HAPUS ICON SANTA CLAUS dari NATAL

Pria gemuk berjanggut yang selalu memakai mantel dingin berwarna merah itu kan sebenarnya illustrasi dari seorang Santo yang sudah mati, truz kLahirannya pada tgl 25 Desember, tp kenapa yah dijadikan icon Natal dan dipertahankan sampai sekarang?? kita mengingat kLahiran Yesus atau pria gendut itu… g’ penting juga wajah orang itu hadir dalam setiap perayaan,

MARI BERASIONAL… :wink: :afro:

memang sebenarnya hanya sebuah tradisi yg tdk d perlukan…
ttpi kehadirannya juga tak merugikan bukan?
kalaupun ada yg salah persepsi ttng santa rasanya cukup d beri pengertian,.
krn sudah hampir mnjdi tradisi rasanya sulit d hapus bgtu saja,.
liat sisi positifnya saja,anak2 menyukainya…
stidaknya mreka mnjdi anak2 yg terdidik untuk penuh harapan dan impian…

:happy0025:

Masalahnya… anak2 yang setelah dewasa merasa dibohongi tentang keberadaan santa claus (yang masih membagi-bagikan hadiah), akan berkata pada dirinya “Ok, berikutnya saya akan buktikan kalo tuhan itu hanya dongeng.”

Intinya jangan bohongi anak2…

setuju bro, barusan gw juga mau tulis bgitu, hahahahaha… :smiley: :afro:

bgni… bukan kah di firman TUHAN juga mengatakan : “jauhkanlah dirimu dari dongeng, takhyul,dll” (lupa ayatnya) jd bukankah merayakan Natal dengan icon dogeng itu sama saja menduakan Tuhan…

Yang Kristus perintahkan juga para Rasul teruskan adalah untuk memperingati Dia melalui makan dan minum Dia, bukan perayaan kelahiran. Tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan untuk merayakan kelahiran. Fakta sejarah bahwa Kristus lahir ke dunia menandakan bahwa Ia manusia sejati yang menempuh kehidupan insani dari bayi hingga dewasa. Hal ini agar menjadi bukti yang kuat dan bukan untuk dirayakan.
Yang Tuhan ingin kita peringati adalah karya penebusanNya dan bagaimana kini Ia boleh menjadi bagian dari diri kita di dalam roh kita melalui makan dan minum Dia.

1 Kor 11:23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”
11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
11:26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.

SETUJU Bro…

Lalu apa yang dirayakan? kematian? sudah! kematian tanpa kelahiran? akhir tanpa awal?

rayakn lahir dan mati donk…

Kelahiran Yesus ke dunia ini tidak pernah diketahui tanggal pastinya. Kalau sekarang kita peringati tgl 25 Desember itu BUKAN tgl lahir Yesus. Itu tgl peringatan dewanya orang Yunani, namanya Dewa Matahari. Apakah kita mau ikut memperingati kelahiran dewa? Walaupun hati anda maunya merayakan hari itu sebagai hari Natal dan hati anda tertuju pada Yesus, kenyataannya anda merayakan bersama dengan pemuja2 dewa2 Yunani. Ada macam2 dewa yg dekat ke tgl 25 Desember itu: akhirnya diputuskan oleh seorang ahli nujum ditetapkan Natal itu ditetapkan tgl 25 Desember saja.
Oleh Paus Liberius tahun 353M akhirnya 25 Desember dirayakan sebagai Natal. Berarti ada tenggang waktu antara tahun 30 sampai 353 yg tidak ada perayaan Natal sampai ditetapkan oleh Paus Liberius.
Orang2 Yahudi memang tidak merayakan ulang tahun karena menganggap itu kebiasaan orang2 kafir. Ada ayatnya di Alkitab : Yeremia 20:14 “Terkutuklah hari ketika aku dilahirkan”. Juga Pengkotbah 7:1b “Hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran”.

kasihan paus terkena lagi…

sudah nasib…

Kalau kita mau jujur, kesalahannya bukan masalah “ada tidaknya icon” itu, yang menjadi masalah menurut saya adalah bahwa icon itu dianggap sebagai “penggambaran kasih Allah kita” kepada manusia, sehingga gereja pun memajangnya sebagai sebuah icon, dan melakukan tradisi itu didalamnya.
Ini tidak benar. Banyak masalah timbul seperti, saat natal yang diharapkan anak2 adalah santa claus, yang dianggap baik adalah santa claus, yang dianggap banyak memberi adalah santa claus, yang diajarkan adalah santa claus, yang dianggap menyatukan keluarga dalam pertemuan adalah santa claus, dst…dan ini terbawa sampai tua… Kemudian diturunkan…
Hal ini sama saja dengan hari “valentine”, padahal yang harus menempati hari kasih sayang terbesar adalah kelahiran Yesus Kristus, bukan valentine, siapapun dia.
Nah, ini adalah akhibat dari budaya yang terlalu dalam masuk atau dimasukan didalam theologi, sehingga jemaat tidak mampu membedakan mana budaya mitos, mana Firman Tuhan. Akhibatnya?? Silahkan lihat dinegara negara mayoritas kristen katholik… Mereka mulai bingung dengan imannya, mereka tidak dapat mengerti keimanannya, yang mereka tahu hanyalah “foya - foya”. Ini adalah akhibat asimilasi budaya yang telalu dalam.

@lion
Tentang tanggal, memang harus diakui bahwa tanggal natal itu bukan tanggal kelahiran Yesus, banyak yang sudah menyatakan ini dari hasil penelitian. Tetapi menurut saya, yang harus dibenarkan bukan sekedar tanggal. Tanggal itu gak penting, tapi bagaimana memandang even tersebut. Tidak terlalu masalah kalau dilakukan 25 desember, toh tanggal pasti juga sudah hampir mustahil ditetapkan, tetapi kalau kita rayakan “kasih Elohim”, maka sama sekali tidak masalah. Tetapi kalau sekedar dianggap sebagai hari lahir, tradisi turun temurun, saat untuk foya - foya, saat untuk pesta, saat untuk keluarga kumpul, saat untuk makan, apalagi saat untuk merayakan “kebaikan pihak lain”, maka itulah yang sudah sangat keluar jalur yang “perlu diluruskan” sehingga kita bisa membentuk iman anak anak sejak dini, demikian juga pengenalan akan Tuhan secara benar.

Kasihan ajaran katolik disalahkan lagi…

sudah nasib…

Sebenarnya apa sih salahnya kalo anak-anak kita - atau mungkin bahkan kita sendiri - percaya keberadaan Santa Claus (Sinterklas)? Toh gak ada salahnya? Yang penting nilai moralnya karena Sinterklas mengajarkan kebaikan…memberi hadiah kepada anak-anak yang baik dan penurut. Mari kita urai satu-persatu alasan mengapa tidak baik jika anak-anak percaya adanya Sinterklas:

  1. Dongengan tentang Sinterklas seringkali menggeser makna natal yaitu kelahiran Yesus Kristus untuk menebus dosa kita. Lihat saja film-film Hollywood tentang natal, tidak pernah bicara tentang Yesus, tetapi sibuk dengan urusan Sinterklas ini. Karya anugerah Tuhan melalui Kristus tergeser oleh penantian akan kebaikan Sinterklas yang memberi hadiah natal.

  2. Sinterklas sebagai sosok yang memberikan hadiah bagi anak yang baik dan penurut bertentangan dengan konsep Alkitab tentang anugerah. Allah memberikan anugerahNya tanpa memandang baik buruknya kita karena kita semua tidak cukup baik di hadapan Allah. Allah memberi semata-mata karena kasih karuniaNya.

  3. Sosok Sinterklas di beberapa negara, termasuk Indonesia, sering didampingi sosok berkulit hitam yang disebut “Piet Hitam” yang bertugas menghukum anak yang nakal dengan memasukkan ke dalam karung dan membawa pemukul atau sapu lidi untuk memukul. Bukankah konsep ini berbau rasial? Sosok Sinterklas yang baik bule dan berkulit putih sementara Piet Hitam yang menakutkan orang berkulit hitam (negro?) dan lebih mirip sosok budak atau pesuruh sang Sinterklas.

  4. Segala kehebohan tentang Sinterklas akhirnya merupakan proyek kapitalis yang berbau komersil. Lihat saja berapa keuntungan mal-mal dan pusat perbelanjaan karena drama Sinterklas ini? Keuntungan pabrik mainan anak-anak? Keuntungan Hollywood dari film-film tentang keajaiban Sinterklas yang sebenarnya sama sekali tidak ajaib? Lalu dimana makna kesederhanaan natal seperti ditunjukkan Kristus yang lahir di kandang domba?

  5. Patutkah anak-anak diajarkan tentang dongeng omong kosong yang akhirnya malah menggantikan makna kasih Kristus yang rela lahir ke dunia bagi dosa kita? Bukankan Alkitab mengajarkan agar kita tidak percaya kepada “takhayul dan dongeng nenek-nenek tua?”

Apakah anda akan membiarkan anak-anak percaya bahwa hadiah natal yang nereka terima adalah pemberian Sinterklas karena mereka telah berbuat baik? (yang artinya orangtua telah berbohong) atau mengatakan yang sebenarnya bahwa hadiah Natal yang mereka terima diberikan oleh orangtua sebagai wujud kasih Tuhan dan kasih orangtua yang tanpa syarat? Syaloom n peace…

St. Nikolaus
“Memberi itu Indah.”

http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs255.snc1/10220_291558495036_773710036_9445987_5691427_n.jpg

St. Nikolaus, seorang santo dari abad keempat yang menjadi ilham lahirnya tokoh modern bernama Santa Claus atau Sinterklas, dilahirkan dekat Myra (sekarang Turki). Myra adalah sebuah kota pelabuhan di Laut Mediterania dengan jalur pelayaran yang ramai yang menghubungkan kota-kota pelabuhan laut di Mesir, Yunani dan Roma. Kapal-kapal yang lalu lalang penuh dengan muatan beras serta berbagai macam barang, tiba dengan selamat di pelabuhan, setelah terlepas dari bahaya badai dan bajak laut.

Nikolaus berasal dari salah satu keluarga pedagang kaya di Myra. Namun demikian, ia bukanlah anak yang dimanjakan oleh keluarganya. Ayah dan ibunya mengajarkan kepadanya untuk bersikap murah hati kepada orang lain, terutama kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Dari situ Nikolaus belajar bahwa menolong orang lain menjadikan jiwa bertambah kaya.

Suatu hari, secara kebetulan, Nikolaus mendengar tentang seorang kaya di Myra yang jatuh miskin karena usahanya bangkrut. Bapak itu memiliki tiga orang anak gadis yang cantik, yang sudah cukup usianya untuk menikah. Tetapi ia tidak mempunyai cukup uang untuk menikahkan anak-anak gadisnya. Lagi pula, pikirnya, siapa yang mau menikahi mereka karena ayahnya sudah jatuh miskin? Karena sudah tidak punya uang lagi untuk membeli makanan, ayah yang putus asa itu memutuskan untuk menjual salah seorang anak gadisnya sebagai budak. Setidak-tidaknya anggota keluarga yang lain dapat bertahan hidup, demikian pikirnya.

Malam sebelum anak gadis yang sulung dijual, Nikolaus dengan satu tas kecil berisi emas di tangannya, mengendap-endap masuk halaman rumah mereka, melemparkan tas yang dibawanya melalui jendela yang terbuka, dan sekejap kemudian menghilang dalam kegelapan malam.

Keesokan harinya, sang ayah menemukan tas berisi emas tergeletak di lantai dekat tempat tidurnya. Ia tidak tahu dari mana datangnya. “Mungkin ini emas palsu,” pikirnya.Tetapi setelah diujinya, ia tahu bahwa itu sungguh-sungguh emas. Ia meneliti daftar teman serta rekan dagangnya. Tak seorang pun dari mereka yang mungkin memberikan emas itu kepadanya.

Sang ayah jatuh bersimpuh dengan air mata mengalir deras membanjiri pipinya. Ia mengucap syukur Ayah dan tiga anak gadisnyakepada Tuhan atas anugerah-Nya yang indah ini. Semangatnya bangkit kembali setelah padam sekian lama, karena seseorang secara tak disangka-sangka berbelas kasih kepadanya. Ia mempersiapkan pernikahan putri sulungnya. Masih tersisa cukup uang bagi mereka semua untuk hidup selama hampir setahun. Seringkali ia bertanya-tanya: siapa gerangan yang memberinya emas?

Dengan berakhirnya tahun, keluarga mereka tidak lagi memiliki apa-apa. Sang ayah, yang sekali lagi putus asa dan tidak menemukan adanya jalan keluar, memutuskan agar anak gadisnya yang kedua harus dijual. Tetapi, Nikolaus mendengar tentang hal ini, ia datang malam hari dekat jendela rumah mereka dan melemparkan satu tas berisi emas seperti yang ia lakukan sebelumnya. Keesokan harinya sang ayah bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan serta memohon pengampunan dari-Nya karena telah berputus asa. Namun demikian, siapakah gerangan orang misterius yang memberi mereka hadiah yang luar biasa ini?

Sejak itu, setiap malam sang ayah selalu mengawasi jendela rumahnya. Dengan berakhirnya tahun, berakhir jugalah uang simpanan mereka. Suatu hari, dalam keheningan malam, ia mendengar langkah orang mengendap-endap dekat rumahnya dan tiba-tiba satu tas berisi emas jatuh ke atas lantai. Sang ayah cepat-cepat bangkit dan lari untuk menangkap orang misterius itu. Setelah beberapa saat berlari, ia berhasil menangkap dan mengenali Nikolaus, karena pemuda itu berasal dari keluarga terpandang di kota.

“Mengapa engkau memberikan emas kepada kami?” tanya sang ayah.

“Karena Bapak membutuhkannya,” jawab Nikolaus.

“Tetapi mengapa engkau menyembunyikan diri dari kami?”

“Karena memberi itu indah, jika hanya Tuhan saja yang mengetahuinya.”

Ketika Uskup Myra wafat, para imam, tokoh-tokoh kota, serta para uskup sekitarnya berkumpul bersama di katedral untuk memilih seorang uskup baru. Mereka berdoa serta memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada mereka siapakah yang pantas untuk jabatan itu. Dalam suatu mimpi, Tuhan berfirman kepada salah seorang dari mereka bahwa besok pagi haruslah mereka semua berdoa bersama. Sementara mereka berdoa, seseorang akan masuk lewat pintu katedral. Orang itulah yang harus mereka pilih.

Ternyata Nikolaus-lah yang masuk ke dalam katedral. Penduduk kota segera memilihnya menjadi uskup mereka, karena mereka tahu bahwa orang yang sederhana ini, yang perbuatan baiknya telah mereka kenal, telah dipilih Tuhan untuk membimbing mereka.

Sebagai Uskup Myra, Nikolaus menjadi semakin lebih sadar akan kebutuhan banyak orang. Ia akan menjelajahi seluruh penjuru kota untuk menawarkan pertolongannya kepada siapa saja yang sedang berada dalam kesulitan, dan kemudian pergi diam-diam tanpa menunggu ucapan terima kasih. Ia tidak ingin menjadi terkenal. Namun demikian, nama baiknya sebagai seorang kudus semakin tersebar dan tersebar, bahkan tersebar hingga ke kota-kota yang jauh yang belum pernah dikunjunginya.

Nikolaus secara istimewa memberi perhatian agar keluarga-keluarga mempunyai makanan yang cukup serta tempat tinggal yang layak, anak-anak tumbuh dan berkembang, para lanjut usia menempuh hidup mereka dengan martabat dan hormat. Nikolaus amat suka pada para pelaut yang hidup penuh bahaya di lautan. Tanpa kapal-kapal mereka, orang banyak di belahan dunia ini tidak memiliki makanan serta barang-barang seperti yang mereka bawa dalam perdagangan mereka.

Santa Claus
Lebih dari semuanya itu, pada masa kini Nikolaus terutama dikenang karena cintanya kepada anak-anak. Semasa hidupnya, ia biasa membagikan hadiah-hadiah kecil kepada anak-anak yang ia jumpai, seperti permen dan mainan. Kelembutan hatinya, yang biasanya juga mengejutkan mereka, menyentuh hati anak-anak, sehingga mereka dapat belajar dari orang kudus ini betapa indahnya memberi itu.

Dalam sosok Santa Claus, yang nama dan aktivitasnya diilhami dari kisah hidup St. Nikolaus, orang kudus ini tinggal bersama kita sekarang.

Sumber: “Saint Nicholas, an example of Advent” by Fr Victor Hoagland, C.P.; Passionist Publications; www.cptryon.org/prayer/adx

diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya

sebenarnya legenda santo nikolaus ini tidak selalu identik dengan natal, namun kayaknya budaya sekulerisme, dan harapan “sampingan” anak2 akan hadiah… telah memberi makna natal tersendiri bagi anak2.
namun begitu santo nikolaus dengan spiritnya yg mulia mudah2han bisa menginspirasi kita.

tapi tentu saja tanpa menghilangkan makna natal yg sesungguhnya… (karena kita bukanlah anak2… :slight_smile: ) sebelum natal adalah masa adven dalam liturgi katolik, yaitu masa penantian sang penebus datang kedunia.

dalam masa adven ini umat katolik di ajak mempersiapkan natal, dengan meneladani St. yohanes pembabtis, yg meratakan jalan yg berbukit, meluruskan jalan yg berkelaok, menimbun lubang2, mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

umat diajak meluruskan hati yg bengkok, terjal dan berlubang, umat diajak bertobat dan berbalik pada Tuhan. sesuai dengan warna liturgi yg ungu. :slight_smile:

btw, bagi protestan silahkan saja ikon santa klaus itu dihapus jika dirasa “berbahaya” dan bila perlu natal juga di tiadakan, atau setidak2nya tidak dirayakan tgl 25, atau bahkan tidak di bulan desember…
karena natal hanyalah tradisi katolik… :slight_smile:

Berarti Makna natal sudah kabur!
Bersamaan dengan Natal ada:

  1. Kelahiran Yesus Kristus
  2. Ada Sinterklas
  3. Ada Swartepit (siapa lagi ini?)
  4. Ada bagi2 hadiah
    Mungkin, 4 hal diatas masih bisa kita terima. Tapi di negara2 Eropa dan Amerika sana, Natal juga identik dengan Pesta Hura-Hura dan Pesta Sex! Kalo anda gak percaya, anda boleh tanya teman2 anda yg pernah kuliah disana : apa sih yg dirayakan anak2 muda US kalo lagi Natalan? Jawabannya mengerikan: Sex Party! Wow!
    Kembali lagi ke makna Natal yg sesungguhnya: Bukankah ini momen untuk kita mensyukuri karena telah lahir Juruselamat yg akan menebus dosa2 manusia? Lalu kenapa ada Sinterklas, Swartepit, Kereta Terbang dan kado2? Bukankah yg terima kado mestinya Yesus persis seperti kelahiranNya, dimana orang Majus mempersembahkan mur dan kemenyan untukNya? Kenapa yg terima justru anak2? Dimana letak kebenarannya kalau kejadiannya seperti ini?

syalom…

sosok santo nikolaus yang ada saat ini menurut saya berbeda dgn santa claus…
santa claus saat ini lebih mirip dewa odin :happy0062:
@vicious:nice posting :happy0025:
btw santa claus itu laki2 atau perempuan sih??kok namanya santa bukan santo??

@jonathan

Nah, ini adalah akhibat dari budaya yang terlalu dalam masuk atau dimasukan didalam theologi, sehingga jemaat tidak mampu membedakan mana budaya mitos, mana Firman Tuhan. Akhibatnya?? Silahkan lihat dinegara negara mayoritas Kristen katholik... Mereka mulai bingung dengan imannya, mereka tidak dapat mengerti keimanannya, yang mereka tahu hanyalah "foya - foya". Ini adalah akhibat asimilasi budaya yang telalu dalam.

Ngga salah ngasih contohnya bro?
Yang anda maksud negara mayoritas Katolik itu mana? Amerika, Inggris, Jepang, Hongkong? Itu semua mayoritas Protestan. Kalau yang anda sebut Spanyol, Italy, Portugis, Brazil, Filipina, itu baru mayoritas Katolik. Nah, Santaclaus lebih populer di mana tuh? di negara mayoritas Katolik atau Protestan?

:smiley:

kalau bicara teologi, rasanya teologi katolik itu teologi yg paling “kaku” deh… :slight_smile: cenderung keras dan ortodox, gereja yg punya rasa cenderung menekankan semangat miskin dan anti hingar bingar… isinya devosi, dan mati raga…

sekulerismelah yg merusak makna natal… amerikanisme? yup!