Gereja dan Pilgub DKI

Gereja dan Pilgub DKI

Saya orang media dan saya melihat media kita banyak yang tidak berpihak pada publik namun menjelma menjadi media partisan, dan lebih kaget lagi ketika kemarin saya sebagai warga DKI melintas di depan sebuah gereja baru yang megah dengan gaya arsitektur romawi di daerah jalan raya Nias, Kelapa Gading, dengan spanduk disertai foto Cagub DKI incumbent yang meresmikan gereja itu, begitu penasaran saya langsung browsing di internet dan sedihlah saya mendapati berita sang gembala sidang menyatakan dukungannya dan meminta jemaat yang berjumlah ratusan ribu untuk mendoakan cagub incumbent agar terpilih lagi, karena cagub tersebut telah banyak membantu pembangunan gereja.

Menurut saya, Gereja sebagai rumah Tuhan dan komunitas orang percaya janganlah dimasuki kepentingan politik, dan para pemimpin jemaat janganlah menggunakan “kharisma” yang Tuhan percayakan dan menyerahkan diri menjadi sandera untuk kepentingan politik dan ekonomi.

Saya juga membaca berita dari perspektif “saudara sepupu” kita. dalam news release di sebuah website dikatakan bahwa seusai sambutannya, jemaat menaikkan kidung untuk memuliakan sang cagub. Tuhanlah kepala Gereja, hanya Dialah yang layak menerima segala pujian dan kemuliaan. Silahkan bawa gereja ke dalam politik (dalam artian orang percaya harus memberi dampak dan mewarnai dunia politik demi kemuliaan Tuhan), namun jangan bawa politik ke dalam gereja.

Saya kecewa bukan karena saya tidak mendukung sang cagub incumbent dan mendukung calon lain (jika calon yang saya dukung ternyata melakukan hal yang sama saya juga kecewa), namun pada intinya saya mengkhawatirkan masa depan gereja. Seperti halnya masyarakat sudah hampir tidak percaya pada media yang partisan itu, hal tersebut akan berlaku untuk gereja jika gereja menyerahkan diri sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan dan menggeser posisi Tuhan.

Saat ini dibutuhkan kumpulan orang percaya yang mau menjelma menjadi gereja yang kokoh berdiri diatas batu karang iman kepada Tuhan Yesus Kristus, berintegritas, dan menegakkan kebenaran yang tidak dapat digeser oleh kepentingan manusia, sehingga alam maut tidak dapat menguasainya.

Tuhanlah yang mengangkat dan menjatuhkan pemerintahan, dan jika bukan Tuhan yang membangun, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.

Salam kenal bro,

Begini bro menurut pandangan kumis,

Kalau ada calon walkot, gubernur bahkan pres dalam kampanyenya turun ke jalan jemput bola adalah hal yg wajar. Apalgi persaingan makin ketat, mereka mungkin perlu melakukan pdkt juga pada gereja.

Atau, jika gereja mendukung salah seorang calon, biasanya pengurus gereja sudah tau bahwa calon tersebut - termasuk calon yg menerima dan mendukung keberadaan gereja yg dalam hidup sehari2 lebih toleran terhadap keberadaan gereja dan ibadahnya, - terlepas ada ormas yg suka ngamuk2 dijalan.

Itu adalah pengalaman saya sewkatu tau bocoran, mengapa gereja mendukung calon2 tertentu, - dari pengalaman lalu menjelang pilkada disuatu daerah, ada calon2 tertentu yg dalam kampanyenya menjual Keislaman mereka dan menegaskan secara gambalng akan menegakkan prinsip syariat islam bila terpilih… artinya mereka membidik pangsa pasar dari kaum fanatis. sebaliknya ada yg bersikap moderat dng janji akan mendukung keberagaman agama dan menghormati / melindungi kepentingan ibadah agama lain. - nah, kandidat ini yg biasanya didukung gereja - wajar dong, ya ga.

Soal artikel yg menyatakan gereja menaikkan pujian mengagung2 si Cagub… itu sih jgn gampang dipercaya… anda kan orang media, kan kita juga tau banyak berita yg dirilis secara tidak bertanggung jawab.
Apalagi yg mengangkat materi tersebut adalah orang2 yg tidak tau konteks ibadah atau memang senang melakukan black campaign, karena merasa mayoritas dan ga bakal digugat, … atau juga dari tim sukses kompetitor lain, … sya sendiri hakul yakin isi berita yg anda baca tersebut lebih bersifat negatif isinya.

Saya sendiri sebenarnya kurang setuju terhadap cara kampanye seperti itu, tapi itu mungkin suatu fakta untuk memancing anak2 Tuhan berani terjun ke dunia politik dan memainkan perannya berdasar prinsip2 ajaran Kristus.

Dimata saya, Yesus saat didunia menjalankan agenda politik global, yg diembankan padaNya oleh Bapa diSurga, dan Dia memikul tanggung jawab tersebut dengan benar. Dia berpolitik praktis dan menghadapi banyak perdebatan dan konspirasi politik .

Sebagai poltikus sejati kelas Surga, Dia benar2 berani turun ke akar rumput, mendobrak tatanan sosial, tidak cari muka, tidak melakukan black campaign, dekat dengan wong cilik, namun bisa mengajar dan mengampuni wong licik jadi bertobat. Dan dia Walk the talk, padahl kebanyakan politikus itu Talk the walk. Hebat kan!!

Gitu bro, wassalam…

monggo diresponse,

Saya ga setuju gereja dicampur2 dengan politik . Seharusnya gereja itu bersikap netral

Saya setuju dan banyak dicerahkan oleh pendapat bro kumis, memang gereja harus terlibat aktif mewarnai perpolitikan Indonesia. Namun yang saya kuatirkan disini adalah apakah benar-murni sang gembala sidang yang saya maksud itu mendukung sang calon karena track-recordnya yang menaruh perhatian kepada umat Kristen, atau dukungan itu hanya berdasarkan pesanan dan balas budi karena sang cagub memuluskan pembangunan gereja tersebut, apalagi kalau misalnya sampai ada pelican-pelicin dalam prosesnya. Kalau memang beliau menaruh perhatian kepada umat Kristen, dukungan terhadap pembangunan gereja tidak boleh hanya gereja tersebut saja, namun perlakuan yang sama kepada setiap pembangunan gereja di wilayahnya. Kalau memang pemikirannya adalah bahwa gereja mau menempatkan orang yang takut akan Tuhan di pemerintahan, kenapa tidak sekalian mendukung calon yang benar-benar “K” (maaf saya bukan promosi, namun ya seperti itulah logikanya), bukan malah kepada yang malah pindah dari “K”.

Menurut saya, pemerintah tidak boleh campur tangan kepada urusan agama, karena Negara ini berdasarkan hukum, dan setiap warga sama hak dan kewajibannya di depan hukum. Setiap pembangunan gereja dan semua tempat ibadah apapun harus mengikuti semua prosedur yang berlaku, dan bukan karena kedekatan dan kompromi politik, supaya tata kota kita teratur dan seimbang. Terlalu banyak tempat ibadah juga menurut saya akan mengganggu warganya.

Saya warga kelapa gading dan inilah kisah nyata lingkungan saya. Kelapa gading bisa dibilang warganya mayoritas Kristen dan terdapat lebih dari 60 gereja di wilayah tersebut. Bayangkan dalam 1 komplek ruko bisa ada 3 sampai 4 gereja ruko padahal jemaatnya tidak seberapa. Ada pula gereja besar yang dibangun di sebelah gereja kecil yang sudah bertahun-tahun ada disana, sampai akhirnya gereja kecil itu tutup karena “tidak tahan bersaing” dengan sang maha perkasa. Ketika hari minggu selesai ibadah, sudah dipastikan jalanan macet parah, dan ruko-ruko lain sampai memblokir tempat parkirnya agar tidak dimasuki mobil jemaat karena bisa mengganggu usahanya. Untung saja tidak ada gereja yang pembangunannya dengan cara minta-minta di pinggir jalan, namun yang minta-minta dari rumah ke rumah itu banyak. Ekses-ekses inilah yang terjadi kalau semua egois mau menang sendiri dan kompromi terhadap hukum. Hukum manusia yang kelihatan saja dilanggar, apalagi hukum Tuhan.

Kembali ke topik, gereja harus bisa menjadi teladan bagaimana berpolitik yang benar, mulai dari dalam gereja, sesama gereja dalam 1 sinode, gereja antar sinode, gereja antar aliran, gereja 1 lingkungan, dan gereja dengan lingkungan. Berkaitan dengan kampanye pilgub DKI, apapun alasannya saya tetap tidak setuju kalau altar gereja menjadi panggung kampanye, karena hanya Tuhan yang boleh berkampanye dan memanifestasikan kuasaNya disana.

Kalau hukum bisa dikompromikan karena koneksi, balas budi, dan pesanan, saya kuatir juga seandainya Kristen menjadi agama mayoritas akan melakukan diskriminasi yang sama kepada minoritasnya, karena memang kecenderungan mayoritas dimana-mana seperti itu. Maka jadilah umat yang punya kesantunan dalam politik, walau minoritas tapi berkualitas, supaya seandainya menjadi mayoritas tetap berintegritas.

Saudara, kita memang harus memperjuangkan kerajaan Allah di segala lini kehidupan, tapi janganlah hal itu ditujukan agar kita lepas dari penderitaan dan masuk zona nyaman akhirnya terlena dan melupakan esensi misi kekristenan yaitu pemberitaan Injil, karena kita memang dipanggil untuk menderita karena nama Tuhan.

Sipp…menarik kita ngobrolnya ya… ada mutu nya…
kita lanjut ya, satu2…

Soal kampanye, tujuan kampanye / promo adalah untuk mendapat dukungan suara sebanyak2nya. Semakin ketatnya persaingan, membuat kampanye juga jadi tambah agresif, dan akhirnya cendrung slogan yg dipakai dan taktik nya menjadi kasar, tidak main cantik lagi.

Namun, dalam proses pembelajaran politik sehat, hal2 itu umum terjadi… dulu jaman abraham lincoln kampanye… kata2 dan isi kampanye tiap capres juga kasar2 - maklum kan masih belajar, sekarang USA sudah dewasa, jadi saling serang, dan cara2 cari dukungannya lebih santun, walaupun tetap tajam saat debat.

Saat ini kita ada dimasa transisi untuk demokrasi yang lebih baik, dan dari ranah politik lah, lahir produk2 hukum, kebijakan2 dll. Dan untuk melahirkan produk hukum, kebijakan yg bisa mengakomodir kepentingan konstituen, si pembuat n penerima policy itu idealnya punya hubungan akrab, ya ga. Jadi saling nyambung.
Tapi juga tak lepas dibalik itu ada kepentingan masing2 pihka, take n give, yg diharapakan bisa bersifat simbiosis mutualisma. Salah satu sarana pendekatan itu - ya kampanye tadi, karena sang calon penguasa yg menjanjikan sesuatu atas apa yg diperlukan konstituen. - walau akhirnya konstituen sering dilupakan setleh kmapanye. Nah, kalo sarananya di gereja, itu membuat mau ga mau calon penguasa “harus mengakui” keberadaan gereja itu dan itu menjadi moment2 dia meraaskan atmosfer dan respon gereja terhadap dirinya, yg saya yakin dia akan merasa atmosfer surgawi selama ada ditmpat itu, kan ada Roh Tuhan diatas puji2an ya ga- itu soal kampanye. Ga apa kalo ga stuju.

Mengenai kompetisi antar gereja, saya juga sedih liatnya. MAsing2 pengurus seperti rebutan jemaat, bertengkar satu sama lain, gereja kecil2 yg merintis dari dulu, tiba2 disainigni oleh gereja besar yg buka cabang didekatnya. Saya sendiri sudah melihat hal itu terjadi, sampe gereja kecil itu musti pindah, biar ga “habis”. Ini kondisi intern antar gereja, masalh terpisah dari soal kampanye. Sy speechless.

Saya juga heran kenapa kelapagading jadi daerha favorit buat pendirian gereja, mulai dari gedung sendiri, mall sampe ke ruko.Bahkan dalam 1 mall, ada banyak gereja… masing2 pasang spanduk kaya dimall sebrang moi itu ya. Kayanya sih ada unsur kedagingan, jadi pada rebutan potential market ya.

nanti dilanjuta ya, meeting dulu maish 1 point lagi.
hehe

ok bro… kita lanjut ya…

Gereja emang seharusnya menggarami dunia, dengan kata lain, bukan politik-ing yg memasuki gereja, tapi gereja yg memasuki dunia politik.

Saat ini kader anak tuhan sudah lebih berani bermunculan,… dan kita harap mereka benar2 bawa terang… ga lupa sama tugas inti mereka, bawa terang itu sendiri, biar org dunia bisa liat, seperti itu lho anak tuhan yang sesungguhnya… bukan dari label agama kreisten aja… walaupun gampang diomongin, susah dipraktekin… but let hope for the best…

Sy sendiri bukan politisi, tapi sama anak2 saya sy mengajarkan biar mereka berani bela kebenaran… kata2 seperti itu saya ucapkan lsg pada mereka baik bila saya mendoakan mereka saat tidur ataupun emang saat saya doa depan mereka. Saat ini mereka ga ngerti apa maksudnya, tapi saya percaya perkataan kita penuh kuasa dan itu akan jadi suatu hari nanti, anak2ku akan berani melawan birokrat pemeras.

Selanjutnya kumis setuju sama anda bro!

Pls share kalo mo diskusi, ini diskusi sehat bukan saling hujat! dewasa berpikir dewasa bertindak.
“Bukan karena isi khusus dewasa, member di bann, tapi krn penyampaiannya tidak dewasa”.

Salam kumis

politik memang masuk gereja sudah lama. Gereja murninya adalah tempat untuk berkumpulnya anak2 Tuhan dalam hal saling menguatkan saling mengasihi saling membantu.

Namun perkembangan menggeser tujuan ini ke masalah2 lain. Rebutan jemaat itu sendiri membuktikan bahwa motifasinya sudah tergeser. Kalau Tujuan memberitakan injil supaya orang yang belum selamat dapat selamat, maka kita mencari jiwa2 yang belum kenal Tuhan. Yang sudah kenal Tuhan kok masih dicari2 apa itu berarti mencari uangnya?

Lalu penguasa yang mendukung pendirian gereja mungkin juga karena murni tidak anti kristen, atau mungkin mau dapat sduara atau mungkin karena pelicin.

Kalau mau baik ya tidak ada salahnya didukung, tapi jaman sekarang sulit mempercayai politikus.

Betul, sekarang ini politikus, kebanyakan sudah jadi poli-tikus.
jadi ya gitu deh…

padahal ranah politik ini adalah ranah yg banyak dilayani oleh Kristus asalnya, demikian juga dengan murid2nya… mereka mewarnai ranah ini dengan ketulusan dan keberanian, main cantik !

Tapi sekarang malah jadi ranah yg paling disukai "bandit2 penguasa… "

sedih ya

Rm 13:1 Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.

Rm 13:2 Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.

Rm 13:3 Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.

Rm 13:4 Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

Yer 29:7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

simpel, COBLOS Pasangan no3 Jokowi Basuki

wah, ada tuduhan ke nomor 3,

gimana mnrt anda sekalian ??

Bagi yang menginginkan perubahan inilah alternatifnya,saya bukan pendukung mereka,tetapi dari semuanya yang "Agak Mendingan Sedikit"adalah pasangan ini tidak ada pilihan lagi…

pasti banyak yang suka :afro:

Namanya barang baru pasti keliatan lebih menarik daripada barang lama, ya ga.

Nanti kalo udah men-jabat pasti bakal dihujat juga… toh selama ini udah terbukti begitu, dulu SBY disanjung2 sekarang… wuaaaahhhh sampe dibawain kerbau sibuya…

resiko kalo mo jadi pejabat publik ya gitu, selalu diliat kelemahan dan kekurangannhya…

Yg jelas, ga mungkin bisa beresin jakarta dalam waktu 5 thn. Karena udah kebanyakan Invisible hand yg ikut campur - politisi, oportunis dan businessman … masing2 punya kepentingan masing2, lobi ke policy maker, dan policy maker n tim nya sudah punya karakter sendiri, Makanya jadi semerawut.

klo menurut ane sih, kaga usah lah organisasi Gereja sampe ikut2an berpolitik… apa lg klo sampe ikut2an kampaye utk parpol atau pemilu/pilkada… nti kalo ada masalah sm parpol atau calon tsb, malah ikut kena getahnye… :mad0261:

tapi, diantara calon2 yg ada di Pilgub DKI saat ini sih, pasangan Jokowi-Ahok sepertinya lebih baik dr pd yg laen… tp ini menurut ane pribadi ya bang, kalo ada yg salah tolong dimaapin… jd ikutan kampanye ane… hihihihi :char11: