Gereja atau Rumahkah yang Dibakar, Tetap Saja Kekerasan

Dua gereja yang berada di Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Sengenge Riau dibakar oleh massa pada hari Senin malam (2/8). Puluhan orang yang menggunakan sepeda motor melempari batu ke gereja tersebut lalu menyiram bensin dan membakarnya. Ketika peristiwa itu terjadi, sejumlah jemaat masih berada di dalam gereja. Mereka tengah menuntaskan proses pengecetan gereja tersebut. Syukurlah, tidak ada korban jiwa di dalam insiden tersebut.

Ketua Gereja Karo Batak Protestan Klasis Riau Sumatera Barat Sahat Tarigan mengatakan ada sekitar 100 orang yang datang ke gereja GBKP sempat mengancam jemaat dengan menggunakan pisau sebelum menyiram bensin ke gereja. Massa yang membakar gereja GBPK kemungkinan besar sama dengan yang membakar gereja Pantekosta yang hanya berjarak 5 kilometer. “Kita gak tahu darimana mereka, yang pasti kita tidak ada masalah dengan warga sekitar yah tentu saja mereka yang membakar itu bukan dari warga sekitar. Tadi pagi kita sudah laporkan kasus ini ke polsek dan polisi sudah datang ke lokasi. Jadi sudah ada laporan ke polsek.” Sahat mengaku tidak tahu alasan massa membakar kedua gereja itu.

Namun, kepolisian Riau membantah telah terjadi pembakaran terhadap dua gereja itu. Juru bicara Kepolisian Riau S. Pandiangan mengatakan, yang dibakar massa adalah rumah yang digunakan untuk tempat beribadat. Menurut dia, warga keberatan rumah tersebut digunakan sebagai tempat beribadah. “Tidak ada gereja yang dibakar, yang dilaporkan kemarin itu rumah yang digunakan untuk beribadah dan bukan gereja, itu yang dibakar. Jadi rumah itu dijadikan tempat ibadah, sudah diingatkan oleh masyarakat tapi katanya tidak mau, jadi dibakar oleh masyarakat.” Polisi belum memeriksa para pelaku pembakaran rumah yang digunakan untuk beribadat itu, seperti yang dirilis oleh laman Tribunnews pada hari Rabu (3/8).

Laman vivanews merilis bahwa rumah tersebut merupakan milik AR Sitinjak. “Rumahnya hangus, karena terbuat dari papan jadi mudah terbakar,” kata Kapolsek Pangean, AKP Nazarudin. Saat ini jajaran polisi setempat tengah menyelidiki pelaku pembakaran rumah tersebut. Ia mengajak seluruh warga agar menjaga keamanan dan kesucian bulan Ramadhan. Peneliti Setara Institut Ismail Hasani menyatakan langkah ini perlu dilakukan lembaga terkait mengingat isu keagamaan kerap dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Kondisi ini dikuatirkan mengganggu stabilitas sosial, seperti yang dirilis oleh kabargereja

Jalur hukum yang sebenar-benarnya bukanlah melalui kekerasan. Jika memang benar ada umat yang menyalahi aturan yang sudah ditetapkan, sebaiknya semuanya dilakukan dalam jalur hukum. Dan hal itu bukan berarti, tindakan kekerasan dengan membakar rumah bisa dibenarkan.

Source : berbagai sumber/lh3