Help ! Hubungan saya dgn istri saya RETAK :-(

Saya seorang pria yg telah menikah, dikarunia seorang anak. sebagai suami, saya juga dulunya berstatus anak , namun sekarang saya menjadi anak yg telah tumbuh dewasa. saya orang surabaya , namun menikah dengan istri saya orang malang , saya ikut masuk ke rumah mertua saya di malang . walaupun saya bekerja dan berdomisili di malang dan telah memiliki keluarga sendiri, namun saya merasa rindu dan sesekali ingin bertemu dengan orangtua saya di surabaya ( walaupun sering sering ketemu dgn ortu saya sekalipun harusnya tidak ada masalah kan ? ) apalagi ini saya hanya minta berjumpa dgn ortu saya 1-2 kali sebulan di surabaya.

permasalahannya dgn istri saya, ia kelihatan tidak senang jika saya bertemu dgn ortu saya di surabaya. jadi ia menggunakan berbagai macam alasan supaya saya tidak bisa bertemu dgn ortu saya atau pun seandainya bertemu , hanya dalam waktu yg singkat.
jadi ia menggunakan berbagai macam alasan utk menghambat / melarang saya untuk bertemu dgn ortu saya, mulai dari :

  1. hari kerja ( senin -sabtu ) tidak boleh ke surabaya karena saya mesti bekerja. ( kalo hari minggu saya 1 mobil bersama dengan istri saya dan mertua saya berangkat ke surabaya, tidak bebas kalo mau bertemu dgn ortu saya jika didampingi mereka ,selalu buru2 minta pulang dgn berbagai macam alasan )

  2. anak saya 15 bulan belakangan ini hampir setiap hari minggu mau ikut lomba (keinginan istri & mertua saya ) , jadi saya mesti mendampingi anak saya. tidak bisa / tidak ada waktu bertemu dgn ortu saya pada hari minggu sekalipun .

  3. istri dan mertua saya jika ke surabaya berangkat selalu menjelang siang hari, jadi waktu kami singkat ,padahal jadwal tempat yg mesti dikunjungi cukup banyak.

  4. sedemikian tidak sukanya mereka jika saya bertemu dengan ortu saya, sampai2 saya tidak diperkenankan ke sby . pokoknya dipersulit lah…

  5. saya hanya minta sesekali kali bertemu dgn ortu saya , namun istri & mertua saya punya pendapat lain.

saya balas berargumen , dan terjadilah keributan yg lebih besar lagi .
sampai2 mertua saya juga ikut campur, namun ujung2nya juga membela istri saya.
saya tetap bertahan , bahwa yg saya lakukan sudah benar .

Bro bersatu, ijinkan saya untuk ikut urun rembug dengan permasalahan anda.

Sebelumnya, kiranya perlu saya sampaikan point utama ketika seorang pria telah menikah

Seorang pria ketika sudah menikah, maka istrinya adalah belahan jiwanya, sudah tidak ada lagi hal hal yang perlu dirahasiakan kepada seorang istri. Istri dan anak-anak yang dilahirkan adalah keluarga inti, orang tua dan mertua adalah pihak di luar keluarga inti tersebut.

Adalah baik untuk berusaha maksimal untuk memiliki rumah bagi anda sekeluarga (anda, istri dan anak), mungkin tidak perlu besar dan mewah, tetapi cukup yang sederhana, tetapi rumah bagi keluarga anda, dimana anda adalah kepala rumah tangganya.

Hindari rahasia, ataupun pembicaraan ‘empat mata’ antara anda dan ortu atau antara istri dan mertua, atau antara anda dan mertua, untuk apa? Tentu bukan semua hal harus dipaparkan secara terbuka, tetapi istri, sebagai belahan jiwa anda, harus tahu apapun yang anda ketahui. Seandainya anda membantu keluarga anda, istri andapun harus tahu (dilakukan dihadapan isri anda), jangan secara sembunyi sembunyi. Jika anda memberikan sesuatu kepada ortu anda, libatkanlah istri anda (saya justru meminta istri saya yang memberikan kepada ortu saya). Apakah sebagai pribadi kita tidak boleh punya privacy, tentu boleh, tetapi bukan berupa ‘bisik bisik’ menyangkut rumor keluarga sendiri. Jadi, cobalah libatkan istri anda, ajaklah bicara secara ‘enam mata’, dan silahkan lihat hasilnya.

Begitupun masalah pengauran waktu saat ke surabaya, ajaklah istri dan anak anda menemui mertua/eyang nya, persiapkan mereka sejak malam sebelumnya, sehingga bisa berangkat lebih pagi. Mampirlah ke rumah ortu anda dulu jika perlu, kemudian pergilah berbelanja bersama istri, sebelum pulang mampir lagi ke rumah ortu anda. Atau, saat anda bercengkerama di rumah ortu anda, biarlah istri anda pergi berbelanja, anak anda bersama eyangnya. Itu yang dinamakan keluarga yang bahagia.

Bro, kalau saya lihat, masalah yang terjadi di rumah tangga anda bukanlah masalah, cuma karena miskomunikasi saja. Dan dalam hal ini, saya koq merasa anda yang kurang bijak dalam bermain sebagai menantu yang masih menumpang, dan masih bersikap belum sebagai kepala keluarga. Jadi, bijaklah dalam membagi perhatian, antara keluarga (istri dan anak adalah yang utama), mertua (dimana anda masih tinggal bersama), dan ortu (yang membesarkan anda). Semuanya butuh anda beri perhatian, butuh anda cintai, dan butuh anda PERSATUKAN dalam ikatan keluarga yang erat dan akrab.

Saya yakin anda bisa mempebaiki diri dan hubungan keluarga anda. Jangan lupa juga untuk selalu berdoa, mohon bimbingan Tuhan.

Jika ada yang masih ingin dibicarakan, silahkan reply, saya dengan suka cita berusaha mencoba menjawab semampu saya.

Syalom

Haaa?? Kenapa km mau empat mata sama ortu? Sadar gak sih km dah menikah dan seharusnya gak ada rahasia diantara lo dan istri?? Pantesan istri lo males, lo nya sendiri masi maen rahasia"an kek anak SMA aja. Tape deee…

Masalah menginap, km mestinya sadar lah udah tau istri mu kek gt + dia udah jawab gak enak, mestinya km pulang la. Tar pelan" tanyain ke istri, KENAPA kok bersikap gt ma ortu? Dia keras, lo kerasin juga ya buyar.

Jelas sakit hati kalau gak diajak, lo itu suami nya. Aku ngerti la km pengen nyambangi ortu, paling gak omongin baek" ke istri, ajak diskusi apa yg selama ini meresahkan istri sampe segitu nya gak mau berkunjung.

Lo benar, gak ada yg bisa memisahkan hubungan ortu dan anak kandung. Aku sendiri sayang banget sama ortu ku juga. Tapi lo mesti adil. Lo udah dewasa dan udah nikah lagi, effing cut the umbilical cord? Bicarain sama istri lo, kenapa dia gak suka? Dah pernah tanya gak lo?

Maaf kalau agak kasar, cuman lo seharusnya bisa berdiskusi dengan istri, bknnya malah di ignore dan dikerasin balik + merasa benar.

Syalom Cak…!
apa yg dialami sampeyan mirip2 sama aku, tapi ndak se-ekstrim sampeyan.
menurut aku yg pertama hrs dilakukan adalah cari tempat tinggal sendiri, jangan di PMI lagi (pondok mertua indah), karena sedikit banyak pasti mertua sampeyan akan mempengaruhi anaknya (istri sampeyan), bicarakan baik2, cari waktu yg enak, caranya buat suasana kondusif dulu, Mengalah bukan berarti kalah kok Cak…
Kemudian, utk bisa tetap berkomunikasi sama ortu ndak harus tatap muka juga kan?? telepon bisa, bilang sama ortu sampeyan, sementara waktu ndak bisa ke Surabaya, krn bla…bla…bla… (jgn bilang krn dilarang sama istri & mertua, urusan bisa tambah runyam)
Dan yg paling penting Berdoa…berdoa…berdoa…

ada Firman Tuhan berkata “Kasihilah istrimu dengan segenap jiwamu” lalu ada juga Firman yg berkata “Kasih itu Panjang sabar

Sabarrr…sabarrrrr…sabarrrrrrrrrrrrrr…

Tuhan Memberkati…

@ bruce

Adalah baik untuk berusaha maksimal untuk memiliki rumah bagi anda sekeluarga (anda, istri dan anak), mungkin tidak perlu besar dan mewah, tetapi cukup yang sederhana, tetapi rumah bagi keluarga anda, dimana anda adalah kepala rumah tangganya.

menurut saya sama saja bro ,saya tidak tinggal di PMI , saya tinggal di ruko paman istri saya saya( sebut saja Pondok Paman Indah) baik saya tinggal di PPI malang atau saya usaha beli rumah sendiri sama saja menurut saya, karena masih dalam 1 kota .

kecuali jika saya beli rumah sendiri di surabaya, berusaha & berdomisili di surabaya, mungkin akan berbeda kasusnya. karena sudah benar2 terpisah agak jauh dari mertua saya, kalo mertua saya mau tiap hari pulang pergi malang - surabaya utk menjenguk cucu akan saya persilahkan dengan senang hati :slight_smile:

secara tidak langsung memang benar adanya jika mertua saya sedikit banyak baik sadar maupun tidak , mempengaruhi istri saya & ikut campur dalam pengambilan keputusan rumah tangga kami.

Hindari rahasia, ataupun pembicaraan 'empat mata' antara anda dan ortu atau antara istri dan mertua, atau antara anda dan mertua, untuk apa? Tentu bukan semua hal harus dipaparkan secara terbuka, tetapi istri, sebagai belahan jiwa anda, harus tahu apapun yang anda ketahui. Seandainya anda membantu keluarga anda, istri andapun harus tahu (dilakukan dihadapan isri anda), jangan secara sembunyi sembunyi. Jika anda memberikan sesuatu kepada ortu anda, libatkanlah istri anda (saya justru meminta istri saya yang memberikan kepada ortu saya). Apakah sebagai pribadi kita tidak boleh punya privacy, tentu boleh, tetapi bukan berupa 'bisik bisik' menyangkut rumor keluarga sendiri. Jadi, cobalah libatkan istri anda, ajaklah bicara secara 'enam mata', dan silahkan lihat hasilnya.
agak susah penerapannya bro kalo segala sesuatu dibuka 100 % di depan istri saya. banyak teman & orangtua bilang , ada hal2 yg perlu diketahui oleh pasangan kita & ada juga hal2 yg menjadi rahasia . intinya , tidak semua hal perlu diketahui oleh istri / pasangan kita .

lagipula anda tidak tahu karakter istri saya. saya main rahasia demikian, karena saya yakin istri saya tidak akan setuju dgn hal yg saya lakukan. padahal saya melakukan hal ini untuk membantu & menyenangkan orangtua saya sendiri.
contoh : saya ke sby bertemu dgn ortu saya, misal saya ingin mentraktir orangtua saya makan di restoran , istri saya tidak bakal setuju, dia akan komentar, seharusnya orangtuamu yg traktir kamu, kog malah kamu yg traktir mereka ?
akan terjadi argumen antara kita berdua , dan ujung2nya ribut .

contoh lagi , saat ini orangtua saya terlibat hutang, saya sebagai anak ingin membantu agar orangtua saya terbebas dari hutang. apa jadinya kalo istri saya tahu ? saya yakin ia nggak bakalan setuju … pasti ia akan bilang, itu urusan mereka, kita sudah punya keluarga sendiri, jadi punya urusan & kewajiban masing2 , biar mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri… urusan kita sendiri …

jadi, saya lebih memilih untuk rahasia dalam hal ini , daripada terbuka , tapi bakal menimbulkan konflik dan keributan . jadi , lebih baik saya main rahasia , tapi damai & aman tentram, daripada saya buka & beberkan , tapi memicu konflik dan keributan dalam keluarga saya .

belum saya beberkan rahasia di atas saja istri saya sudah ribut & curiga kenapa saya berangkat tanpa ikut sertakan dirinya, apalagi jika ia tahu rahasia yg lain ? bakal ada perang dunia ke 4…

perlu diketahui , istri saya itu memliki banyak sisi negatif, mulai dari egois, curigaan, posesif, suka mengatur , suka berkata kasar , tidak punya empati terhadap perasaan orang lain, sensitif, pemarah , dll . sudah cukup kan kelebihannya ? :–)

Waaaah sulit…gmn y?
Tapi klao dibilangin/ dinasehati, dy nya mau dengar tak? atau malah marah2?

Shalom mas Bersatu,

Sejujurnya saya mungkin kurang layak berkomentar, karena saya sendiri belum menikah, sehingga rasanya kurang bisa merasakan persoalan mas.
namun dari cerita2 yg diutarakan, apakah hal2 ini sudah dilakukan :

  1. udah pernah nanya istri, secara terbuka, kira2 alasan2 dia bersikap seperti itu kepada orang tua anda. Apakah ada yang salah selama ini dengan hubungan mereka?
  2. apakah sudah pernah di coba, orang tua mas yang sesekali berkunjung ke pasuruan, saya gag tau apakah ini kurang baik secara kondisional (kesehatan org tua) atau kurang baik secara etika adat. Dengan demikian, orang tua mas juga bisa sekalian silaturahmi dengan keluarga mertua.

semoga membantu,
maaf kalo kurang berkenan, semoga persoalan mas segera selesai,
Tuhan Yesus memberkati

Waaah, anda boleh bersyukur bro, karena masih memiliki orang tua, dalam hal ini mertua, yan mau mengurus cucu dan masak untuk anda. Sungguh, walau terkesan terlalu jauh mencampuri, tetapi itu dilakukannya atas dasar kasih dan cinta pada keluarga anda.

Saya memiliki kakak ipar, anaknya sudah menikah dan punya putri berusia sekitar 1.5 tahun. Ponakan saya dan istrinya sama sama eksekutive yang sedang mengejar karier. Penghasilan yang besar menuntut mereka mengorbankan waktu yang nyaris tidak tanggung tanggung, berangkat pagi jam 8, pulang jam 22. Bagaimana dengan anak mereka? Walau punya rumah sendiri, mereka akhirnya tinggal di rumah kakak ipar saya, walau mereka menggunakan jasa baby sitter, tetap saja kakak ipar saya yang harus sibuk mengurus cucunya itu.
Masalahnya, keponakan saya dan istrinya, mendapat tugas untuk menempati post baru di luar negeri. Mereka panik, dan memohon mohon pada kakak ipar saya untuk ikut mereka, yang tentu saja tidak mungkin dituruti. Itulah, saya katakan, betapa masih sangat beruntungnya anda memiliki mertua yang sangat sayang pada cucunya, yang notabene adalah anak anda.

Jadi, jangan anggap negative perhatian mertua anda itu, tanggapi secara positive, bro. Karena sungguh, tidak banyak yang memperoleh perhatian dari mertua seperti anda.
Jika anda merasa kebebasan anda agak terganggu dangan kehadiran mertua anda, bisa katakan baik baik, misalkan setelah anda sekeluarga sarapan bersama ‘Sudahlah, mam, sekarang ngaso aja di rumah, nanti kalau cape dan sakit, siapa yang masakin kami lagi?’

Buatlah suasana yang akrab, mungkin mereka agak ‘cerewet’ atau ‘bawel’, yah maklumin aja orang tua, andapun nani akan menjadi kakek yang ‘usil’ dan ‘bawel’ dalam mengomentari apa yang terbaik untuk cucu anda. He he he.

–berambung-

-lanjutan-

agak susah penerapannya bro kalo segala sesuatu dibuka 100 % di depan istri saya. banyak teman & orangtua bilang , ada hal2 yg perlu diketahui oleh pasangan kita & ada juga hal2 yg menjadi rahasia . intinya , tidak semua hal perlu diketahui oleh istri / pasangan kita .

Betul, bro, tidak semua, tetapi bukan berarti semua tidak lho.

lagipula anda tidak tahu karakter istri saya. saya main rahasia demikian, karena saya yakin istri saya tidak akan setuju dgn hal yg saya lakukan. padahal saya melakukan hal ini untuk membantu & menyenangkan orangtua saya sendiri. contoh : saya ke sby bertemu dgn ortu saya, misal saya ingin mentraktir orangtua saya makan di restoran , istri saya tidak bakal setuju, dia akan komentar, seharusnya orangtuamu yg traktir kamu, kog malah kamu yg traktir mereka ? akan terjadi argumen antara kita berdua , dan ujung2nya ribut .

Istri anda pasti memiliki alasan, misalkan keuangan anda belum cukup. Maka anda bisa sampaikan secara baik baik, ‘Yang, aku ada rejeki lebih, nanti di Surabaya aku mau ajak papa dan mama makan di luar. Mumpung masih sempat. Kasihan mereka sudah lama tidak makan di luar. Kalau kita kan masih bisa kapan kapan, mereka kan sudah tua.’

contoh lagi , saat ini orangtua saya terlibat hutang, saya sebagai anak ingin membantu agar orangtua saya terbebas dari hutang. apa jadinya kalo istri saya tahu ? saya yakin ia nggak bakalan setuju .. pasti ia akan bilang, itu urusan mereka, kita sudah punya keluarga sendiri, jadi punya urusan & kewajiban masing2 , biar mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri.. urusan kita sendiri ..

Istri anda benar dalam beberapa hal, karena memang tanggung jawab utama anda adalah keluarga anda sendiri. Tetapi anda bisa katakan, bahwa andapun ingin membantu orang tua anda, walaupun mungkin tidak besar. Tetapi sekedar bakti kepada orang tua yang membesarkan anda. Karena anda tidak mau disebut anak yang lupa terhadap orang tua. Dan anda tidak mau kalau anak anda juga lupa akan budi kepada orang tuanya.

Bicarakan baik baik dengan istri bro, semuanya menjadi lebih baik jika terbuka, saling mengerti masalah pasangan, saling mengetahui kekhawatiran pasangannya.

Saya melihat anda memiliki karakter yang sangat berbudi baik, sangat menghormati dan mencintai orang tua anda bro, dalam hal inipun saya seperti anda. Tetapi, sebagai orang yang sudah menikah, perlu kita ketahui dan sadari, bahwa sekarang ini orang tua kita ada dua, kedua duanya membutuhkan cinta dan perhatian yang sama. Jangan bedakan perhatian dan kasih kita, kedua duanya ibarat anak kita, membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kita.

-bersambung-

-lanjutan-

jadi, saya lebih memilih untuk rahasia dalam hal ini , daripada terbuka , tapi bakal menimbulkan konflik dan keributan . jadi , lebih baik saya main rahasia , tapi damai & aman tentram, daripada saya buka & beberkan , tapi memicu konflik dan keributan dalam keluarga saya .

belum saya beberkan rahasia di atas saja istri saya sudah ribut & curiga kenapa saya berangkat tanpa ikut sertakan dirinya, apalagi jika ia tahu rahasia yg lain ? bakal ada perang dunia ke 4…

Bro, satu yang harus disadari, rahasia terhadap pasangan hidup adalah sia sia, pasti suatu saat akan terbuka. Dan kalau itu terjadi, langsung terjadi perang nuklir, ha ha ha ha.

Katakan sebelumnya kepada istri anda, bahwa walaupun hanya sedikit dan tidak diminta oleh ortu anda, anda ingin membantu mereka. Sebagai bakti seorang anak kepada orang tuanya, tegaskan itu. Katakan juga, bahwa membantu orang tua adalah kewajiban seorang anak walaupun tidak diminta, libatkan istri anda, biarkan ia juga ikut menentukan jumlah yang pantas, diambil dari post mana, agar sebagai istri tidak merasa ditinggalkan oleh suaminya.

perlu diketahui , istri saya itu memliki banyak sisi negatif, mulai dari egois, curigaan, posesif, suka mengatur , suka berkata kasar , tidak punya empati terhadap perasaan orang lain, sensitif, pemarah , dll . sudah cukup kan kelebihannya ? :--)

Walau anda katakan istri anda banyak sisi negativenya, saya berani katakan masih lebih banyak sisi positive nya, benar? Mengapa saya katakan begitu? Karena anda menikahinya secara sukarela kan? He he he.

Jadi pasti banyak kelebihan istri anda yang sekarang ini ‘tertutupi’ karena anda sedang jengkel, tetapi rehatlah sejenak, kembalikan kenangan manis dahulu, dan pertimbangkan juga bahwa apa yang menjadi konsen istri anda itu adalah demi anda dan anak anda juga.

Oiya, saya beum mendengar dari anda ksiah anda ke gereja nih bro. Apakah anda sekeluarga termasuk yang rajin ke gereja? Cobalah rajin ke gereja bro. Karena ke gereja bersama merupakan salah satu cara untuk tetap mengingatkan anda berdua, bahwa anda adalah pasangan yang dipersatukan oleh Tuhan di gereja.

Silahkan di reply jika masih ada yang ingin di share, saya coba bantu semampu saya.

Syalom

heemmm… Maap Cak, klo aku baca postingan sampeyan, ketoke sampeyan jg Atos (maap) Cobalah lebih memahami istri sampeyan, sekali lagi MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH, ikuti dulu apa maunya, dan lagi (buat aku) Peduli amat sama katanya orang, Lah wong mereka cm bisa ngomong , Kan lakone tetep sampeyan sama istri, apalagi dah ada anak, Kasihan anake sampeyan, wes toh… ngalah’o disik, wong wedok nek dirayu mesti luluh… (eling’o jamane sampeyan pacaran)
Sekali lagi Maap klo ndak berkenan, Aku wes tau ngalami, mangkane aku iso ngomong.
1 maneh, ojo sekali-kali ngomong “Cerai”… bahaya…!!!

Waaah, anda boleh bersyukur bro, karena masih memiliki orang tua, dalam hal ini mertua, yan mau mengurus cucu dan masak untuk anda. Sungguh, walau terkesan terlalu jauh mencampuri, tetapi itu dilakukannya atas dasar kasih dan cinta pada keluarga anda.

Saya memiliki kakak ipar, anaknya sudah menikah dan punya putri berusia sekitar 1.5 tahun. Ponakan saya dan istrinya sama sama eksekutive yang sedang mengejar karier. Penghasilan yang besar menuntut mereka mengorbankan waktu yang nyaris tidak tanggung tanggung, berangkat pagi jam 8, pulang jam 22. Bagaimana dengan anak mereka? Walau punya rumah sendiri, mereka akhirnya tinggal di rumah kakak ipar saya, walau mereka menggunakan jasa baby sitter, tetap saja kakak ipar saya yang harus sibuk mengurus cucunya itu.
Masalahnya, keponakan saya dan istrinya, mendapat tugas untuk menempati post baru di luar negeri. Mereka panik, dan memohon mohon pada kakak ipar saya untuk ikut mereka, yang tentu saja tidak mungkin dituruti. Itulah, saya katakan, betapa masih sangat beruntungnya anda memiliki mertua yang sangat sayang pada cucunya, yang notabene adalah anak anda.

Jadi, jangan anggap negative perhatian mertua anda itu, tanggapi secara positive, bro. Karena sungguh, tidak banyak yang memperoleh perhatian dari mertua seperti anda.
Jika anda merasa kebebasan anda agak terganggu dangan kehadiran mertua anda, bisa katakan baik baik, misalkan setelah anda sekeluarga sarapan bersama ‘Sudahlah, mam, sekarang ngaso aja di rumah, nanti kalau cape dan sakit, siapa yang masakin kami lagi?’

Buatlah suasana yang akrab, mungkin mereka agak ‘cerewet’ atau ‘bawel’, yah maklumin aja orang tua, andapun nani akan menjadi kakek yang ‘usil’ dan ‘bawel’ dalam mengomentari apa yang terbaik untuk cucu anda. He he he.


ya, memang beberapa orang ada yg bilang gitu sama saya ( adik kandung saya (cewek) yg mertuanya tidak mau mengurusi cucunya sama sekali , bahkan orangtua kandung saya juga bilang demikian ) " kamu cukup beruntung punya mertua yg mau urusi anakmu pada waktu kamu & istrimu bekerja. coba kalo kamu bayar baby sister, berapa biayanya per bulan ? dalam hal ini, saya cukup bersyukur mertua saya mau membantu luangkan waktu mengurus anak saya.

cuma ya itu tadi , di samping kelebihannya sbg mertua yg bersedia meluangkan waktu & tenaga utk menyediakan makan bagi cucu , anak & menantu , tapi negatifnya ya itu tadi , kadang suka campur tangan agak terlalu jauh …

bro bruce bilang sebagai menantu yg menumpang di PMI, tindakan saya kurang bijaksana. lalu tindakan apa yg menurut bro bijaksana ? saya sadar & tahu diri kalo saya menumpang di PPI, tapi itu bukan keinginan saya sepenuhnya. mereka yg menawari saya utk tinggal di sana, bukan saya yg meminta & memohon 2 utk tinggal di sana. jadi , dalam hal ini , bukan saya saja yg mendapat keuntungan dari tinggal di PPI ( tidak usah keluar uang utk beli / kontrak rumah ) , menurut saya mertua saya juga punya kepentingan , agar ia bisa dekat dengan anak & cucunya.
jadi perlu diketahui & digarisbawahi dalam hal ini , bukan saya saja yg diuntungkan tinggal di PPI, tapi mertua & istri saya juga diuntungkan ). jadi bukankah seharusnya , bukan saya saja yg perlu toleransi , tapi mertua & istri saya juga perlu toleransi mengingat mereka juga diuntungkan dalam hal ini ?

apakah saya harus menuruti semua keinginan istri & mertua saya hanya karena saya menumpang di PPI ? bukankah itu tergolong tindakan yg semena- mena mentang-mentang sudah meminjamkan rumah tinggal ? bukankah itu perbuatan membantu tapi tidak tulus ? bagaimana hukumnya secara Kristen , jika membantu tapi tidak setulus hati ? ( membantu , tapi minta imbalan / kompensasi )

bagaimana juga posisi saya sebagai kepala keluarga ? saya, istri saya, mertua saya = orang Kristen. bukankah di alkitab ada tertulis, kalo suami adalah kepala keluarga & imam di dalam keluarga ? "hai istri tunduklah kepada suamimu. hai suami , sayangilah istrimu "

Namun kadang istri dan mertua saya melihat konteks kepala keluarga hanya dari segi KEWAJIBAN , bukan dari segi HAK.

Bagaimana saya bisa menjadi kepala keluarga , kalo dalam pengambilan keputusan istri saya selalu membantah, tidak mau menurut & sering berbeda pendapat dengan saya ? bukankah istri saya tidak tidak tunduk/ patuh kepada saya sebagai suaminya ? bagaimana sebuah kapal bisa berjalan kalo ada 2 ( DUA ) nahkoda di dalamnya ?

kadang juga kesal, kalo istri & mertua saya mengambil keputusan, kadang tanpa minta pendapat saya sama sekali .
saya tidak dimintai pendapat samasekali , padahal saya kan kepala keluarga .

kalo bro bruce bertanya , apakah kita ke gereja, saya jawab ya, sebelum punya anak , hampir tiap minggu kita ke gereja . setelah punya anak, agak jarang ke gereja, karena anak saya super aktif, kadang di gereja tidak bisa duduk diam, jadi kadang kami memutuskan untuk tidak pergi ke gereja.

heemmm... Maap Cak, klo aku baca postingan sampeyan, ketoke sampeyan jg Atos (maap) Cobalah lebih memahami istri sampeyan, sekali lagi MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH, ikuti dulu apa maunya, dan lagi (buat aku) Peduli amat sama katanya orang, Lah wong mereka cm bisa ngomong , Kan lakone tetep sampeyan sama istri, apalagi dah ada anak, Kasihan anake sampeyan, wes toh... ngalah'o disik, wong wedok nek dirayu mesti luluh.. (eling'o jamane sampeyan pacaran) Sekali lagi Maap klo ndak berkenan, Aku wes tau ngalami, mangkane aku iso ngomong. 1 maneh, ojo sekali-kali ngomong "Cerai"... bahaya...!!!!

Ngalah sekali kali nggak apa2 , tapi kalo ngalah terus-terusan ? bisa besar kepala istri saya… menurut saya , dalam hubungan suami istri harus saling, saling memperhatikan, saling mengasihi, saling mengalah, saling memberi, dll…

kalo hanya 1 pihak saja yg mengalah , apa jadinya ? makan hati dong ?

Hemm… coba renungkan sebagian dari Firman ini Cak. tapi dibaca sampai selesai jangan sepotong-sepotong.
Semoga membantu…& Selamat Berjuang…
EFESUS
5:21. dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.
5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,
5:30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya.
5:31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
5:33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

@bersatu

bro bruce bilang sebagai menantu yg menumpang di PMI, tindakan saya kurang bijaksana. lalu tindakan apa yg menurut bro bijaksana ? saya sadar & tahu diri kalo saya menumpang di PPI, tapi itu bukan keinginan saya sepenuhnya. mereka yg menawari saya utk tinggal di sana, bukan saya yg meminta & memohon 2 utk tinggal di sana. jadi , dalam hal ini , bukan saya saja yg mendapat keuntungan dari tinggal di PPI ( tidak usah keluar uang utk beli / kontrak rumah ) , menurut saya mertua saya juga punya kepentingan , agar ia bisa dekat dengan anak & cucunya. jadi perlu diketahui & digarisbawahi dalam hal ini , bukan saya saja yg diuntungkan tinggal di PPI, tapi mertua & istri saya juga diuntungkan ). jadi bukankah seharusnya , bukan saya saja yg perlu toleransi , tapi mertua & istri saya juga perlu toleransi mengingat mereka juga diuntungkan dalam hal ini ?

Lho, kapan saya bilang anda kurang bijaksana? Walau tetap leih baik jika anda memiliki rumah pribadi, rumah yang dikelola oleh anda sekeluarga secara mandiri.

Dalam kasus siapa diuntungkan dan siapa menguntungkan, masing masing pihak tidak lah layak menyebut ‘pengorbanan’ nya adalah ‘menguntungkan’ pihak lain, bro.

Dalam hal persoalan anda, tetaplah tanggung jawab untuk berumah tangga secara mandiri berada pada pundak anda selaku kepala rumah tangga.

Pengaruh mertua dalam mengatur rumah tangga anda, secara otomatis akan berkurang jika anda pindah ke rumah pribadi, itu sudah hukum alam. Karena sebagai orang tua, yang merasa lebih pengalaman, lebih mengetahui apa yang terbaik untuk anak-anak, itu pasti akan dilakukannya ‘demi kebaikan’ anak-menantu-cucu nya. Jika tidak percaya, cobalah pindah ke Surabaya, ke rumah ortu anda, dan ortu anda akan memperlakukan istri anda seperti apa yang anda terima sekarang. Anda pribadi tidak merasakan, karena anda sudah ‘terbiasa’ dengan perlakuan ortu anda selama ini. Begitu juga istri anda, ia tidak merasa ada yang salah dengan perlakuan ortunya, karena selama ini ia terbiasa dengan perlakuan ortunya.

Lha dulu itu mau sama dia yg sekarang jadi istri itu gimana?apakah dipaksa atau ada alasan lain?
kok gak melihat ada kelebihannya tapi mau?
Cuma bantu instrospeksi,
GBU