DOSA MENYEBABKAN KETELANJANGAN PERLU DITUTUPI

Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.(Kejadian 2:25)

Pada awalnya manusia diciptakan telanjang dan ketelanjangan tidak membangkitkan rasa malu. Sebab manusia pertama lelaki dan perempuan memiliki pandangan yang murni akan ketelanjangan. Lelaki dan perempuan adalah subyek dan memperlakukan yang lain sebagai subyek. Satu-satunya reaksi yang muncul ketika sebuah subyek berjumpa dengan subyek yg lain adalah rasa kagum penuh hormat. Reaksi kagum penuh hormat itu sudah mengandung sebuah hasrat yang bergerak ke arah kesatuan antar keduanya. Selama proses itu berlangsung keduannya memiliki cara pandang yang melimpah dengan sebuah kejujuran, sebuah kekaguman penuh hormat, sebuah keinginan memberikan diri secara penuh kepad subyek yang lain. [/b]. Yang dirasakan oleh sebuah subyek ketika berhadapan dengan subyek yang lain adalah rasa aman. Subyek mengalami kepenuhan karena dipandang dengan pandangan penuh pengakuan akan siapa dirinya sebenarnya. Subyek mengakui bahwa diriya dianggap sebagai subyek, yang tidak pernah sedikitpun, sekejap pun dipandang sebagai obyek bagi tujuan tertentu yang ditentukan oleh subyek lain.

Ketika Adam dan Hawa untuk pertama kali jatuh ke dalam dosa, mereka mengalami suatu pengalaman asing. Mereka mengalami suatu kebingungan akan apa yang mereka rasakan. Mereka tidak lagi memandang satu dengan yang lain dengan pandangan yang sama lagi. Timbul untuk pertama kalinya perasaan yang selama ini tidak dirasakan oleh manusia yaitu rasa malu. Rasa malu akan ketelanjangan ini sebenarnya adalah ungakapan rasa malu akan adanya kekacauan dalam kehendak hatinya yang sudah dikuasai oleh nafsu.

Dosa melahirkan Birahi: “…engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” (Kejadian 3:16)

Ketelanjangan segera harus mereka tutupi karena ada kekuatiran yang mendasar kalau-kalau itu akan menjadi pintu bagi pihak lain untuk tidak lagi memperlakukan dirinya sebagai subyek, melainkan sebagai obyek. Lelaki dan wanita saling memandang dengan pandangan ingin menguasai, mengambil sesuatu dari lawan jenisnya bagi dirinya sendiri (demi kepuasan diri, demi kepuasan daging). Pada akirnya persetubuhan terjadi bukan oleh cara pandang yang melimpah dengan sebuah kejujuran, sebuah kekaguman penuh hormat, sebuah keinginan memberikan diri secara penuh kepad subyek yang lain. Tetapi terjadi oleh keinginan menguasai satu dengan yg lain, mengambil bagi dirinya sendiri kenikmatan daging. Patner hanya menjadi obyek pemuasan hasrat semata. Keluhuran persetubuhan telah diturunkan derajatnya setingkat animalia. Mulai saat itulah manusia dikuasai oleh, instinct, naluri, dorongan sesaat belaka. Dosa membuat struktur “penguasaan diri” digoncangkan pada dasar terdalamnya.

Dalam sebuah perkawinan, seorang suami bisa merasa bahwa istri adalah ancaman bagi dirinya, dan seorang istri bsa memandang suaminya sebagai ancaman. Gema dari kenyataan ini masih terdengar baik dalam hubungan suami istri yang sah maupun hubungan lelaki dan perempuan., maupun dalam hubungan antar sahabat. Kita mendengar: “Dia hanya memakai saya.” Dan bagi Yohanes Paulus II, lawan kata dari “mencintai,” bukanlah “membenci,” melainkan “menggunakan.”

Jika sebelumnya manusia memandang satu dengan yg lain dengan pandangan penuh kekaguman dan rasa hormat dengan meletakan manusia yg lain sebagai subyek. Namun kali ini pandangan itu berubah. Mereka tidak lagi memandang satu dengan yg lain dengan pandangan subyek dengan subyek, melainkan subyek dengan obyek.

Ini gema yang sudah dikumandangkan sejak pasangan manusia pertama itu berdosa, sejak mereka tahu akan ketelanjangan mereka. Mereka mulai menutupi ketelanjangan mereka, karena sejak itu mereka tahu ketelanjangan itu bisa menjadi pintu bagi pihak lain untuk memperlakukan dirinya tidak lagi sebagai subyek melainkan sebagai obyek yang bisa dipakai dan dibuang begitu saja.

Dalam percakapan popular, dalam kolom-kolom konsultasi sex di banyak majalah, dalam Tanya jawab dengan pakar sex seperti dokter Naek L. Tobing, hampir bisa dipastikan selalu ada keluhan entah dari pihak suami atau istri tentang pasangannya: “Dia ingin menggunakan tubuh saya sepuas-puasanya, dan saya tidak mampu mengimbanginya. Lebih parah lagi , banyak kolom dalam majalah populer, Cosmopolitan atau Men’s Health, misalnya mengumandangkan justru logika yang sama bagaimana mencapai kepuasan dengan memanfaatkan pasangan.

Lelaki mengatakan “Aku mencintaimu” agar ia bisa menikmati sex dari tubuh perempuan. Sedangkan perempuan akan rela menyediakan tubuhnya untuk dinikmati oleh tubuh lelaki dengan harapan akan mendengar dari laki-laki ucapan “Aku mencintaimu.” Inilah rangkaian logika “saling memakai dan memanfaatkan,” bukan lagi logika “saling member diri.”

Sedikit memandang dari sudut berbeda, bro.

Saat bayi, bahkan balita, di mana pikiran kita masih ‘bersih’, tanpa malu kita menampilkan ketelanjangan dengan riang gembira.

Saat bersama pasangan hidup, kita saling menampilkan ketelanjangan kita tanpa risih dan malu.

Manusia yang hidup di alam liar, yang pikirannya belum dijejali dengan ‘pikiran kotor’ berani menampilkan ketelanjangan mereka tanpa risih. Kita bisa saksikan di beberapa suku terpencil di Africa dan Papua.

Manusia yang hidup dengan melepaskan diri dari pakaian, kaum nudis, dengan bangga menampilkan ketelanjangan mereka tanpa rasa sungkan dan tidak menjadikannya sebagai sesuatu yang kotor.

Syalom

Salam bro, cara pandang akan ketelanjangan pada saat sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, berbeda dengan cara pandang setelah manusia jatuh. Memang benar terdapat suku2 primitif yang tidak mengenakan pakaian namun se-primtif apapun mereka tetap ada penutup pada bagian2 vital perempuan dan lelaki (meski itu hanya sehelai daun). Sementara gerakan kaum nudies juga bukan didasari oleh penghayatan yg benar tentang arti nupsial tubuh, tetapi lebih kepada ekplorasi tubuh. Tentang ini mungkin saya tidak ingin membahas.

Intinya adalah bahwa ketika dosa hadir ke dunia, manusia telah dikuasai oleh kehendak untuk menaklukan satu dengan yang lainnya. Mulai dari penguasaan lelaki terhadap wanita secara sexual ataupun sebaliknya. Persetubuhan awalnya adalah kesatuan antar pribadi telah diturunkan derajatnya.

Simak tulisan berikutnya dibawah ini bro yang merupakan penjabaran dari Paus Yohanes Paulus II tentang TEOLOGI TUBUH

Dalam pengajaran TEOLOGI TUBUH: by YOHANES PAULUS II saya memahami:

Kesalapahaman yang kita miliki tentang “persetubuhan” muncul dari kesalahpahaman kita dalam memahami makna TUBUH manusia satu dengan yang lain. Kita akan cenderung melihat seseorang secara berbeda jika dia berpakaian dan telanjang. Kita sudah terlanjur dibiasakan untuk mengenal seorang manusia seolah-olah ia adalah sesuatu yang terpisah dari tubuhnya. Padahal sejak semula tidaklah demikian.

Dalam kitab kejadian kita mendapat gambaran bahwa Adam dan Hawa telanjang, namun mereka satu dengan yang lain tidak merasa “malu” (Kejadian 2:25). Namun sejak keduanya jatuh dalam dosa, mereka masing2 mencoba menutupi diri mereka dengan tumbuh2an karena “mengetahui diri mereka telanjang”.

Saat ini kita sedang hidup di sebuah dunia dimana sebenarnya banyak orang sedang bingung, tidak tahu bagaimana cara mengerti tentang tubuh manusia. Karena tidak tahu atau tidak mengerti maka banyak hal yang dilakukan pun menjadi ungkapan segala kebingungan ini. Padahal sejak semula tidaklah demikian. Pemahaman yang tepat atas tubuh manusia harus diawali dengan pemahaman atas tubuh manusia pada saat diciptakan.

Dua kata yang sangat mirip dalam bahasa ibrani digunakan untuk memperlihatkan bahwa manusia itu “telanjang” (arom) dan ular cerdik (arum). Hal ini menunjukkan ketelanjangan itulah sisi yang akan menjadi paling rapuh setelah manusia berkontak dengan kecerdikan ular. Kecerdikan ular pada dasarnya bertujuan untuk memutar balikan keluhuran dan keindahan ketelanjangan manusia.

Sejak Iblis menipu adam dan hawa yang mengakibatkan dosa masuk kedalam dunia kita mendapati Gambaran palsu tentang tubuh manusia. Kita sudah terbiasa dengan keadaan yang ada pada saat ini. Akibatnya kita menilai bahwa memang keadaan seperti ini biasa, nomal, sudah seharusnya. Padahal sejak semula tidaklah demikian Istilah Seks sudah sering diselewengkan sehingga mungkin kita ikut berpikir bahwa yang dimaksud dengan Seks HANYALAH soal persetubuhan atau hubungan badan.

Yohanes Paulus II dalam ajarannya tentang “ Teologi Tubuh” menjelaskan Seks itu menyangkut dasar hidup setiap manusia sejak dia lahir. Seks selalu terkait dengan keadaan manusia sebagai manusia yang memiliki tubuh. Seks paling sering disalah artikan pada zaman ini untuk menjadikan manusia tidak lagi manusia.

Untuk membahas ini mari kita lihat pada kisah Matius 19:1-8

[i]Setelah YESUS selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.

Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana.
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?”
Jawab YESUS: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?”
Kata YESUS kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.[/i]

Pada bagian pertama YESUS mengajak para pendengar untuk ingat bahwa “Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka lelaki dan perempuan (Matius 19:4). Menjadi dasar penjelasan YESUS tentang hakikat perkawinan yang tidak bisa dibatalkan… Pentinggnya melihat secara serius keadaan “pada awal mula” YESUS mengatakan hukum Musa itu ada karena hati manusia yang tegar. Hal ini sungguh sangat berbeda dari keadaan pada awal mula. Bagi YESUS jelas, meskipun ada aturan seputar perceraian dalam hukum Musa, namun “sejak semula tidaklah demikian” (Matius 19:8)

Karena keyakinan semacam ini Yohanes Paulus II menawarkan serangkaian analisis atas kisah penciptaan didalam kitab Kejadian. Pemahaman yang tepat atas tubuh manusia harus diawali dengan pemahaman atas tubuh manusia pada saat diciptakan. Disinilah letak persoalan dasar yang tidak disadari oleh orang farisi yang bertanya kepada YESUS. Mereka tampaknya sudah sungguh lupa akan keadaan pada awal mula itu. Yohanes Paulus II menyerukan kepada kita semua agar menyadari bahwa segala persoalan dan kebingungan yang terjadi pada zaman ini seputar tubuh dan Seks muncul karena kita seolah sudah lupa akan keadaan pada awal mula itu.

Lanjut dibawah…

Pada awal mula

Bila kita ingin secara serius kembali ke kisah penciptaan, pada dasarnya kita ingin secara serius masuk ke dalam jalan pikiran Allah yang sebenarnya ketka ia menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada.
“Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,[…]” (Kejadian 1:26a). Sebagai tindak lanjut kita membaca: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakannya-Nya dia; lelaki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kejadian 1:27).

Dengan dua informasi singkat ini, Yohanes Paulus II ingin menyampaikan sebuah kebenaran dasar yang sangat penting. Allah ingin menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupa-Nya sendiri, dan yang dilakukan-Nya adalah menciptakan lelaki dan perempuan. Dengan kata lain lelaki dan perempuan itulah yang menciptakan keutuhan manusia sebagai gambar dan rupa Allah sendiri. Menekankan pada lelaki saja atau menekankan pada perempuan saja, membuat pemahaman kita akan manusia sebagai gambar dan rupa Allah menjadi pincang, tidak utuh.

Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian 2:7)

Bahan yang digunakan adalah “debu tanah” Dalam bahasa Ibrani kata yang digunakan adalah adamah. Lalu dari bahan dasar adamah itu Tuhan Allah membentuk manusia. Tuhan menggunakan adamah (debu tanah) untuk membentuk adam (manusia). Jadi istilah adam ini bukanlah nama diri seorang lelaki Adam, melainkan sebuah istilah untuk menunjuk manusia dalam arti umum. Lebih tegas lagi, yang dimaksud dengan “membentuk manusia” adalah “membentuk sebuah tubuh manusia” denga demikian istilah adam juga secara khusus berarti “tubuh manusia”

Kemudian, sekumpulan “debu tanah” yang dibentuk menjadi tubuh ini dijadikan hidup. Caranya? TUHAN menghembuskan nafas hidup kedalam tubuh manusia melalui lubang hidungnya.

Kemudian dikisahkan juga bahwa Tuhan juga menggunakan bahan dasar tanah (adamah) untuk menciptakan mahluk-nahkluk lain: binatang hutan, burung, ternak dll. Satu hal yang memuat perbedaan besar Tuhan tidak menghembuskan nafas hidup kepada segala mahkluk hidup itu, meskipun mereka sama2 dibentuk oleh TUHAN dengan menggunakan bahan dasar debu tanah. Apa yang terjadi pada awal mula ketika Tuhan membentuk manusia pertama juga berlaku untuk kita pada hari ini. Kita ada dengan tubuh kita. Tanpa tubuh ini kita tak akan pernah ada. Meskipun mata kita melihat bentuk tubuh yang berbeda-beda, tubuh adalah cara setiap manusia itu ada. Sekali lagi, tanpa tubuhj ini, kita tidak sungguh2 ada.

Kemudian Yohanes Paulus II mengajak kita untuk masuk ke tiga pengalaman dasar manusia pada saat penciptaan, yakni:
kesendirian asali (original solitude),
kebersamaan asali (original unity), dan
ketelanjangan asali (original nakedness).

Kesendirian asali

Manusia pertama juga melihat banyak tubuh di sekitarnya, yakni tubuh segala makhluk yang lain itu. Ada kesamaan , karena memang bahan dasarnya sama, yakni debu tanah. Namun, kita lihat bahwa manusia itu tidak mengenali satupun dari makhluk itu sebagai penolong yang sepadan dengannya. Sampai disini perbedaan yang kita lihat hanya berdasar pada satu hal. Manusia menjadi hidup karena ada nafas hidup yang berasal dari Tuhan. Segala makhluk itu menjadi hidup tanpa nafas hidup dari Tuhan. Manusia ada dengan sebuah daya hidup dari Tuhan sendiri, sementara segala makhluk itu hanya berdasarkan pada bahan dasar debu tanah saja.

Jadi, perbedaan sangat penting diperlihatkan disini. Manusia ada dengan tubuh yang mencerminkan sebuah pribadi (Latin: Persona; Inggris: person), sedangkan segala makhluk itu ada dengan tubuh saja tanpa ada sedikit bagian pun dari mereka yang bisa mencerminkan pribadi. Artinya, segala makhluk itu pasti tidak bisa berelasi dengan manusia seperti yang diharapkan oleh manusia. Masih ada yang kurang.

Di sini manusia menyadari bahwa ia sama sekaligus berbeda. Ia merasa terasing. Ia mengalami keadaan yang bisa disebut sebagai “kesendirian asali”. Dan, sekali lagi, kesadaran manusia ini hanya bisa muncul dalam keadaan manusia yang bertubuh. Tanpa tubuh, tidak akan ada kesendirian asali ini.

Kebersatuan asali

Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.( Kejadian 2:21)

Tuhan tidak perlu menghembuskan lagi nafas hidup kedalam sebuah tubuh lain yang baru saja bangun. Daya hidup yang sudah ada berfungsi dalam diri manusia (adam) dengan sendirinya diteruskan dalam tubuh yang baru selesai dibentuk oleh Tuhan itu. Dari sini sudah terlihat bahwa nafas hidup yang berasal dari Tuhan itu, sekali diberikan kepada sebuah tubuh, tetap akan memiliki kekuatan yang sama akn diteruskan kepada sebuah tubuh yang lain. Tidak ada satu bagian pun dari tubuh manusia (adam) itu yang tidak dikenal, dikendalikan dituntun oleh nafas hidup dari Tuhan itu. Akibatnya jelas, satu bagian kecil pun, satu tulang rusuk, sudah memiliki didalamnya kekuatan daya hidup ilahi itu.

Hal lain yang juga bisa dilihat adalah sebuah pemberian diri. Tubuh manusia berbeda dari segala makhluk lain karena tubuh manusia memiliki nafas hidup dari Tuhan. Sebagaimana Tuhan memberikan hidup-Nya sendiri dari Diri-Nya kedalam manusia, demikian pula, manusia dibuat mampu untuk meneruskan daya hiudp itu kepada tubuh yang lain. Dengan kata lain hanya karena adanya nafas hidup yang berasal dari Tuhan itulah manusia itu mampu meneruskan kehidupan. Manusia, sebuah tubuh yang dihembusi oleh nafas ilahi, memiliki kemampuan dasar untuk meneruskan hidup dengan tubuhnya. Lebih tegas lagi, manusia, sebuah tubuh yang dihembusi nafas ilahi itu, semakin menjadi serupa dengan Tuhan sendiri karena mampu meneruskan hidup ilahi itu dengan tubuhnya.

Manusia itu (adam) mengenali adanya seorang penolong yang sepadan sehingga ia berseru “tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kejadian 2:23a). pada saat itu manusia itu melihat dirinya sendiri dalam bentuk tubuh yang lain. Ia akhirnya mengenali sebuah tubuh yang berbeda dari tubuh segala makhluk yang selama sebelumnya mengelilingi dia. Ia mengenali sebuah tubuh yang memiliki daya hidup ilahi. Ia mengenali sebuah tubuh yang sama bisa mencerminkan sebuah pribadi yang sama dengan dirinya.

Setelah sebelumnya manusia itu dengan tubuhnya yang mencerminkan pribadi tidak bisa menemukan penolong yang sepadan dari antara tubuh-tubuh yang sama sekali tidak bisa mencerminkan pribadi. Manusia itu akhirnya mengenali satu tubuh lain yang mencerminkan pribadi sama seperti dirinya, dan tubuh itu ia kenali justru dalam perbedaan antara dirinya yang bertubuh lelaki, dan diri yang lain bertubuh perempuan. Yang ia cari adalah persona, karena ia menyadari bahwa tubuhnya sendiri pun mencerminkan sebuah persona. Karena ia menyadari bahwa tubuhnya sendiri pun mencerminkan sebuah persona. Yang ia rindukan terutama adalah pertemuan persona dalam dirinya dan pesona yang lain. Dalam konteks cerita yang seperti itulah pernyataan dalam Kejadian 2:24 menjadi penting.

Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Kerinduan akan pertemuan antara satu persona dan satu persona yang lain tidak akan pernah terjadi terpisah dari tubuh masing-masing yang memancarkan persona masing-masing itu. Yang dimaksud sebagai menyatunya lelaki dan perempuan di sini sebagai “satu daging” bukanlah terutama menyatunya satu tubuh lelaki dan satu tubuh perempuan dalam tindakan persetubuhan. Atau, menyatunya sebagai “satu daging” dalamarti persetubuhan antara satu tubuh lelaki dan satu tubuh perempuan di sini hanyalah satu bagian kecil dari seluruh pengertian yang ingin disampaikan. Karena tubuh dalam konteks ini selalu berarti tubuh yang bisa mengungkapkan pribadi (Persona), persetubuhan dalam arti bersatunya dua tubuh (lelaki dan perempuan) selalu berarti bersatunya dua persona(lelaki dan perempuan). Tubuh yang mengungkapkan persona itu adalah tubuh yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi tempat dimana Tuhan yang tidak kelihatan itu menjadi kelihatan. Dengan demikian, persetubuhan bukan hanya merupakan sesuatu yang bersifat biologis, tetapi selalu berarti teologis.

Karena dengan bersatunya dua tubuh, yang selalu berarti bersatunya dua persona itulah terlihat kenyataan Allah yang tersembunyi. Inilah yang disebut sebagai “kebersatuan asali” (original unity). Didalam tindakan itulah dirayakan kembali sebuah communion personarum, kesatuan antar pribadi, yang satu sama lain dihubungkan oleh sebuah pemberian diri yang total kepada pasangannya. Persetubuhan adalah tidankan teologis, karena pada dasarnya di sana diungkapkan kenyataan Allah yang merupakan sebuah communio, sebuah kesatuan, dalam kesatuan Tritungal Mahakudus.

Lanjut dibawah…

Yohanes Paulus II menegaskan demikian:
[…] manusia menjadi gambar Allah tidak hanya melalui kemanusiaanya, melainkan juga melalui persatuan pribadi-pribadi [communion personarum], yang sejak awal mula dibentuk oleh lelaki danh perempuan… Manusia menjadi sebuah gambar Allah baik dalam saat-saat kesendirian, maupun dalam saat persatuan. […] (TOB 9:3; 14 November 1979)

Karena sejak awal mula diciptakan sebuah tubuh lelaki senantiasa rindu akan persatuan dengan tubuh perempuan, tidaklah mengherankan bahwa penyesatan yang paling efektif untuk merusak gambaran manusia adalah dengan menghadirkan gambaran palsu tentang persetubuhan. Inilah yang dijual secara laris oleh bisnis pornografi.

Sementara ini, kita perlu melihat unsur ketiga di dalam pengalaman subjektif manusia pada saat penciptaan. Unsur ketiga ini semakin tajam memperlihatkan tubuh manusia dalam keadaanya yang paling asali ketika diciptakan. Manusia mengalami tubuhnya dalam arti sebenarnya di dalam pengalaman mereka akan ketelanjangan.

Ketelanjangan asali

Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.Kejadian 2:25

Ada dua hal penting yang diungkapkan di sini. Pertama, mereka berdua “telanjang” Kedua, mereka “tidak malu.” Maka muncul pertanyaan, mengapa pada situasi semacam itu ketelanjangan sama sekali tidak menimbulkan rasa malu sedikit pun? Bila kita kembali ke tahap-tahap awal proses penciptaan manusia, segera akan kita temukan jawabanya.

Masing-masing manusia pertama itu-lelaki dan perempuan yang masing-masing hanya bisa ada dengan tubuh-adalah SUBYEK dan memperlakukan yang lain juga sebagai SUBYEK. Satu-satunya reaksi yang muncul ketika sebuah SUBYEK berjumpa dengan sebuah SUBYEK yang lain adalah rasa kagum penuh hormat. Dalam diri subyek yang lain sudah mengandung dalam diri sendiri sebuah hasrat yang bergerak kea rah kesatuan antara keduanya.

Selama prose situ, masing-masing subyek memiliki cara memandang yang melimpah dengan sebuah kejujuran, sebuah kekaguman penuh hormat, sebuah keinginan untuk memberikan secara penuh kepada subyek yang lain. Yang dirasakan oleh sebuah subyek ketika berhadapan dengan subyek yang lain adalah rasa aman. Subyek mengalami kepenuhan karena dipandang dengan pandangan penuh pengakuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Subyek mengalami berlimpahnya daya hidup itu secara asli karena ia memahami secara mendalam bahwa dirinya diakui pula sebagai subyek, yang tidak pernah sedikitpun, sekejab pun, dipandang sebagai obyek bagi tujuan tertentu yang ditentukan oleh subyek lain.

Dengan kata lain ketelanjangan pada tahap itu memperlihatkan secara jelas bahwa tubuh manusia memiliki arti dasar sebagai sebuah pemberian. ada kekuatan yang saling terpancar dari masih-masing tubuh telanjang itu, sedemikian kuatnya sehingga tidak ada lagi ruang bagi keinginan sekecil apapun untuk merampas pemberian itu bila memang tidak secara bebas diberikan oleh probadi yang bersangkutan. ketelanjangan mengungkapkan keadaan tubuh yang sungguh sadar akan kekuatan dahsyat dalam bentuk kebebasan untuk sungguh mencintai. Ketelanjangan adalah ungkapan keilahian yang memungkinkan manusia memahami tubuh dalam arti paling suci, paling murni, karenanya ketelanjangan adalah sebuag kekudusan.

Ketelanjangan menjadi ungkapan subyek sebagai subyek pada dirinya sendiri, bukan obyek bagi yang lain. Ketelanjangan yang dihayati seperti menunjuk dengan jelas keagungan Allah yang menciptakan manusia sebagai gambar dan rupa-Nya, dengan tubuhnya, lelaki dan perempuan. Inilah yang terjadi dalam “ketelanjangan asali” (original nakedness)

Arti “nupsial” tubuh

Situasi ketelanjangan asali tadi mengungkapkan kesadaran manusia yang sungguh masih mampu merayakan hidup dengan tubuhnya dengan kebebasan akan ciri dasar tubuh sebagai pemberian. Tubuh yang memiliki ciri dasar ini oleh Yohanes Paulus II disebut sebagai tubuh yang memiliki arti “nupsial”.

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa di dalam ketelanjangan semacam itulah lelaki dan perempuan pertama dalam Kitab Kejadian menemukan arti nupsial tubuh. Ciri relasi antara kedua subjek, lelaki dan perempuan pertama adalah pemberian diri yang total. Setiap lelaki dan perempuan dipanggil untuk melakukan pemberian diri yang total. Ini adalah ciri cinta YESUS kepada kita. Bila kita melakukan ini kita memenuhi perintah-Nya untuk mengasihi seperti YESUS sendiri mengasihi kita.

Cinta kita lakukan sebagai lelaki dan perempuan, yang sekali lagi, hanya bisa dengan tubuh kita. Tubuh kita sudah sejak awal ketika diciptakan memiliki kemampuan untuk mengungkapkan cinta dalam arti pemberian diri yang total itu. Inilah yang dimaksud dengan arti nupsial tubuh kita.

Ketika kita memberikan diri secara total dengan tubuh kita, ketika itulah kita masing-masing, lelaki dan perempuan, mengungkapkan siapa diri kita yang sebenarnya. Selanjutnya, ketika kita melakukan itu, kita masing-masing. lelaki dan perempuan dan siapapun yang menerima cinta kita, lelaki dan perempuan, semakin ditegaskan dan diakui kembali dalam identitas mereka yang paling dasar sebagai yang diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah. Di sinilah kita kembali mendengar gema dari Gaudium et Spes 24 yang mengatakan bahwa manusia “tidak dapat menemukan diri sepenuhnya tanpa dengan tulus hati memberikan dirinya

Teks asli bahasa Ibrani secara halus menggunakan permainan kata. Dua kata yang sangat mirip dalam bahasa Ibrani digunakan untuk memperlihatkan bahwa manusia itu “telanjang” (arom) dan ular itu “cerdik” (arum). Hal ini sudah secara halus memperlihatkan seolah bahwa ketelanjangan itulah sisi yang akan menjadi paling rapuh setelah manusia berkontak dengan kecerdikan ular. Kecerdikan ular pada dasarnya bertujuan untuk memutarbalikan keluhuran dan keindahan ketelanjangan manusia.

Sekarang selama hidup kita dengan tubuh kita di dunia ini kita tidak bisa lagi kembali kepaa ketelanjangan asali itu. Mengapa? Cara kita memandang ketelanjangan sudah terlanjur dibuat keruh oleh dosa.

SERUAN KRISTUS TENTANG HATI: TUBUH YANG DINODAI

“Hati” telah menjadi medan pertempuran antara cinta dan keternodaan. Bila keternodaan semakin banyak menguasai hati, semakin sedikitlah hati mengalami arti nupsial tubuh […]

  • Yohanes Paulus II

Ada satu peristiwa yang terjadi baru-baru ini. Ketika seorang sahabat saya berada di bandara kota Roma, Italia. Seorang perempuan muda cantik dan seksi, berpakaian merah mencolok yang ketat membungkus tubuh seksinya lewat di dekat teman saya. Ketika perempuan itu lewat, seorang lelaki di dekatnya segera berkomentar: “Che roba!” Dalam bahasa Italia, kata “roba” bisa berarti “barang, benda, sesuatu.” Bila diucapkan dalam bahasa Ingrish, ungkapan " “Che roba!” ini akan berbunyi “What a Thing!” Artinya, ungkapan ini berbunyi: “Barang yang luar biasa.”

Bagi lelaki itu yang lewat tidak lain adalah sebuah barang sebuah benda, “sesuatu” yang bagus. Bila kita mau jujur kecenderungan untuk memandang seorang perempuan sebagai “sesuatu” ( bukan lagi “seseorang”) juga ada dalam diri kita. Hal ini berlaku bagi banyak lelaki dan perempuan lain.

Berzinah dalam hati

Kenyataan yang terjadi dalam diri kita dan di dunia sekitar kita saat ini bukanlah sesuatu yang baru. Ini sudah ada sejak dahulu kala. Yesus pun sudah melihat kenyataan itu. Bila ditarik lebih jauh sampai ke titik yang paling jauh, ini semua terjadi sejak pasangan pertama, lelaki dan perempuan, yang diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah sendiri itu, jatuh dalam dosa.

Dalam khotbah dibukit, Yesus membuat beberapa pembanding antara apa yang digariskan dalam hukum Taurat dan apa yang diajarkan oleh Yesus sendiri.

Matius 5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Matius 5:28)

Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.(Matius 5:29)

Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
(Matius 5:30)

Yohanes Paulus II menjelaskan perkataan Yesus tersebut dengan secara khusus menengok kembali persoalan yang muncul dalam “hati” manusia segera sesudah pasangan pertama jatuh kedalam dosa. Seluruh pokok kedua ini dasarnya adalah penjabaran tentang seruan Kristus kepada kita agar secara serius kembali kepada hati kita, agar secara serius memulihkan kondisi “hati” manusia yang sudah rusak karena dosa.

Meragukan pemberian

Apa yang terjadi setelah dosa? Pertama-tama mari kita terlebih dahulu kembali pada kenyataan dasar bahwa manusia ada karena Allah sendiri yang menghendakinya. Manusia diciptkan sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Alasan dasar adanya manusia adalah karena ada pihak yang “memberi” yakni Allah sendiri. Karena itu berhadapan dengan Allah, identitas atau tindakan dasar manusia adalah “menerima.” Manusia melakukan kesalahan besar bila berhadapan dengan Allah ia justru memutuskan untuk tidak lagi sekedar “menerima” melainkan ingin seturut kehendaknya sendiri “ mengambil.” Bila manusia mulai meragukan kesungguhan hati atau keseriusan Allah untuk “member” kepda amanusia, ia bisa mudah tergoda untuk “mengambil.” Maka tindakan “mengambil” berakar pada keraguan akan kesungguhan Allah untuk “memberi”. Demikian dikisahkan dalam Bap 3 Kitab Kejadian: 3:1-6

[i]Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.[/i]

Manusia ingin mengambil sendiri apa sebenarnya ingin diberikan oleh Tuhan. Lebih spesifik lagi, manusia yang bertubuh perempuan itu ingin mengambil sendiri dari Tuhan bagi dirinya sendiri. Ini sebuah informasi penting yang oleh Yohanes Paulus II digali lebih lanjut untuk memperlihatkan dosa sebagai sebuah tindakan “mengambil” yang bertentangan dengan tindakian dasar manusia yang “menerima” dihadapan Allah sendiri.

Allah ingin agar tubuh manusia dengan segala bagiannya sebagai lelaki dan perempuan menunjuk pada kerinduan mansuia akan persatuan dengan Allah sendiri. Tubuh perempuan diciptakan untuk membuka diri, untuk menerima sebagian dari tubuh lelaki. Dalam arti inilah terlihat jelas tubuh perempuan diciptkan untuk menerima tubuh lelaki. Secara anatomi kita tahu bahwa sel trelur perempuan hanya bisa menerima sperma dari lelaki. Tidak bisa sebaliknya. Demikian hasil “rancangan” Tuhan. Lelaki menjadi pihak yang member, perempuan menjadi pihak yang membuka dan menerima. Dengan demikian, di sini kita bisa melihat alsan mengapa ular menyerang perempuan. Jangan kita cepat2 menyaring kisah ini dan menilai ini sebagai produk sebuah masyarakat yang didominasi oleh lelaki yang ingin dengan sengaja memojokkan perempuan. Penulis kisah ini ingin memperlihatkan perempuan itu sebagai simbolisasi dari sikap kita manusia, baik lelaki maupun perempuan, berhadapan dengan Allah sendiri.

Bila manusia memiliki hakikat adanya sebagai pihak yang “menerima” sementara Allah sendiri adalah pihak yang “memberi,” dengan mendekati perempuan, ular itu ingin menjungkirbalikkan hakikat dasar manusia,kita semua, lelaki dan perempuan. Manusia yang pada dasarnya diciptakan sebagai pihak yang menerima, sekarang digerakkan untuk mengambil sendiri. Simbolisasi dengan mengisahkan tokoh perempuan yang “mengambil” mengandung nilai yang sangat tajam, justru karena secara anatomis dan biologis, tubuh perempuan berada sebagai pihak yang “menerima” dari lelaki yang “memberi.” Logika yang bergerak di sini dengan demikian senantiasa bergerak pada penerimaan hakikat diri manusia sebagai yang “menerima” dan Allah sebagai yang “memberi.” Sekali manusia melawan itu, ia melawan hakikat dirinya sendiri, ia melawan hakikat Allah sendiri. Itulah yang terjadi dengan dosa.

Malu akan ketelanjangan

Yohanes Paulus II secara khusus mengajak kita untuk melihat dan membandingkan dua gambaran yang sungguh berbeda berkaitan dengan tubuh pasangan manusia pertama. Lebih tepat lagi, yang perlu disoroti adalah kaitan antara dosa dan ketelanjangan tubuh manusia. Kita membaca dalam Bap 3 Kitab Kejadian demikian:

[i]Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka [u]tahu[/u], bahwa mereka [u]telanjang[/u]; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, [u]bersembunyilah[/u] manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.
Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi [u]takut[/u], karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."[/i]

Sengaja kata-kata kunci saya cetak miring. Itulah kata-kata kunci yang memperlihatkan dengan tegas apa yang terjadi dengan tubuh manusia telanjang setelah dosa: telanjang, tahu, bersembunyi, takut. Kita akan menyoroti kenyataan manusia sebagai gambar dan citra Allah, lelaki dan perempuan.

Mari kita kembali lagi ke keadaan sebelum adanya dosa. Kita membaca dalam Kitab Kejadian 2:25 “Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Kita sudah melihat bahwa manusia pada awal mula mengalami “kesendirian asali.” Lelaki menemukan penolong yang sepadan, “tulang dari tulangku, daging dari dagingku.” Ditegaskan oleh Allah sendiri bahwa keduannya akan “menjadi satu daging.” Keduanya menjadi satu tubuh, “bersetubuh.” Kerinduan akan persetubuhan sudah ditanamkan dalam tubuh manusia sejak awal penciptaan karena disanalah manusia sebenarnya mendengar gema kerinduan asali akan adanya persatuan antarpribadi communion personarum. Di dalam situasi itulah kita melihat puka ketelanjangan asal.” Pada awal mula ketelanjangan sama sekali tidak menimbulkan rasa malu. Ketelanjangan menjadi satu bagian tak terpisahkan dari “kesendirian asali dan “kebersatuan asali itu.

Dosa berisi tindakan dasar manusia yang tidak lagi mau hanya “menerima,” dan mulai ingin “mengambil” bagi dirinya sendiri. Ingat, bagi perempuan itu, “buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya lagipula pohon itu menarik hati karena member pengertian” (Kejadian 3:6). Setelah itu bisa diduga, tidak hanya sikap antara manusia dan Allah dijungkirbalikkan dan dikacaubalaukan, melainkan juga sikap antara lelaki dan perempuan itu. Ketelanjangan yang semula tidak menimbulkan rasa malu sekarang dilihat secara sangat berbeda. Segera sesudah mereka makan buah itu, “terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu bahwa mereka telanjang” (Kejadian 3:7).

Ketelanjangan sebelumnya mereka hayati sebagai manusia dihadapan Allah. Sebagai manusia yang menerima dihadapan Allah yang member. Allah bukanlah sebuah ancaman. Tidak adanya rasa malu segera diganti dengan rasa takut yang begitu besar sehingga manusia dalam segala keputus-asaannya berusaha bersembunyi dihadapan Allah yang maha tahu itu. Karena manusia sudah melakukan tindakan “mengambil,” cara berpikir mereka pun berubah. Mereka sekarang berhadapan dengan Allah tidak lagi dengan kesadaran penuh bahwa Allah adalah pihak yang “member,” melainkan bagi mereka sekarang Allah adalah pihak yang akan “mengambil.” Kesadaran semacam itu segera berpengaruh pada kesadaran akan ketelanjangan mereka.

Subjek dijadikan Objek

Pasangan manusia pertama itu, lelaki dan perempuan pun sekarang hadir bagi yang lainnya sebagai sebuah kemungkinan ancaman. Ketelanjangan segera harus mereka tutupi, karena ada kekhawatiran yang mendasar kalau-kalau ketelanjangan itu akan menjadi pintu bagi pihak lain untuk tidak lagi memperlakukan dirinya sebagai subjek melainkan objek. Bila sebelumnya, dalam ketelanjangan tanpa malu sebelum dosa, logika yang bergerak antara lelaki dan perempuan pertama itu adalah logika “pemberian diri total” (karena adanya arti nupsial tubuh), sekarang bergerak menjadi sebuah logika yang sangat bertentangan. Manusia merasa takut, baik lelaki terhadap perempuan, maupun perempuan terhadap lelaki, kalau-kalau pihak lain tidak lagi memberikan diri, melainkan merampas dengan paksa. Ingat, informasi bahwa lelaki maupun perempuan segera menutupi ketelanjangan mereka masing-masing sebenarnya memperlihatkan bahwa keduanya merasa terancam. Perempuan bisa juga menjadi ancaman bagi lelaki, sebagaimana halnya lelaki bisa menjadi ancaman bagi perempuan. Lebih tegas lagi, bahkan dalam hubungan antara lelaki dan perempuan yang terikat dalam sebuah perkawinan yang sah pun, keadaan yang sama bisa terjadi.

Dalam sebuah perkawinan, seorang suami bisa merasa bahwa istrinya adalah ancaman bagi dirinya, dan seorang istri bisa memandang suaminya sebagai ancaman. Sekali lagi, kita tahu dari cerita ini bahwa ancaman terbesar adalah kalau-kalau pihak yang lain tidak lagi member diri, melainkan mengambil, merampas, memanfaatkan, menggunakan. Gema dari kenyataan ini masih terdengar, baik hubungan antara suami dan istri yang sah, maupun dalam hubungan antara lelaki dan perempuan, maupun dalam hubungan antarsahabat. Kita mendengar: “Dia hanya memakai saya.” Dan bagi Yohanes Paulus II, lawan kata dari “mencintai,” bukanlah “membenci” melainkan “menggunakan.”

Ini gema yang sudah mulai dikumandangkan sejak pasangan manusia pertama itu berdosa, sejak mereka tahu akan ketelanjangan mereka, karena sejak itu mereka tahu bahwa ketelanjangan itu bisa menjadi pintu bagi pihak lain untuk memperlakukan dirinya tidak lagi sebagai sebuah subjek melainkan sebuah objek yang bisa dipakai dan dibuang begitu saja.

Dalam percakapan popular, dalam kolom-kolom konsultasi seks di banyak majalah, dalam Tanya jawab dengan pakar seks seperti Dokter Naek L. Tobing atau Dokter Boyke, hamper bisa dipastikan selalu ada keluhan entah dari pihak suami atau pun dari istri tentang pasangannya: “Dia ingin menggunakan tubuh saya sepuas-puasnya, dan saya tidak mampu mengimbanginya.” Lebih parah lagi, banyak kolom dalam majalah popular, Cosmopolitan atau Men’s Helath, misalnya, menggunakan justru logika yang sama. Manusia tidak lagi diajak untuk kembali pada logika pemberian diri, melainkan pada sebuah rangkaian strategi praktis dan taktis semata-mata: bagaimana member kepuasan pada pasangan dan bagaimana mencapai kepuasan pasangan dan bagaimana mencapai kepuasan bersama pasangan? Ular yang “cerdik” (arum) sudah berhasil mengacaubalaukan kesadaran manusia dengan menedekati perempuan yang “telanjang” (arom).

Lelaki akan mengatakan “Aku mencintaimu” agar bisa menikmati seks dari tubuh perempuan. Sedangkan perempuan akan rela menyediakan tubuhnya untuk dinikmati oleh lelaki dengan harapan akan mendengar dari lelaki itu ucapan “Aku mencintaimu.” Inilah rangakian logika “saling memakai dan memanfaatkan,” bukan lagi logika “saling member diri.”
Mengapa ini terjadi? Jawabanya jelas: semua berakar pada kondisi “hati” manusia setelah dosa sejak pasangan pertama itu berdosa.

Akibat yang lebih mengerikan kita temukan dalam kejadian 3:16. Allah berkata kepada perempuan pertama: “…engkau akan birahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Persatuan antara lelaki dan perempuan sekarang bahkan ikut terancam. Yohanes Paulus II menggambarkan situasi itu demikian:
Mereka tidak lagi hanya dipanggil kepada kesatuan dan persatuan, tetapi bahkan juga terancam oleh rasa tidak perna puas atas kesatuan dan persatuan itu, yang tidak berhenti memikat lelaki dan perempuan justru karena mereka adalah pribadi-pribadi, yang dipanggil sejak keabadian untuk ada “dalam kesatuan”

Hati yang menuntun pilihan tindakan manusia untuk “menerima” dan “member diri secara total” dikacaukan menjadi hati yang menuntun kita untuk “mengambil” dan “mengambil” dan “mengambil.”

Berzinah dengan pasangan sendiri

Ketika Yesus menyampaikan khotbah dibukit Ia menjelaskan beberapa hal penting. Mari kita lihat kembali ke Yohanes Paulus II secara teliti memperlihatkan arti ungkapan Yesus: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:26). Perhatikan, Yesus tidak mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perempuan di sini adalah perempuan yang tidak menjadi istri yang sah dari seorang lelaki. Artinya, Yesus menunjuk di sini semua perempuan. Dan kita tahu, hal yang sama berlaku dalam sikap seorang perempuan terhadap lelaki. Seorang istri yang memandang suaminya sendiri, dan mengingankannya. Sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Setiap suami yang memandang istrinya sendiri, dan menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Mengejutkan? Ya, memang demikian. Suami bisa berzinah dengan istrinya sendiri sebaliknya, istri bisa berzinah dengan suami sendiri.

Dalam terang situasi tubuh manusia setelah disa kita bisa mendengar ucapan Yesus secara demikian. Bila seorang suami memandang tubuh istrinya dan melihatnya hanya sebagai sebuah barang yang menjadi hak miliknya untuk dipakai demi kepuasannya sendiri, suami itu sudah berzinah di dalam hatinya. Lebih tegas lagi, teks kitab suci yang mengatakan “ia berzinah dalam hatinya.” Juga bisa menunjuk pada arti yang lebih spesifik, yakni “ia menjadikan perempuan itu seorang pezinah!” coba tanyakan kepada para istri yang sering pusing setiap kali suaminya “minta jatah.” Atau, para istri yang karena mengeluh bahwa suami mereka tidak mampu memberi mereka “nafkah batin.” Kita dengar kembali gema dari taman Eden itu. Manusia tidak lagi bergerak dengan tubuhnya dengan dituntun oleh logika untuk saling member melainkan untuk mengambil demi kepentingan diri sendiri.

Ini perlu diteliti bahkan hingga ungkapan yang paling biasa sehari-hari ketika orang mengatakan “istri saya” atau “suami saya.” Kata ganti “saya” di sini menunjuk pada sebuah kesadaran bahwa istri atau suami tidak berbeda dari barang-barang lain yang dimiliki. Kepekaan perempuan bisa menangkap dengan jelas ketika mata seorang lelaki memandang dengan pandangan seolah menelanjangi dan ingin melahap tubuhnya. Menurut Yohanes Paulus II, “melalui cara melihatnya itulah seorang memperlihatkan dirinya ke luar dan kepada orang-orang lain; terlebih lagi ia memperlihatkan apa yang dipandangnya dalam sisi ‘batiniah’-nya

Memulihkan hati

Lebih jauh lagi Yohanes Paulus II mengajak kita melihat dan mendengar seruan ini sebagai undangan untuk kembali memperbaiki “hati” manusia. Apa artinya ini? Dalam paham ketika itu, hati adalah pusat kesadaran manusia. Maka, bila orang sudah berzinah di dalam pusat kesadarannya sendiri ia melihat dirinya sebagai subjek yang berhak menggunakan dan memperlakukan siapa pun sebagai objek. Ini sungguh satu hal yang sangat serius. Sayangnya, dunia zaman ini justru menjual iklan agar manusia berlomba-lomba, baik lelaki maupun perempuan, untuk menjadi “penakluk-penakluk lihai dan andal.”

Di sini kita perlu melihat pembedaan antara ethic dan ethos. Sebuah cerita yang mungkin sudah pernah terjadi secara nyata dalam pengalaman kita atau mungkin orang yang kita kenal mungkin dapat membantu pemahaman kita. Di sepanjang sebuah tepi jalan terpancang tanda “dilarang berhenti” dan ”dilarang parkir.” Anda sedang mengendarai mobil dengan seorang teman. Sebuah motor yang sedang meluncur di depan mobil anda, tiba-tiba tergelincir karena adanya lobang yang cukup besar. Penumpangnya terjatuh, terbaring, kesakitan, butuh pertolongan. Anda ingin berhenti untuk menolong, tetapi teman yang duduk di samping anda melihat deretan larangan “dilarang berhenti” dan “dilarang parkir” sehingga mendesak anda untuk tidak berhenti, apalagi parkir, anda akan mendengar aturan. Sementara dalam diri anda sendiri, anda tahu bahwa yang terjatuh adalah manusia yang sama martabatnya dengan anda, dan anda tahu apapun resikonya, anda harus menghentikan kendaraan, memakirnya di tepi, dan menolong orang itu.

Benar, anda melanggar aturan lalu-lintas, tetapi anda tidak melanggar perintah hati anda. Inilah perbedaaan antara ethic dan ethos. Teman anda bergerak dalam tingkatan ethic, sedangkan anda bergerak dalam tingkatan etho. Teman anda ingin jadi baik dengan tgidak melanggar aturan lahiriah apapun, sedang anda ingin menjadi baik dengan mengikuti aturan batiniah yang muncul. Dengan cara itu, kita bisa memahami isi khotbah di bukit ketika Yesus mengatakan hal ini dalam Bab 5:27-28 Injil Matius:

Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Dalam khotbah tersebut, Yesus mengajak pendengar-Nya dan juga kita semua untuk beralih dari tingkatan ethic menuju ethos. Yang lebih penting adalah soal hati, soal pusat kesadaran, soal ethos. Para pendengar-Nya, sebagaimana juga mungkin sebagian besar dari kita, sudah sangat mengerti tentang ethic yang berkaitan dengan perzinahan. Secara sangat praktis, ini berarti bahwa kita harus berani secara jujur menghadapi adanya kecenderungan kearah dosa, adanya keternodaan didalam hati kita.

Lanjut dibawah…

Bila ethos ini sungguh dikembangkan, bila hati kita sendiri sudah begitu menguasai sikap terhadap tubuh manusia lain, sisi ethic itu mungkin tidak lagi dibutuhkan. Seandainya anda tidak memiliki keinginan sendikit pun untuk memandang perempuan dan menginginkannya, larangan “jangan berzinah” pun tidak diperlukan lagi. Dalam keadaan seperti ini, tidak hanya bahwa hati anda sudah dibebaskan, tetapi juga bahwa anda sudah dibebaskan dari hokum itu sendiri. Bukan berarti anda bebas untuk melanggarnya, tetapi justru anda bebas dan senantiasa selaras untuk melaksanakannya. Maka, anda memiliki “kebebasab dari hukum” (freedom from the law).

Lebih jauh lagi, bila ethos ini ditumbuhkan dan semakin menguasai kesadaran anda, mau tidak mau akan terjadi kontak antara ethos dan eros dalam diri anda. Sungguh disayangkan bahwa paham tentang eros sudah diracuni. Akibatnya, istilah eros senantiasa dipandangan sebagai sesuatu yang negative. Padahal sesungguhnya, eros tidak lain adalah daya batin yang memikat manusia pada apa yang “benar, baik, dan indah.” Maka, perjumpaan antara ethos dan eros justru merupakan sesuatu yang harus terjadi bila manusia sungguh memahami arti tubuhnya. Bila keduanya berjalan selaras, hati manusia akan selalu hanya dipikat oleh apa yang sungguh-sungguh “benar, baik, dan indah.” Bila eros tak terpisahkan dari ethos, anda tidak lagi memandang satu manusia lain pun sebagai objek pemuasan diri anda. Inilah pembebasan dari hukum yang ditawar oleh Yesus.

Di kemudian hari, Paus Benediktus XVI, sebagai penerus Yohanes Paulus II, mengeluarkan Ensiklik pertamanya yang berjudul Deus Caritas Est (Allah adalah Kasih). Pada nomor 10 Ensiklik itu membuat pernyataan yang tegas, bahwa cinta Allah itu eros sekaligus agape. Hati manusia perlu dipulihkan karena dalam diri kita eros tidak lagi mengarah pada agape. Sebaliknya, karena dosa, eros dalam diri kita menjadi selalu bertentangan dengan agape. Karena dosa, dorongan atau daya yang memikat kita pada apa yang “benar, baik, dan indah” tidak lagi menjadikan kita erotis sebagaimana halnya Allah itu erotis. Arti manusia yang erotis disini terpisah dari agape, tetapi arti Allah yang erotis itu tidak terpisah dari agape. Sekali lagi Yesus memanggil kita kea rah pembebasan dan hukum yang harus mulai dengan pemulihan hati kita dalam bentuk seperti itu.

Menyingkirkan cinta Bapa

Kenyataan manusia setelah dosa dijelaskan oleh Yohanes Paulus II dengan merujuk pada rangkuman yang ada dalam 1 Yohanes 2:16-17. Di sini kita temukan adanya tiga hal yang tidak selaras dengan Allah sendiri:

[i]Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

[/i]

Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa tiga hal yang disebut di sini adalah tiga bentuk concupiscentia yang “tidak berasal dari Bapa,” melainkan “dari dunia”. Dalam paham Yohanes, istilah “dunia” menunjuk pada segala sesuatu yang berada sebagai penghalang atau penghambat adanay keselarasan antara manusia dan Allah sendiri. Secara spesifik, dalam kaitannya dengan seruan untuk kembali kepada hati, yang dimaksud dengan dunia adalah segala keadaan yang ada karena manusia telah menyingkirkan cinta Bapa dari dalam hatinya sendiri. Tanpa cinta dari Bapa itu, hati sebagai pusat kesadaran dilepaskan dari cinta. Hati, dengan demikian, menjadi pusat segala yang lain, selain cinta, karena Allah adalah cinta. Dan bila cinta Allah terungkap dalam tindakan pemberian diri yang total, lenyaplah cinta itu, bisa kita duga, berarti bahwa hati menjadi pusat kesadaran yang menuntun manusia hanya untuk mengambil dan mengambil saja dari pihak lain selama hidupnya.

Maka, keinginan daging dan keinginan mata secara lebih khusus di sini erat terkait dengan khotbah Yesus: “ Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkanya…” (Matius 5:28). Disinilah kita melihat Yesus sendiri secara khusus merujuk pada keinginan mata yang menjadi pintu bagi masuknya keiginan daging. Bahkan lebih tegas lagi, dalam pandangan Yohanes Paulus II, kita semua setelah dosa mengalami bahwa tubuh kita mudah menjadi pintu masuk bagi keinginan yang “tidak berasal dari Bapa”.

Tubuh kita, yang sebenarnya sudah memuat petunjuk jelas sebagai lelaki dan perempuan, bahwa kita adalah gambar dan rupa Allah, sekarang justru menjadi kekuatan yang menentukan keinginan kita. Tubuh kita, artinya segala hasrat seksual yang melekat padanya, memiliki kekuatan untuk menuntut kesadaran agar tubuh itu sendiri diberi kepuasan. Dengan kata lain, tubuh begitu kuat member perintah pada kesadaran kita agar kita tidak lagi mengendalikan hasrat seksual kita. Ini jelas terlihat dalam tindakan pasangan manusia yang pertama. Mereka berusaha menghapuskan “ke-bapa-an Allah.” Mereka meragukan kesungguhan Allahyang ingin member sebagaimana halnya seorang bapa yang baik yang ingin membagikan begitu banyak pemberian bagi anak-anaknya.

Rasa malu

Apa sebenarnya rasa malu itu? Manusia sudah menolak Allah sebagai Bapa. Maka, rasa malu hanya bisa dipahami dalam kaitann dengan penolakan itu. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa rasa malu itu muncul karena pada saat itu sepasang manusia pertama menyadari bahwa tubuh mereka masing-masing, yang telanjang sebagai lelalki dan perempuan tidak lagi menimba daya Roh yang sebelumnya memungkinkan tubuh-tubuh itu menjadi gambar dan citra Allah sendiri. Mereka malu akan tubuh mereka karena sekarang tidak lagi memiliki keluhuran seperti keadaan sebelumnya. Mereka malu karena sejak saat itu tubuh nereka kehilangan kemampuan untuk memberikan diri, kehilangan kemampuan untuk menciptakan communion personarum sebagaimana adanya dalam diri Tritunggal sendiri. Dengan demikian, rasa malu akan tubuh itu bukan melulu karena tubuh itu sendiri. Rasa malu akan tubuh itu sebenarnya adalah ungkapan rasa malu akan adanya kekacauan dalam kehendak hatinya yang sudah dikuasai oleh nafsu.

Kita malu dan menutupi ketelanjangan itu bukan karena tubuh itu buruk. Sebaliknya, kita begitu memahami bahwa tubuh itu begitu baik dan luhir, sehingga harus sungguh-sungguh kita lindungi dari segala kemungkinan untuk dirampas, dipakai, dimanfaatkan. Concupiscentia, keternodaan, adalah keadaan dimana hati manusia telah kehilangan cinta Allah sendiri. Concupiscentia adalah jelas adanya kekurangan yang serius dalam hati manusia. Maka orang orang yang membiarkan diri dikuasai oleh nafsu birahinya dengan menjadi penakluk banyak orang (artinya menjadi penakluk bagi tubuh orang lain agar memberikan kepuasan seksual) adalah orang yang jelas memperlihat kelemahan atau kekurangan yang besar itu. Manusia membiarkan diri dikuasai oleh nafsu karena sebenarnya ingin mengisi kembali kekosongan hati yang telah tidak lagi diisi oleh cinta Bapa. Seorang playboy adalah orang yang sungguh lemah lebih tegas lagi, lelaki playboy bukanlah lelaki sebagaimana diciptakan oleh Allah, tubuhnya bukan lagi tubuh seorang lelaki sejati, kalaupun ia bisa meniduri sekian banyak perempuan demi kepuasan seksualnya sendiri.

Lebih jauh Yohanes Paulus II menegaskan bahwa rasa malu itu muncul karena manusia menyadari bahwa dirinya, dengan kenyataan tubuhnya sebagai lelaki dan perempuan yang seharusnya menunjuk pada kenyataan Allah sendiri, sekarang seolah diturunkan derajatnya setingkat dengan banyak makhluk lain di sekitarnya yang tergolong sebagai animalia. Jika sebelumnya manusia pertama tidak menemukan penolong yang sepadan dengan dirinya di antara makhluk dalam kategori animalia itu. Manusia tidak lagi bisa senantiasa secara bebas menentukan pilihan dan tindakannya. Mulai saat itulah ia juga bisa dikuasai oleh instinct, naluri, dorongan sesaat belaka. Dosa membuat struktur “penguasaan-diri” itu digoncangkan pada dasar terdalamnya.

Lanjut dibawah…

Rasa malu itu juga merupakan cara manusia pertama untuk secara spontan bersembunyi dari tanggung jawab perbuataannya sendiri. Sumber utama rasa takut sebenarnya terletak dalam hati manusia yang tertutup bagi cinta Allah. Untuk menutupi itu, manusia segera memeluk rasa malu akan ketelanjangannya. Lebih tegas dikatakan demikian oleh Yohanes Paulus II:

Kita menyadari bahwa sesuatu yang lebih dalam diperlihatkan disini daripada sekedar rasa malu badani yang terkait dengan baru munculnya kesadaran akan ketelanjangan. Dengan rasa malu akan ketelanjangannya sendiri, manusia berusaha menutupi sumber sebenarnya dari rasa takutnya dengan menunjuk pada akibat supaya ia tidak perlu menyebut penyebabnya.

Allah sendirilah yang akhirnya menunjuk sebabnya: mereka telah makan dari pohon yang telah dilarang oleh Allah sendiri. Artinya, sekali lagi, sumber ketakutan itu tidak lain adalah ketidaksediaan manusia untuk percaya akan kesungguhan Allah yang ingin member sehingga memutuskannya untuk mengambilnya sendidiri.

Dengan masuknya dosa, manusia tidak lagi mengalami hasrat seksual terutama sebagai tenaga yang mendorong manusia untuk bisa menghayati hidup sebagai sebuah pemberian bagi orang lain. sejak saat itu hasrat seksual dialami terutama sebagai sebuah tenaga yang mendorong mansuia untuk merampas ,mengambil, menguasai. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa mulai saat itu apa yang semula merupakan relasi dalam kerangka pemberian, sekarang men jadi relasi pemanfaatan.

Sebelum dosa, saat kali pertama manusia menemukan seks, mereka mengalami kedamaian dan ketentraman batin. Stelah dosa, saat kali kedua mereka menemukan seks, yang ada tidak laian adalah rasa terancam. Ketelanjangan yang semula mereka temukan sebagai petunjuk jelas akan keluhuran mereka sebagai gambar dan citra Allah sekarang harus ditutupi (bahkan terhadap Allah sendiri).

Maka, rasa malu memiliki arti ganda secara fungsional. Pertama rasa malu berfungsi untuk mengingatkan kepada mereka sendiri bahwa mereka telah kehilangan arti nupsial tubuh mereka. Kedua, rasa malu berfungsi melindungi arti nupsial tubuh mereka sendiri, jangan sampai dimanfaatkan begitu saja oleh pihak lain.

Lanjut pada tulisan berikutnya Hidup dalam Roh

Pak Clay, tulisan anda ini Luar Biasa Super kata Om Mario Teguh ! :afro: ;D :coolsmiley: :happy0062: