DOA DIGITAL, KOTBAH DIGITAL DAN KEBAKTIAN DIGITAL, APA BISA DIBENARKAN?

Dear all

Setiap masa revolusi budaya manusia seringkali menimbulkan shock bagi kebanyakan orang. Mulai dari revolusi industri, lalu revolusi elektronik di masa lampau selalu saja ada orang yang tidak siap untuk menghadapi kenyataan seperti itu.

Jaman sekarang ini kita masuk dalam revolusi digital. Dampaknya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Revolusi digital mengakibatkan kenvergensi peralatan, interkoneksi global, informasi tak terbatas dalam kuantitas dan kualitas, serta meniadakan jarak dan waktu karena sebuah informasi begitu di upload, dapat diakses oleh siapapun dari manapun.

Dalam dunia keuangan dan perbankan hal tersebut nampak semakin terasa, dimana penarikan dan penyimpanan uang dapat dilakukan dari mana saja dalam jaringan perbankan yang terkoneksi.

Tiba-tiba saja kita mengenal dan menggunakan produk-produk dari dunia cyber seperti :
e-Mail, e-Banking, e-Learning, e-Book, e-KTP, e-Shopping, e-Market, e-Campus, dan e-e- yang lainnya.

Bagi mereka yang tidak siap, terutama yang berada jauh dari jangkauan teknologi, atau karena usia lanjut, maka keadaan tersebut bisa membingungkan.

Apapun dan bagaimanapun kondisi manusia, perkembangan teknologi akan berjalan terus dan semakin lama akan semakin cepat. Penemuan demi penemuan terus membanjiri manusia sampai kita sendiri bingung menentukan produk mana yang cocok untuk kebutuhan kita. Yang pasti kebutuhan seseorang bisa berbeda dengan yang lainnya.

Imajinasi manusia terus melambung menuju pada hal-hal yang visioner dan futuristik. Teknologi masa kini juga telah mulai merambah sedikit demi sedikit dan masuk dalam dunia pelayanan, karena revolusi digital tersebut.

Sebut saja: Electronic Bible, multi media projector, laptop, smartphone, tabulet pc, digital camera, cam corder, desktop PC, digital recording, spy cam dan berbagai gadget lainnya.
Fasilitator yang berupa provider yang menawarkan layanan digital melalui internet pun sangat melimpah, mulai dari jaringan sosial, seperti Facebook, twitter, friendster, dsb, sampai provider layanan video seperti Youtube sangat melimpah dalam dunia internet. Informasi apapun dapat diakses secara serentak kapanpun selama 24 jam sehari dari manapun, tanpa kabel.

Kembali ke soal pelayanan.
Apakah kita siap dengan pelayanan digital, dan apakah dapat dibenarkan menurut Alkitab?

Misalnya saja sebagai contoh :

  1. BERDOA SECARA DIGITAL.
    Kita rekam video kita, lalu kita edit, crop, copy dll menggunakan Adobe Premiere, Magix Movie, AVS Video Editor, dsb menjadi doa yang sempurna sekali dengan beckground yang indah, misalnya menara Eifel, atau Gereja yang indah dan megah, atau Taman Getsemani, dsb.
    Lalu kita buat 3 versi berbeda misalnya untuk pagi, siang dan malam, dan dibuat programnya sehingga bisa diaktifkan pada jam-jam tertentu sehari 3 kali misalnya.

Pada waktunya kita berdoa maka doa digiital itu tinggal distel sesuai program : Pertanyaannya, apakah doa itu sah sebagai doa kita dan kita dianggap sudah berdoa? Sementara kita sendiri mungkin tiduran atau menikmati udara diluar/tamasya?

  1. KOTBAH DIGITAL.
    Mirip proses pembuatannya dengan doa digital, Pendeta atau Pastor, tinggal upload ke Youtube, Kotbahnya tentang apa saja yang ada di Alkitab, dibuat serial, lengkap semua ada, solusi atau cara hidup kristiani apapun ada, lalu diupload di internet, dan kita tinggal download saja dan di stel di TV LCD layar lebar, misalnya saja.
    Apakah itu sah bagi pendeta atau pastor dalam penggembalaan umatnya, selagi pendeta atau pastornya sendiri entah sedang apa, kemana atau dimana?

  2. KEBAKTIAN DIGITAL.
    Apakan mungkin kita sebagai jemaat sudah dianggap bergereja dan mengikuti kebaktian atau misa, dengan menyetel Channel TV kebaktian online, atau rekaman yang didownload dari internet lalu distel ulang, atau menyetel video kebaktian menggunakan DVD Player, dan kita berada di depan layar mengikuti kebaktian tersebut?

Kondisi dan situasi seperti itu sekalipun nampaknya absurd, mungkin saja bisa terjadi dalam era digital sekarang ini dan juga di masa depan. Hal-hal yang belum terpikirkan bisa saja menjadi kenyataan nanti.

Saudara-saudara ini merupakan dilema religi yang berkaitan dengan pelayanan dan liturgi. Pasti ada pro dan kontra di dunia ini. Mana yang benar menurut saudara?
Dilarang saja dengan alasan tidak sah, ataukah itu sah-sah saja, ataukah selektif?

Kita sharing saja ya…

Shalom

Dear all

Boleh koq berkomentar, urun rembug atau apa begitu…
Supaya kita selalu waspada, agar dapat menjadi seperti 5 gadis pintar yang selalu memikirkan “what if”, tidak cuek dengan perkembangan jaman, sehingga mungkin saja masuk dalam kelompok 5 gadis bodoh.
Sedangkan kita saat ini mulai dikurung dengan berbagai peralatan teknologi canggih.
Belum lagi kalau kita dihadapkan pada :
one global single currency, biochipping (implantasi biochip), rekayasa genetika, global spying, NWO yang menghasilkan One World Order, kecanggihan pemerintahan antikris, penyesatan akhir jaman, pelayanan masyarakat yang serba online, sistem keamanan nasional, single identity, dan segala dampak dari revolusi digital.

Tuhan Yesus memberkati.
Shalom

Spiritualitas selalu berkembang mengikuti zaman. Generasi X mungkin menemukan kesakralan melalui proses-proses spiritual tradisional. Generasi Y mungkin lebih menerima digitalisasi yang menyentuh proses-proses spiritual. Generasi Z yang sejak lahir hidup di era digital malahan akan menemukan proses-proses baru dalam menemukan kesakralan. Mungkin saja, untuk Generasi Z dalam dua puluh tahun lagi, tidak perlu ke gereja untuk menemukan kesakralan karena dapat diperoleh melalui gadget personal mereka.

Yang pasti, kebutuhan spiritualitas selalu ada dalam diri manusia. Jika gereja (dalam artian institusi sosial) tidak tanggap terhadap dinamika ini, maka generasi selanjutnya mencari pemenuhan kebutuhan tersebut melalui cara lain.

  1. Doa Digital

Kembali kepada tujuan dan arti sebuah doa. Merekam dan memutar ulang perkataan kita untuk disampaikan kepada Tuhan saya rasa bukan sebuah doa. Bahkan walaupun tanpa merekam dan memutar ulang, kita berlutut di dalam gedung gereja yang sakral juga belum tentu seruan kita didengarNya. Doa bukan sekedar kata-kata, sebab Allah melihat hati bukan bahasa dan keindahan kata-kata kita.

Membuat doa digital tidak lain hanya untuk memuaskan diri sendiri saja, menikmati hasil karya diri sendiri, bukan bertujuan memohon kepada Allah yang sepatutnya kita gemetar menghadapNya dengan berhiaskan kekudusan.

  1. Kotbah Digital

Kotbah adalah pesan atau pengajaran yang disampaikan kepada umat Allah. Disampaikan dengan cara apapun juga itu baik, bukan saja direkam untuk diputar ulang, baik yang di upload di Youtube maupun dalam bentuk kaset, cd atau dvd, juga yang disampaikan secara singkat-singkat di status Facebook merupakan kegiatan mengajar umat Allah untuk mengenal Allah dan hidup menurut apa yang diajarkan Kristus. Dalam hal ini saya tidak merasa kita harus membatasi media untuk menyampaikan kebenaran Allah.

  1. Kebaktian Digital

Alkitab mengajarkan kita untuk bertemu, untuk bersekutu, menjadi satu dengan komunitas dimana kita berada. Saat ada acara kebaktian yang di tayangkan di tv, bukan berarti itu adalah sebuah pertemuan. Nilai acara itu sama seperti point 2. diatas, bertujuan agar semakin banyak orang mengenal kebenaran.

Kerancuhan dan salah kaprah terjadi saat kita membaca Ibrani 10:25, yang sering ditekankan salah oleh para pendeta adalah “jangan meninggalkan ibadah” sehingga saat melihat tayangan tv live ibadah sebuah gereja bersama keluarga dirumah sudah merasa telah beribadah. Padahal ayat itu menekankan pada “jangan meninggalkan pertemuan-pertemuan” dimana pertemuan yang dimaksudkan adalah pertemuan ibadah (silahkan cek teks Alkitab). Sehingga kehadiran kita ditengah komunitas jemaat Allah dituntut oleh Allah. Sebab kita semua mempunyai peran dan terjalin menjadi satu tubuh. Bagaimana kita mengambil bagian dalam Tubuh Kristus kalau tidak pernah bertemu, kepada siapakah kita bertolong-tolong menanggung beban kita?

Kebaktian digital bukan pertemuan ibadah dan itu hanya bagian yang sama dengan point 2. Orang yang mengangapnya sudah ibadah dengan ibadah digital dengan alasannya sudah kumpul dua orang adalah mereka yang menolak bersekutu dalam Tubuh Kristus. 1 Yoh 1:7 katakan karena mereka tidak tinggal didalam terang, hidupnya abu-abu.

Saya rasa ayat2 berikut ini sudah cukup untuk mengujinya:

Mat 18:19 Lagi Aku berkata kepadamu, bahwa jika dua orang dari kamu sepakat di bumi mengenai setiap perkara, apa saja yang mereka minta, akan terjadi pada mereka dari Bapa-Ku yang di surga.
Mat 18:20 Sebab di mana ada dua atau tiga orang dikumpulkan ke dalam Nama-Ku, di sana Aku hadir di tengah-tengah mereka.”

Jas 5:13 Adakah seseorang di antara kamu yang menderita kesusahan? Biarlah dia berdoa! Adakah seseorang yang bergembira? Biarlah dia bernyanyi!
Jas 5:14 Adakah seseorang di antara kamu yang menderita sakit? Biarlah dia memanggil para tua-tua gereja dan biarlah mereka berdoa baginya seraya mengurapinya dengan minyak dalam Nama YAHWEH.
Jas 5:15 Dan doa iman akan menyembuhkan yang sakit itu, dan YAHWEH akan membangunkan dia. Dan jika dia telah melakukan dosa, hal itu akan diampunkan kepadanya.
Jas 5:16 Akuilah kesalahan seorang terhadap yang lain dan saling mendoakanlah seorang terhadap yang lain, supaya kamu dapat disembuhkan. Doa orang yang benar, ketika bekerja, memiliki kekuatan yang besar.

Gal 5:5 Sebab oleh Roh, kita sungguh-sungguh menantikan pengharapan kebenaran atas dasar iman.
Gal 5:6 Sebab di dalam Kristus YESUS, baik bersunat ataupun tidak bersunat tidak berpengaruh apa-apa, sebaliknya iman tetap bekerja melalui kasih.

Lebih fokuskan ke kata2 yang dibold, --itulah kuncinya–.
Menurut penilaian saya, doa digital: pikiran instant dan mati, tidak ada roh hidupnya. Khotbah digital, boleh aja asal jangan sampai salah, karena di internet akan bertahan lama dan dilihat banyak orang.
Kebaktian digital, kalau di tempat pribadi ada minimal 2 orang boleh aja (dgn panduan kebaktian siaran langsung tsb), tetapi satu orang sama dengan dusta.,(sama dengan nonton khotbah digital, tidak ada persekutuannya)

Ayat ini ditekankan tentang doa atau permohonan, bukan tentang pertemuan-pertemuan Ibadah atau persekutuan Tubuh Kristus. Ibadah itu bukan isinya doa dan kotbah, tetapi penyerahan diri pada kehendak Allah (Roma 12:1).

Pertemuan ibadah atau persekutuan untuk menaikkan doa dan permohonan. Orang kristen boleh saja menaikkan doa dan permohonan secara seorang diri, tetapi penggenapan doa tetap bekerja di dalam persekutuan. Harus ada kesaksian (dua atau tiga orang baru sah). Dua hukum utama (1. Kasihilah Tuhan dan 2 Kasihilah sesamamu) di dalam Kristus. Inilah kunci keberhasilan kekristenan untuk mendapatkan urapan Roh Kudus.

Lalu pernyataan anda tentang Kebaktian Digital diatas?

Kan sudah jelas Bro. Boleh aja sebagai panduan, asal minimal 2 atau tiga orang. Kalau seorang diri mengikuti kebaktian digital (siaran langsung) sama dengan menonton khotbah digital di cd atau internet.
Kuncinya kan persekutuan, bukan kebaktian digitalnya.

Dear Krispus,

Fenomena kecanggihan teknologi digital memang bisa menjadi dilematis bagi gereja. Tetapi kita tetap harus berpegang pada Firman Tuhan.

Jadi intinya : Tidak dapat diterima ya, konsep doa digital? rekaman doa yang diputar ulang adalah bukan doa, begitu kan dear? Doa = pertemuan pribadi dengan Allah.

Kotbah digital = Apabila dimaknai untuk mewartakankan kabar gembira, oke kan…
Tetapi kalau begini, misalnya saja : Dalam sebuah kebaktian, gembalanya menyerahkan copy DVD lalu diputar di gereja, dan ditayangkan dengan menggunakan Multi Media Projector + Sound System sedangkan gembalanya entah sedang apa dan dimana, apakah pola kotbah seperti itu dapat dibenarkan dihadapan Allah? Apakah ada Fiman Tuhan yang mendukung?

Kebaktian online = bukan ibadah, dan tidak bisa dibenarkan? begitukah?

Shalom, semoga masuk dalam kelompok 5 gadis pintar, yang selalu waspada pada penyesatan akhir jaman.
JBU.

dear phantom

Jadi Phantom bisa menerima pola/konsep ini? baik doa digital, kotbah digital, maupum kebaktian online ? Apakah Phantom punya referensi ayatnya yang dapat mendukung prinsip ini? Keabsahannya menurut Firman Tuhan, dan tidak bertentangan dengan kehendak Allah, begitulah kira-kira.

Shalom. JBU.

Dear Enjoy…

kalau boleh Om sarikan pendapat Enjoy, beginikah :

  1. Doa digital : No way, karena harus ada 2 atau 3 orang harus berkkumpul dalam namaNya. Nah lalu kalau ada murid Tuhan Yesus yang begitu kreatif merekam dia bersama 2 atau 3 orang berkumpul berdoa, memuji, dan menyembah, dan direkam secara full, lalu tiap kali diputar ulang, bagaimana dear?

  2. Kotbah digital dapat diterima, asal jangan sampai salah. Komentar Om sama dengan pengandaian posting Om diatas, apakah dapat diterima?

  3. Kebaktian digital dapat diterima asal ada 2 atau 3 orang berkumpul, bagaimana melaksanakan perjamuan kudusnya dan pemberkatannya di akhir kebaktian?

Shalom.

  1. Dear Om,
    Sama saja Om. Apa yang sudah direkam itu kan ibarat benda mati. Tidak ada rohnya dan tidak benar. Doa itu kan dua arah: orang kristen berdoa ke Tuhan, Tuhan berkati orang kristen. Yang hidup berdoa kepada Yang Hidup, bukan yang mati berdoa ke Yang Hidup. Orang kristen berdoa/beribadah dengan mempersembahkan tubuhnya yang kudus, bukan mempersembahkan rekaman media audio visual. Jika sekiranya demikian, bukankah ini pelecehan/penghinaan kepada Tuhan. Dan juga, anda membuat video dengan latar belakang pemandangan indah2, mungkin juga dengan maksud beribadah di berbagai tempat yang indah.Bukankah itu kemuliaan anda(yang anda buat sendiri utk kepuasan diri). Bukankah Roh Kudus yg tidak kelihatan, namun hadir di hati
    dengan damai sejahtera dan sukacita. Tidak cukupkah itu?
    Saya nilai ayat di bawah ini dapat mewakili:

Joh 4:20 Para leluhur kami menyembah di gunung ini, tetapi kamu mengatakan bahwa di Yerusalemlah tempat di mana seharusnya menyembah.”
Joh 4:21 YESUS berkata kepadanya, “Hai wanita, percayalah kepada-Ku, bahwa waktunya sedang datang, saat kamu akan menyembah kepada Bapa bukan di gunung ini, bukan pula di Yerusalem.
Joh 4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang telah kami kenal, karena keselamatan itu berasal dari orang-orang Yahudi.
Joh 4:23 Namun waktunya sedang tiba, dan itu adalah sekarang, manakala para penyembah yang benar akan menyembah kepada Bapa dalam roh dan kebenaran. Sebab Bapa pun sedang mencari orang-orang yang menyembah Dia seperti itu.
Joh 4:24 Elohim itu Roh, dan mereka yang menyembah Dia seharusnyalah menyembah dalam roh dan kebenaran.”

1Co 3:16 Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah tempat suci Elohim dan Roh Elohim berdiam di dalam kamu?

Rom 12:1 Oleh karena itu saudara-saudara, melalui kemurahan Elohim aku menasihati kamu agar mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus, berkenan kepada Elohim, itulah ibadahmu yang bijak.
Rom 12:2 Dan janganlah menjadi serupa dengan zaman ini, tetapi biarlah kamu diubah oleh pembaruan pikiranmu, agar kamu membuktikan apa itu kehendak Elohim, yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.

Kiranya saya boleh sedikit koreksi: tidak dibenarkan untuk mengandaikan firman Tuhan, karena firman Tuhan kebenaran mutlak dan kudus. Tidak dapat diubah lagi.

  1. Doa tidak ada kaitan tegas dengan khotbah.

  2. Perjamuan Tuhan dan Doa Berkat dapat dilakukan laki-laki (bukan perempuan)
    Karena tidak ada aturan imam dalam zaman kasih karunia, seperti di PL, karena semua orang kristen adalah
    Imam. (Aturan perempuan dalam ibadah 1 Timotius 2:12, 1 Korintus 11:1-16).

1Pe 2:9 Namun, kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat dalam kepemilikan, supaya kamu memberitakan kebajikan Dia yang telah memanggil kamu dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang menakjubkan;

Peace…

Saya cuma mau merespon satu hal saja, bro: doa digital.

Kalau dipahami “doa” adalah komunikasi pribadi antara seseorang dengan YHWH, jelas “doa digital” sebagaimana yang bro tulis tidak bisa disebut sebagai sebuah “komunikasi pribadi” tapi lebih tepat disebut “petisi,” atau “tuntutan.” Dan jelas bukan itu yang dikehendaki YHWH.

Dengan “doa digital” seperti itu, secara otomatis kita bisa “berdoa sambil melakukan kegiatan lain.” Kalau memang diijinkan untuk “berdoa sambil melakukan kegiatan lain,” tentunya Daniel tidak akan bersusah payah meluangkan waktu yang tetap tiga kali sehari setiap hari untuk berdoa, bukan?

Sekali pun Yesus juga sering berdoa saat berada di tengah orang banyak, beberapa kali Dia juga “menyingkir dari keramaian” untuk berdoa. Sedikitnya hal itu menunjukkan kalau sesekali kita perlu menjauhkan diri dari segala sesuatu lainnya hanya untuk berdoa – sesuatu yang jelas tidak tercapai dengan “doa digital” sebagaimana yang anda jelaskan.

Dear Enjoy,

Sebetulnya thread ini hanya merupakan sebuah antisipasi. Antisipasi atas perkembangan teknologi yang tak terbendung, sampai Tuhan Yesus memerintah dunia dalam Kerajaan 1000 tahun.
Secara pribadi bagi Om, memang TIDAK ADA TEMPAT bagi doa digital.
Betul, bahwa doa adalah komunikasi 2 arah antara manusia dengan Allah melalui perantara Tuhan Yesus Kristus.
Digitalisasi doa dalam konteks “perekaman doa” yang diputar sebagai doa sehari-hari adalah sebuah pelecehan kepada Allah, bisa saja itu adalah sebuah sikap tidak menghargai Allah, karena Allah ingin berhubungan dengan manusia, bukan dengan CD, Flash Disk, Harddisk, MMC, atau chip memori.

Jadi, buat semuanya saja, jangan terjebak dalam digitalisasi doa, se-modern apapun perkembangan teknologi nanti.

Iblis akan menjatuhkan anda juga melalui teknologi.

Bagi Om sendiri, Khotbah dalam kebaktian, dan kebaktian itu sendiri, TIDAK BOLEH di digitalisasikan. Karena ini masalah hubungan khusus antara manusia dengan Allah, alat tidak bisa menggantikan manusia dihadapan Allah.

Shalom.

Dear BJ Tan

You are smart enough. Benar yang Tan sampaikan, 100.
Sekaligus tentu ini juga merupakan sebuah pengutusan oleh Tuhan Yesus di era digital sekarang ini.
Kita sama-sama awasi dan ingatkan, seandainya saja ada ide-ide kreatif yang "nakal’ seperti itu tentulah kita harus berani meluruskan, dan menyampaikan kebenaran Firman Tuhan,

Om merasakan inilah salah satu jebakan iblis sebelum microchipping dilakukan secara massal pada manusia.
Kita adalah kelompok 5 gadis pintar yang selalu harus WASPADA.

I Petrus 5:8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Jangan sampai kita terperangkap oleh iblis.

Shalom

Dear Om,
Khotbah digital kalau-kalau efeknya orang menjadi tertipu seakan-akan tidak perlu ke gereja lagi, sehingga tidak ada persekutuan, tidak ada pengudusan. Seperti seruan promosi bisnis: bioskop masuk rumah.
1 Yohanes 1:6-7.

Digitalisasi : globalilasi? Apakah ayat2 di bawah ini ada kaitannya Om?

Eph 4:19 yang setelah menjadi tumpul perasaannya, mereka telah menyerahkan diri mereka sendiri pada rangsangan badani sebagai perbuatan kecemaran di dalam segala keserakahan.

Eph 5:3 Namun percabulan dan setiap kecemaran atau keserakahan, bahkan disebut pun jangan di antara kamu, sebagaimana yang sepatutnya bagi orang-orang kudus;
Eph 5:4 juga yang memalukan dan perkataan bodoh atau olok-olok, hal-hal itu tidaklah sepantasnya, malah sebaliknya ucapan syukur.

2Co 2:17 Sebab, kami tidaklah seperti kebanyakan orang yang memperdagangkan firman Elohim, sebaliknya seperti yang dari ketulusan, lebih jauh sebagaimana yang dari Elohim, kami berbicara di hadapan Elohim, di dalam Kristus.

Shalom,

klo serba digital ntar gerejax digital jga ya…
umatnya jga jadi digital ya…
:smiley: :smiley:
sy setubuh eeee salah se-7 dgn bro bj tan & bro enjoy

bagiku,… sah2 saja :afro:
segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan
dulu orang2 untuk mengenal Firman Tuhan dengan menggunakan pelepa,kain,batu,perkamen-perkamen.
dan saat ini menggunakan setumpuk kertas yg lebih simple dan praktis berbentuk buku, itulah disebut perkembangan.
kalau khotbah menggunakan digital tergantung cara berpikirnya yang menyimak?apakah diberkati atau tidak
truss doa menggunakan media digital ? jawaban aku sama aja,. kan pada saat org tersebut mau merekamnya asalkan dgn sungguh2 unt Tuhan sama aja dia berdoa .
truss klu ada org lain yg ingin mendengarkan doa tersebut dan merasa diberkati,saya rasa its oke lah

:afro: :afro:setuju…jaman sudah berubah & kita hidup di era digital kalo tehnologi tidak digunakan oleh gereja untuk memuliakan Tuhan & mengabarkan kabar baik pada “siapapun” (tanpa terkecuali) maka jangan salahkan dunia yang akan menggunakan tehnologi untuk kejahatannya & anti Kris…cara berfikir dan sudut pandang yg bijak akan mempengaruhi pola pikir kita…selama tehnologi bisa kita pakai utk memuliakan Tuhan maka menurut pemikiran saya sah-sah saja kecuali kalo tehnologi itu kita pakai untuk melawan Kristus maka kita tidak ada bedanya dengan dunia…kesimpulan saya dalam konteks ini adalah bukan masalah Alkitabiah atau tidak Alkitabiah bahwa tehnologi (digital dlm hal ini) digunakan oleh anak-anak Tuhan/gereja tetapi selama tehnologi itu dapat kita gunakan untuk memuliakan Tuhan “why not?” :afro: