Forgive the Unforgivable

Pada tahun 1993, seorang ibu bernama Mary Johnson mendapatkan sebuah kabar yang memutar kehidupan nya seratus delapan puluh derajat. Anaknya yang tunggal, Laramiun Byrd, telah mati dibunuh oleh seorang anak berumur 16 tahun bernama Oshea Israel. Kesedihan dan Amarah menguasai hati Mary; ketika ia melihat wajah Oshea, yang ia rasakan hanyalah dendam dan kebencian. Inilah yang dirasakan oleh seorang ibu yang harus menerima fakta bahwa seseorang telah merengut anak nya yang tunggal untuk selamanya.

Oshea Israel akhirnya diberikan hukuman penjara untuk 15 tahun. Namun itu semua tidak meredakan kepahitan yang Mary rasakan. Sejak kejadian itu, Mary mengatakan bahwa ia secara tidak sadar mendorong orang-orang dari kehidupannya—ia melanjutkan kehidupannya dengan sebuah luka besar di hati nya. Mary adalah seorang Kristen, dan pada suatu hari ia menemukan sebuah puisi Kristen tentang percakapan dua orang ibu. Satu nya adalah ibu yang anak nya dibunuh, sedangkan yang satu nya lagi adalah ibu dari sang pembunuh. Mary tersentuh oleh puisi tersebut, dan ia sadar bahwa ia belum dapat memaafkan orang yang sudah membunuh anaknya. Namun ia tau, pengampunan bukanlah sesuatu yang dibutuhkan hanya oleh orang yang menyakiti, tetapi juga oleh orang yang disakiti. Mary tau bahwa sudah saatnya ia mengampuni Oshea.

Mary akhirnya menemui Oshea di penjara. Mary memulai perbincangan dengan menceritakan anaknya kepada Oshea; dan setelah mereka selesai bercakap-cakap, Mary menjadi emosional dan mulai menangis. Oshea pun memeluk Mary dan mencoba untuk menenangkannya. Setelah Mary keluar, ia mengatakan kepada dirinya sendiri, “aku baru saja memeluk orang yang membunuh anak-ku.” Sejak hari itu Mary tau bahwa ia telah berhasil memaafkan Oshea.

Dan yang menariknya adalah, setelah Oshea dibebaskan dari penjara, Mary mengadakan sebuah “welcome home party” untuk Oshea. Ia juga menawarkan Oshea untuk tinggal di sebelah rumahnya. Kini mereka menjadi tetangga, dan mereka seringkali makan bersama. Oshea mengatakan bahwa hubungan mereka sekarang sangatlah dekat, bahkan hubungan mereka seperti selayaknya seorang ibu dan anak. Oshea mengatakan bahwa Mary adalah alasan yang membuatnya untuk tetap berjalan di jalan yang benar; Mary telah menunjukkan pengampunan kepada nya, bahkan ketika ia sendiri belum dapat memaafkan diri nya sendiri.

Saya suka sekali dengan apa yang Mary katakan kepada Oshea:

“Anak kandung ku sudah tidak ada disini. Aku tidak pernah berkesempatan untuk melihatnya lulus kuliah. Dan sekarang kau masuk kuliah; aku memiliki kesempatan untuk melihatmu lulus.”

“Aku tidak pernah berkesempatan untuk melihatnya menikah. Semoga suatu hari nanti, aku bisa melihatmu menikah.”

“I love you, son.”

“To be a Christian means to forgive the inexcusable, because God has forgiven the inexcusable you” – C.S.Lewis

Add line atau instagram kami untuk mendapatkan notifikasi update renungan terbaru dari website kami.
Official Line: @pkx3578b (pakai @)
Instagram: @gracedepth
Instagram penulis: @revyhalim

Semoga renungan-renungan kami bisa menjadi berkat.God Bless! :smiley: