Hati Hamba – session 2

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Lukas 1:38

Dalam Lukas 1:26-38, memaparkan tentang bagaimana malaikat Gabriel menyampaikan sebuah perintah khusus dari Bapa kepada Maria. Saya percaya kita semua sudah sering membaca pasal ini, bahkan di saat menjelang hari Natal ini biasanya drama-drama natal yang dipersiapkan diambil dari pasal ini. Jadi saya yakin bahwa kita semua pasti sudah tahu betul tentang kisah ini.

Saat ini saya ingin mengajak kita semua melihat kisah ini dari sudut pandang seorang Maria. Kita tahu bahwa saat itu malaikat Gabriel memberitahukan tentang kelahiran Kristus kepada Maria. Dalam ayat ke 31 dikatakan “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus”. Saya percaya kita semua setuju bahwa Maria benar-benar mendapat kasih karunia dari Allah, sehingga ia dipercaya untuk mengandung bayi Yesus. Allah memilih Maria karena seluruh kehidupan Maria sungguhlah berkenan di hadapan-Nya.

Tapi perlu kita sadari bahwa tugas yang harus dijalankan oleh Maria tidaklah mudah. Mungkin pikiran kita terlintas “ah kan dia kan hanya bertugas mengandung, apa susahnya sih, kan semua perempuan akan mengandung”. Namun apakah kita menyadari kondisi dan situasi saat Maria menjalankan itu semua? Kondisi Maria saat itu dijelaskan dalam ayat ke 27 “kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria”. Seorang perawan yang bertunangan itulah kondisi Maria saat itu. Hukum dan norma saat itu pastilah diatur begitu ketat oleh tokoh-tokoh agama saat itu. Kita bisa bayangkan bagaimana situasi lingkungan saat itu dalam banyak kisah Yesus pada saat di dunia.

Dalam keadaan perawan, yang berarti belum pernah disentuh oleh laki-laki, dan juga dalam kondisi bertunangan dengan Yusuf, Maria harus mendapat tugas hamil oleh Roh Kudus. Kita bisa bayangkan reaksi keluarga besar, lingkungan bahkan tunangan Maria saat itu. Bagaimana reaksi saudara bila anda tahu bahwa adik, kakak, anak perempuan atau bahkan tunangan anda tiba-tiba hamil tanpa diketahui siapa pelakunya. Marah, emosi, malu atau bahkan ini akan jadi aib dalam keluarga anda. Atau bila itu tunangan anda, saya rasa semua laki-laki pasti akan memutuskan hubungan mereka tanpa pikir panjang. Mungkin saat ini “sudah biasa” kita melihat seorang wanita hamil diluar nikah, tapi bila itu terjadi pada jaman Maria hidup pastilah itu sesuatu hal yang luar biasa. Pastilah ada konsekuensi hukum sosial yang dihadapi oleh Maria. Ingat kisah seorang pelacur yang hampir dilempari batu oleh masyarakat tapi ditolong oleh Yesus, mungkin saja hal ini juga harus dihadapi oleh Maria, yaitu terancam untuk dilempari oleh masyarakat karena dianggap berdosa. Terancam untuk ditinggalkan Yusuf pun pasti ada. Dan memang benar, dalam Matius 1:19 dijelaskan bahwa Yusuf bermaksud untuk memutuskan hubungannya dengan Maria.

Konsekuensi ditinggalkan oleh tunangan yang sangat dikasihi, dikucilkan dari keluarga besar, tetangga dan lingkungan masyarakat, menjadi bahan omongan seluruh kampung, atau bahkan mungkin yang paling ekstrim yaitu pelemparan batu oleh masyarakat di lingkungan Maria tinggal, semua hal itu yang harus dihadapi oleh Maria untuk menjalankan tugasnya. Saya percaya Maria sangat menyadari semua resiko yang akan dia hadapi, dan dia bisa saja menolak tugas itu. Namun dalam ayat ke 38, alkitab menjelaskan bagaimana jawaban Maria atas tugasnya: “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Jawaban Maria menunjukkan hati seorang hamba, yang benar-benar taat menjalankan perintah dari Allah Bapa tanpa takut ataupun gentar dengan segala resikonya. Maria tahu betul semua resiko yang akan terjadi, tapi dia tetap bersedia melaksanakan tugas ini.

Mari kita sama-sama belajar dari sikap Maria, yang dengan sungguh-sungguh melayani Tuhan sebagai atasan , tanpa takut dan gentar terhadap apapun yang akan terjadi. Saya tahu bahwa dalam melayani Tuhan, ada saja hal-hal yang mematahkan semangat kita, sayapun terkadang mengalaminya. Namun ingatlah bahwa kita ini adalah “PELAYAN/HAMBA” yang bertugas untuk melaksanakan kehendak atasan kita yaitu Kristus, dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Jadi mari kita lakukan pelayan kita dengan hati seorang hamba, yang melakukan semua kehendak Kristus, untuk kemuliaan nama-Nya.

Tuhan Yesus memberkati :slight_smile:

Renungan by : Ari ( http://kasih-karunia.org/?p=186 )