Harus berkata jujur apapun kondisinya?

Ada yang berkata bahwa berbohong adalah dosa, sehingga harus selalu berkata jujur dalam kondisi apapun. Bagi mereka yang berpegang pada prinsip ini, tidak ada yang namanya “bohong putih” atau “bohong demi kebaikan”.

Saya ambil contoh, seorang anggota polisi melakukan penyamaran untuk menangkap pengedar narkoba. Dia mengaku sebagai pengguna yang sedang butuh segera. Dengan kata lain, polisi itu tentunya berkata tidak jujur kepada penjahat itu. Apakah mungkin seorang polisi menghubungi seorang penjahat dan berkata akan menangkap dia? :char11:

Apakah “kebohongan” yang dilakukan polisi tersebut dikategorikan dosa? Bukankah kalau pengedar narkoba itu bisa tertangkap akan menjadi kebaikan bagi masyarakat?

yang pasti… jika tujuannya menyakiti sesama… sudah pasti dosa… ^^

Untuk membahas ini adalah wilayah dari etika :slight_smile:
Bohong kagak baik, tapi dalam situasi tertentu bohong adalah pilihan terbaik di antara pilihan lain yang buruk.

Contoh, apa yang dilakukan Rahab (Ibrani 11:31, Yosua 2:4-24).

GBU

Hukum Allah itu berlaku absolut,…mutlak
Kebohongan apa pun tentu saja adalah dosa.
Kejadian seperti yang diceritakan di atas tentu tidak akan pernah terjadi pada kehidupan yang akan datang yang tanpa dosa (setelah kematian dan kebangkitan). Tetapi saat ini kita hidup dalam dunia yang penuh dosa, dan kita tidak akan pernah bisa menghindari dosa.
Apa yang dilakukan polisi tersebut tetap saja dosa, tetapi dosa yang dapat dipertanggung-jawabkan.
Setiap kita berbohong, tentu saja dosa,tetapi pertanyaannya, siapakah orang yang hidup di dunia saat ini yang bisa menghindari perbuatan dosa ?
Biarlah setiap dosa yang kita lakukan, kita memiliki alasan-alasan yang bisa dipertanggung-jawabkan, bukan semata-mata khilaf atau sengaja tidak perduli.

O, ya, tidak semua perkataan yang tidak benar itu adalah kebohongan, karena itu untuk hal-hal seperti di bawah ini bukanlah kebohongan dan tidak berdosa.
Misalkan perkataan :“Jangan bengong aja, ayam tetangga kemarin bengong aja langsung dipotong”.
Tentu saja perkataan ini tidak benar, tetapi tidak masuk katagori kebohongan, karena itu tidak perlu takut untuk membuat lelucon atau apapun yang walaupun tidak benar tetapi bukan kebohongan.

Anda mengatakan polisi yang “berbohong” kepada pengedar narkoba itu sebagai perbuatan “dosa yang dapat dipertanggung jawabkan”. Bagaimana bisa dikatakan demikian? Semua dosa memang harus dipertanggung jawabkan/ada konsekuensinya.

Lalu bagaimana seandainya polisi itu seorang Kristen. Haruskah dia berkata kepada atasannya yang memerintahkan penyamaran itu begini: “Ijin atasan, saya orang Kristen tidak boleh berbohong.” Jika demikian maka tidak ada orang Kristen boleh jadi polisi, khususnya untuk tugas penyamaran.

spt slogan rinso… ada kalanya berani kotor itu baik…

Hukum Allah adalah mutlak, tidak ada hukum Allah yang jika dilanggar seharusnya menerbitkan dosa, menjadi tidak berdosa karena situasi dan kondisi.
Standard hukum Allah tidak akan pernah didegradasi hanya karena tidak ada satu pun manusia yang sanggup untu melakukannya. Sekiranya tidak ada satu pun manusia yang sanggup melakukan hukum Allah dengan sempurna, maka seluruh manusia itu pun akan berdosa, sehingga seluruh manusia akan masuk pada penghukuman.

Kembali pada ilustrasi di atas, sekiranya saya adalah atasan polisi tersebut, saya akan bertanya “Betulkah kamu bukan orang berdosa ? Tidak adakah dosa yang pernah kamu lakukan sehingga kamu menolak tugas ini ?”

Bukan berarti saya setuju dengan perbuatan dosa, tetapi kita akan selalu berada pada dilema dan kita tidak akan pernah bisa lepas dari keadaan itu. Karena itu kita perlu Juru Selamat.

Apakah maksudnya kalau pernah berbuat suatu dosa maka tidak usah munafik untuk tidak melakukan dosa lain?

Bukan seperti itu maksud saya,
Adalah baik jika kita bisa menghindari perbuatan dosa, dan itu memang harus kita lakukan. Tetapi dilema selalu terjadi dalam kehidupan kita. Dilakukan kita berdosa, tidak dilakukan masalah yang lebih buruk bisa terjadi.

Dalam keadaan dilema seperti ini, hukum Allah tetap berlaku, tidak bisa perbuatan dosa tersebut menjadi bukan dosa.
Sekiranya saya yang menjadi polisi yang diperintahkan untuk menyamar, saya pasti akan melakukannya walaupun berakibat dosa bagi diri saya. Jikalau menolak, saya memang terhindar dari dosa, tetapi disisi lain, saya pun menjadi orang yang hanya mementingkan diri sendiri.

Jadi maksudnya ada kondisi tertentu di mana berbuat dosa lebih baik daripada menghindarinya? Apa ada dasar Alkitabiahnya?

Kalau menurut saya tetap saja polisi yang nyamar itu berdosa dilihat dari Hukum Tuhan.
Tapi tidak berdosa kalau dilihat dari Hukum Kepolisian.
Berdosa kalau dilihat dari Hukum Pengedar Narkoba :smiley:

Kalau memang 100% tidak mau berbohong terhadap sesama ya jangan mencari pekerjaan yang berhubungan dengan duid, atau hal-hal duniawi. Susah kan? Tuntutan pekerjaan (bisa disebut juga tuntutan manusia) dijamin bikin kita banyak bohongnya :smiley:

Mungkin anda harus mengerti dahulu apa yang disebut dilema.

O, ya pertanyaan dari saya dahulu,
Apakah menurut anda dalam kasus seperti di atas, berbohong untuk “kebaikan”, menjadi tidak berdosa ?

Betul !!! :afro:

Berbohong untuk kebaikan apapun tetap berdosa…
Tetapi kadang langkah ini yang harus kita ambil, karena pilihan lain juga beresiko.

Ada seorang yang lari dikejar karena hendak dibunuh. Lalu orang tersebut masuk ke rumah anda untuk minta perlindungan dan bersembunyi di rumah anda.
Tidak lama kemudian, datanglah orang yang mengejar dengan membawa pedang dan bertanya dimana orang yang sedang dikejarnya.

Apa yang anda lakukan ?

  • Berkata "Saya orang Kristen pak, harus jujur, orang itu ada bersembunyi di rumah saya ".
    --------------------- Pembunuhan terjadi

atau

  • Berkata “Saya tidak tahu, tidak ada di rumah saya”. ------- Berdosa karena berbohong.

Setuju :afro:

Kalau prinsip saya, sekali-kali (jangan keterusan) berbohong tidak apa, apalagi kalo soal pekerjaan. Dan kalau berbohong pun jangan keterlaluan atau lebay dan jangan sampai mengakibatkan orang lain/ diri kita sendiri celaka. Kebohongan itu kecil saja disisipkan di antara kejujuran, bukan kejujuran yg sedikit aja diselipkan di kebohongan :smiley:
Yang penting jangan pernah jadi orang munafik (karena itu bearti membohongi diri sendiri).

Kalau saya bakal pura-pura amnesia dengan bilang : Coba check rumah sebelah Pak. Kali aja orang yang dimaksud Bapak sembunyinya di sana. Rumah saya ga kedatengan tamu dari 5 tahun lalu, Pak.

Yohanes 7:8-10
Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap."
Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea.
Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.

Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus “berbohong” kepada saudara-saudaranya bahwa Dia tidak akan pergi ke Yerusalem untuk merayakan Pondok Daun. Akan tetapi setelah mereka pergi, Diapun diam-diam pergi juga.

Apakah “kebohongan” Yesus itu dosa juga?

Yesus tidak berkata bohong.

Perayaan Hari Raya Pondok Daun berlangsung selama 7 hari.

Imamat 23
(34) Katakanlah kepada orang Israel, begini: Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu ada hari raya Pondok Daun bagi TUHAN tujuh hari lamanya.
(35) Pada hari yang pertama haruslah ada pertemuan kudus, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
(36) Tujuh hari lamanya kamu harus mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN, dan pada hari yang kedelapan kamu harus mengadakan pertemuan kudus dan mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN. Itulah hari raya perkumpulan, janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
(37) Itulah hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN, yang harus kamu maklumkan sebagai hari pertemuan kudus untuk mempersembahkan korban api-apian kepada TUHAN, yaitu korban bakaran dan korban sajian, korban sembelihan dan korban-korban curahan, setiap hari sebanyak yang ditetapkan untuk hari itu,

Pada Yohanes 7 ini, saudara-saudara Yesus mengajak Yesus untuk merayakan hari raya Pondok Daun ini di Yerusalem sejak hari pertama. Motivasi mereka, karena mereka pada dasarnya tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias, dan mereka berniat membuktikannya di tengah perayaan tersebut.

Yesus mengatakan “waktu-Ku belum genap”.

Kapan waktu-Nya Yesus ?
Yang pasti bukan hari pertama dari perayaan itu. Waktunya Yesus, bisa hari kedua, bisa hari ketiga, atau hari berikutnya. Alkitab tidak menjelaskan hari ke berapa Yesus datang ke Yerusalem dan mengajar di Bait Allah.
Dan Yesus juga tidak mengatakan bahwa Dia tidak akan menghadiri perayaan tersebut.
Ketika saudara-saudara Yesus melihat Yesus ditengah perayaan tersebut, mereka pun tidak menuduh Yesus berbohong.

Kalau kepepet yah terpaksa harus berbohong, tapi terkadang berbohong tidaklah selalu buruk. Contohnya seperti polisi itu tadi. Seandainya polisinya jujur. endingnya pasti di dor klo penjahatnya punya senjata. jika tidak ingin berbohong kenapa juga harus jadi polisi? Tapi ini juga bisa jadi pertanyaan apakah benar klo polisi yang menyamar lalu memberitahukan yang sebenarnya bahwa ia berbohong sudah pasti di dor… katanya hidup mati seseorang ditangan Tuhan atau Tuhan yang tentukan?

Tidak ada yang namanya “dusta putih atau penipu putih atau white lie atau apapun alasannya” yang ada dusta tetaplah dusta, yang jadi masalahnyakan bila kita terperangkap dalam keadaan mau tidak mau/mengharuskan kita berbohong. disinilah kita senangtiasa harus meminta hikmat dari Tuhan tapi memang klo sudah terjepit sekali yah tanngung sendiri akibatnya.

Tidak di anjurkan dan dibenarkan untuk berdusta walaupun bertujuan baik/positif dan apapun alasannya.

Sepuluh hukum Tuhan, bohong ada di hukum ke berapa bro?

Salam… :smiley: