Hanya Untuk Gereja Yang Melayani Korban Pelecehan

Gereja Inggris telah mengeluarkan pedoman baru untuk gereja-gereja yang memiliki pelayanan menolong para korban pelecehan seksual. Dokumen yang berjudul Responding Well, berisi kebijakan baru dan panduan dalam melakukan pertolongan dengan baik dan telah disahkan oleh Dewan Keuskupan.

Kelompok kerja yang menyusun dokumen termasuk para ahli dalam menjaga dan merawat para korban pelecehan. Dokumen ini bersumber dari buku yang berjudul Time for Action yang diterbitkan oleh Churches Together di Ingggris dan Irlandia pada tahun 2002, yang mendorong denominasi gereja untuk merancang kebijakan-kebijakan mereka sendiri dalam membimbing para korban pelecehan sesual.

Dokumen baru ini memberikan saran kepada gereja bagaimana sebisa mungkin meresponi dengan cara yang positif dan konstruktif kepada mereka yang menderita akibat pelecehan.

Berbicara pada acara peluncurannya di Sinode Umum, National Safeguarding Adviser Elizabeth Hall mengatakan Responding Well merupakan respon terhadap tantangan yang ditetapkan oleh Time for Action.

“Kebijakan ini menetapkan harapan yang kuat untuk kualitas respon yang akan dibuat oleh mereka yang bertanggungjawab di gereja sampai tingkat nasional,” ujarnya.

Responding Well telah dirancang untuk mendukung mereka yang menderita akibat pelecehan baik di dalam maupun di luar gereja. Hal ini merekomendasikan agar gereja-gereja menunjuk individu terpercaya dan terlatih untuk mengawasi dan menjaga anak-anak dan orang dewasa, dan orang-orang ini bertindak sebagai titik kontak pertama bagi para korban yang ingin mengungkapkan sebuah insiden pelecehan.

“Setiap gereja harus menuinjuk orang pilihan dengan hati-hati, seorang yang kompeten dan terlatih yang mampu menjadi “pendengar yang berwenang” bagi mereka yang terbuka, khususnya bagi mereka yang mengungkapkan pelecehan dari dalam komunitas gereja,” ungkap kebijakan baru tersebut.

Kebijakan ini menawarkan saran akan bagaimana gereja-gereja bisa menjadi tempat yang aman dimana korban merasa mampu untuk terus maju mengatasi trauma mereka, dan bagaiman meresponi mereka yang terus tinggal dalam trauma pelecehan.

Para penulis laporan menyimpulkan, “Kami berharap gereja akan menggunakan dokumen ini sebagai sumber penting dalam melanjutkan tugas untuk mentransformasi budaya kita di dalam gereja. Pada gilirannya hal ini akan menyebabkan peningkatan pembelajaran dan perasaan berbagi, dan akan semakin berhasil di masa mendatang untuk terus membangun di atas pembelajaran tersebut. Kami menawarkan dokumen ini, bersama dengan kebijakan lainnya, sebagai bagian penting yang dapat membantu kita merespon dengan lebih baik dan menjangkau mereka yang menderita trauma pelecehan, bagi pemulihan mereka dan pemulihan kita sendiri.”

Uskup Southwell and Nottingham, Rt Rev Paul Butler, Ketua Komite Pengamanan Nasional dari Church of England mengatakan, “Kami berkomitmen untuk menyelamatkan dan melindungi semua anak, anak muda dan orang dewasa, dan membangun komunitas yang lebih aman dan peduli. Kami telah bekerja keras untuk mengembangkan budaya kita akan kewaspadaan informasi, praktek perekrutan yang lebih aman, dan penjagaan di setiap level tingkat kehidupan jemaat gereja. Kami sadar masih banyak hal yang harus kami lakukan dan hal ini harus terus dilakukan untuk dapat bekerja dalam kemajuan. Hal terbaik dari semua cara yang mungkin untuk meresponi dengan baik adalah dengan memastikan agar segala bentuk pelecehan itu tidak akan pernah terjadi lagi.”

Pelecehan seksual merupakan suatu hal yang mendatangkan trauma mendalam bagi para korbannya. Dan seringkali tidak banyak korban yang berani bicara karena terkungkung dalam ketakutan mereka sendiri. Melalui kebijakan ini, gereja diharapkan dapat melakukan langkah-langkah nyata untuk menolong mereka yang mengalami pelecehan dan tidak tahu harus pergi mengadu kemana.

Source : christiantoday