Doa Bersama Umat Kristen dan Muslim Untuk Perdamaian Irak

Para pemimpin keagamaan di Irak mulai menyadari dan berbenah diri bahwa perpecahan di negara mereka tidak akan berakhir sebelum konflik yang terjadi antar agama di negeri 1001 malam itu berakhir. Atas hal ini dua pemimpin agama terbesar di Irak melakukan langkah strategis untuk memulai rekonsiliasi.

Langkah itu adalah menggelar doa bersama yang dipimpin paara pemimpin Kristen dan Muslim Irak di sebuah gereja di Kirkuk dalam upaya meredakan ketegangan di kota yang dilanda konflik tersebut. Doa bersama tersebut diikuti 1.500 orang termasuk Arab, Kurdi dan Turki berkumpul di Katedral Kasdim, Selasa (31/5) malam, yang menyanyikan himne-himne Kristen sebelum pembacaan doa dan ayat-ayat Alkitab dan Al-Qur’an.

Uskup Agung Katedral Kasdim Kirkuk, Louis Sakho menyatakan bahwa umat Kristen dan Muslim yang berkumpul bersama di Kirkuk membawa pesan perdamaian untuk menghilangkan rasa ketakutan akibat kekerasan mematikan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. “Seyogianya umat Kristen dan Muslim berdoa bersama bagi perdamaian dan stabilitas di negara dan kota kita, yang dikejutkan oleh peristiwa baru-baru ini,” ujar Sakho.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Suku Kurdi Kakiyah, Adnan Fattah Sayid Agha yang mengatakan bahwa acara tersebut menjadi kunci membawa mereka kembali ke realitas asli. “Muslim, Kristen, Arab, Kurdi, Turki adalah satu. Kehidupan dan takdir mereka adalah satu, yaitu hidup bersama,” ujarnya.

Kirkuk terletak di pusat wilayah yang diklaim oleh pemerintah pusat (Baghdad) dan otoritas regional Kurdi. Para pemimpin Kurdi ingin memasukkan provinsi tersebut ke wilayah utara otonomi mereka, meskipun ditentang oleh masyarakat Arab dan Turki. Kawasan ini merupakan salah satu ancaman terbesar bagi stabilitas Irak. Serangkaian serangan bom terhadap polisi di kota Kirkuk menewaskan sedikitnya 29 orang pada 19 Mei. Peristiwa ini merupakan kekerasan paling mematikan di Irak dalam dua bulan terakhir.

Untuk mencegah terjadinya hal serupa saat ini, pasukan AS turut berpartisipasi dalam patroli tripartite dengan mendirikan pos-pos pemeriksaan. Berdasarkan ketentuan pakta keamanan bilateral, penarikan 45.000 pasukan AS yang kini masih berada di Irak harus usai pada akhir tahun ini.

Source : Reuters/DPT