Dokter FX Sudanto , Dokter 2.000 rupiah

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/09/13166988502028953324.jpg

Malam itu, ruang tunggu praktik dokter di Apotek Sakura, Abepura, Jayapura terlihat begitu ramai disesaki oleh para pasien. Meski tidak semua pasien kebagian tempat duduk, tetapi mereka tetap setia antri meski harus duduk di teras apotek. Bagi mereka berobat ke dokter FX. Sudanto adalah pilihan tepat. Selain ongkos praktiknya yang sangat murah, obat yang diberikan juga cocok bagi para pasiennya.

FX. Sudanto yang telah berusia 70 tahun telah mengabdikan dirinya sebagai dokter pelayan masyarakat sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Semenjak ia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Sudanto yang asli dari Kebumen Jawa Tengah ini langsung mendaftarkan dirinya sebagai dokter Inpres di Departemen Kesehatan. Saat itu ia sebagai dokter muda diberi pilihan bertugas, diantaranya Irian Jaya (sekarang Papua), Kalimantan, dan Timor Leste. Dari ketiga pilihan itu, Sudanto akhirnya memilih praktik di Irian Jaya. “Saya lebih memilih yang jauh sekalian,” katanya. Kemudian ia ditempatkan di wilayah Suku Asmat. Selama 6 tahun bertugas di wilayah Suku Asmat inilah Sudanto hatinya terenyuh melihat kehidupan masyarakat Suku Asmat yang masih primitif dan hidup di bawah garis kemiskinan. Setelah selesai bertugas di wilayah Suku Asmat, Sudanto pun kembali ke Jayapura dan bekerja di Rumah Sakit Jiwa Abepura.

Selain itu ia juga diberi izin untuk buka praktik dokter umum di Rumah Sakit Umum (RSU) Abepura. Meskipun demikian, ia yang telah lama bertugas di daerah pedalaman tidak sampai hati mematok tarif praktiknya mengikuti “pasaran” dokter-dokter di kota. Tapi Sudanto memasang tarifnya sendiri yang ia rasa sangat terjangkau bagi masyarakat Abepura. Pertama kali buka praktik, Sudanto hanya menerima bayaran 500 rupiah atas jasanya. Dan hingga saat ia tetap memasang tarif praktik yang sangat terjangkau bagi masyarakat Abepura, yaitu 2.000 rupiah untuk orang dewasa dan 1.000 rupiah untuk anak-anak dan mahasiswa.

Kepedulian pada masyarakat tidak mampu dan ikrarnya pada sumpah dokter membuat Sudanto tak lagi berkeinginan membuka praktik di rumah sakit swasta ataupun menaikkan tarif jasa praktiknya. “Saya memang tidak mendahulukan materi, karena seorang dokter harus mendahulukan kepentingan orang banyak,” katanya.

Dicintai Masyarakat

Sore itu, saat saya tiba di rumahnya yang sederhana di Kabupaten Abepura, dr. Sudanto tampak sangat bersahaja dengan pembawaannya yang tenang. Namun begitu mendengar percakapan Abdul Azis, dokter Sudanto tiba-tiba menitikkan air mata. Ia terharu tatkala Abdul Azis pria asal Sulawesi ini menceritakan kalau putrinya yang terkecil pernah tak kunjung sembuh walau telah berobat ke banyak dokter, tetapi langsung pulih setelah ditangani oleh dokter Sudanto. “Meskipun obatnya generik, tapi ampuh mengobati penyakit anak saya,” kata Azis senang.

sambungan…

Bagi dokter Sudanto yang telah puluhan tahun mengabdikan dirinya di masyarakat, bertemu dengan mantan-mantan pasiennya yang telah pulih adalah kebahagiaan yang tak ternilai dengan uang. Menurutnya melihat masyarakat sehat dan bahagia adalah harapan yang selalu ia idam-idamkan. Karena itulah selama puluhan tahun ini ia tidak berkeinginan menyetarakan tarif praktiknya dengan dokter-dokter umum lainnya.

Ia tetap berpegang teguh pada keyakinannya, yaitu mengabdikan diri di masyarakat, memajukan masyarakat, dan menanamkan sikap jujur pada masyarakat.
Meskipun kedengarannya sulit tapi dokter Sudanto tetap percaya kalau di balik masyarakat yang sejahtera ada kesehatan yang baik. Dan di balik masyarakat yang maju ada sebuah kejujuran– jujur pada diri sendiri dan jujur pada orang lain. “Yang saya cari adalah berbuat baik bagi banyak orang, bisa memberi ketenangan bagi masyarakat, dan menemani mereka. Buat saya materi adalah cukup untuk membeli lauk pauk,” ungkapnya.

Karena ketulusannya dalam melayani masyarakat inilah akhirnya banyak masyarakat Abepura mengenal dirinya dan menghormatinya sebagai orang yang dituakan. Bahkan banyak diantaranya yang memandang dokter Sudanto lebih dari sekadar dokter, tapi sudah menjadi bagian dari keluarga. “Dia ini (dokter Sudanto) adalah dokter “ahli jiwa”. Dia tidak cuma bisa mengobati sakit fisik tapi juga jiwa masyarakat sini. Kita orang sangat sayang padanya. Maka kita orang tidak pernah kasih dokter pulang lama-lama ke Jawa,” kata salah satu pasiennya.

Dari kontribusinya pada masyarakat inilah akhirnya Universitas Gajah Mada (UGM) memberikan piagam penghargaan kepadanya sebagai alumnus berprestasi kategori pengabdian di daerah miskin/terpencil pada 2009 lalu. Namun bagi Sudanto penghargaan dari instansi bukanlah sesuatu yang ia kejar. Menurutnya yang sangat ia impikan adalah benar-benar menjadi dokter yang baik di tengah-tengah masyarakat. “Saat saya dinobatkan sebagai dokter saya sudah berkeinginan hanya ingin menjadi dokter yang baik. Saya tidak berpikir untuk harus mencari banyak uang, tetapi saya hanya berpikir bagaimana masyarakat harus sembuh. Karena dokter harus menolong dan mendedikasikan dirinya untuk masyarakat. Itu saja keinginan saya,” tegasnya.

Sumber =
http://sosok.kompasiana.com/2011/09/22/“berobat-cukup-2000-rupiah-saja”/

Dokter FX Sudanto benar-benar dokter yang kaya.

apa yg dilakukan oleh dokter Sudanto ini mirip dengan apa yg dilakukan pelayanan YESUS KRISTUS

datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani - Markus 10 : 45 b[/b]

FX itu singkatan dari Fransiscus Xaverius bukan ?? :afro: mirip sama adikku nama babtisnya
Katolik sejati dan sekaligus murid Kristus ( Kristen ) sejati
" Jadilah garam dan terang dunia "

Memang selalu ada saja orang orang baik diantara orang jahat, dan selalu ada saja orang jahat diantara orang baik. Tinggal kita mau pilih jadi yang mana.

Di tengah luar biasa mahalnya biaya pengobatan, ada saja dokter-dokter (bukan cuma satu) Kristen yang menjadi penolong. Mereka inilah yang dengan karya nyata menjadi garam dan terang bagi sesama.

aneh ya,

di tempat asalku dulu ada seorang dokter senior, beliau adalah kepala rumah sakit tentara, beliau seorang kolonel, dan hebatnya beliau juara / jago menembak di kesatuan militer se wilayah (di bawah Kodam)
Dokter ini buka praktek umum, dan anehnya ongkosnya rata-rata hanya Rp. 50.000,- sudah termasuk obat.
Kami sekeluarga berobat ke dokter ini, dan resepnya selalu ampuh, nggak ada bolak-balik berobat.
namanya saya lupa, tapi saya pernah cari info beliau berasal dari Jawa, dan Kristen/Katolik.

Lalu di kota sekarang, ada lagi satu praktek dokter rata-rata senior, dari nama dokter2 itu dah jelas itu nama-nama Kristen, dan herannya, sama saja pelayanannya. Tarif mereka Rp. 50.000 sudah termasuk obat-obatan, dan pengobatan mereka ampuh.

saya sampai berpikir, kok ada ya dokter yang mau menghargai jasanya yang berharga itu dengan apa yang disebut PELAYANAN MASYARAKAT, MEMBANTU MASYARAKAT.

akhirnya melalui cerita bro repento yang menurut saya mengalahkan cerita 2 kelompok dokter saya kenal ini, tapi di antara mereka ada kesamaan unik, para dokter berdedikasi ini : KRISTEN/KATOLIK.

Bait 1:
Bagaikan roti yang diberkati,
dipecah lalu dibagi,
itulah hidup yang ekaristis:
diutus untuk berbagi.

Ulangan:
Berbagi, berbagi, berbagi dengan cinta kasih.
Berbagi, berbagi, mari kita berbagi.

Bait 2:
Semua harta yang kita punya
adalah titipan Tuhan.
Betapa indah bila berbagi
pada yang papa dan miskin.

sering denger dan nyanyi in ini , tapi sekarang aku melihat prakteknya , jadi malu :ashamed0002:

Inilah Ekaristi yang Hidup …, dan sekaligus Hidup yang Ekaristi :afro: ;D

Hayooo , siapa yang mau ikutin jejak beliau … monggooooooo , gak usah malu-malu …
itu yang muda-muda , baru lulus sekolah dokter , baru lulus jadi tukang insinyur , pilot , guru ,sarjana komputer, teknik mesin … mbok ya o … kesono mosok kalah sama yang umurnya udah 70 tahun ;D ;D

Hayooo , siapa yang mau ikutin jejak beliau .... monggooooooo , gak usah malu-malu ... itu yang muda-muda , baru lulus sekolah dokter , baru lulus jadi tukang insinyur , pilot , guru ,sarjana komputer, teknik mesin ..... mbok ya o .... kesono mosok kalah sama yang umurnya udah 70 tahun

Yang bisa langsung memberikan jasanya kan ya dokter bro. Kalau insinyur masa sih mbetulin/install computer gratis, pilot nerbangin gratis, mesin masa terus mbetulin mobilnya gratis?

;D

Oiya sekedar info.

Hampir seluruh gereja besar di Jakarta punya yang disebut BalKesMas (Balai Kesehatan Masyarakat), entah Katolik ataupun Protestan GKI, biasanya biaya yang dipungut juga sanga murah. Secara berkala juga ada pengobatan gratis. Itu wujud pemberian kasih kepada sesama, tidak peduli dari agama apapun.

Sekedar ingin tahu, ada ngga ya dari tetangga yang juga peduli kepada sesama yang bukan segolongan?

;D

Aku pernah berobat digereja… :smiley:
murah meriah…

Betul, murah meriah dan ramah

;D

Yang bisa langsung memberikan jasanya kan ya dokter bro. Kalau insinyur masa sih mbetulin/install computer gratis, pilot nerbangin gratis, mesin masa terus mbetulin mobilnya gratis?
Kalau tukang insinyur ya kagak betulin gratis dong bro ;D , tapi kan bisa misalnya dirikan sekolah kejuruan , pelatihan reparasi mesin gratis , mengajar teknik apaan aja yang murah kalau bisa gratis ..... yang pilot , bisa nyumbangin tenaga nerbangin pesawat yang gajinya murah ! . buaanyaak pesawat-pesawat kecil disana itu hasil sumbangan gereja misi dari Amerika dari Eropa .. pilot nya darimana ???? , orang orang bule ! , ;D

coba kalau tenaga-tenaga ahli yang muda muda ini memiliki jiwa misioner , pasti bukan karier dulu yang dikejar tetapi pengabdian …
disana banyak loh butuh tenaga ahli , yang dokter , suster , ahli kesehatan masyarakat , insinyur pertanian , insinyur mesin ,guru dsbnya …
tapi para sarjana ini kalau udah lulus maunya kerjanya di Jakarta, Surabaya , Singapore ,Kuwait ,Dubai dsbnya , kagak salah sih tapi coba kalau ada 2% aja yang punya semangat kayak dokter Sudanto ini …

lah wong dia yang umurnya udah 70 an aja bisa mosok yang umurnya masih 24- 26 kagak merasa tertantang ?? :’( :’(

Jika semua gereja (bolehlah mulai dari Jakarta, lalu meluas ke seluruh wilayah) melakukan hal ini bro bruce, saya sangat yakin kesaksian kita akan jauh lebih efektif daripada “diskusi” kita di forum ini.

ada kenangan tentang Alm. Gus Dur, ketika di tahun pertama menjadi Presiden banyak terobosan luar biasa yang beliau lakukan. Salah satunya beliau datang kepada Gereja-gereja, kalo nggak salah ingat itu Katolik, dan beliau meminta agar gereja2 dan kelompok Kristen ini “meningkatkan” sumbangsih mereka di sektor pendidikan yang dinilainya sebagai pihak swasta paling fokus dan paling berhasil di bidang pendidikan.

berandai-anda, jika Gus Dur masih hidup, saya yakin ia akan melobi sendiri Vatikan, maupun negara2 Barat lain untuk memperluas jaringan sekolah dan rumah sakit di Indonesia. sayang beliau ditentang habis-habisan oleh saudaranya sendiri, dan diturunkan.

anyway, saya masih beriman dengan kuat bahwa bahasa Indonesia terbaik yang dapat diucapkan oleh Gereja bagi sodara2 Muslim adalah “Dokter/RS” dan “Guru/Sekolah”, bukan “Gedung Gereja”.

Karena bahasa Indonesia yang kita pake selama ini mendapat sambutan jempol ke bawah dan pedang ke atas, dan bahasa kita itu adalah “Gedung Gereja”, bahasa yang menimbulkan irihati dan rasa tersaingi.

belum pernah saya merasa ada sodare2 Muslim yang sakit hatinya karena keberhasilan RS dan Sekolah Kristen, yang terjadi malah sebaliknya, mereka mengirim anak-anaknya ke sekolah dan jika sakit ke RS itu.

ini hanya perenungan saja, nggak setuju ya nggak apa.apa :slight_smile:

ada kenangan tentang Alm. Gus Dur, ketika di tahun pertama menjadi Presiden banyak terobosan luar biasa yang beliau lakukan. Salah satunya beliau datang kepada Gereja-gereja, kalo nggak salah ingat itu Katolik, dan beliau meminta agar gereja2 dan kelompok Kristen ini "meningkatkan" sumbangsih mereka di sektor pendidikan yang dinilainya sebagai pihak swasta paling fokus dan paling berhasil di bidang pendidikan.

berandai-anda, jika Gus Dur masih hidup, saya yakin ia akan melobi sendiri Vatikan, maupun negara2 Barat lain untuk memperluas jaringan sekolah dan rumah sakit di Indonesia. sayang beliau ditentang habis-habisan oleh saudaranya sendiri, dan diturunkan.

Vatican tidak berwenang memutuskan untuk membuka sekolah ataupun rumah sakit di suatu wilayah negara lain bro. Biasanya yang memutuskan adalah keuskupan setempat. Dan itu memang selalu dilakukan. Salah satu RS terpandang di Papua (Jayapura) adalah RS Katolik disamping RS TNI. Di Jakarta St.Carolus dan PGI Cikini adalah RS yang berkualitas baik dengan biaya yang relatif murah. Begitu pula Sekolah2 Katolik di berbagai kota besar biasanya menjadi sekolah favorit. Ada Kanisius, Pangudi Luhur, Strada, Ursula, St.Maria, St.Theresia, Loyola, De Britto, dan banyak lagi. GKI pun punya sekolah super, seperti BPK Penabur di berbagai kota.

Cumaaaaa, yaaah, kadang kalau sekolah sudah menjadi favorit, dan guna membiayai perawatan gedung dsb, dan untuk subsidi silang, biaya sekolah di sekolah2 itu rruaaar biasa mahaaal. Dan sadis pula dalam kewajiban membayar uang pangkal, telat berarti mundur, nah lho.

Untuk rumah sakit, saya yang kebetulan di Jakarta, sangat cinta pada RS-PGI Cikini (Carolus saya belum pernah merawat inapkan kerabat, jadi belum tahu), karena walaupun gedungnya sudah tua, pelayanan dokternya profesional dan ramah, sebutlah, melayani dengan hati. Sementara kalau RS yang modern dan international, betul mereka ramah, tetapi tidak ada uang anda ditendang.

Seperti ibu theresa…

Pertama kali buka praktik, Sudanto hanya menerima bayaran 500 rupiah atas jasanya. Dan hingga saat ia tetap memasang tarif praktik yang sangat terjangkau bagi masyarakat Abepura, yaitu 2.000 rupiah untuk orang dewasa dan 1.000 rupiah untuk anak-anak dan mahasiswa.

Wah… salut dah ama bapak ini.
Kisah yang sangat menyentuh dan bisa dijadikan pelajaran hidup.