Gereja GBKP Buah Batu Diancam Dibakar

Kita berdoa agar jemaat GKBP Buah Batu teguh di dalam imannya meskipun intimidasi datang terhadap mereka.

Gereja menerima ancaman, ijinnya dicabut, dirusak massa adalah hal yang sangat umum terjadi di Indonesia. Kini Gereja di Indonesia kembali mendapatkan ancaman dari segelitir kelompok masyarakat.

Meski tidak secara langsung diungkapkan kepada pihak Gereja Batak Karo Protestan di Jalan Kawaluyaan, Buah Batu, Bandung, salah seorang dari para demonstran yang melakukan aksi di depan kantor Pemerintah Kota Bandung pada Selasa (7/8) lalu menyatakan akan membakar gereja itu jika Pemerintah Kota Bandung tidak mencabut Izin Mendirikan Bangunan (IMB) GBKP Jalan Kawaluyaan, Buah Batu.

“Kami datang kemari karena tidak ingin terjadi konflik. Tapi kalau pemkot tidak mendengar tuntutan kami, kami akan bakar gereja itu,” demikian bunyi lengkap seruan salah seorang pemrotes yang tidak diketahui namanya itu.

Mengutip dari Indonesianchristian.org, para demonstran yang melakukan aksi itu adalah para anggota dari Gerakan Reformis Islam (Garis), Front Pembela Islam (FPI), dan Laskar Pembela Islam (LPI).

Dalam penilaian mereka, pengelola gereja telah melanggar perjanjian yakni tidak mengalihfungsikan gelanggang olah raga menjadi gereja.

Menanggapi hal ini, Kepala Badan Kesatuan Bangsa Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat (BKPPM) Kota Bandung, M Askary Wiratmaja yang bertemu dengan para demonstran menyatakan akan meninjau ulang izin mendirikan bangunan gereja GBKP di Jalan Kawaluyaan Bandung tersebut.

“Meskipun izin IMB sudah keluar, saya akan melaporkan kepada wali kota, muspida, dan dinas tata ruang dan cipta karya untuk meninjau ulang.” ujar M. Askary Wiratmaja.

Sementara itu, terkait dengan ancaman pembakaran gereja yang mereka dengar, Jemaat GBKP yang mengurus perizinan, David Ginting mengatakan pembangunan gereja tidak melanggar kesepakatan dengan warga. “Dalam surat perjanjian tertulis kami tidak akan melanjutkan pembangunan sampai IMBnya keluar. Tanggal 20 Juni tahun kemarin izin mendirikan bangunan keluar jadi kami lanjutkan membangun,” ungkap David.

Pada kesempatan sama, David menyarankan warga yang keberatan dengan pembangunan gereja mengajukan saja gugatan mereka ke pengadilan.

Indonesia adalah negara hukum sebagai warga kita harus menaati peraturan hukum yang berlaku. Penekanan kepada pihak tertentu dengan ancaman tidaklah bijak untuk dilakukan, selain tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah, ini justru akan menimbulkan persoalan baru yang sebenarnya tidak ada pada awalnya.

Khusus kepada pemerintah baik pusat maupun daerah kiranya bersikap tegas terhadap orang-orang yang menggunakan cara ancaman maupun kekerasan untuk mencapai tujuannya. Tunjukkanlah kewibawaan Anda sebagai pemilik otoritas dengan menjunjung tinggi, menaati, dan menghormati kebijakan-kebijakan maupun keputusan-keputusan yang sudah dikeluarkan. Ingatlah, Anda ini adalah pemerintah dari seluruh masyarakat, bukan sebagian masyarakat. Jadi berlakulah adil kepada semuanya.

Sumber: http://www.cakka.web.id/blog/gbkp-buah-batu-diancam-dibakar/

Ups…!
Jema’at yg disana yg kuat yaaaaa…
BTW Bro. Cakka dr GBKP y?

mmmm… itu paling setorannya kurang… atau ga dikasih… biasa lah… mereka minta sumbangan ini itu… kalo ga dikasih ngamuk2… bawa2 agama…

mental minta2 ini sering dilakukan, oleh “tukang minta2” nanti kalo ga dapet, bawa2 agama deh…

Tuhan mengijinkan semua ini terjadi dengan maksud kebaikan bagi kita semua, supaya kita lebih berharap pada Tuhan, lebih berdoa. Tidak tergantung gedung gereja, tapi tergantung pada Tuhan. Berbakti bisa melalui kelompok2 kecil tidak usah formal tidak apa2 asal hatinya tulus pada Kristus.

Saya sering melihat gereja yang punya gedung megah tapi isinya saling membenci, kelompok2an rebutan jabatan. Mungkin sudah waktunya Tuhan melakukan reformasi kearah peningkatan rohani bukan masalah gedung jasmani.

ya harus di maklumi, semakin berkembang ideologi jahiliah saat-saat ini di negara kita, dan itu FAKTA. kita sebagai kristen, harus berusaha menghadapinya dengan KEBIJAKSANAAN. dan tentunya, BERDOA.