Hidup mati untuk Kristus

Hidup mati untuk Kristus (Filipi 1:20-26)

Ada suatu pribahasa yang berbunyi:

“Bagaikan makan buah simalakama; dimakan mati ibunya, tak dimakan mati bapaknya”.

Ini mengambarkan seseorang yang sedang berada di persimpangan jalan, sedangkan kedua pilihan / kemungkinan yang akan terjadi, dua-duanya jelek dan merupakan bencana yang besar.
Tetapi, hal seperti ini tidak mungkin dialami oleh orang Kristen yang sejati.

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggilsesuai dengan rencana Allah.

Dari ayat diatas bahwa Tuhan memberikan jaminan bahwa Tuhan hanya akan memberikan hal-hal yang membawa kebaikan kepada kita, sehingga jelas bahwa Tuhan tidak mungkin meletakkan kita pada suatu keadaan di mana hanya ada dua pilihan kemungkinan dua-duanya jelek.

Tetapi, kita bisa ada dalam suatu situasi dimana semua pilihan kelihatannya jelek?

Karena itu saya ingin masukan dari teman-teman atau pendapat yang anda pelajari dari kata-kata Paulus tsb?

Apa yg menurut kita jelek, bukan berarti bagi Tuhan juga jelek
karena Tuhan tdk pernah salah

baik yang dimaksud adalah : indah pada waktunya
contoh: abraham, musa, ayu, yusuf, Yesus, dan hampir semua anak anak Tuhan dalam Alkitab,
awalnya sakit tapi berakhir dengan happy ending, :smiley:
salam

Bagus atau jelek, harus disesuaikan dengan ukuran Kristus.

Kita pernah mendengar Yesus bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Apakah salib dan menyangkal diri itu enak dan kelihatannya baik bagi kita?

yg terpenting jangan takut rugi (mati) krn klo takut rugi/ mati malah itu yg datangi kita

Roma 8:28 KITA TAHU SEKARANG, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Karena kalo SEKARANG SUDAH TAHU, masih perlukah bertanya-tanya lagi?

kita manusia hidup dalam jebakan2 subyeksi kita, dimana yang benar dan mana yang benar… orang yang diatas, orang yang terjebak dalam kebenaran (saya sebutkan ketentuan) yang telah dipatok ibunya dan ketentuan yang telah dipatok bapaknya…

saya masukkan dalam applikasi, contoh, si ari memiliki kekasih namanya Mia. Mia ini sangat disuka dan disayang oleh Bapak Ari, namun sangat dibenci oleh ibu nya Ari, dan tentunya Mia ini sangat disayang oleh Ari.
Alkisah Ari mengajukan ingin hatinya untuk menikah Mia, rembuk punya rembuk, akhirnya ibu Ari, menolak dengan keras, pabila Ari menikahi dia, ibunya akan bunuh diri, atau paling dikit ibunya akan pergi dari rumah. Demikian sebaliknya Bapak ari berkata, kalau tidak jadi, Bapaknya akan sangat menderita pabila Ari tidak jadi menikah dengan Mia, umpamakan Bapak ari telah menderita penyakit jantung…

nah, sekarang jadilah Ari berada dipersimpangan tersebut, buah simalakama bila dimakan ibu mati sementara sebaliknya bapak yang mati…

Si ari bingung bukan, sementara ia mengetahui, Allah turut memberikan yang baik bagi dirinya…

what? is that true? tapi hal yang terjadi dihadapanku, bagaikan kiamat sebelum kiamat?

ini yang saya sebut, manusia terjebak dalam subyeksi subyeksi yang ia percayai sebagai kebenaran dan hal yang benar…

sesuatu hal yang subyeksi adalah hal yang bersifat pribadi, tugasnya adalah bagaimana memperbaiki suyeksi ke dua orang tuanya…

mungkin ia perlu melakukan pendekatan, agar mengubah subyeksi ke dua orang tua ari… mungkin perlu kesabaran…

dan itu sama sekali tidak ada dengan pekerjaan Tuhan mendatangkan yang baik…

pekerjaan Tuhan yang mendatangkan yang baik, bahwa Ia masih tetap setia menerbitkan matahari dipagi hari… walaupun dunia masih berkutat dengan keinginan sendiri…

itu makanya Yesus berkta:

Yoh 14:6
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
(cut) sy cut agar tidak melebar kemana2…

bahwa Yesuslah standard yang sebenarnya dari standard kebenaran yang telah ada… ikutlah standard Yesus…

salam…

mas tamaz,
as far as i would agree with most of your points…

but, i must add bahwa yg BOLD itu…
tetaplah TIDAK BISA LEPAS dari SUBJEKTIFITAS MANUSIA yang MENG-ARTI-kan dan meng-IMPLEMENTASI-kan-nya…

misalnya:
Standard Yesus versi PA_UL udah keliatan banget BERBEDA dgn Standard Yesus versi TAMAZ…
padahal keduanya kan MERASA sudah PALING PASRAH untuk mengikuti Standar itu apa adanya kan?

see…
“MERASA” itu adalah SUBJEKTIFITAS-nya kan?

demikian imho masbro…