Fenomena Operasi Plastik

Sungguh takjub ketika ane membaca sebuah artikel di internet dimana dokter-dokter bedah plastik di korea selatan sukses “mempermak” wajah seorang cewek 20-an tahun yg tadinya “sangat jelek” (paling tidak menurut ane) menjadi cantik jelita bak personel Girls Generation (SNSD). Menurut artikel, tadinya si cewek ini selalu dibully oleh teman-teman kampus bahkan oleh anak-anak (terutama yg laki-laki) yg tinggal di sekitar rumahnya. Dia mendapat julukan beasty alias monster (plesetan dari beauty). Entah bagaimana kabar ini sampai di telinga dokter-dokter ahli bedah plastik di sana yg pada akhirnya bekerja sama untuk “menyulap” wajah monster cewek tersebut menjadi wajah idola masa kini.

Ane sendiri sangat alergi yg namanya operasi plastik karena umumnya yg dilakukan hanyalah “menambah-nambahi” kecantikan yg sudah ada (padahal aslinya sudah cantik). Tetapi untuk kasus-kasus spt di atas, mau tidak mau ane terpaksa harus mengubah pendapat ane terhadap operasi plastik ini. Karena mereka yg tadinya hidup dalam tekanan karena ketidaksempurnaan wajah (utamanya) sekarang berubah 180 derajat menjadi penuh percaya diri. Sekalipun mereka tau akan ada efek-efek yg “tidak baik” setelah dioperasi tetapi mereka tetap mengambil reksiko ini.

Bagaimana pendapat para FK’ers? Apakah pro, kontra atau malah dua-duanya? Sudilah kiranya memberikan komen dari sudut pandang yg berbeda sehingga memperkaya wawasan tentang fenomena operasi bedah plastik ini.

Define wajah jelek. Klo misal wajahnya rusak / ga normal cth tersiram bahan kimia / terbakar sehingga jadi rusak. Aku setuju buat operasi plastik. Namun apabila cuma karena ga cantik, aku ga setuju buay operasi plastik. Alasan:

  1. Operasi plastik lah yg membuat wajah jelek jadi bahan hinaan. People think beauty is very important
  2. Bukankah sebagai org kristen, kita diajarkan buat bersyukur dgn yg diberikan. So, aku rasa operasi plastik adalah hal yg ga bagus krn ga bersyukur.

Jadi buat masalah ini, aku bingung jawabnya:

  1. Setuju, soalnya dia dihina
  2. Ga setuju, soalnya.operasi plastik lah yg melahirkan konsep kencatikan (setidaknya mempertegas). Sebagai wanita, aku ga suka kenyataan bahwa sangat sering wanita di judge dari penampilannya. I think we can just be who we are.

Teknologi operasi plastik di butuhkan untuk memperbaiki kondisi wajah yg rusak/cacat.
.
Mengenai individu2 yg memanfaatkan teknologi ini untuk tampil lebih baik dr sebelumnya, seharusnya hal tsb adalah hak masing2 pribadi, dikarenakan tidak ada norma sosial ataupun norma agama yg di langgar.

Sangat setuju dengan dua komen FKers di atas.

Terkadang realita bisa mengubah cara pandang seseorang atau prinsip/tradisi yg sudah ada sebelumnya. Realita kalo saat ini ada orang yg bisa menciptakan kecantikan dari ketidakcantikan dan “kesempurnaan dari ketidaksempurnaan”. Realita bahwa mereka dengan wajah-wajah yg “sempurna” lebih memiliki peluang kerja dibandingkan dengan yg biasa-biasa saja. Kalo sudah begini, mau ga mau ane salut atas kemampuan dokter-dokter bedah plastik korsel yg memiliki tangan dewa untuk menciptakan kecantikan model ini.

Kita yg tinggal di indo mungkin masih cenderung anti dengan bedah-bedah semacam ini (sudah marak tapi yg ngelakuinnya terbatas) tapi kalo nanti, ketika AFTA berlaku secara global, ketika dokter-dokter bedah plastik korsel dengan bebasnya praktek di indo, jangan heran ketika ada seorang abg indo meminta kepada ortunya hadiah “oplas” di hut-nya yg ke-17 spt yg umum terjadi di korsel.

Yang jadi masalah itu, jika operasi plastik itu di tujukan tuk pergantian wujud dari laki2 ke perempuan atau sebaliknya.
.
Yang mana secara umum biasanya diikuti dengan operasi organ2 vital tuk mendukung perubahan status jenis kelamin secara total.
.
Bagaimanakah nilai2 kekristenan dalam memandang serta menyikapi fenomena yg seperti ini ??? Yg mana hal itu telah terjadi di masyarakat.

Kritis sekali komen @Dream52 di atas.

Awalnya ane berusaha untuk tidak mengeneralisasi operasi plastik karena ada yg benar-benar bertujuan “baik”. Tetapi dengan kemajuan teknologi dan tingkat keberhasilan yg semakin tinggi serta serta keinginan manusia yg tak habis-habisnya menyebakan terjadinya pergeseran tujuan dari operasi plastik ini.

Untuk kasus di atas, ane bener-bener tidak setuju kecuali untuk beberapa kasus unik seperti terlahir dengan kelamin ganda.