Dosakah menjual anak ???

Sepasang kekasih yang sudah lama ingin mendambakan anak, mereka rela membeli anak dari penampungan bayi.

alangkah kagetnya justru bayi2 itu merupakan hasil hubungan diluar nikah. mereka membeli 1 bayi dengan harga 10 juta sampai 20 juta.

Memang lembaga ini sudah ada dan termasuk lembaga sosial kristen di Singapura, dan di Indonesia. Daripada anak haram itu digugurkan / diaborsi maka mereka menampung ibu yang mengandung diluar nikah, dibiayai sampai kelahiran bayi tersebut.

Bayi2 itu pun dikomersialkan dengan alasan sebagai pengganti biaya2 perawatan ibu dan anak.

Hanya di dunia smurf semua ga pake uang… (alias gratis)

Yayasan sosial yang menangani anak-anak yatim piatu, termasuk yang diceritakan diatas, adalah sebuah yayasan non komersial. Maksudnya bukan tanpa untung sama sekali (merugi doang kerjanya) tetapi keuntungan tidak dinikmati atau dibagikan kepada pemilik.

Perlukah menarik duit sampai puluhan juta? Tergantung berapa banyak anak lain yang harus diberi makan.

Kehidupan seorang anak, entah hasil pernikahan yang sah maupun hubungan di luar nikah, adalah tanggung jawab orang tuanya. Seharusnya lelaki yang berbuat diminta pertanggung jawabannya.

Hanya seringkali tidak mudah meminta pertanggung jawaban lelaki tersebut sehingga ibu harus memelihara anaknya sendiri. Tidak semua ibu sanggup melakukannya sehingga terpaksa bayi2 itu dibuang atau diserahkan ke panti asuhan.

Adanya orang lain yang ingin membantu penghidupan anak tersebut, sah-sah saja, akan tetapi saya pribadi tidak setuju kalau anak itu dipisahkan dari orangtua biologisnya atau ditutupi asal usulnya.

Misalnya, Anto dan Anti, pasangan tanpa anak, mengadopsi Tini, anak seorang perempuan bernama Tuti, yang merupakan hasil hubungan di luar nikah Tuti dengan Tito pacarnya, yang tidak bertanggung jawab. Tuti akhirnya menyerahkan anaknya ke panti, lalu Anto dan Anti mengadopsi anak tersebut saat berumur 10 bulan, dan merekalah yang memberi nama Tini. Tini tidak pernah tahu siapa ibu biologisnya, apalagi ayah biologisnya. Tuti, ibu biologisnya pun tidak pernah tahu, siapa yang mengadopsi anaknya. Tini diperlakukan secara hukum seperti anak kandung Anto dan Anti. Memang, Anto dan Anti sangat sayang kepada anak angkatnya itu, seperti anak kandung sendiri.

Akan tetapi setelah dewasa Tini berjumpa dengan seorang lelaki yang dicintainya bernama Tobi. Mereka ingin menikah, tetapi tidak mengetahui jikalau mereka masih satu ayah biologis, karena Tobi adalah anak Tito, ayah biologis Tini yang pergi meninggalkan Tuti sewaktu hamil. Tito ternyata menikah dengan perempuan lain setelah menghamili Tuti di luar nikah. Kalau sudah begini, bagaimana? Inses antar orang seayah walau beda ibu adalah dosa (Imamat 18:9).