HUKUM TAURAT

HUKUM TAURAT

Saya ingin menguji pemahaman saya mengenai HUKUM TAURAT VS KASIH

menurut saya :

CAKUPAN BOBOT MORAL KASIH ADALAH LEBIH LUAS DAN LEBIH TINGGI DARIPADA HUKUM TAURAT KHUSUSNYA DEKALOG. :ashamed0002:

Umat PB tidak lagi hidup dibawah hukum taurat tapi dibawah Kasih. :happy0025:

diskusi yuk… siapa tau ada yg berpendapat lain… :smiley:

saya lagi belajar mengenai posisi hukum taurat dalam kehidupan umat PB… :angel:

Hukum Taurat itu salah satu bentuk kasih, tapi iya kita hidup tidak ikut Taurat lagi tapi scopenya lebih luas.

Pada hukum kasih tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Matius 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

berarti rennati setuju dgn saya ya? :cheesy:

pada hukum kasih tergantung SELURUH hukum taurat dan kitab para nabi, saya setuju… :afro:

tapi…

kalo dikatakan bhw penjabaran kasih HANYA SEBATAS poin2 dekalog, itu yg saya TIDAK SETUJU.
menurut saya, kasih JAUH LEBIH LUAS DAN TINGGI daripada sekedar hukum taurat termasuk dekalog…

dan MORAL KEHIDUPAN umat PB tidak lagi ada di level taurat termasuk dekalog yang lebih rendah, tapi di level kasih yang LEBIH LUAS DAN TINGGI BOBOT MORALNYA…

Ya bagian yang itu saya setuju, belum tau bagian yang lain dari pemikiran anda mengenai Taurat.

Salam… :smiley:

Berikutnya Rennati, implikasi dari pernyataan saya bhw cakupan kasih adalah LEBIH LUAS DAN TINGGI dari hukum taurat adalah, masih ada instruksi2 berkaitan dengan kasih yg tidak terdapat dalam hukum taurat.

Tapi tetap saja instruksi itu adalah hukum / perintah Allah.

Contohnya instruksi kasih yang tidak terdapat dalam Hukum Taurat itu apa mas? Supaya bisa dijadikan acuan nantinya.

Salam… :slight_smile:

Hukum Taurat tidak hanya 10 Perintah Allah saja. Hukum Taurat mencakup seluruh aturan dan nilai-nilai yang tertulis dalam kitab Musa. Kita tidak lagi diatur oleh hukum perintah dan larangan tersebut lagi, atau lebih tepat kita tidak pernah hidup dalam aturan hukum Taurat (sebab kita bukan pernah hidup dibawah hukum tersebut, karena kita orang dari bangsa lain).

Seperti yang diimani pengikut Kristus pada umumnya, bahwa Taurat itu adalah bayangan akan hukum Allah, gambaran akan kehendak-kehendak Allah yang dibalut dalam budaya dan tradisi suku bangsa Israel. 2 Korintus 3:14, “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya.”. Kitab Perjanjan Lama, kitab-kitab Musa (ayat 15) adalah hukum yang terselubung. Yesus datang untuk membuka selubung itu.

Hukum Kasih Karunia, adalah istilah saja. Sebab sejatinya tidak ada yang namanya hukum Kasih Karunia. Yang ada adalah kita tidak lagi dibawah ancaman hukum Taurat tetapi dibawah kasih karunia (Rom 6:14-15). Kasih karunia bukan hukum baru. Roma 10:13, menyebutkan “kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”. Lihat juga pernyataan Yesus dalam Matius 22:37-40. Kasih adalah wujud dari hukum Allah yang diselubungi oleh perintah-perintah manusia menurut adat Israel (disebut hukum Taurat). Hukum Allah bersifat universal, berlaku tanpa harus diimani, seperti hukum alam, demikian hukum rohani berlaku secara tetap. Anak yang mendurhakai orang tua, diseluruh dunia, dari bangsa manapun, dari jaman apapaun, akan menuai hidup yang pahit dan celaka. Ini adalah hukum Allah, dasarnya adalah kasihilah orang tuamu seperti dirimu sendiri dan hormatllah mereka seperti kepada Tuhan (Ef 5:22, 6:5, Kol 3:23).

lihat sambungan…

Jadi apa maksudnya hidup dibawah kasih karunia (tanpa kata hukum)? Bahwa kita dibenarkan bukan karena melakukan sebuah prosesi keagamaan, melainkan kerena iman (Gal 2:16) dan melalui iman itu kita menerima anugrah dan rahmat dari Allah didalam Yesus Kristus.

Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Mengapa harus ada kata “bukan hasil usahamu dan pekerjaanmu” dan disertai juga kata “jangan memegahkan diri”? Sebab banyak orang berangagapan dibenarkan kerena melakukan sesuatu sesuatu hukum Taurat, padahal tidak seorangpun dibenarakan Allah karena melakukan perintah-perintah dan larangan dalam hukum Taurat, sebab saat ia melanggar satu perkara saja, maka ia bersalah atas seluruhnya (Yak 2:10). Galatia 3:12, menyatakan bahwa “dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya.” Jadi kalau dulu mereka dapat dibenarkan kerena melakukan perintah-perintah agama, maka sekarang didalam Kristus, kita dibenarkan kerena iman bukan karena ritual agama. Tetapi bukan sembarang iman, sebab iman tanpa perbuatan iman adalah iman yang tidak berarti. Perbuatan iman itulah yang melahirkan buah-buah, karena Allah itu adalah kasih, maka buah pertobatan adalah perbuatan kasih dan mereka yang tinggal didalam Allah memiliki kasih Allah yang memancar keluar dalam perbuatan, sikap dan perkataan. Kasih inilah yang disebut kegenapan hukum Taurat. Maka tepatlah nubuat para nabi.

Yeremia 31:31-34
[i]"Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah Firman Tuhan, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah Firman Tuhan.

Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah Firman Tuhan: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah Firman Tuhan, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka."[/i]

Yehezkiel 36:25-28, babtisan air sebagai tanda (Luk 16:16) dimulainya perjanjian baru itu menyebutkan tentang hati yang baru dan tentang Roh Allah yang akan diam didalam kita, agar kita menuruti hukum-hukum Allah, bukan lagi hukum berupa perintah jasmani (hukum Taurat) tetapi hukum Allah yang telah disingkapkan. Kita menyebut dengan istilah hukum Kasih (didalamnya adalah penggenapan hukum Taurat). Dekalog adalah sebagian dari perintah Taurat, dan kita genapi dalam hidup kita bukan sebatas perintah jasmani, tetapi sampai dalam hati dan sampai mengalami perubahan hidup, dimana hidup kita adalah gambaran Firman Allah.

sebagai ilustrasi untuk menggambarkan hukum taurat dan kasih.

semua orang tahu hukum lalu lintas. ada beberapa yang melakukan tertib lalu lintas karena takut. karena mereka berada didalam hukum lalu lintas.

akan tetapi bagi orang2 kristen bukan lagi takut dibawah hukum lalu lintas, melainkan sesuatu yang lebih tinggi, yaitu kasih. dengan berlaku tertib dijalan maka kita mengasihi sesama, menghargai sesama sehingga tercipta suasana tertib dan aman.

Hukum Kasih itu lebih luas cakupannya dari Hukum Taurat.

Pd dasarnya Hukum Taurat itu mnerjemahkan kasih kpd Allah dan manusia dalam bentuk-bentuk jasmaniah.
Makanya disana diaturlah segala jenis upacara lahiriah.
Bahkan ‘membunuh’ dan ‘berzinah’ dan ‘mencuri’ juga didefinisikan scr lahiriah.
Misal, membunuh itu jika nyawa melayang, berzinah jika terjadi hubungan seks, dsb.

Di dalam Hukum Kasih (lebih pasnya disebut Hukum Kristus),
Mengasihi Allah dan manusia itu meluas sampai ke taraf ‘pikiran’ dan ‘motivasi’.

Jika dahulu Sabat adalah Sabtu yg harus diluangkan bersama Tuhan, maka skrg stiap hari kita bkesempatan ber-Sabat krn tubuh kita kini adalah Bait Allah.
Jika dahulu tidak mhormati 1 hari adalah dosa, maka skrg stiap panggilan yg kita abaikan utk bersekutu dg Tuhan adalah pelanggaran Sabat.

Jika dulu mbunuh itu mnusuk orang sampai mati, maka skrg membenci pun sudah mdudukkan kita di kursi terdakwa yg terancam hukuman setara pembunuhan dalam pengadilan Kristus.

Berzinah?
Dg timbul syahwat pd perempuan yg bukan isteri kita, maka kita sudah berzinah (tidak perlu sampai hubungan seks).
Jika sudah dmikian, bagaimana mungkin sso bisa bpoligami?

Hukum Kristus masuk sampai taraf motivasi dan pikiran.
Jauh lebih berat daripada Taurat dan mbrikan gambaran pd kita bhw tingkat kekudusan yg Tuhan inginkan itu sampai di taraf hati dan pikiran (bukan kesalehan lahiriah saja).

Saya tidak setuju dengan yang saya bold.

Kita hidup di jaman rahmat TUHAN, berbeda dengan mereka yang hidup dibawah hukum Taurat. Kita semua tidak pernah sekalipun berada di bawah hukum Taurat, kita tidak tahu betapa beratnya hidup dibawah hukum Taurat, kecuali pernyataan-pernyataan Paulus.

Hukum Syariah Islam, kurang lebih sama dengan hukum Taurat, orang akan dipenjara kalau ia tidak datang sholat, dirajam batu kalau berzinah dan sebagainya. Hukum dalam Taurat, dilakukan oleh manusia atas nama TUHAN, tanpa orang yang menegakan hukum Taurat, maka Taurat sekedar pengetahuan saja. Di Bali, Banten dan beberapa daeraha di nusantara, diterapkan hukum Adat, dimana masyarakat Adat terikat dalam tatanan kehidupan oleh hukum Adat. Kita tidak hidup seperti itu, sebab tahun rahmat TUHAN telah datang saat kita dilahirkan. Kita hidup dijaman kasih karunia Allah, di jaman baru yang dilandasi oleh perjanjian Allah yang diperbaharui didalam Kristus. Hukum yang mengikat kita (hukum positif) adalah hukum negara, bahkan beberapa orang dari suku yang hidup dalam kungkungan hukum Adat mereka keluar atau dikeluarkan dari masyarakat Adat karena iman kepeda Kristus.

Hidup seperti apakah yang dijanjikan Allah dalam jaman baru ini? Kita hidup dalam jaman kasih karunia, pelanggaran akan kesucian dan kekudusan Allah mendapatkan kemurahan besar karena Yesus. Kita dihajar bukan dibinasakan (seperti yang ada tertulis dalam hukum Taurat), supaya berbalik dari kesalahan, seperti ayah menghajar anaknya, bukan lagi seperti hakim menghakimi terdakwa. Itulah maksud kita hidup dalam kasih karunia bukan dibawah hukum Taurat.

Apakah hukum Taurat jahat dan kejam? Hukum Taurat telah usang, sama seperti kita melihat Syariah Islam di negara Timur Tengah, atau di Aceh, kita merasa ngeri mendengarnya seakan hidup dijaman peradapan lampau. Ya memang perintah-perintah dalam Taurat dan ancamannya telah usang saat Yesus datang menyingkapkan isi sebenarnya dari Taurat Allah, memisahkan antara hukum Allah dan perintah manusia yang ada didalam Taurat. Kita tidak menghambakan diri dengan sukarela dibawah perintah-perintah manusia yang ada dalam hukum Taurat, tetapi kitah menghidupi hukum Allah yang ada didalam Taurat tersebut.

Saat kita menghidupi hukum Allah yang ada dalam Taurat, kita hidup dalam kasih Allah, dan gereja didalam doktrinnya memberi istilah dengan sebutan Hukum Kasih Karunia (beberapa suka menyebutnya dengan Hukum Kristus). Seperti makan pisang, kita buang kulitnya, kita makan isinya.

It’s ok jika tidak spakat soal itu Krispus spanjang tiap pihak mmahami sudut pandang dan titik tolak pmahaman pihak lain.

Titik tolak saya adalah rangkaian kotbah Tuhan Yesus di bukit.

Kotbah itu diucapkan pada para pelaksana Taurat.
Tuhan Yesus pertama-tama mengutip dahulu perintah Taurat, lalu Ia berikan suatu perintah yg lebih tinggi daripada perintah Taurat itu.

Mat 5:20-22
Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Mat 5:27-28
Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Tentu saja bagi para pelaksana Taurat, perintah dari Tuhan Yesus ini meningkat standarnya dan bertambah tingkat kesulitannya.

Dlm konteks mreka, Hukum Kristus itu akan lebih berat daripada Hukum Taurat.


Bgmn dg konteks yg tidak dibebankan Taurat?

Berat mana?
Jangan berzinah atau jangan bpikiran nafsu pd wanita selain istri?
Jangan membunuh atau jangan marah?

Atau mau gunakan standar lahiriah?
Lebih berat tidak makan babi daripada tidak marah?
Lebih berat harus memberi 23,33% phasilan daripada tidak nafsu pd perempuan lain?
Lebih mudah mceraikan istri daripada harus btahan dalam rumah tangga?

Ssuatu yg ada di pikiran dan motivasi itu diuji dari hari ke hari oleh hati nurani kita.
Menurut saya itu sangat berat.

Namun Krispus benar bhw Roh Kudus telah dberikan di hati kita.
Hukum Kristus tidak mungkin diberlakukan pd manusia daging krn mreka belum memiliki Roh Allah dan belum mendapat jalan penebusan darah Kristus.

Matius 11:28-30
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Pemahaman “letih lesu dan berbeban berat”, secara literal itu tentang sulit dan beratnya tekanan hukum Taurat. Yesus mengambarkan hal itu seperti kuk. Kuk yang lama digantikan kuk yang baru. Kuk hukum Taurat digantikan kuk hukum Kristus. Yesus mengatakan hukum Kristus itu memberi kelegaan, dan bukan itu saja tetapi juga enak dan ringan. Jika demikian bagaimana umat Kristiani dapat mengatakan lebih berat dari kuk Taurat?

Yakobus 1:25
Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Seorang anak kecil sering kali kita jumpai takut saat bermain di pantai melihat ombak datang. Ia akan berlari menjauh, bahkan diajak ketepi pantai ia tarik dirinya menjauh. Tetapi begitu ia jalani bermain di tepi pantai, bermain dengan omak. Kebanyakan dari mereka malah tidak mau berhenti bermain bahkan menangis saat digendong pulang. Demikian hukum Kristus, kelihatannya menyerampakan sebab Allah melihat dan memperhitungkan sampai dalam hati dan pikiran, tetapi jika kita menjalani kehidupan didalam Kristus, sesungguhnya semua itu mudah dan ringan. Kita dibuatNya sanggup kerena pekerjaan Roh Allah didalam diri kita (baca 2 Korintus 3:6). Benar orang dunia tidak akan sanggup melakukannya, tetapi tidak bagi kita umat pilihan Allah. Jangankan dengan pikiran dan hati, didalam perbuatan saja mereka orang dunia tidak sanggup koq… Jika hal itu masih berat bagi orang Kristen, bisa jadi Kristus belum ada didalam dirinya (2 Kor 13:5).

Ibrani 4:12, menuliskan “sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Pergumulan kita menolak hawa nafsu daging dan keduniawian, tidak disamakan dengan keputusan hati kita untuk menuruti hawa nafsu kedagingan. Jangan kita bingung dengan dosa sampai dalam hati, karena pergumulan bukanlah dosa.

Saya tidak setuju dengan pernyataan yang di-bold itu. Seolah-olah Hukum Taurat, khususnya kesepuluh firman, lebih rendah bobot moralnya. Tidak benar! Yesus mengajarkan bahwa dalam kedua perintah kasih (kepada Tuhan Allah dan sesama manusia) tergantung seluruh isi kitab Taurat. Jadi yang Yesus ajarkan adalah bahwa perintah apapun yang terdapat dalam Taurat intinya adalah KASIH. Sesungguhnya, Yesus bukan mengajarkan perintah apa yang paling penting, melainkan apa yang menjadi inti atau esensi dasar dari Taurat.

Perlu diketahui, Taurat secara spesifik hanya diberikan kepada bangsa Israel. Namun di dalamnya terdapat aturan yang sifatnya universal (bagi semua bangsa), misalnya soal menghargai nyawa sesama manusia atau menghormati kekudusan perkawinan, selain yang spesifik untuk bangsa Israel, misalnya peraturan sunat, yang bahkan lebih spesifik lagi hanya untuk laki-laki.

Perubahan dari Taurat ke Kasih (menurut saya) bukan merubah ‘moralitas’.
Moralitasnya masih sama.
Apa yg ttulis di 10 Perintah (misalnya) semua menggambarkan khendak Bapa.

Bedanya adalah tata cara pelaksanaannya.
Jika dahulu dilaksanakan harafiah, maka skrg dlaksanakan sampai taraf hati dan pikiran.
Jika dahulu org dhakimi stelah ada pbuatan harafiah, skrg org dhakimi sampai pertimbangan, maksud dan keinginan.

taurat itu penuntun sampai iman itu dinyatakan.

maksudku… sampe experience begini loh:
Fil 3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.
10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.
12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.
13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,
14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

(bukan cuma pengetahuan teori doang loh, experience sendiri kek begitu loh)

Saya kira pandangan bro KRISPUS sama dengan bro SIIP, berbeda hanya dari cara pandang saja.

…lanjut

bro SIIP benar dengan berpendapat Hukum Kasih lebih berat PERATURANNYA dari pada Hukum Taurat, bahkan tidak mungkin dilaksanakan secara sempurna oleh manusia, kecuali ANAK MANUSIA (Tuhan Yesus).

bro Krispus juga benar, bahwa kuk Hukum Kasih lebih ringan dari kuk Taurat, karena HUKUMAN atas PELANGGARAN dari Hukum Kasih yang seharusnya ditanggung Orang Percaya, sudah ditanggung TUHAN YESUS di atas kayu salib satu kali untuk selama-lamanya, SUDAH LUNAS,
SUDAH SELESAI.

itulah KASIH KARUNIA.
itulah KASIH KARUNIA yang melampaui segala akal pikiran manusia.

Rm 5:15 Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh l[b]ebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya[/b], yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. ................... Rm 5:20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; [b]dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, But where sin abounded, grace abounded much more,[/b]

salam