DOA DIGITAL, KOTBAH DIGITAL DAN KEBAKTIAN DIGITAL, APA BISA DIBENARKAN?

Dear bambang,
Yup! kita semua sedang belajar dan harus belajar karena kita adalah murid-murid Tuhan Yesus.
Tidak ada yang lebih pintar, dan pula kepintaran manusia tidak ada artinya di hadapan Allah.
Om sih memilih jadi orang bodoh bagi dunia.

I Korintus 1:27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

Shalom.

menurut pemikiran saya bahwa dalam suatu diskusi itu bukan masalah pintar atau bodoh…tetapi masalah argumen-argumen kita itu apakah bisa dipertanggung jawabkan secara: ilmiah & kontennya tdk bertentangan satu sama lain apalagi kalo hal itu pendapat kita musti konsisten sesuai kontens, konteks & topik yg dibahas sehingga tidak terkesan inkonsisten apa yg didiskusikan dgn apa yg kita aplikasikan…itu maksud saya bapak…tetapi Anda sudah menjustifikasi “salah mengerti” padahal saya hanya meresponi & memberikan tanggapan maupun sanggahan baik dr sudut pandang logika maupun nurani ttg pemanfaatan & & penguasaan tenologi baik utk diri sdri maupun utk memuliakan Tuhan… :afro:

Menurut anda, apakah perkembangan iptek tidak boleh diikuti dengan tata cara peribadatan ? :smiley:

Dear Edi Joker

Tenttu ada banyak sekali teknologi yang dapat digunakan dalam peribadatan, lebih lagi untuk pewartaan kabar gembira.
Contoh aplikasi teknologi untuk periabadatan :

  1. Sound System secanggih apapun tidak masalah, namun powernya disesuaikan dengan kapasitas ruangan agar tidak mengganggu konsentrasi ibadah…
  2. Lighting system terutama untuk outdoor service boleh.
  3. Multi Media projector.
  4. TV dan radio broadcasting pada ibadah untuk tujuan pewartaan kabar gembira.
  5. Transportasi darat, udara, laut untuk mendukung orang datang beribadah, tentu boleh.
  6. Perekaman doa, khotbah, ibadah, upload dan download, untuk tujuan pewartaan kabar gembira boleh.

Yang sebaiknya jangan itu adalah sengaja menggantikan hubungan pribadi hati seseorang dengan Allah dalam komunikasi timbal balik (doa pribadi), dengan cara mereplay, sedangkan pribadi kita tidak berdoa.
Lalu soal kotbah dan kebaktian digital, dalam kondisi normal sebaiknya jangan. Namun bila dalam satu wilayah atau negara, semua ibadah dan kotbah yang normal tidak diperbolehkan, selama masih bisa ya jangan.
Kecuali kondisinya, semua yang ibadah dalam Tuhan Yesus dilarang, orangnya dikejar-kejar dan dibunuh, mungkin baru dilakukan secara sembunyi melalui broadcasting service, bila hanya ada 2 orangsaja, satu jadi imamnya dan satu lagi jemaatnya. Ada 2 orang saja mestinya bisa kebaktian.

Shalom