Help ! Hubungan saya dgn istri saya RETAK :-(

Bukan semena mena bro, tetapi itu dilakukan dengan dasar ‘sayang’ kepada anak dan cucu nya. Perbuatan yang mungkin anda anggap salah, tetapi itu dilakukan secara tulus oleh mereka (mertua) anda.

bagaimana juga posisi saya sebagai kepala keluarga ? saya, istri saya, mertua saya = orang Kristen. bukankah di alkitab ada tertulis, kalo suami adalah kepala keluarga & imam di dalam keluarga ? "hai istri tunduklah kepada suamimu. hai suami , sayangilah istrimu "

Namun kadang istri dan mertua saya melihat konteks kepala keluarga hanya dari segi KEWAJIBAN , bukan dari segi HAK.

Selama anda tinggal di lingkungan rumah mertua atau paman anda, sejatinya, anda bukanlah kepala rumah tangga bro. Anda masuk dalam lingkungan keluarga yang sudah ada, menjadi bagian darinya. Tidak salah, tetapi memang seperti itu, seperti juga kalau istri anda masuk ke rumah ortu anda, ia bukanlah permaisuri dari seorang raja, tetapi adalah putri dari seorang pangeran. Kalau diibaratkan kondisi anda saat ini, anda adalah seorang pangeran yang menikah dengan seorang putri raja, jelas anda bukan raja di istana itu.

Bagaimana saya bisa menjadi kepala keluarga , kalo dalam pengambilan keputusan istri saya selalu membantah, tidak mau menurut & sering berbeda pendapat dengan saya ? bukankah istri saya tidak tidak tunduk/ patuh kepada saya sebagai suaminya ? bagaimana sebuah kapal bisa berjalan kalo ada 2 ( DUA ) nahkoda di dalamnya ?

kadang juga kesal, kalo istri & mertua saya mengambil keputusan, kadang tanpa minta pendapat saya sama sekali .
saya tidak dimintai pendapat samasekali , padahal saya kan kepala keluarga .

Coba baca analogi yang saya erikan di atas, bro.
Kalau mengenai keputusan yang tidak terlalu penting, abaikan saja, tidak perlu diambil hati, bro. Bukan segalanya harus kita yang memutuskan, kelak hal hal seperti ini justru akan memusingkan kita jika semua tergantung kita, percayalah.

kalo bro bruce bertanya , apakah kita ke gereja, saya jawab ya, sebelum punya anak , hampir tiap minggu kita ke gereja . setelah punya anak, agak jarang ke gereja, karena anak saya super aktif, kadang di gereja tidak bisa duduk diam, jadi kadang kami memutuskan untuk tidak pergi ke gereja.

Coba kembali rutinkan ke gereja, titipkan anak anda kepada mertua anda jika memungkinkan, atau ajak ke gereja dan ikutkan ke Sekolah Minggu jika sudah memungkinkan. Karena ke gereja merupakan hiburan bagi bathin kita, mendengarkan firman Tuhan, menyanyikan lagu pujian. Itu yang kita butuhkan sebagai sarana istirahat bagi jiwa kita.

Syalom

SARAN SAYA UNTUK ANDA HANYA SATU KELUARLAH DARI RUMAH MERTUA, KARENA BERSATU DENGAN MERTUA YANG KELIHATANNYA DOMINAN ATAS ISTERI ANDA MEMBUAT KELUARGA ANDA, TERUTAMA ISTERI ANDA, TIDAK MENDAPATKAN KESEMPATAN UNTUK MANDIRI. SAYA HANYA MEMILIKI DUA ORANG ANAK PEREMPUAN, KEDUANYA TELAH MENIKAH DAN TINGGAL BERSAMA-SAMA DENGAN KAMI TETAPI KARENA KAMI SEBAGAI ORANGTUA TIDAK PERNAH IKUT CAMPUR DENGAN MASALAH INTERN MEREKA, MAKA KELUARGA KAMI AMAN2 SAJA; SEKALIPUN DEMIKIAN AKAN DATANG SATU WAKTU DIMANA MEREKA HARUS PISAH DARI KAMI UNTUK HIDUP MANDIRI.
INGATLAH BAHWA PERCERAIAN BUKANLAH SOLUSI UNTUK MENGATASI MASALAH DALAM RUMAHTANGGA MELAINKAN MERUPAKAN PELARIAN DARI MASALAH UNTUK MASUK KE DALAM MASALAH YANG BARU DAN APA YANG TELAH DIPERSATUKAN TUHAN JANGANLAH SAMPAI DICERAIKAN OLEH MANUSIA.

SARAN SAYA UNTUK ANDA HANYA SATU KELUARLAH DARI RUMAH MERTUA, KARENA BERSATU DENGAN MERTUA YANG KELIHATANNYA DOMINAN ATAS ISTERI ANDA MEMBUAT KELUARGA ANDA, TERUTAMA ISTERI ANDA, TIDAK MENDAPATKAN KESEMPATAN UNTUK MANDIRI. SAYA HANYA MEMILIKI DUA ORANG ANAK PEREMPUAN, KEDUANYA TELAH MENIKAH DAN TINGGAL BERSAMA-SAMA DENGAN KAMI TETAPI KARENA KAMI SEBAGAI ORANGTUA TIDAK PERNAH IKUT CAMPUR DENGAN MASALAH INTERN MEREKA, MAKA KELUARGA KAMI AMAN2 SAJA; SEKALIPUN DEMIKIAN AKAN DATANG SATU WAKTU DIMANA MEREKA HARUS PISAH DARI KAMI UNTUK HIDUP MANDIRI. INGATLAH BAHWA PERCERAIAN BUKANLAH SOLUSI UNTUK MENGATASI MASALAH DALAM RUMAHTANGGA MELAINKAN MERUPAKAN PELARIAN DARI MASALAH UNTUK MASUK KE DALAM MASALAH YANG BARU DAN APA YANG TELAH DIPERSATUKAN TUHAN JANGANLAH SAMPAI DICERAIKAN OLEH MANUSIA.

@ hanafi
keluar dari rumah mertua lalu beli rumah sendiri, tapi masih 1 kota ? sama saja bro, mertua saya akan mendatangi rumah keluarga kami lagi TIAP HARI dgn alasan menjaga cucu. kecuali kalo saya beli rumah di luar kota , itu baru benar-benar terpisah . tapi jika itu dilakukan , istri saya yg keberatan, alasannya karena tokonya ada di sini, kalo keluar kota maka ia harus mulai lagi usahanya dari nol. istri saya juga pernah bilang ingin punya rumah sendiri , tapi masih dalam kota . menurut saya sama saja kalo beli rumah sendiri tapi masih 1 kota dgn mertua saya. walaupun saya sudah beli rumah sendiri misalnya , masa kalo mertua saya mau datang tiap hari dgn alasan nengok cucu trus akan saya tolak ? masalahnya mertua saya sayang banget sama cucunya ini, mungkin karena cucu pertama dan masih kecil 15 bulan …

sekedar tukar pikiran, kalo menurut saya , jalan satu-satunya utk mendekatkan diri dgn ortu saya adalah dgn beli rumah dan usaha di dekat ortu saya . misala ortu saya di jkt, maka yg harus saya lakukan adalah beli rumah di jkt & berusaha di jkt. dengan demikian, barulah bisa benar2 keluar dari kunjungan mertua.

Bukan semena mena bro, tetapi itu dilakukan dengan dasar 'sayang' kepada anak dan cucu nya. Perbuatan yang mungkin anda anggap salah, tetapi itu dilakukan secara tulus oleh mereka (mertua) anda.
darimana anda tahu kalo itu tulus dilakukan oleh mertua saya ? kalo tulus, kenapa minta kompensasi ? tidak semena2 ? mereka menyuruh saya mau ketemu ortu saya berangkat naik bus kota , padahal punya mobil ? apakah itu bukan tindakan yg semena2 ? mentang merasa punya mobil , lantas mereka bisa sesuka hati menyuruh saya suami & menantunya naik bus kota ?? apakah itu yg anda katakan dengan dasar "sayang" ? coba kalo anda jadi saya (suami ) , lalu anda ingin bertemu dgn ortu anda , anda disuruh naik bus kota, apa anda tidak tersinggung dan merasa dilecehkan / diabaikan / diperlakukan semena2 ?

kompensasi diminta tapi tidak secara langsung , secara halus. misalnya , mengajak jalan keluar negeri . otomatis kalo ke luar negeri saya yg keluar uang banyak, karena saya tahu pasti saya akan keluar biaya paling tidak utk 3 orang ( saya, istri saya & anak saya ) , walaupun mertua saya bilangnya istri saya akan bayar sendiri . mulut mengatakan demikian , tapi hati mereka berkata lain (munafik ) . saya sudah tahu karena saya sudah 2 tahun kumpul dgn mereka . karena percuma saya menghemat tidak kontrak rumah, tapi keluar uang buat perjalanan ke luar negeri. hemat di 1 pos tapi boros di pos lainnya.

kompensasi lain lagi misalnya , mau beli mobil baru. tapi istri dan mertua saya sudah atur siasat di belakang saya… mau beli mobil baru, mereka yg pilih mobilnya, tapi saya diminta urunan minoritas atau mayoritas, bisa 50-50, bisa 70-30, bisa 60-40 . sekilas , kelihatan tidak ada yg salah dari permintaan mereka. tapi jika mau diteliti dgn jeli , beli mobil baru ini idenya siapa ? lalu, kalo mobil urunan, berarti masing2 pihak , saya, istri saya punya saham dalam mobil tsb. nggak masalah kalo saya & istri 1 suara . yg masalah adalah jika saya & istri beda pendapat dlm urusan mobil. kalo saya mau ke mana2 naik mobil tsb harus seijin istri saya, karena istri saya merasa punya saham dalam mobil tsb . belum lagi masalah parkirnya , mobil baru pasti repot dalam masalah parkir, asuransi , dll . kalo mobil second pasti nggak pusing dalam masalah parkir, asuransi , dll .

lalu menjurus ke pertanyaan pemeliharaan, siapa yg bayar STNK ? siapa yg ganti oli ? siapa yg ganti ban ? saya sudah tahu jawabannya : pasti mereka suruh saya. ( saya tidak keberatan bayar semuanya ,asalkan , mobil itu 100 % milik saya pribadi )

pertanyaan lainnya , status kepemilikan mobil baru urunan ini atas nama siapa ? anda mau nggak bro, anda tanam saham 50 % di mobil ,tapi atas nama istri anda/ mertua anda ? atau anda tanam saham 40 % (minoritas ) di mobil, tapi atas nama istri anda/ mertua anda ?

saya tidak mau . kenapa ? mendingan saya beli mobil bekas , dana 100 % dari kantong saya, tapi atas nama saya pribadi . kenapa saya menghendaki demikian ? karena selama ini yg terjadi , mobil milik mertua saya yg saya pakai itu banyak aturannya .

  1. kami tinggal di PPI , tapi harus ambil mobil di rumah mertua, setelah itu selesai pake harus kembalikan lagi ke rumah mertua, baru saya bisa pulang ke PPI .ribet. kalo mobil milik saya sendiri , suka2 saya mau parkir di mana …

  2. mereka sudah pernah semena2 terhadap saya mentang merasa punya mobil sampai saya disuruh naik bus kota, jadi saya kapok kalo beli mobil tapi ada hak kepemilikan mereka di dalamnya … karena saya yakin saya tidak bakal bebas menggunakan mobil itu.

  3. saya tidak suka sistem gado2 , campur sari yg gak jelas walaupun dalam intern keluarga , kalo mobil itu atas nama saya pribadi, saya bebas kalo mau ke ortu saya naik mobil tsb , saya tidak perlu naik bus kota kalo mau bertemu dgn ortu saya. tidak ada yg berhak melarang saya naik mobil pribadi saya sendiri ( saya melakukan hal ini karena saya trauma dgn alasan no 2 )

  4. merupakan kebanggaan tersendiri kalo saya bisa punya mobil sendiri walaupun bekas. jadi paling tidak mereka tidak bisa semena2 lagi terhadap saya. paling tidak saya ada properti yg bisa saya banggakan ( mobil pribadi ) , walaupun rumah pribadi belum punya.

  5. mobil bekas bisa saya jual lagi ( dibisniskan jual beli mobil bekas ) , kalo mobil baru mana bisa dperjualbelikan ?

Tidak, saya tidak bisa menilai mertua anda dari tulisan yang anda post kan itu bro. Begitu juga saya tidak menemukan dimana kesalahan mertua anda, yang rela memberikan tempat tinggal untuk anda dan keluarga, memasakan makanan untuk anda sekeluarga, dan menjaga anak anda saat anda bekerja. Tidak, saya tidak bisa menemukan hal yang buruk di situ, apalagi ditinjau dari kaca mata mertua anda.

Mengenai pergi ke luar negeri, klau saya baca tulisan anda, yang anda keluarkan adalah biaya untuk anda sekluarga, bukan termasuk mertua anda kan? Darimana anda bisa katakan mertua anda meminta itu sebagai kompensasi?

Kompensasi, itupun jika dianggap sebagai kompensasi, adalah tetap dekat dengan anak dan cucunya. Suatu hal yang wajar, dan pasti andapun akan merasakannya kelak saat anak anda sudah menikah dan meninggalkan anda.

Dugaan saya, istri anda adalah anak tunggal (paling tidak putri tunggal), betulkah dugaan saya ini? Jika betul, itu lebih memperkuat lagi perasaan tidak mau jauh dari anak tunggalnya itu. Jika bukan anak tunggal, tentulah istri anda sangat dekat dengan orang tuanya, sehingga tetap dilayani hingga sekarang setelah berumah tangga sekalipun.

Cobalah anda sedikit bersabar bro. Kalau anda berpikir dengan tenang, maka anda akan bisa melihat niat baik mertua anda, bukan hanya yang buruk buruk saja yang anda lihat.

Syalom

bagaimana dgn urusan mobil ? komentar anda bro bruce ?

Dugaan saya, istri anda adalah anak tunggal (paling tidak putri tunggal), betulkah dugaan saya ini? Jika betul, itu lebih memperkuat lagi perasaan tidak mau jauh dari anak tunggalnya itu. Jika bukan anak tunggal, tentulah istri anda sangat dekat dengan orang tuanya, sehingga tetap dilayani hingga sekarang setelah berumah tangga sekalipun.

istri saya anak pertama , istri saya punya adik laki anak kedua . jadi istri saya bukan anak tunggal .

Mengenai pergi ke luar negeri, klau saya baca tulisan anda, yang anda keluarkan adalah biaya untuk anda sekluarga, bukan termasuk mertua anda kan? Darimana anda bisa katakan mertua anda meminta itu sebagai kompensasi?

memang tidak , biaya yg saya keluarkan adalah untuk saya sekeluarga . tapi saya merasa itu suatu pemborosan. masa baru tahun pertama saya buka toko , baru merintis hasil kerja selama 1 tahun sudah mau dihamburkan ke luar negeri ?

Bro Bersatu :Hemm saya gak ngerti mo bilang apa lagi, sepertinya anda sendiri sdh men-judge sebelum anda mencobanya. Tapi apapun itu saya tau anda pasti akan melakukan yg terbaik buat keluarga anda.

bagaimana dgn urusan mobil ? komentar anda bro bruce ?

Mobil yang tidak diberi pinjaman? Coba check ulang bro, apakah tidak dipinjami itu mobilnya, atau anda diminta untuk mengajak istri ke Surabaya.

istri saya anak pertama , istri saya punya adik laki anak kedua . jadi istri saya bukan anak tunggal .

Betul ya, kalau begitu putri tunggal.

memang tidak , biaya yg saya keluarkan adalah untuk saya sekeluarga . tapi saya merasa itu suatu pemborosan. masa baru tahun pertama saya buka toko , baru merintis hasil kerja selama 1 tahun sudah mau dihamburkan ke luar negeri ?

Kalau begitu tidak bia anda katakan bahwa itu adala kompensasi dong, bro. Dan kalau anda menolak secara halus, saya yakin tidak akan ada pemaksaan dari mertua anda. Terlebih lagi kalau alasan anda sangat masuk akal.

Jadi intinya bro, coba selalu berpikir positive. Jangan berprasangka dulu. Toleransi harus sangat besar, mengingat anda hidup dalam lingkungan mertua anda. Oiya, masalah akan bertambah lagi jika adik ipar anda sudah menikah pula. Jadi, berlatih untuk bersikap toleran dan sabar, serta selalu positive thingking tidak ada ruginya.

Syalom

bagaimana dgn urusan mobil ? komentar anda bro bruce ? Mobil yang tidak diberi pinjaman? Coba check ulang bro, apakah tidak dipinjami itu mobilnya, atau anda diminta untuk mengajak istri ke Surabaya.

masalahnya seperti yg saya tulis di bawah ini bro…
kalo masalah yg bro bruce sebutkan di atas sudah saya bahas pada hal 1 topik ini , mohon dicheck. thx …

kompensasi lain lagi misalnya , mertua saya mengisyaratkan saya utk beli mobil sendiri . saya tidak keberatan kalo saya yg beli 100 % & saya yg pilih mobilnya jenis , merk & tahunnya. masalahnya mertua & istri saya yg cenderung mau beli mobil baru, tapi saya diminta urunan utk beli mobil baru tsb bisa 50-50, bisa 70-30, bisa 60-40 .
sekilas , kelihatan tidak ada yg salah dari permintaan mereka. tapi jika mau diteliti dgn jeli , beli mobil baru ini idenya siapa ? lalu, kalo mobil urunan, berarti masing2 pihak , saya & istri saya punya saham dalam mobil tsb. kalo istri saya punya saham , maka bisa dipastikan adik ipar saya akan ikut campur lagi dlm urusan mobil ini, padahal saya tidak suka kalo dia ikut campur dalam urusan mobil yg akan kami beli ini ( masalah parkir mobil, masalah ganti oli, masalah cuci mobil, iisi air radiator , masalah ganti ban , dll ) belum lagi masalah kalo saya mau ke mana2 naik mobil tsb harus seijin istri, karena jika seandainya mobil jadi dibeli dgn sistem urunan tsb istri saya merasa punya saham dalam mobil tsb . belum lagi masalah parkirnya , mobil baru pasti repot dalam masalah parkir, asuransi , dll . kalo mobil second pasti nggak pusing dalam masalah parkir, asuransi , dll .

lalu menjurus ke pertanyaan pemeliharaan, siapa yg bayar STNK ? siapa yg ganti oli ? siapa yg ganti ban ? saya sudah tahu jawabannya : pasti mereka suruh saya. ( saya tidak keberatan bayar semuanya ,asalkan , mobil itu 100 % milik saya pribadi )

pertanyaan lainnya , status kepemilikan mobil baru urunan ini atas nama siapa ? anda mau nggak bro, anda tanam saham 50 % di mobil ,tapi atas nama istri anda/ mertua anda ? atau anda tanam saham 40 % (minoritas ) di mobil, tapi atas nama istri anda/ mertua anda ?

saya tidak mau . kenapa ? mendingan saya beli mobil bekas , dana 100 % dari kantong saya, tapi atas nama saya pribadi . kenapa saya menghendaki demikian ? karena selama ini yg terjadi , mobil milik mertua saya yg saya pakai itu banyak aturannya .

  1. kami tinggal di PPI , tapi harus ambil mobil di rumah mertua, setelah itu selesai pake harus kembalikan lagi ke rumah mertua, baru saya bisa pulang ke PPI .ribet. kalo mobil milik saya sendiri , suka2 saya mau parkir di mana …

  2. mereka sudah pernah semena2 terhadap saya mentang merasa punya mobil sampai saya disuruh naik bus kota, jadi saya kapok kalo beli mobil tapi ada hak kepemilikan mereka di dalamnya … karena saya yakin saya tidak bakal bebas menggunakan mobil itu.

  3. saya tidak suka sistem gado2 , campur sari yg gak jelas walaupun dalam intern keluarga , kalo mobil itu atas nama saya pribadi, saya bebas kalo mau ke ortu saya naik mobil tsb , saya tidak perlu naik bus kota kalo mau bertemu dgn ortu saya. tidak ada yg berhak melarang saya naik mobil pribadi saya sendiri ( saya melakukan hal ini karena saya trauma dgn alasan no 2 )

  4. merupakan kebanggaan tersendiri kalo saya bisa punya mobil sendiri walaupun bekas. jadi paling tidak mereka tidak bisa semena2 lagi terhadap saya. paling tidak saya ada properti yg bisa saya banggakan ( mobil pribadi ) , walaupun rumah pribadi belum punya.

  5. mobil bekas bisa saya jual lagi ( dibisniskan jual beli mobil bekas ) , kalo mobil baru mana bisa dperjualbelikan ?

jadi, kalo menurut teman2, baiknya saya beli mobil baru dgn sistem urunan ( saya & istri saya ) tapi adik ipar ikut campur, atau saya beli mobil sendiri ( bekas ) tapi adik ipar saya tidak ikut campur sama sekali ?

NB : dalam hal ini, baik beli mobil baru atau bekas , dana yg saya keluarkan relatif sama. karena proporsinya mobil baru 50;50 dgn istri saya , tapi kalo mobil bekas saya 100 % .

Ya sudah bro, beli lagi aja mobil bekas untuk dipakai sendiri dengan bebas … uang anda ini kan …

Atau bisa juga mobil baru di jual saja, dan uangnya dibagi2 sesuai dengan bagian masing “pemegang saham”

Kalau ada uang ya sudah mobil baru tetap di mertua, anda beli mobil sendiri …

@bersatu

Saya lebih condong menyarankan anda untuk membeli sendiri mobil yang akan anda pergunakan, baru atau second, terserah anda. Tetapi anda yang sepenuhnya membeli dan mengurus mobil tersebut.

Syalom

Ya sudah bro, beli lagi aja mobil bekas untuk dipakai sendiri dengan bebas ... uang anda ini kan ..

Atau bisa juga mobil baru di jual saja, dan uangnya dibagi2 sesuai dengan bagian masing “pemegang saham”

Kalau ada uang ya sudah mobil baru tetap di mertua, anda beli mobil sendiri …


@ fery

maksud anda saya beli mobil baru urunan dgn istri saya, setelah itu saya beli lagi mobil second tapi milik saya sendiri ?

tambah besar dong dana yg harus saya alokasikan , tambah membengkak uang yg harus dikeluarkan ? dana terbatas bro…

kalo anda sendiri gimana dlm hal urusan mobil dalam rumah tangga ? anda beli mobil baru atau second ?

Kan kalao ada uang baru tambah mobil bro :slight_smile:

Kalo keuangan ngepas ya lebih baik mobil baru yang sudah ada di jual saja, terus bro beli sendiri mobil second tanpa urunan.

Kebetulan saya semenjak pacaran dan nikah tidak pernah tinggal dengan orang tua atau mertua, jadi seluruh urusan dan kebutuhan rumah tangga ya cukup keputusan saya dan istri saya.

Walaupun kurang berhubungan dengan topik saya jawab juga deh, saya awalnya beli mobil second, setelah hampir 5 tahun pakai, saya ganti dengan mobil baru, sekali lagi hanya keputusan saya dan istri, jadi suka2 saya dan istri kalau mau pakai :slight_smile:

Gak usah beli mobil yg urunan. Beli aja satu mobil bekas 100% milik Anda sendiri. Aku yakin kok Anda gak bakal menelantarkan istri meski itu mobilnya 100% milik Anda (gak kayak mertua Anda).

Baru deh kapan" kalo ada rejeki lagi beli mobil baru. Kan Anda sudah tau betapa mertua Anda itu menyebalkan nian, jadi sebaiknya Anda jgn mau beli mobil urunan. Drama lama akan terulang kembali :char12:

Mungkin mertua dan istri bro bersatu mempertimbangkan masalah status sosial. Kalau beli mobil bekas kurang bergengsi. Namun kalau bro berusaha menjelaskan dengan kepala dingin bahwa bro ingin beli mobil bekas supaya bisa bebas mengunjungi orang tua, karena mobil ini milik pribadi bro sendiri.

Sementara belum beli mobil, kalau memang kangen orang tua, naik bis kota juga tidak masalah bro. Lebih santai bisa ketemu orang tua secara pribadi. Dari pada naik mobil mertua kelihatannya lebih mudah tapi hati tertekan.

Lebih baik naik bus yang kelihatan secara fisik lebih berat tapi hati lebih ringan.

@bersatu

Saya lebih condong menyarankan anda untuk membeli sendiri mobil yang akan anda pergunakan, baru atau second, terserah anda. Tetapi anda yang sepenuhnya membeli dan mengurus mobil tersebut.

Syalom

@ bruce

intinya saya yg sepenuhnya membeli & mengurus mobil tersebut , begitu kan ? kalo kondisinya demikian seharusnya kendali memang ada di tangan saya, tapi kenyataannnya tidak semudah itu …

btw boleh tahu bro bruce beli mobil sendiri atau urunan dengan istri ?

lalu mobilnya atas nama siapa ?

Gak usah beli mobil yg urunan. Beli aja satu mobil bekas 100% milik Anda sendiri. Aku yakin kok Anda gak bakal menelantarkan istri meski itu mobilnya 100% milik Anda (gak kayak mertua Anda).

Baru deh kapan" kalo ada rejeki lagi beli mobil baru. Kan Anda sudah tau betapa mertua Anda itu menyebalkan nian, jadi sebaiknya Anda jgn mau beli mobil urunan. Drama lama akan terulang kembali

@ fairy & bruce & jackson

anda yakin saya tidak akan menelantarkan istri saya mesti mobil itu milik saya 100 % ?
kadang terbersit pikiran jelek bro, bagaimana jika saya punya mobil sendiri walau bekas , lalu saya balas perlakuan mereka yg semena2 itu ( saya ngambek pergi , trus saya suruh mereka naik bis ?
biar score nya 1-1 ? jadi mereka tahu gimana rasanya jika ditelantarkan & diperlakukan
semena2 karena tidak punya mobil ? kesal & jengkel sekali rasanya. lha wong saya mau bertemu dgn ortu saya , bukan bertemu dgn selingkuhan … kog diperlakukan seperti itu …
bagaimana perasaan anda jika anda diperlakukan seperti itu ?

begini bro, sebenarnya istri saya yg menyuruh saya naik bus bertemu dgn ortu saya, tapiii… hal ini sepengetahuan mertua saya. padahal mertua saya yg punya mobil . bagi saya , walaupun mertua saya diam, tapi itu sama artinya dengan membenarkan tindakan istri saya . di situ saya kecewa & sakit hati, trauma pake milik mereka . kalo anda jadi saya, apa anda tidak kecewa dgn tindakan istri & mertua anda ? istri & mertua anda sekongkol utk "ngerjai " anda , suami & menantunya sendiri, tega membiarkan suaminya naik bus utk bertemu dgn orangtuanya …

apakah menurut anda2 tindakan semena2 tersebut dapat dibenarkan ?

cuman kalo saya pikir lagi, bagaimana seandainya , ini baru seandainya ya ,
bagaimana jika saya memutuskan urunan beli mobil baru ( 50:50 ) , tapi mobil tsb atas nama saya. dan istri saya setuju kalo saya pake mobil tsb utk bertemu dgn ortu saya ?

sekedar info : baik beli mobil baru atau bekas, dalam waktu dekat ( 6 bulan lagi ) istri saya mau menyekolahkan anak saya yg baru berusia 15 bulan, (nanti 21 bulan ) ke sekolah semacam (play group) , menurut saya tidak perlu, berlebihan , tapi menurut istri dan mertua saya perlu . utk antar jemput anak saya ke sekolah, istri saya berencana pake mobil yg nanti akan kami beli ( baik baru atau bekas ) . dan , jam antar sekolahnya itu sekitar jam 9 , jam di mana saya mau berangkat toko , pulang playgroup sekitar jam 10.
kesimpulan apa yg didapat dari informasi di atas ?

  1. seandainya saya mau beli mobil bekas yg 100 % milik saya sendiripun, bukan saya yg menikmati tiap hari , tapi istri & anak saya. soalnya kalo saya yg pake mobil ke tempat kerja, istri & anak saya harus naik apa ? sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi kalo istri & mertua saya tidak punya keinginan yg aneh2 & berlebihan seperti ini. masa anak 2 tahun sudah disekolahkan ? menurut saya , anak masuk sekolah (TK) pada usia 5 tahun . bukan 2 tahun .

  2. seandainya saya yg mengantarkan anak saya ke sekolah , pulang pergi, saya bisa menikmati mobil tsb ,tapi otomatis kerjaan saya di toko terkesan tidak disiplin & terbengkalai ( harusnya datang jam 9, karena antar anak jadi sampai jam 9,15. nggak lama jam 10 saya mesti keluar toko lagi jemput anak saya , antar ke rumah, sampai toko bisa jam 10.30 ) .

agak menyimpang dikit , harusnya dana beli rumah , mobil, itu tidak harus dari pihak pria kan ? kalo dari sudut pandang saya ,pihak wanita kan juga ikut menikmati , apalagi jika wanitanya bekerja , jadi sudah seharusnya berpartisipasi . namun adat timur kita sudah salah kaprah ,seolah2 semua sudah menjadi tanggung jawab & kewajiban pihak pria .
bagaimana pendapat anda2 bro ?

cuma saya khawatir , istri saya itu kadang moody, kalo mood lagi baik , ia akan setuju, tapi kalo lagi kumat bisa2 ia akan melanggar apa yg sudah disepakati, seharusnya antara suami istri lisan saja sudah cukup, tapi kalo menghadapi istri saya yg gampang berubah2 ( tidak bisa dipegang omongannya ) , saya perlu hitam di atas putih .

bagaimana pendapat anda2 bro ?

Kalau pendapat saya, selama kita memang mampu membeli tanpa bantuan pihak istri, sebaiknya kita beli saja tidak apa2. Jadi lebih bebas dan tidak merasa di batasi karena mereka merasa ikut membeli.

Masalah harus naik bus ke ortu menurut saya akan lebih bebas karena mereka tidak ikut dan bro bersatu bisa lebih leluasa bersama dengan ortu tanpa dibatasi waktu.

Adat timur memang menghendaki pihak pria yang memberi nafkah, namun dengan adanya emansipasi dan sulitnya cari uang, maka banyak wanita juga bekerja mencari nafkah bersama2 suami. Jadi adat sudah dikalahkan dengan situasi.