, beliau belum menjawab waktu itu. Terima kasih Anda sudah menjawab. Tentang doa-doa untuk deifikasi, mungkin sudah sama tujuannya antara Katolik dan Orthodox. Demikian juga Sakramen Ekaristi untuk deifikasi. Tentang Indulgensi sifatnya memang ekstra-sakramental (diluar 7 sakramen), selevel dengan doa-doa, tapi "dibungkus" seperti penitensi pada sakramen penance. (Ref : http://www.newadvent.org/cathen/07783a.htm)

IMO ini masalah penafsiran saja. Seperti penafsiran kita terhadap Alkitab. Mungkin kita perlu membaca lebih detail tulisan-tulisan Bapa Gereja tersebut. Tapi sebenernya intinya adalah adanya “state of being” penderitaan afterlife dalam rangka penyucian/deifikasi.

Ya memang ini masalah interpretasi.

Oh ya, Anda mengatakan [b]bukan oleh Api yang berdiri sendiri seperti [/b], misalkan tidak didoakan dan tidak ada persembahan melalui Ekaristi bagaimana? Apakah proses deifikasi akan berhenti?

Tidak mungkin doa Gereja dan Ekaristi dalam Gereja Universal macet total, bukankah YESUS KRISTUS berjanji bahwa Alam Maut tidak akan menguasai Gereja?

Kalau sudah wafat tapi masih ada dosa, seperti Anda katakan akan menderita malu, tidak layak dsb. Posisinya dimana?

Posisi nomor 1 dan atau 2, bisa terjadi bersamaan, ketika hidup di duniapun proses deifikasi nomor 1 dan 2 bisa terjadi bersamaan. Hanya saja keterangan disitu adalah untuk memperjelas bahwa pada posisi Santo/Santa pasti sudah berada pada deifikasi nomor 2.

Di Katolik ada istilah kesempurnaan Beatific Vision (berhadapan muka dengan Allah Bapa). Kalau di Orthodox harus berada di posisi mana untuk bertemu muka dengan Allah Bapa yang Maha Kudus?

Agak lain maknanya, Beatific Vision ini terjadi setelah melalui Purgatory sehingga seseorang dikatakan mengalami kepenuhan Esensi Allah (Esensi Allah sebagai Actus Purus), dalam Orthodox Timur seseorang tidak mungkin mengalami kepenuhan Esensi Allah karena Allah tidak berbagi Esensi, melainkan mengalami kepenuhan Energi (Protestan menyebutnya Urapan) Allah, dan kepenuhan Energi ini secara lengkap didapat dalam kondisi Theosis.

Mirip tapi tak sama…

Saya juga setuju. Istilah siksaan itu sangat relatif di dunia Roh. Kita juga tidak tau roh menderita itu yang bagaimana, tapi sudah pasti menderita. Hanya saja istilah Api (manifestasi Tuhan) memang jadi rujukan yang kuat, sampai-sampai Paulus juga mengatakannya "seperti dari dalam api". Menurut penafsiran saya, ada semacam proses, [b]masuk-keluar-diselamatkan[/b] dari dalam api begitu.

Saya sudah membaca interpretasi Orthodox mengenai tulisan Rasul Paulus, maknanya bukan merujuk kepada Api Purgatory, kita bisa bicarakan pada Thread yang lain.

Sudah saya tanyakan di atas, seandainya tidak ada doa-doa dan sacramental gift untuk si jiwa (hampir mustahil ya? :D), apakah deifikasi terhenti? Doa-doa dan Sacramental Gift akan tidak ada jika Gereja Katolik dan Orthodox hilang dari muka bumi hehehe. Eh tapi masih ada Gereja yang Jaya di sorga yang mendoakan ya? Apa betul begitu?

Shalom Aleikhem

Ya, oleh karena tidak mungkin (kalau mungkin maka membatalkan ayat lainnya) maka tidak ada jawaban untuk hal itu.

Best Regard,
Daniel FS

Tidak, proses itu disebut Deifikasi.

2. apkh prses ini dpt d'sebut pemPeDean?

Tidak, pemPDan artinya orang tersebut sudah memiliki potensi dari awal namun malu makanya diPDkan supaya tidak malu, sedangkan Deifikasi adalah orang tersebut dalam ketaklayakan (sejak awal tidak memiliki potensi layak) secara jiwa melalui Deifikasi maka menjadi layak.

3. Apkh "api" bisa mmbuat malu? Sprti judul film "trbakar api cmburu (malu)"??

Rm. 12:20
20. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

Dalam kajian Theologi kadangkala frase “api” dapat ditafsirkan demikian.

4. apkh dgn hilangny malu disini brarti mnderita?

Artinya yang diproses selama Deifikasi adalah kondisi kejiwaan dan hati, bukan menyakitkan secara fisikal terbakar api seperti yang digambarkan dalam Purgatorium.

seperti pertanyaan fantioz juga..
Anda mengatakan [b]bukan oleh Api yang berdiri sendiri seperti , misalkan tidak didoakan dan tidak ada persembahan melalui Ekaristi bagaimana? Apakah proses deifikasi akan berhenti?

ini apkh brarti doa2 kita seolah2 mnibulkan “api” utk org2 mati shingga mrk mndapat malu?
jika doa2 kita trhenti apkh otomatis org2 lgs dipedekan shingga lgs brtemu dgn Allah atau msh ada dlm tmpat antara malu dan tidak malu?

Tidak ada “api” seperti Purgatorium Katolik Roma dalam Gereja Orthodox Timur, konteks “api” dalam Gereja Orthodox Timur berkenaan dengan hal perasaan ketaklayakan jiwa.

Best Regard,
Daniel FS

gimana bro fantioz menanggapi ini ya?

[quoteArtinya yang diproses selama Deifikasi adalah kondisi kejiwaan dan hati, bukan menyakitkan secara fisikal terbakar api seperti yang digambarkan dalam Purgatorium.]
[/quote]

Tidak ada "api" seperti Purgatorium Katolik Roma dalam Gereja Orthodox Timur, konteks "api" dalam Gereja Orthodox Timur berkenaan dengan hal perasaan ketaklayakan jiwa.

Best Regard,
Daniel FS

Tidak, proses itu disebut Deifikasi.

Ortodok mnolak pnyucian, tp stuju proses pngudusan itu dsebut DEIFIKASI… :slight_smile:

Jepang = Japan = Nippon
sya mlihat tidak ada yg beda antara deifikasi utk ortodox dan penyucian utk katolik, kedua2nya proses pengudusan…

katolik mengatakan penyucian sdgkan ortodox mengatakan Deifikasi, bukankah seperti itu?

yang kmu p’tanyakn knp katolik “mndoakan org mati” spy t’lepas dr penderitaan? Sdgkan ortodox “mndoakan org mati” spy t’lepas dr rasa Malu… Sprti itu tdk yg kmu tnykan?

Tidak, pemPDan artinya orang tersebut sudah memiliki potensi dari awal namun malu makanya diPDkan supaya tidak malu, sedangkan Deifikasi adalah orang tersebut dalam ketaklayakan (sejak awal tidak memiliki potensi layak) secara jiwa melalui Deifikasi maka menjadi layak.

pemPDan artinya orang tersebut sudah memiliki potensi dari awal namun malu makanya diPDkan supaya tidak malu? Betul…

apa yg beda dgn

sedangkan Deifikasi adalah orang tersebut dalam ketaklayakan (sejak awal tidak memiliki potensi layak) secara jiwa melalui Deifikasi maka menjadi layak.?

lihat yg sya bold… Sya tdk tau ini rsmi ortodox or tdk, stau sya pndangan ortodox sma bhw smua ortodox layak menerima kerajaan Allah, krn itu sesuai janji YESUS snddiri…

jd mnrut sya ke2ny sma tdk ada yg beda…

Menurut doktrin yang dikemukakan oleh Gereja Katolik Roma pada Konsili Ferrara-Florence tahun 1438 - 1439 AD mengenai Purgatorium adalah sebagai berikut: 1) Tempat/kategori ketiga selain Sorga dan Neraka, jadi bukan Sorga dan bukan Neraka.

di dlam katekismus ktolik jls bhwa purgatory tdk merunjuk pd tmpt melainkan proses… Mgkn yg kmu cpas hanya salah terjemahan saja… Brikan copasanny Konsili Ferrara-Florence bro, kita anlisa brsama dgn katekismus ktolik… :slight_smile:

Tidak ada "api" seperti Purgatorium Katolik Roma dalam Gereja Orthodox Timur, konteks "api" dalam Gereja Orthodox Timur berkenaan dengan hal perasaan ketaklayakan jiwa.

bro mngatakan mngacu pndgan ortodox, api dan mndoakan org mati brkenaan dgn :

  1. ketaklayakan jiwa.
  2. proses
  3. pengkudusan

sya copas dr ortodxwiki Purgatory - OrthodoxWiki
dkatakn “Prayers for the dead, then, are simply to comfort those in the waiting place.”

dan “Other Orthodox believe in the “toll gate” theory by which the dead go to successive “toll gates” where they meet up with demons who test them to determine whether they have been guilty of various sins during life and/or tempt them to further sin.[7] If they have not repented and been absolved of those sins, or if they give in to sin after death, they will be taken to Hell.”

jd ketaklayakan jiwa itu mnurt kmu or ortodox? Mnurut ortodox juga “place” bkan proses, srta pnderitaan? Juga tdk ada pngkudusan… CMIIW :slight_smile:

or kita bndingkn orthodoxwiki dgn katekisms orthodox?

gimana bro fantioz menanggapi ini ya?
Artinya yang diproses selama [b]Deifikasi adalah kondisi kejiwaan dan hati[/b], bukan menyakitkan secara fisikal terbakar api seperti yang digambarkan dalam Purgatorium.]

Maaf saya belum banyak waktu. Saya tanggapi yang ini dulu. Saya setuju dengan yang saya bold di atas. Tapi menurut saya lebih dari itu kerugian/penderitaannya. Atau bisa juga, purgatory dalam tahap tertentu “hanya” kondisi kejiwaan seperti di atas (merugi, menyesal, malu, tidak layak, dsb). Sampai di sini kita ada kesamaan : ada rasa tidak nyaman afterlife. Bagaimana?

Kayaknya akan OOT kalo di bahas di thread ini. Nanti saja di thread sebelah ya Bro, karena di thread ini saya berusaha untuk tidak mengutip Alkitab, Bro Daniel sudah menegur saya ketika mengutip kata-kata Paulus :D.

Eniwei, ini ada jawaban orang Orthodox juga tentang purgatory :

Answer Glory to JESUS CHRIST!

Eternal hellfire” is a symbolic term. The fact of the matter is that all will stand in the blinding Glory of God. For those who spent their lives running from it, it will be a horrible burning. For those who have spent their lives preparing for it, it will be a glorious illumination. It will be the same light, the same “fire”. For those who were only “partially” prepared, let’s say, may be at first frightened and pained, but like walking from a dark room into a suddenly bright room, they will become accustomed to the light and it will no longer be painful. But for those who reject the Light, it will be an eternal hell.

Bagian yang saya beri warna merah menggambarkan jiwa yang akan ke neraka, yang biru ke sorga. Yang hijau itu yang masih ada dosa, akan mengalami takut dan sakit sebelum menuju terang.

Bro Onyxs juga mengutip dari Orthodox wikipedia, bahkan disitu malah merujuk ada tempat penantian dimana jiwa didoakan untuk kenyamanannya.

Gambar dari situs Davidmacd sebagai ilustrasi saja. Sometimes dari situs Orthodox yang saya baca, penjelasan orang Orthodox juga kadang mengilustrasikan suatu tempat. Sejauh ini saya tidak merefer ke suatu tempat, sesuai dengan katekismus Gereja Katolik. Untuk dokumen Konsili Ferrara-Florence mungkin bisa dishare disini untuk dibahasa bersama.

Soal esensi Allah, disini agak beda. Gereja Katolik tidak mengajarkan esensi Allah seperti Orthodox, tapi Beatific Vision, bertemu muka dengan Allah Bapa. Tapi mungkin mirip dalam hal level kekudusan.

Sepengetahuan saya, Origen masih diakui, nanti saya akan cari dulu bacaan lengkapnya Origen yang menyatakan hal tersebut. Secara bertahap saya masih memprioritaskan baca-baca surat Bapa Gereja dibawah tahun 200 AD, biasa... soalnya di Protestan ndak pernah nyentuh sama sekali dulu...
OK, monggo kalau mau baca-baca dulu. Setahu saya juga Bapa Gereja Origen jatuh ke dalam bidat juga pada akhirnya. Jadi bertanya juga, kenapa masih diakui, tidak seperti Tertullian. Setahu saya juga, istilah Bapa Gereja bagi Orthodox tidak ada batas tahunnya. Bisa jadi jaman sekarang masih ada Bapa-Bapa Gereja baru, CMIIW.

Jadi pertanyaan juga, kenapa membatasi waktu konsili?. Dimana ada permasalahan gerejawi, disitu juga seharusnya ada Konsili, seperti contoh oleh para rasul. Dokumen Calvinisme protestan juga masih merujuk hal ini, meskipun hanya dokumen dan tidak pernah dilaksanakan :). Apakah ada penolakan tegas juga dari Gereja timur dalam bentuk konsili terhadap Purgatory?

We take great pains until [b]God's fire[/b] enters into our sanctuary, our heart. [b]God, who is a fire[/b], consumes all lusts, all stirrings of passion, all predispositions, and all hardness of heart, and darkness both within and without, both visible and spiritual. ---St.Yohanes Klimakus (Abad ke-7)---

Jadi, “api” tersebut justru ada didalam hati manusia, bukan berada diluar seperti Purgatorium.


Lho dari kalimat di atas bukannya api-nya adalah Tuhan dan yang disucikan adalah hati? Kalo merujuk penjelasan St. Yohanes Klimakus di atas sangat sesuai dengan istilah api dalam ilustrasi purgatory, yaitu Api yang memurnikan. Api itu datang dari Tuhan.

Jadi pointnya begini :

  1. Ada proses pemurnian Katolik : Purification, Orthodox : Deifikasi
  2. Bagaimana prosesnya? Ilustrasinya dengan Api seperti di atas, dimana Paulus juga menggunakan istilah Api.
Kita tidak akan mengkaji frase Rasul Paulus dari Alkitab sesuai dengan pembatasan topik, Tolong berikan sumber kajian Konsili sebelum Skisma mengenai Purgatorium.
Yah kadang tulisan Bapa Gereja akan dibawa ke konsili setelah ada pertentangan yang meruncing. Dalam hal ini saya belum bisa memberikan kajian dari konsili. Saya hanya mengatakan tulisan Origen dan Gregory of Nyssa ada sebelum skisma. Bisa jadi memang antara Barat - Timur waktu itu OK-OK saja soal pemurnian, belum meruncing, jadi tidak sampai dibawa ke ranah konsili. Kalau Konsili Trente menegaskan purgatory karena memang ada pertentangan dengan Protestan.
Tidak mungkin doa Gereja dan Ekaristi dalam Gereja Universal macet total, bukankah YESUS KRISTUS berjanji bahwa Alam Maut tidak akan menguasai Gereja?
Ya saya percaya. Redaksionalnya saya ganti saja. Kok seolah-olah deifikasi itu tergantung dari doa-doa, tidak bisa berjalan sendiri by God. Atau memang menurut Anda, Tuhan bekerja dengan cara itu melalui GerejaNya?

OK, intinya ada proses gitu, baik di dunia maupun sudah meninggal dunia. Yang nomer 3, sekedar pertanyaan saja. Kenapa ada syarat kebangkitan badan untuk Theosis, sedangkan Allah sendiri adalah Roh?. Kalau masih dalam keadaan Roh tapi kekudusan sudah mendekati Theosis apa ada sebutan khusus?

Mirip tapi tak sama...
Seperti pertannyaan saya di atas, ini sementara kita bicara pada posisi Roh, tentu exclude Bunda Maria yang menurut Katolik dan Orthodox memang sudah mengalami kebangkitan badan, meskipun caranya berbeda.

Beatific vision tidak sampai mengartikan se-Esensi dengan Allah, tapi hanya sudah bisa melihat dan berhadapan muka dengan Allah Bapa. Kembali ke pertanyaan, kalau di Orthodox, untuk bertemu muka dengan Bapa harus berada di tingkat mana?

Shalom Aleikhem

Maaf kepada bro berdua. Saya menemukan suatu tulisan dari Gereja Katolik Ritus Timur mengenai Purgatory di sini
Saya copas terjemahannya berikut dari facebook Katolik Timur

Dapatkah Anda menjelaskan perbedaan antara teologi Latin mengenai Dogma Api Penyucian dengan berbagai Gereja-gereja Timur?

Secara umum, semua orang Kristen Timur tidak menggunakan kata “Api Penyucian”. Hal ini berlaku baik orang Katolik Timur maupun Ortodoks Timur. Kata “Api penyucian” sendiri merupakan suatu hal yang khusus bagi tradisi Latin, dan memiliki sejumlah muatan historis yang tidak nyaman bagi orang-orang Kristen Timur.

Di lingkungan Barat pada abad pertengahan, banyak teolog ternama yang mendefinisikan Api Penyucian sebagai suatu tempa khusus, di mana orang-orang pada dasarnya ditempatkan didalamnya dan mengalami penderitaan. Sejumlah teolog bahkan melangkah lebih jauh hendak mengatakan bahwa secara literal memang ada api yang membakar mereka yang menderita di Api Penyucian. Juga merupakan suatu hal yang populer untuk mengaitkan sejumlah periode waktu yang akan dijalani seseorang di Api Penyucian untuk berbagai pelanggaran. Perlu diperhatikan bahwa teologi Latin sekarang ini (syukurlah) telah meninggalkan pendekatan semacam itu, dan beralih kepada pendekatan yang lebih berakar pada ajaran para Bapa Gereja mengenai Api Penyucian.

Dalam pemahaman Katolik, hanya dua hal yang dogmatis berkenaan dengan Api Penyucian ini: 1) Bahwa ada tempat (atau keadaan) peralihan/transformasi bagi mereka yang akan masuk Surga, dan 2) Doa-doa berguna bagi arwah yang berada dalam keadaan ini.

Gereja-gereja Katolik Timur dan Ortodoks Timur sepenuhnya sepakat dengan Gereja Latin mengenai hal-hal ini. Praktisnya, kami secara rutin merayakan Liturgi Ilahi bagi mereka yang telah meninggal, dan mempersembahkan sejumlah doa bagi arwah-arwah itu. Kami tidak akan berbuat demikian jika kami tidak setuju dengan dua poin dogmatis di atas.

Tetapi sekali lagi kami sampaikan bahwa kami tidak menggunakan istilah Api Penyucian karena dua alasan. Pertama, hal itu adalah sebuah kata Latin yang pertama kali digunakan di Barat pada abad pertengahan, dan kami menggunakan bahasa Yunani untuk menggambarkan teologi kami. Kedua, kata Api Penyucian masih membawa muatan abad pertengahan yang kami merasa tidak nyaman dengannya.

Penting untuk diperhaikan bahwa Gereja Katolik Byzantine saya sendiri tidak pernah disyaratkan untuk menggunakan kata Api Penyucian. Piagam persatuan kami dengan Roma, “Traktar Brest: yang secara resmi diterima oleh Paus Klemens VII, tidak mewajibkan kami untuk menerima pengertian Barat tentang Api Penyucian.
Pasal V dari Traktat Brest menyatakan “Kita tidak boleh berdebat mengenai Api Penyucian…” menandakan bahwa kedua pihak dapat sepakat untuk tidak sepakat mengenai detail dari apa yang oleh orang-orang Barat disebut sebagai Api Penyucian.

Di Timur, kami memiliki kecenderungan untuk memandang secara lebih positif peralihan dari kematian ke Surga. Daripada menyebutnya “Api Penyucian” kami memilih menyebutnya “Pengilahian Terakhir” (Final Theosis). Hal ini mengacu kepada proses pengilahian dimana sisa-sisa kodrat manusiawi kita diubah sehingga kita dapat berbagai hidup dengan Tritunggal Mahakudus. Ketimbang memandangnya sebagai tempat untuk “menanti dan menderita”, para Bapa Gereja Timur mendefiniskan Pengilahian Terakhir ini sebagai suatu perjalanan. dan sekalipun perjalanan ini dapat mengandung kesulitan, namun juga ada secercah sukacita yang kuat.

Yang menarik adalah Muder Angelica (seorang biarawati pendiri stasiun televisi Katolik EWTN) telah berulangkali mengungkapkan pengertian yang sangat positif akan Api Penyucian sebagai keadaan yang penuh sukacita daripada sebagai tempat penderitaan. Dalam arti tertentu pengertiannya sungguh sejalan dengan pemahaman Timur mengenai Pengilahian Terakhir.

Walaupun kami tidak menggunakan kata-kata yang sama, orang Ortodoks Timur dan Katolik Timur serta Latin secara mendasar mempercayai hal yang sama dalam hal yang penting ini.

Harap diperhatikan juga bahwa teologi Timur mengajarkan bahwa pengilahian adalah proses tidak terbatas (infinite), dan tidak berhenti saat orang memasuki surga. Istilah “Pengilahian Terakhir” tidak dimaksudkan untuk menunjukkan hal yang sebaliknya.

Catatan Penerjemah:
Pandangan Dr. Dragani mewakili tradisi teologi Byzantine, sementara tradisi Alexandria (Koptik) dan Antiokhia (Syria) tampak seperti suatu jalan tengah antara pandangan Latin dan Byzantine. Tradisi Oriental (Syria dan Koptik) misalnya meskipun secara dominan masih menekankan aspek sukacita dari “Api Penyucian” namun memiliki tekanan yang lebih akan penderitaan dan hukuman dibandingkan tradisi Byzantine, dan karena itu juga lebih mendekati tradisi Latin walaupun secara umum mereka tetap lebih dekat dengan tradisi Byzantine.

Bro Daniel,
kalo tidak salah, di thread Theosis, bro sudah menjelaskan bahwa menurut iman GOT pun ada tempat ke3 selain surga & neraka, yaitu firdaus.

AFAIK, GKR dlm dogmanya mengenai purgatory, tidak pernah membatasi purgatory sebagai tempat, melainkan hanya mendefinisikannya sebagai suatu kondisi pemurnian setelah seseorang meninggal sehingga orang tersebut layak masuk ke surga.

CoCC 1030: “All who die in God’s grace and friendship, but still imperfectly purified, are indeed assured of their eternal salvation; but after death they undergo purification, so as to achieve the holiness necessary to enter the joy of heaven”

AFAIK pula, GKR juga mengimani bahwa ada tempat yg bernama firdaus, dan bisa saja di firdaus itu lah jiwa seseorang mengalami penyucian (purgatory), misal seperti penjahat di sebelah kiri salib Yesus yg bertobat sesaat sebelum kematiannya.

IMHO, tidak ada pertentangan antara dogma GKR dengan GOT, hanya perumusannya saja yg berbeda.
Terlebih lagi, karena GOT tidak dilibatkan dalam perumusan dogma purgatory, wajar saja jika GOT tidak mengenalnya, sama seperti GKR tidak mengenal doktrin theosisnya GOT.
Tapi toh, GKR tidak pernah mengkritisi ataupun menolak doktrin theosis karena pada dasarnya kita mengimani hal yg sama.

IMO, seperti pepatah: “ada banyak jalan menuju ke Roma”, ada banyak pula cara untuk mengenal Firman Allah.
Tapi perbedaan terbesar jalan2 yg kita ambil (dibanding kepercayaan2 lain), baik GRK maupun GOT berpegang pada Mat 18 : 18, bahwa apa yg diikat oleh sidang rasul adalah infalible. Baik doktrin theosis maupun purgatory, meskipun perumusannya berbeda, aku pribadi percaya bahwa keduanya adalah benar. Karena jelas terlihat bahwa pada hakekatnya kedua doktrin tersebut mengajarkan hal yg sama yaitu: pengkudusan setelah kematian badan.

Just my two cents… :wink:

Lek aku yo setuju wae…