HIDUP NYAMAN

Matius 11:29 “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Setiap orang yang hidup di dunia biasanya mencari hidup nyaman. Hal itu adalah sesuatu yang wajar dan diusahakan oleh semua orang agar dapat memperoleh kehidupan yang nyaman, aman dan tentram di dunia. Berbagai usaha dilakukan mulai dengan cara yang wajar atau biasa, sampai dengan usaha yang tidak biasa bahkan luar biasa. Kekayaan, kemapanan, kenyamanan dan keamanan di dalam segala sesuatunya selalu diusahakan bahkan dikejar dengan segala cara.
Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa semua itu sia-sia bahkan di dalam mengiring Kristus dapat dikatakan "Jangan membuat hidupmu nyaman!". Sesuatu yang justru bertentangan dengan prinsip hidup di dunia.

Karena keamanan, kemapanan dan kenyamanan seringkali membuat manusia merasa puas dan tidak mau mengindahkan Allah. Justru melalui ketidaknyamanan itulah Allah ingin agar manusia mencari pertolongan dan belas kasihan Allah.
Bagi orang Kristen terlebih lagi ditegaskan bahwa hidup mengikut Kristus adalah untuk menderita dan memikul salib bersama Kristus, sehingga secara tidak langsung Tuhan memberikan pesan bahwa “Jangan membuat hidupmu nyaman! Tetapi menderitalah demi Kristus!”.
Banyak orang Kristen takut menderita, bahkan menghindari penderitaan dan mencari kenyaman hidup dengan segala cara. Dalam hal ini banyak orang Kristen hidup layaknya orang duniawi dan tidak hidup di dalam ketaatan akan Kristus. Tetapi Tuhan sering mengajarkan banyak hal yang bertentangan dengan prinsip hidup duniawi. Pola pikir kita harus berubah.
Kita harus menjadikan kesulitan dan penderitaan sebagai bagian hidup kita di dalam melayani Tuhan.
Karena setiap penderitaan yang kita alami, akan membawa kita kepada langkah iman, yang memimpin kita kepada ketaatan dan menghasilkan pengharapan akan kasih Kristus.
Penderitaan tidak selalu berupa masalah di dalam penghidupan seperti sakit penyakit, masalah keluarga, pekerjaan, dan sebagainya. Tetapi penderitaan di dalam melayani Tuhan itulah yang membawa kita kepada kedewasaan dan pertumbuhan kerohanian kita. Sebelum mengenal Kristus, mungkin kita telah hidup di dalam zona nyaman (comfort zone). Kita telah terbiasa dengan segala rutinitas hidup yang nyaman bagi kita. Tetapi setelah mengenal Kristus, kehidupan kita mulai berubah. Setiap hari kita harus menyangkal diri dan memikul salib.
Bagi beberapa orang, bangun pagi adalah sesuatu yang menyebalkan dan menyiksa. Dan mereka kadang terpaksa dilakukan karena harus bekerja, ke kantor, mengantar anak sekolah, dan lain sebagainya. Tetapi bagi sebagian orang lain, bangun pagi untuk berdoa justru adalah penderitaan yang menyenangkan dan dilakukan tanpa terpaksaan dan dilakukan dengan hati yang rela. Tidak semua orang mau melakukan ini. Menyediakan waktu satu atau dua jam untuk berlutut berdoa dan menyembah Dia sebelum melakukan aktifitas lain. Tidak semua orang mau dan rela menambahkan ‘penderitaan’ ini di dalam hidup. Kaki yang pegal-pegal dan kesemutan, waktu tidur yang berkurang, lelah dan dsb membuat sebagian orang enggan bersekutu dan berdoa di malam atau dini hari. Tetapi justru oleh karena pengorbanan dan penderitaan yang seperti inilah yang banyak mengubahkan hidup orang-orang mulai lingkup pribadi, keluarga, lingkungan, kota bahkan negara.
Demikian pula dengan penderitaan ketika kita bersaksi, mengabarkan Injil, mengajar, melayani mimbar, dan seterusnya. Mungkin secara fisik dan materi kita tidak terlalu ‘menderita’ tetapi hati kita seringkali ‘menderita’ karena mengabaikan rasa malas, malu, enggan, cemas dan perasaan lain yang menghalangi kita untuk melakukan firman Tuhan. Kadang kita menerima cemooh bahkan cercaan karena melayani Tuhan. Hati kita serasa diiris dan disunat dengan pisau yang tak kelihatan.
Paulus pun sering mengalami penderitaan baik siksaan secara fisik maupun mental ketika melayani Tuhan. Tetapi Paulus menjadikan itu sebagai bagian dari hidupnya yang tak terpisahkan sehingga Paulus selalu dapat mengucap syukur atas segala anugerah yang Tuhan berikan di dalam penderitaannya. Demikian pula dengan Abraham yang disuruh keluar oleh Tuhan dari zona nyamannya untuk pergi ke tempat yang Tuhan janjikan. Meski Abraham belum tahu tempat yang dituju dengan segala situasi dan kondisinya, tetapi Abraham percaya dan taat meski kondisinya saat itu telah lanjut umur dan dalam kondisi makmur. Bagi orang biasa mungkin berpikir bahwa hal itu sia-sia dan hanya mencari masalah dan mendatangkan penderitaan karena telah hidup nyaman sebelumnya. Tetapi rencana Tuhan lebih daripada hidup nyaman di dunia. Tuhan menghendaki kita terus bekerja dan berusaha mencapai setiap maksud dan tujuan yang dikehendaki Allah di dalam hidup kita.
Segala penderitaan yang kita alami adalah untuk kebaikan kita dan pertumbuhan iman kita agar kita dapat dimurnikan seperti emas selama kita hidup di dunia.