Ekstrimis Serobot Lahan Gereja, Seorang Jemaat Tewas

Ini akibatnya jika pemerintah setempat tutup mata terhadap kondisi realitas masyarakatnya. Umat Kristen Pakistan yang terus mengalami penindasan secara berulang-ulang tanpa adanya jaminan pengamanan, kembali menjadi sasaran empuk para ekstrimis.

Dirilis Bossnewslife, seorang jemaat tewas dan puluhan orang termasuk anak-anak mengalami luka berat akibat insisden penyerangan dan penyerobotan tanah milik gereja setempat yang dilakukan oleh kelompok ekstrimis Pakistan di wilayah selatan Punjab Channu Mian, Pakistan.

Tanah dan lahan tersebut tercatat adalah resmi punya gereja setempat. Umat Kristen setempat yang tergabung dalam salah satu gereja lokal membeli tanah itu untuk membangun kawasan pelayanan seperti gereja dan panti asuhan. Namun seorang oknum berpengaruh di wilayah itu, menghimpun kekuatan massa dan mencoba mengambil alih tanah itu.

Hal ini membuat berang Presiden dari Pakistan Christian Congress (PCC), Nazir S. Bhatti yang menyesalkan sikap kepolisian yang menganggap insiden ini sebagai kriminalitas biasa dan bukan kerusuhan sektarian. Dia menambahkan PCC dan kelompok advokasi lain mengutuk serangan ini dan meminta aparat keamanan segera menangkap pelaku pembunuhan.

Kekerasan dan penindasan akan terus terjadi jika pemerintah tutup mata ddan tidak memperdulikan kondisi rakyatnya. Keadilan hukum harus diterapkan khususnya untuk negara yang mempunyai catatan buruk mengenai toleransi keagamaan.

Source : Bossnewslife

Heran, mengapa sepertinya seragam ya? Di Indonesia juga pemerintah kita selalu melakukan denial jika terjadi kasus kerusuhan berbau gesekan agama. Dikatakan kriminal biasa, dikatakan antar pribadi, dikatakan karena salah sangka. Mengapa tidak dicari akar masalahnya, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi?

karena pemerintahan dah dikuasai oleh kaum bersorban…aka takut kepada mereka

Yah, memang mungkin sudah seperti seharusnya, bahwa orang Kristen memang harus mengalami semua itu, bagai besi yang harus ditempa agar kuat, bagai permata yang harus digosok agar bersinar.

apa yang dinamakan kristen dianggap sasaran empuk untuk di zolimi di belahan dunia manapun. karena yng nonK sangat tau sekali apa itu kristen…Dan kejadian penzoliman kaum kristen ( secara keseluruah kompartemen yang dimilikinya ) merupakan pemenuhan sisi kebutuan umat di luar Kristen, sehingga faktor legal dan ilegal yang berkaitan dng hukum yang berlaku didunia ini sudah tidak dapat lagi ( mampu ) mencegahnya.
Kalau demikian, maka jika kita perspektifkan dng kehidupan spiritual iman Kristen…?? lagi lagi kita harus bercermin
kepada Alkitab ya…?? Dimana makin marak terlihat manusia hidup dengan nafsu kedagingannya…tapi kalau kita melihatnya bahwa semua itu adalah batu ujian yang di izinkan oleh TYK kepada umat -Nya…supaya kita mampu atau tidak untuk terus tabah dan bertekun dalam memikul salib- salib kita masing masing…?? supaya ada pertumbuhan dan pendewasaan keimanan kita untuk tetap hidup secara roh. Pasti semua rekan kristiani disini sudah memahaminya.Amin

Akar masalahnya adalah

  • Agama lain melakukan syiar sebagai penyebaran agama.
  • Kristen melakukan perekrutan sebagai penambahan anggota :cheesy:

ga smua kristen sih, ada juga kristen yg melakukan syiar

Dalam konferensi agama-agama dunia tahun 1978, perwakilan kristen menolak mengubah cara penyebaran agama.

Lho, bohong aja kalau agama tidak menyampaikan dakwah. Bisa secara halus atau ‘kasar’, tetapi semua agama menyampaikan dakwah.

Masalahnya, ada yang menhadapi dakwah denan dakwah, ada yang menghadapi dakwah dengan pedang.

:huh:

Naa, kalo emang udah ga percaya, mau diapain lagi hahahaha

benar ^^
selama ada agama maka ada perselisihan…mangkannya ada kaum ateis ^^…
tapi mereka tidak sadar… ada yang dengan “perbuatan yang baik”… ada yang dengan darah dan pedang^^

Tapi, jujur saja, semakin mereka melakukan tindakan kasar dan anarkis, semakin baik bagi kita. Mengapa? Karena jadi tampak jelas bedanya, tampak yang satu mengutamakan kekerasan dan yang lain mengutamakan kasih.

Kalau mereka sudah menggunakan dengan cara yang sama dengan kita, yakni mengutamakan kasih, maka penginjilan menjadi lebih berat, karena sama sama ‘tampak’ baik.

Yang jadi masalah, kalau kita justru mulai gemar bertindak anarkis, kekerasan dibalas kekerasan, maka justru kitalah yang makin tenggelam.

Itu berdasarkan strategi hu-mas. He he he

Konsili vatikan II adalah salah satu tonggak kerjasama agama-agama dunia. Setidaknya di dunia ini ada satu agama yg menyatakan sikapnya terhadap agama-agama lain di dunia. Jawaban berdatangan dari agama lain. Dan tahun 1974 perundingan mengarah kepada hal yg makin positif. Namun pada 1978(pertemuan berikutnya) perwakilan Kristen menolak sejumlah hal yg semula mulai positif di tahun 1974, salah satunya adalah cara penyebaran agama.

Belakangan ini gereja-gereja yg berakar dari Erops (Katolik, Lutheran. Calvinis) merumuskan Evangelisasi baru. Dakwah ala Evangelisasi baru ini sesuai dengan semangat 1974 yg ditolak oleh perwakilan Kristen di tahun 1978.

Evangelisasi baru itu tentu perlu waktu untuk bisa meresap di otak para penganutnya di Indonesia, termasuk FK ini. Saya ga kaget kalo orang sini pun masih kayak perwakilan Kristen 1978. Ga usah disebutlah perwakilan Kristen dari akar teologi mana aja. Udah tau sendiri kan.

diedit karena banyak salah ketik

@pinc

Thanks, bro.

Mudah mudahan kita semua sadar, bahwa pada akhirnya kita sendirilah yang akan mempertanggung-jawabkan pilihan kita sekarang ini, pada saat akhir kelak. Dan sementara masih hidup di dunia (dan forum diskusi), seharusnya kita bisa bekerja sama untuk mewujudkan kebaikan dan kasih kepada sesama umat manusia.

terus terang aja bro… kalo abu2 terus repot^^

Lha yg terlibat perang salib, yg terlibat imperialisme dunia kan emang kristen eropa. Jd ga usah heran kalo skrg mereka yg kudu “merapikan” image buruk kekristenan dalam sejarah dunia hahahaha.

Prinsipnya kan “Lu yg berbuat, lu yg bertanggung jawab.”

Suatu hari nanti kekristenan amerika juga harus mempertanggungjawabkan perilaku mereka terhadap dunia ini. Mereka berpesta di gereja setelah mendengar salah satu tokoh Al-Qaeda terbunuh.

nope… i think christianity never involved in war…
sesungguhnya orang2 yang mengatasnamakan "kristen " aja yang mengambil untung bro…
orang eropa maupun amerika sendiri terdiri dari banyakorang yang cukup ateis…
perang salib adalah "pure"perang kekuasaan bangsawan eropa ke tanah timur tengah…
imperialisme adalah perang untuk mencari sumber bahan baku…
alqaeda adalah perang pembalasan kenegaraan
sedangkan Kristen sesungguhnya tidak membalas pedang dengan pedang…
kita beda dengan "nabi"yang katanya bawa damai tetapi bawa pengkapiran, pembunuhan, dan pengintimidasian…

Berharap demikian sih boleh-boleh aja. Saya juga berharap begitu.

Kalau kita bicara jujur, memang harus diakui bahwa tidak ada agama yang lepas dari perbuatan tercela (perang). Mengapa, karena agama dianut oleh manusia, dan manusia terikat pada ego dan kepentingan kelompok (negara atau suku atau whatever).

Yang menjadi masalah jika kemudian ada sebuah bangsa menyerang / menguasai / membunuh bangsa lain dengan mengatas namakan agama. Agama yang seharusnya mengajarkan kebaikan dan kasih kepada sesama manusia, menjadi alat legitimasi kekerasan.

Pada sebelum abad pertengahan, harus diakui ketika negara agama masih eksis, terutama di Eropa, seringkali terjadi perang antar negara, masing masing mengusung agama yang sama, agama dipergunakan sebagai pengobar semangat rakyat untuk bertempur melawan musuh negara yang juga mengusung agama yang sama.

Ketika Perang Salib dikobarkan, tujuan awalnya memang demi mebela agama (tanah suci) dan melindungi para peziarah yang selalu dibegal oleh gerombolan Muslim. Tetapi kemudian tujuan bergeser menjadi kepentingan wilayah kekuasaan. Ini juga berlaku sebaliknya, pasukan Muslim dengan alasan penyebaran agama menguasai dan mengakuisisi kerajaan2 Kristen ( Syria, Mesir, Jerusalem, Byzantine dsk), mengganti agama negara taklukan menjadi agama Islam.

Setelah revolusi industri Eropa, ketika ekonomi dan militer Eropa berkembang pesat, terjadi sebaliknya, negara negara Eropa yang mayoritas Kristen (Katolik dan Protestan) menaklukan dan menguasai negara negara Afrika, Arab, Asia (mayoritas Islam dan agama Timur), Amerika dan Australia. Tujuan memperbesar wilayah kekuasaan dan kekayaan, secara tidak langsung juga membawa para penginjil agama Kristen (Katolik dan Protestan) dengan akibat agama Kristen juga tersebar ke daerah daerah kekuasaan baru itu.

Perang Dunia I pecah dan negara Eropa yang rata-rata Kristen (Katolik dan Protestan) juga perang dan masing masing tentu mengusung agama mayoritas negara masing masing.

Perang Dunia II, juga mau tidak mau membawa agama, walau disebabkan adanya musuh bersama, agama tidak terlalu nyata terlihat. Tetapi berbeda dengan negara negara bekas jajahan negara Eropa yang memberontak terhadap negara penjajahnya, dimana karena sebagian besar mayoritas negara jajahan adalah non-Kristen, agama menjadi faktor yang diusung untuk mengobarkan semangat juang dalam perang.

Perang Timur Tengah, ketika bangsa Yahudil mulai melancarkan perang dalam mendirikan negara baru Israel, dimana negara negara yang diperanginya mayoritas beragama Islam, maka agama menjadi faktor sangat penting dalam mengobarkan semangat perang negara negara Arab melawan Israel. Celakanya, Amerika yang mendukung israel mayoritas beragama Kristen. Sehingga semangat perang salib dari negara negara Islam seolah kembali dikobarkan. Agama kembali dipakai sebagai alasan untuk perang.

Terorisme yang merupakan ‘senjata terakhir’ kaum frustasi, karena seolah tidak mungkin mampu melawan kekuatan (Amerika dan Eropa) yang tidak seimbang dipergunakan oleh kaum Muslim yang menganggap bahwa perang yang terjadi adalah perang suci, jihad melawan Kristen.

Maka, Agama, yang sebetulnya tidak tahu menahu, menjadi alasan utama untuk membunuh sesama manusia, yang sejatinya menurut agama harus saling mengasihi.

Syalom

Agama menembus dalam lapisan kesadaran yang sangat jauh ke dalam. Lapisan-lapisan ini sedemikian dalamnya sehingga menjadi kerak yang sulit digali, demikian berkerak sehingga sulit dilembutkan. Dari bagian yg jauuuuh di dalam kesadaran manusia inilah Agama bekerja. Ibarat script yg ada jauh di jurang server otak manusia. Dalamnya laut ada dasarnya, namun pikiran manusia tak terselami, botomless, seperti jurang yg tak berdasar.

Suatu ajaran agama secara sadar dan tidak memberi petunjuk tindakan-tindakan manusia. Secara bawah sadar, sebuah ajaran yg rasis akan membentuk prasangka-prasangka rasis jauh di dalam benak penganutnya. Ketika konflik terjadi, tatanan hukum dan sosial sedang longgar, maka dorongan-dorongan bawah sadar tersebut pun bermanifestasi dalam menjadi tindakan. ORang yg tadinya santun, berperilaku baik, tidak pernah melakukan kekerasan, tiba-tiba menjelma menjadi gerombolan yg brutal menganiaya ras target kebencian bawah sadarnya.

Contoh lain, misalnya ketika Sola Fide pertama muncul, standar moral masyarakat tiba-tiba menjadi merosot karena mereka secara bawah sadar menganggap perbuatan baik tidak penting. Calvin kemudian berusaha memperbaiki keadaan dengan menyusun ajaran yg lebih baik antara kaitan iman dengan perbuatan baik. Sebagian orang menganggap merosotnya standar moral tadi adalah akibat kesalahpahaman terhadap ajaran Luther. Tentunya Sola Fide memang tidak menyuruh orang berbuat jahat, dan karena itu kemerosotan standar moral itu adalah suatu kesalahpahaman. Namun dengan kemajuan ilmu psikologi agama yg kita miliki sekarang, kita mulai memahami cara kerja bawah sadar dan kaitannya dengan agama. Kita mulai tahu bahwa sebuah perintah “jangan buka folder ini karena ada bokepnya” adalah sebuah larangan namun justru memicu orang untuk membuka. Dari Tauratlah kita mengenal dosa. Secara subliminal, Taurat malah mengenalkan dosa.

Hukum Taurat penuh dengan larangan. Sekian abad hukum ini meresap dan berkerak dalam kesadaran kolektif orang Yahudi. Begitu berkeraknya mereka sehingga para Rasul musti kerja keras untuk mengubah paradigma taurat ke paradigma kasih karunia.

Di kalangan Kristen telah beredar sugesti-sugesti yg akan mempengaruhi hubungan antar agama, misalnya slogan “gelap dan terang tidak dapat bersatu.” Secara subliminal para anggota gereja macam ini akan menganggap orang beragama bukan kristen sebagai “kafir yg tidak mengenal Allah”. Meski bekerja di bawah permukaan, tidak berarti sikap-sikap ini tidak terbaca oleh orang luar. Mereka bisa merasakan bahwa mereka adalah target dari sesuatu, dan kemudian mereka mengembangkan mekanisme pertahanan untuk membela diri.

Orang Kristen adalah ibarat surat yg terbuka dari Allah kepada orang lain di sekitarnya. Mereka bisa mengendus mana orang kristen yg tulus mengasihi mereka, dan mana yg secara bawah sadar membenci mereka. Sama seperti orang kristen juga bisa mengenali mana orang muslim, budha, atau hindu yg berhati mulia. Kasih Allah adalah untuk semua mahluk ciptaannya. Makanya iman menjadi tidak berguna jika tidak memiliki kasih. Karena orang kristen yg tidak memiliki kasih, justru mengganggu pekerjaan Allah. Bikin repot, sama kayak anak kecil yg main di dapur, ganggu emaknya lg repot masak.

@pinc

Sebuah ulasan yang menarik. Tetapi seperti ada sedikit nada yang menyalahkan peran agama dalam tindak kekerasan yang terjadi. Betulkah dugaan saya itu?

Saya melihat satu gejala yang umum terdapat pada para pemeluk agama (apapun), bahwa pada suatu titik tertentu dari pemahamannya terhadap agama, justru membuat nya semakin toleran dan semakin menghargai kemanusiaan. Kebalikannya, semakin fanatik seseorang terhadap agama yang dianutnya, semakin rendah pemahamannya terhadap agama yang dianutnya.

Betul bahwa seseorang harus meyakini bahwa ajaran agamanya adalah yang paling benar, karena kalau tidak yakin tentu dia harus mencari yang lain. Tetapi keyakinan itu tidak menjadikannya menutup mata terhadap kebearan yang juga diberikan oleh ajaran agama lain.

Syalom

Kedalaman keagamaan ternyata tidak linear. Ada yg semakin menekuni agamanya justru makin menghormati dan mengasihi orang beragama lain. Ada yg semakin menekuni agamanya justru semakin eksklusif dan menjauhi sampai memusuhi orang dari agama lain.

Ternyata ada percabangan hasil dari orang menekuni agama. Jika kedalaman itu semata pada kognitifnya (pikiran saja), maka ia akan menjadi makin banyak tahu berbagai kaidah agama dan problem-problem agama. Model seperti inilah yg saya jabarkan di atas. Manusia mendapat “pelajaran keagamaan” melulu secara kognitif dan tidak berimbang dengan aspek afektif (kepekaan, kasih sayang, kepedulian) dan aspek psikomotorik (aspek praktis, terjun langsung, keterlibatan lingkungan ia hidup).

Apa yang saya ungkapkan di atas adalah ekses, produk sampingan dari agama. Hubungannya bukan sebab-akibat. Bukan A menyebabkan B. Bukan agama menyebabkan kekerasan. Namun ada korelasi antara A dengan B. Agama berkontribusi terhadap kekerasan, bukan sebagai akibat langsung tetapi sebagai produk sampingan.

Penghayatan agama yg seimbang sudah tercermin dalam hukum yang terutama yang tak terpisahkan. Mustahil orang mengasihi Allah tapi membenci manusia.