Gereja-gereja di Inggris Tak Ajarkan Alkitab Kepada Kaum Mudanya

Keadaan pelayanan kaum muda di Inggris saat ini semakin hari memperlihatkan grafik menurun. Setidaknya itulah pengamatan salah seorang hamba Tuhan senior yang telah lama bergerak dalam dunia pelayanan kaum muda.

Juru bicara Konvensi Keswick, Dave Fenton beberapa hari lalu menguraikan kepada sejumlah media Kristiani beberapa tantangan yang dihadapi pelayanan kaum muda saat ini dan paradigma gereja maupun orang tua yang menurutnya telah keliru.

Dia mengatakan bahwa pelayanan kaum muda di Inggris dapat digambarkan sebagai “pelayanan tambal sulam”. Mengapa begitu? Karena dalam pengamatannya, gereja yang memiliki pelayanan muda memilih para pelayannya berdasarkan usia mereka.

“Mengapa kita begitu cepat meluluskan orang keluar dari pelayanan anak muda? Mengapa kita mengatakan kepada para pemimpin pemuda bahwa mereka harus menjadi orang yang cool atau berpakaian seperti yang kita mau? Dan mengapa kita begitu enggan untuk mengajarkan mereka Alkitab?,” lanjutnya.

Fenton mengatakan bahwa adalah hal yang baik mempunyai para pemimpin muda yang antusiasme dan energinya begitu tinggi, tetapi gereja-gereja perlu juga mengambil lebih banyak pemimpin kaum muda yang dewasa.

Menurutnya, kepemimpinan yang dipegang oleh orang muda dan orang dewasa muda akan mendorong pemuridan yang lebih baik.

"Pemimpin kaum muda itu mudah ditemukan tapi kita membutuhkan orang yang dapat menjadi model pemuridan yang benar pada setiap usia - untuk membantu kaum muda tumbuh dalam iman.”

"Anda tidak harus menjadi figur tertentu - Anda hanya perlu mencintai anak-anak, dan bersedia menghabiskan waktu bersama mereka, mendengarkan mereka dan terlibat dengan pertanyaan-pertanyaan mereka.”

“Jadi seringkali di gereja-gereja kita ingin segera memperbaiki kesalahan mereka – tapi sebenarnya kita harus siap meluangkan waktu untuk membangun hubungan baik mereka.”

”Orangtua juga perlu untuk memikirkan kembali sikap mereka kepada gereja dan apa yang mereka inginkan pada saat anak-anak mereka berada disana,” tambahnya.

Fenton mengatakan bahwa orang tua tampaknya lebih peduli anak-anak mereka hanya pergi ke gereja dan menyampingkan pertumbuhan iman mereka dalam pemuridan.

Ada “tekanan” di gereja, lanjutnya, sehingga mereka melayani dengan cara “menghibur” anak-anak dan hanya memberi mereka waktu yang menyenangkan.

“Tapi bagaimana dengan isi? Apakah kita mengajarkan mereka Alkitab?” Kata dia.

"Itu adalah kelemahan besar pelayanan kaum muda di Inggris. Saya tidak berpikir Alkitab mengajarkan hal itu.”

“Kita perlu mempersiapkan orang muda untuk pemuridan.”

Sejarah kekristenan dunia menunjukkan bahwa orang-orang muda selalu menjadi tokoh sentral kebangunan rohani. Oleh karenanya, marilah kita berdoa agar kaum muda Kristiani di Inggris mengalami lawatan Allah dan dari negara tersebut banyak jiwa yang dimenangkan untuk Tuhan Yesus Kristus.

Source : Christian Today