[God is Love - 2] Lukas 7:36-47 : wanita yg membasuh kaki Yesus

diambil dari kotbah Yesus pada inijil Lukas 7:40-47

[i] Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

   Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." ...

Aku (Yesus) berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."[/i]

(Lukas 7:36-39, 47)

Bisakah dua orang menjadi begitu berbeda ?

Si Pria melihat ke atas.
Si wanita melihat ke bawah.

Si pria adalah seorang pemimpin agama.
Si wanita seorang wanita jalanan.

Si pria memperoleh penghidupan dengan berkotbah tentang standar kehidupan.
Si wanita memperoleh penghidupan dengan merusakkannya

Si pria mengadakan pesta.
Si wanita menghancurkannya.

Mintalah penduduk kapernaum untuk menunjukkan siapa orang
yg lebih saleh diantara kedua orang itu. Mereka pasti akan menunjuk
Simon. Apalagi simon seorang ahli agama, rohaniwan.
Setiap orang pasti akan memilih simon.

Setiap orang, kecuali YESUS.
YESUS mengenal kedua orang itu. YESUS akan memilih si wanita.
YESUS memang memilih si wanita. Terlebih lagi, Dia mengatakan
kepada Simon alasan-Nya.

Alasan itu bukan hal yang ingin diketahui oleh Simon. Pikirannya ada
di tempat lain. Bagaimana bisa pelacur ini masuk ke rumahku ? Ia tidak
tahu kepada siapa pertama kali ia harus memaki, kepada wanita itu
atau pelayan yg membiarkannya masuk. Lagipula, jamuan makan
itu merupakan acara formal. Hanya diperuntukkan bagi undangan.
Orang-orang istimewa. Siapa yg membiarkan manusia rendahan ini masuk?

Simon benar-benar marah. Coba lihat wanita itu – bersujud di kaki
YESUS. Bahkan menciumi kaki-Nya ! apabila YESUS memang benar-benar
seperti yg dikatakan-Nya , Mengapa Dia membiarkan wanita itu.

Salah satu pelajaran yg didapatkan Simon pada hari itu adalah ini:
jangan memikirkan hal yg tidak ingin didengarkan YESUS karena
jika YESUS mendengarnya, dan begitu Dia mendengarnya,
Dia memilih untuk membagikan isi pikiran-Nya

Lalu YESUS berkata kepadanya:
“Simon , ada yg hendak Kukatakan padamu”

Sahut Simon : “Katakanlah, Guru”

“Ada dua orang yg berutang kepada seorang pelepas uang.
Yang seorang berutang 500 juta, yang lain 50 juta. Karena
mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan
utang kedua orang itu. Siapakah diantara mereka yg akan
terlebih mengasihi dia ?”

Jawab Simon : “Aku kira ia yg paling banyak dihapuskan utangnya”

Kata YESUS padanya : “Betul pendapatmu itu.”

Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Dia berkata kepada
Simon : “Engkau lihat perempuan ini ? Aku measuk ke rumahmu,
namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh
kaki-Ku, tetapi ia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan
menyekanya dengan rambutnya. sejak Aku masuk ia tiada
henti-hentinya mencuum kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki
kepala-Ku dengan minyak, tetapi ia meminyaki kaki-Ku
dengan minyak wangi.
Sebab itu Aku berkata kepadamu :
Dosanya yg banyak telah diampuni, sebab ia telah
banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni,
sedikit juga ia berbuat kasih” (Lukas 7:40-47)

Simon mengundang YESUS ke rumahnya. Namun ia memperlakukan-Nya
seperti memperlakukan paman tiri yg tidak diinginkan. Tidak
ada sikap sopan santun yg sudah menjadi kebiasaan. Tidak ada
ciuman sambutan. Tidak ada pembasuhan kaki. Tidak ada acara
meminyaki kepala. Atau dalam bahasa modern,
tidak ada seorang pun yang membukakan pintu baginya,
menggantung jasnya, atau menjabat tangannya.
Simon tidak melakukan apa-apa yg dapat membuat YESUS
merasa disambut.

Namun,

wanita ini melakukan semua yg tidak dilakukan Simon.
Kita tidak diberitahu tentang siapa nama wanita ini.
Hanya reputasinya : seoang berdosa. Kemungkinan
seorang pelacur. Ia tidak diundang ke pesta itu dan namanya
buruk dalam masyarakat. (Bayangkan, seorang perempuan
panggila yg tubuhnya dibalut pakaian minim muncul di rumah
seorang pendeta yg sedang mengadakan pesta Natal.
Semua kepala tertuju ke arahnya dan wajah yg melihat pun
menjad merah padam. Ya ampun ! )

Akan tetapi,

opini orang lain tidak membuat wanita itu lantas berhenti.
ia datang bukan untuk mereka.
ia datang untuk menemui Dia.
setiap geraknya sudah diatur dan berarti,
Setiap tindakan tidak dipandang percuma.
ia meletakkan wajahnya di hadapan kaki-Nya yg masih kotor oleh debu jalanan.
ia tidak memiliki air, tetapi ia punya air mata.
ia tidak memiliki handuk, tetapi ia punya rambut.
ia menggunakan keduanya untuk membasuh kaki YESUS.
Dalam terjemahan Alkitab MSG,dikatakan
“she rained tears” - air matanya membanjir.
Ia membuka tutup botol minyak wangi, mungkin satu-satunya
harta miliknya yg berharga, dan meminyaki kaki YESUS.
Aromanya benar-benar sebuah ironi.

Mungkin anda menganggap dari semua orang yg hadir,
seharusnya Simon menunjukkan kasih seperti itu juga. Bukankah
ia seorang pemimpin agama , orang yg belajar isi kitab suci ?
Namun ternyata ia seorang yg menjaga jarak.

Mungkin anda mengira wanita itu akan menghidari YESUS.
Bukankah ia seorang kupu-kupu malam, perusak kota ?
Namun ia tidak dapat menghindar dari-NYA.
ia tidak dapat menghindar dari-KASIH-NYA.

“Kasih Simon” penuh perhitungan.
“Kasih wanita” itu begitu besar dan berisiko.

Bagaimana kita dapat menjelaskan perbedaan diantara keduanya ?
Latihan ? Pendidikan ? Uang ? TIDAK !
Simon jauh melebihi wanita itu dalam ketiga hal tersebut.

Ada satu hal yg membuat wanita itu melebihi Simon. Coba
pikirkan. Apa yg membuat wanita itu melakukannya, tetapi
tidak dengan Simon ? Apakah kekayaan ?
Sederhana saja. Kasih Allah. Kita tidak tahu kapan
wanita itu memperolehnya. Kita pun tidak diberitahu bagaimana
ia mendengarnya.

Apakah ia mendengarkan pernyataan YESUS bahwa
“Bapamu adalah murah hati” (Lukas 6:36) ?

Apakah ia berada di dekat YESUS ketika
Dia berbelas kasihan kpd janda dari Naim ?

Apakah ada orang yg memberi tahu wanita itu
tentang bagaimana YESUS menyembuhkan penderita kusta
dan mengubah pemungut cukai menjadi murid ?

Kita tidak tahu. Yang kita tahu : ia kehausan. Haus
akibat dosa, Haus akibat penyesalan.
Haus akibat malam-malam bercinta yg tidak dapat dihitung,
namun ia tidak menemukan apa-apa.
ia kehausan.

Dan ketika YESUS memberikan cawan anugerah , wanita itu
meminumnya. ia tidak sekedar menghirup atau mencicipinya.
ia tidak mencelupkan jari dan menjilatnya atau
mengambil cawan itu lalu menyeruputnya.
ia mengangkatnya dan meminumnya, meneguk dan menelannya
seperti musafir yg kehausan. ia minum hingga belas kasihan
membasahi dagunya dan masuk kedalam leher. ia meminumnya
hingga setiap jengkal jiwanya dilembutkan. ia kahausan dan minum.
ia benar-benar meminumnya.

Jadi
sementara wanita itu minum, Simon mengisap jari.
Sementara wanita itu memiliki begitu banyak kasih untuk diberikan,
Simon tidak memiliki kasih utk ditawarkan. Mengapa ?
Prinsip 7:47 Bacalah lagi ayat 47 dari pasal 7:
“… orang yg sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih”
seperti juga pesawat jumbo jet 747, prinsip 7:47 memiliki
sayap yg lebar.kebenaran tsb dapat membawa anda ke tingkat yg lain.
Bacalah ayat ini sekal lagi
“… orang yg sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih”
Dengan kata lain, kita tidak akan dapat memberikan apa yg tidak kita terima.
Apabila kita tidak pernah dikasihi, bagaimana kita dapat mengasihi orang lain ?

Ya ampun, bagaimana kita bisa mencobanya !
Seolah-olah kita dapat menyulap kasih dengan keinginan yg besar.
Seakan-akan di dalam diri kita terdapat penyulingan rasa kasih
yg cuma kekurangan sepotong kayu atau api yg lebih panas.
Apakah kebiasaan kita dalam menangani suatu hubungan yg bermasalah ?
Berusaha lebih keras.

“Pasanganku memerlukan pengampunan dariku ? Saya tidak tahu
bagaimana caranya, namun saya akan memberikannya”

“Saya tidak peduli seberapa besar rasa sakitnya, namun saya
harus berbuat baik kepada pengemis itu”

“saya diminta utk mengasihi sesama saya oleh pak pendeta? Baiklah
Demi Tuhan saya akan melakukannya”

Dengan demikian kita mencoba. Gigi bergemeretak. Tinju dikepalkan.
Kita akan mengasihi sekalipun hal itu dapat membunuh kita !
Dan mungkin memang seperti itu.

Mungkinkah kita kehilangan satu langkah ?

Mungkinkah bahwa langkah pertama dari mengasihi adalah bukan mengasihi mereka,
melainkan
mengasihi-Nya ?

Mungkinkah rahasia untuk mengasihi adalah sikap menerima ?

Anda baru dapat mengasihi setelah pertama-tama Anda menerima hal itu.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4 :19)

Masih jauh dari sikap mengasihi ?
Mulailah dgn menerima diri Anda sebagai
seorang anak yg sangat dikasihi, sangat dicintai.
“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yg
kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana KRISTUS YESUS
juga telah mengasihi kamu” (Efesus 5:1-2)

Ingin belajar mengasihi ? Lihatlah bagaimana Anda telah diampuni.
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang pada yg lain, penuh kasih mesra
dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam KRISTUS
telah mengampuni kamu” (Efesus 4:32)

Butuh lebih banyak kesabaran ? Teguklah kesabaran Allah (2 Pet 3:9)
Sulit menyelesaikan masalah dgn kerabat yg tidak tahu berterimakasih ?
Allah dapat melakukannya kepada anda ketika
anda bertingkah tidak tahu terima kasih seperti mereka “…sebab
Dia baik terhadap orang-orang yg tidak tahu berterima kasih dan
terhadap orang-orang jahat” (Luk 6:35)

Dapatkah kita mengasihi dengan cara seperti Allah itu ?
Tanpa bantuan Allah, kita tidak akan bisa. Oh kita bisa saja
berhasil melakukan selama beberapa wakt/beberapa periode.
kita ,seperti Simon, mungkin membukakan pintu. namun
hubungan kita membutuhkan lebih dari sekedar basa-basi sosial dan agamawi.

kita membutuhkan bantuan dari suatu sumber diluar diri kita.
Suatu tranfusi. Apakah kita mau mengasihi seperti cara Allah mengasihi ?
Karena itu mulailah dengan cara bersedia menerima Kasih Allah.

Kita sering melakukan kesalahan karena mengabaikan langkah pertama
“Kasihilah sesamamu” demikian kita memberi tahu jemaat lain.
“Bersikap sabar, baik, mau mengampuni” demikian anjuran kita.
Namun
mengajarkan orang utk mengasihi
tanpa memberitahu bahwa mereka dikasihi
adalah sama dengan
meminta mereka utk mengisi selembar cek
tanpa kita mengisi deposito mereka.

jadi tidak heran jika ada begitu banyak hubungan yg mengalami kemunduran.
banyak hati yg tidak memiliki kasih yg memadai.
Rasul Yohanes menuliskan model rangkaian yg benar.
Ia membuat deposito sebelum meminta kita utk menulis cek
Pertama-tama deposito itu adalah :

Dalam hal inilah [b]kasih Allah[/b] dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yg tunggal kedalam dunia , supaya kita hidup oleh-Nya.

Inilah kasih itu :

Bukan kita yg telah mengasihi Allah

tetapi

Allah yg telah mengasihi kita

dan yg telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian
bagi dosa-dosa kita

(1 Yohanes 4:9-10)

Setelah membuat deposito yg sangat melampaui batas dan
membuka mata, Rasul Yohanes meminta anda dan saya untuk
mengambil buku cek :
“Saudara-saudaraku yg kekasih, jikalau Allah sedemikian
mangasihi kita, maka haruslah juga kita saling mengasihi” (ayat 11)

Rahasia dari sikap mengasihi adalah hidup yg dikasihi
Inilah langkah pertama yg terlupakan dalam hubungan.
Ingatkah anda pada doa Paulus ? “… KRISTUS diam didalam hatimu
dan kamu berakar serta berdasa dalam Kasih” (Ef 3:17)
Seperti pohon mengambil nutrisi dari tanah,
demikianlah kita mengambil nutrisi dari Allah.

Banyak orang memberitahukan agar kita mengasihi.
namun Hanya Allah yg sanggup memberikan kita kemampuan untuk melakukannya.

Hiduplah di dalam kasih.
dan pertama-tama , Terimalah dulu Kasih Allah. minumlah sepuas-puasnya :slight_smile:

@ repento renungan yang bagus bro…

Tapi saya kurang setuju dengan Cawan Anugrah…
(bukan menyalahkan)

Dan ketika YESUS memberikan [b]cawan anugerah[/b] , wanita itu meminumnya. ia tidak sekedar menghirup atau mencicipinya. ia tidak mencelupkan jari dan menjilatnya atau mengambil cawan itu lalu menyeruputnya. ia mengangkatnya dan meminumnya, meneguk dan menelannya seperti musafir yg kehausan. ia minum hingga belas kasihan membasahi dagunya dan masuk kedalam leher. ia meminumnya hingga setiap jengkal jiwanya dilembutkan. ia kahausan dan minum. ia benar-benar meminumnya.

Dalam arti… Yesus memberikan “Anugrah pengampunan dosa” bagi si wanita penghibur, tetapi juga setelah wanita penghibur itu sadar.

Hal tersebut bisa direnungkan dari membasuh kaki dengan “air mata”
Bahwa si wanita, telah sadar bahwa dirinya “kotor oleh dosa” dan ingin diampuni.

Sekarang… dapatkah seseorang mengeluarkan “air mata” tanpa penyesalan terhadap dosa?

Jadi meskipun itu anugerah tetapi harus ada kesadaran hati dahulu…

salam ^^

Renungan yang bagus bro Repento.

Untuk bro liberty, apakah Anda pernah menemui orang percaya yang mempunyai keterikatan “dosa” tertentu? Misalnya: merokok, berjudi, atau berjinah, ataupun lainnya?

Coba tanyakan kepada mereka, apakah mereka tidak ada kesadaran bahwa yang dilakukan adalah “dosa”, apakah mereka tidak menginginkan suatu “pertobatan” dari dosa mereka? (note: kasus ini bukan untuk kasus orang percaya yang menikmati kehidupan dosa dengan sengaja)

Ternyata, mereka sadar dan mereka ingin lepas keterikatan dosa mereka. Namun apakah mereka mampu melakukannya?

Selama yang saya tahu, jikalau mereka menyandarkan diri pada kesadaran pribadi dan usaha pribadi mereka untuk lepas dari keterikatan, hal tersebut akan “gagal total”.

Seperti yang dikatakan Firman: roh memang penurut, tetapi daging lemah.

Mungkin ada sinergi antara anugrah dan usaha/perbuatan, mungkin ada relasi antara Allah mengasihi kita dan kita mengasihi Allah…^-^

Namun:

  1. Seberapa besar usaha/perbuatan kita ?

Apakah usaha / perbuatan kita lebih besar daripada usaha / perbuatan Allah untuk membuat kita berbalik/bertobat?

Saya kira tidak akan ada yang mengatakan “lebih besar” usaha / perbuatan dirinya dibandingkan apa yang telah dilakukan Tuhan…^-^

Lalu seberapa besar? Bisakah kita menentukan seberapa besar jika kita tahu bahwa usaha / perbuatan kita tidaklah layak dikatakan “besar” dibandingkan apa yang dilakukan oleh Tuhan kepada kita.

Jika demikian kita akan mengerti:

Jika saya bertobat bukanlah kesadaran hati saya lebih dulu.

Jika saya bertobat bukanlah karena saya memutuskan demikian.

Jika saya bertobat bukanlah karena kemampuan saya untuk berusaha / berbuat.

  1. Seberapa besar kasih kita ?

Apakah kasih kita lebih besar daripada kasih Allah kepada kita yang telah memilih dan memanggil kita?

Saya kira tidak akan ada yang mengatakan “lebih besar” kasihnya dibandingkan dengan kasih Tuhan pada dirinya…^-^

Lalu seberapa besar? Bisakah kita menentukan seberapa besar jika kita tahu bahwa kasih kita tidaklah layak dikatakan “besar” dibandingkan kasih Tuhan kepada kita.

Jika demikian kita akan mengerti:

Jika saya bertobat bukanlah kesadaran hati saya lebih dulu, melainkan karena Allah menyadarkan saya lebih dulu (menangkap saya).

Filipi 3
3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

Jika saya bertobat bukanlah karena saya memutuskan demikian, karena Allah menggerakkan hati saya untuk memutuskan “bertobat”

Jika saya bertobat bukanlah karena kemampuan saya untuk berusaha / berbuat, karena Allah yang memberikan kemampuan untuk melakukan pertobatan.

Roma 9
9:15 Sebab Ia berfirman kepada Musa: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.”

Roma 9
9:16 Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.

Roma 9
9:18 Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.

Tanpa Allah mengasihi dahulu, tidak mungkin kesadaran akan timbul sebab orang tersebut akan “tegar hati”.

Salam