faithbook versus facebook

perkembangan teknologi yang cepat dan canggih ternyata tidak selalu berdampak baik. masa-masa ini, bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda, bahkan anak-anak kecil tergila-gila dan hanyut oleh dunia facebook. bahkan di gereja ketika bernyanyi, mendengarkan kotbah hati dan pikirannya adalah ke facebook. penasaran apakah ada yang comment, like dan sebagainya. ;D
saya pikir ini adalah dilema di tengah-tengah gereja saat ini!
brothers’n sisters… bagaimana caranya mengantisipasi hal-hal kayak gene???
:cheesy: :rolleye0014:

Dari pada mencegah, melarang, bagaimana kalau gereja juga memanfaatkannya.

Jejaring sosial, pertemanan memang sulit dibendunh karena ini adalah kebutuhan dasar. Biarpun super sibuk, beberapa orang senang melihat kabar temannya atau menunggu perhatian teman-temannya.

Jika gereja membuat suatu acount di jejaring sosial, bukan untuk official gereja, tetapi account untuk tiap ibadah. Jadi mereka yang datang ibadah pertama masuk sebagai teman di account ibadah kebaktian pertama dan kebaktian, kebaktian yang lainnya. Isinya tidak hanya yang serius, tetapi juga yang ringan-ringan, bahkan di jam kebaktian juga ada posting. Misalkan tentang diingatkan jangan ngobrol sendiri, atau info penting dan tidak penting misalkan “diluar hujan deras” atau “jangan mikir mau kemana habis kebaktian, diluar macet total” atau “parkiran belakang masih kosong” buat yang biasa terlambat. Selanjutnya diskusi topik ibadah minggu itu atau pengingat agar tidak lupa besoknya akan isi nasihat pengkotbah.

Mungkin anda bisa memikirkan lebih baik pemanfaatannya dari pada melarangnya yang kurang efektif.

Tidak semua orang kerajingan jejaring sosial, ada beberapa yang membatasi diri, terutama pribadi super sibuk dan banyak tanggung jawab yang diemban atau task yang belum selesai. Kalau makin besar makin banyak aktivitasnya, biasanya akan berkurang dengan sendirinya login di jejaring sosial.

Manusia dgn kehendak bebasnya bisa memilih utk menyikapi semua kemajuan TI yg ada
Hanya mereka yg tdk bijak saja yg tdk dpt menggunakan kesempatan itu dgn baik
Di gereja atau dimanapun kita selalu punya pilihan utk melakukan apa
GBU

benar, tapi sebagai orang sudah percaya, dan yang sudah dipercayakan Kristus apakah kita membiarkan hal itu terjadi terus-menerus? saya pikir kalau ini tidak di antisipasi mungkin gereja kita di indonesia akan seperti di gereja-gereja Eropa kosong bahkan ditutup. orang akan menuju ke indiviualisme. bahkan orang akan berpikir dirumah saja tanpa pergi ke gereja buka situs dan membaca renungan lewat internet sah-sah saja. padahal tugas gereja salah satunya adalah bersekutu, bersama-sama untuk memuji Tuhan.

dan ini berhubungan dengan bagaimana sikap kita dihadapan Tuhan, bagaimana misalnya brother Paul dan Krispus main facebook ketika dihadapan bos saudara ketika berbicara kepada saudara otomatis dia akan marah. demikian juga di gereja.

Sdh dijelaskan bahwa itu pilihan,
dari pilihan itu bisa diketahui siapa org itu sebenarnya
apakah kristen atau kristen2an
GBU

Matikan gadget waktu masuk kegereja ,kalau ada yang telanjur bawa suruh masukan ketempat perpuluhan

GBU

tu saran yang bagus…