Haiti hancur namun berkobar dalam roh

Seorang pendeta dengan kaus polo yang ujung yang berumbai berteriak dengan parau, mata memerah dan tangan terangkat ke langit. Dia adalah Pdt. Joseph Lejeune, gerejanya rata dengan tanah namun roh-nya menyala-nyala. :afro:

Pdt. Joseph mengumpulkan korban gempa Haiti yang kelaparan, terluka dan berduka untuk datang kepada Tuhan.

“Bayangkan bahwa desa kita adalah rumah YESUS KRISTUS, bukan tempat terjadinya bencana,” demikian teriaknya melalui loudspeaker. “Hidup bukanlah bencana. Hidup adalah sukacita! Anda tidak memiliki makanan? Rawat diri Anda di dalam Tuhan. Anda tidak memiliki air? Minum didalam roh.”

Dan inilah yang mereka minum, menyanyi, menari, berseru dan menguatkan diri mereka.

Banyak dari gereja-gereja Haiti yang pendeta-pendetanya telah tewas, dan jemaat mereka terus mencari perlindungan pada Tuhan di dalam duka mereka. Membawa Alkitab mereka, berjalan di antara debu, dan berkumpul di antara reruntuhan untuk berdoa dan beribadah.

Menyadari pentingnya peran gereja di negaranya, Presiden Rene Preval mengumpulkan para pemimpin gereja bersama dengan para politisi dan bisnisman di kantor polisi yang saat ini menjadi markasnya. Dia meminta gereja untuk fokus memberi makan para korban gempa, tetapi dia memberi sedikit petunjuk bahwa pemerintah akan membantu dalam hal ini.

http://media.ft.com/cms/e3bb2038-0027-11df-8626-00144feabdc0.jpg

Tidak jauh berbeda dengan keadaan gereja-gereja Injili di Champ de Mars, jemaat berkumpul di depan katerdral di ibu kota untuk mendengarkan apa yang dikatakan uskup mereka.

“Kita harus terus berharap,” demikian ungkap Uskup Marie Eric Taussaint, meskipun dia mengaku tidak memiliki sumber daya untuk membantu banyak orang yang menderita dan ia merasa tidak yakin apakah katedral akan dibangun kembali.

“Kita tidak bisa menyalahkan Tuhan. Aku menyalahkan manusia. Tuhan memberi kita alam, dan kita orang Haiti, dan pemerintah kita, telah menyalahgunakan alam ini,” demikian ungkap Georges Verrier, seorang ahli komputer yang kini menganggur. Dia duduk di kumpulan jemaat tersebut.

Hal yang serupa diungkapkan oleh penginjil yang sedang berteriak-teriak berkotbah sambil berdiri diatas sebuah peti. “Kita harus bersujud dihadapan Tuhan dan meminta ampunan Tuhan,” teriaknya.

Seorang pria yang hadir dalam ibadah gereja Injili tersebut bercerita tentang istrinya yang sedang hamil delapan bulan yang duduk dengan wajah tanpa ekspresi.

“Sebuah balok beton jatuh di perutnya, dan kami tidak tahu apakah bayi itu masih hidup atau tidak,” kata pria yang bernama Ricot Calixte (28). “Doa dapat membantu, saya kira. Ketika aku masih bernafas, aku masih punya iman.”

Gereja Pdt.Joseph saat ini menggunakan tenda darurat. Saat ini jemaatnya yang selamat ada sekitar 200 orang, tiga diantaranya telah meninggal dunia dan banyak lagi yang hilang.

Tahukah Anda, bahwa Anda bisa menjadi berkat untuk mereka juga. Banyak orang Haiti yang saat ini membutuhkan makanan, air dan juga tempat berteduh. Uluran tangan Anda bisa meringankan beban mereka.
Sumber : New York Times - www.jawaban.com