Hypnosis

Sambungan…
Dan Sahabat, Otoritas spiritual Tuhan tidak terbantahkan efektifitasnya, tentu bagi mereka yang percaya Tuhan. Saya telah membuktikannya untuk membantu seorang sahabat untuk keluar dari trauma dengan meng ikhlaskan apa yang terjadi, kepada TUHAN. Dan dalam sekali terapi, ia dapat memperbaiki traumanya yang sudah berlangsung selama lima bulan. Bukan saya yang hebat, tetapi kepercayaannya kepada TUHAN yang menyembuhkannya.
Lalu mengapa Hipnosis HARAM jika digunakan untuk membantu dan untuk kebaikan? Hipnosis ini mirip Muhasabah atau perenungan dan dalam perenungan tersebut seringkali pikiran kita dibawa melayang terfokus pada satu hal. Pada saat perenungan mengingat kematian, banyak peserta yang menangis se jadi-jadinya dan setelah proses itu berlangsung para peserta menjadi lebih segar, sehat, dan semangat karena merasa lebih dekat dengan Tuhan dan memiliki tujuan hidup.
HIPNOSIS PUN DEMIKIAN. Seorang sahabat datang kepada saya dan mengatakan bahwa ia merindukan Ka’bah dan ingin berhaji bersama ibunya. Saat ini ia memang masih mengumpulkan uang yang ia sendiri tidak tahu kapan akan selesai terkumpul. Saya ajak ia untuk menikmati cita-citanya itu dan mudah-mudahan setelah merasa nikmat ia akan mencari apa saja cara yang penting HALAL untuk berhaji. Saya panggil dia Ji’ih, dan beginilah kira kira sugestinya yang sahabat pembaca bisa juga gunakan untuk membantu orang lain. “Ji’ih, pegang pulpen ini dan buat lingkaran diatas kertas ini” sambil menyodorkan kertas putih kosong. Ia membuat lingkaran searah putaran mengelilingi Ka’bah atau berlawanan jarum jam. “Lakukan perlahan dan nikmati lingkaran tersebut sebagaimana kamu menikmati dirimu mengelilingi Ka’bah dan lafalkan bacaan yang di baca pada saat mengelilingi Ka’bah.” Ia pun mulai melakukan apa yang saya sarankan (sugestikan), wajahnya memerah dan pipinya mulai bergetar dan rahangnya mulai relaks tanda bahwa ia sudah memasuki kondisi hipnosis.

Sahabat, kondisi ini juga Anda rasakan ketika Anda menonton sebuah film favorit Anda. Ji’ih juga sedang menonton “film”nya sendiri di Ka’bah bersama ibunya walaupun matanya tetap terbuka. “Nikmati saja dan teruuuus.” Begitu saran saya. “Dan begitu hatimu sudah melekat pada tempat itu, kamu akan terus membuat lingkaran dan tidak bisa menghentikan gerakan tangan mu karena saat ini hatimu yang menggerakan tangan itu. Ini akan terjadi sampai saya meminta hatimu untuk menghentikannya.” Sahabat…Ji’ih benar-benar tidak dapat menghentikan tangannya, semakin dicoba berhenti, semakin lingkaran itu dibuat. Ketika terlihat ia sudah cukup menikmatinya, saya minta ia untuk berhenti. “Gimana rasanya?” Tanya saya. “Enak Mas! Pingin banget nih saya kesana.”“Amin…” Jawab saya.
Saya yakin peristiwa itu lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan saya tidak dapat merasakan dimana HARAM nya. Di lain waktu selepas jam kerja ketika bersantai bersama teman-teman, duduk di antara kami dua sahabat dari departemen Sumber Daya Manusia. Salah satunya ingin sekali merasakan bagaimana rasanya dihipnosis. Namun saya dapat melihat ia masih memiliki prasangka bahwa hipnosis itu ngeri-mengerikan dan bisa membuatnya mengoceh mengeluarkan rahasia pribadinya. Sahabat…ini juga merupakan satu contoh korban informasi yang kurang tepat dari TV yang mengutamakan rating dan mengabaikan edukasi. Setelah sedikit edukasi, ia pun mampu menggunakan pikirannya untuk menghipnosis dirinya sendiri walaupun permintaannya matanya harus tetap terbuka. “Gua ga mau yang merem-merem, nanti gua lu apa-apa in lagi…” dan hal ini di manfaatkan sahabat saya Pane yang juga ada di sana untuk menambah kecerian sore selepas jam kerja.
Sahabat, sampai saat ini dan mungkin seterusnya saya tidak dapat melihat HARAM nya hipnosis karena ini dilakukan dengan tidak melupakan kekuatan Tuhan dan hanya Tuhan lah yang memiliki kekuatan penyembuhan. Menyambung sahabat SDM saya, “OK sekarang boleh melek, nanti yang merem harus dicoba ya Bro…enak lho…

Dan kata-kata itu menyisakan keceriaan sore itu untuk dilanjutkan esok hari yang lebih ceria.

Cara Menangkis Hipnotis
Dear all, semoga bermanfaat ya…
Bagaimana Caranya Menghindari Penipuan Melalui Ilmu Gendam ?
Berikut ini beberapa tips untuk menghindari kejahatan Hipnotis yang dilakukan melalui ilmu gendam :

  1. Jangan membiarkan pikiran kosong ketika berada di daerah umum. Pikiran kosong dapat mengakibatkan gerbang telepathic terbuka, sehingga pihak lain dapat dengan mudah menyampaikan pesan secara telepathic.
  2. Waspadalah jika tiba-tiba timbul rasa kantuk yang tidak wajar, ada kemungkinan bahwa seseorang yang bermaksud negatif sedang melakukan “telepathic forcing”.
  3. Bagi mereka yang memiliki kebiasaan “latah”, sebaiknya jangan bepergian ke tempat umum tanpa teman.
    Mereka yang mempunyai kebiasaan “latah” cenderung memiliki gerbang bawah sadar yang mudah dibuka paksa dengan bantuan kejutan (Shock Induction). Hal yang sama juga berlaku bagi mereka yang mudah terkejut.
  4. Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada beberapa orang yang tidak dikenal mengerumuni anda untuk suatu alasan yang tidak jelas. Sekali lagi jangan mudah panik!
    Karena rasa panik akan mempermudah terbukanya gerbang bawah sadar anda!
  5. Jangan mudah panik jika tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu anda! Usahakan agar pikiran dan panca indera anda tetap aktif ke seluruh lingkungan!
    Jangan terfokus pada ucapan-ucapan orang yang menepuk anda! Segera berpindahlah ke daerah yang lebih ramai!
  6. Jika secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, dada anda terasa sesak, dan diikuti dengan perut agak
    mual, dan kepala sedikit pusing, waspadalah karena mungkin ada seseorang tengah mengerahkan energy gendam!
    Segera lakukan “grounding”, yaitu meniatkan membuang seluruh energi negatif ke bumi (cukup visualisasi).
  7. Jika terjadi hal-hal yang mencurigakan, segera sibukkan pikiran anda, agar tetap berada di frekwensi
    yang mengakibatkan efek Hipnotis tidak dapat bekerja!
    Antara lain dengan : berdoa dalam hati, menyanyi dalam hati, atau memikirkan hal-hal yang berat!
  8. Akhirnya, tanamkan terus menerus di dalam diri anda, bahwa Hipnotis tidak akan bekerja bagi mereka yang menolaknya! Hal ini juga berlaku untuk ilmu gendam!

coba kau bikin dalam format PDF…
dan kau bisa susun dalam bentuk yang lebih teratur…

nubuat asli masih ada bro…contohnya spt yg dilakukan Prophet TB Joshua dr Nigeria

tapi tentu saja ada palsunya, namanya bukan nubuat tapi “LUBUAT” ;D

soalnya di gereja ane pernah ada pemimpin yg katanya mau ngajarin jemaat bernubuat,tapi setelah kami telaah pengajarannya ttg bernubuat ternyata yg dia ajarin itu persis banget dengan ilmu teknik hipnosis/sugesti.ngomongnya sih saling bernubuat tp pd praktiknya malah saling mensugesti :mad0261: .

Makanya Rasul Paulus 'kan JAUH2 HARI sudah memperingatkan kita…UJI lah setiap ajaran yg ngaku2 berasal dari “roh”…gunakan Alkitab sebagai Parameter dan Barometerya…pas ada yg BERBEDA…ya PASTI deh ketahuan Setan Belang dibelakang ajarannya itu !!! :coolsmiley: :happy0062:

Ngajar Hipnotis kok di GEREJA ??? Ingat2 jangan berjualan di Pelataran Bait Allah, entar di Obrak abrik Tuhan Yesusku baru tahu rasa deh !

Mekanisme & Pemodelan Pikiran Manusia

Banyak yang menganggap bahwa hipnotis terjadi dikarenakan adanya kekuatan mistik, magis, bahkan kekuatan dari “kuasa kegelapan”. Kenapa ? Karena fenomena hipnotis, yang acapkali dipopulerkan melalui pertunjukkan hipnotis panggung (Stage Hypnotism), nyaris selalu mempertunjukkan hal-hal yang “tidak masuk di akal sehat”. Bahkan sebagian orang (kelompok skeptis) menganggap bahwa hipnotis adalah isapan jempol belaka, alias rekayasa untuk kebutuhan entertainment semata !
Pendapat-pendapat semacam ini sebenarnya sah-sah saja, alias harus dimaklumi sebagai ekspresi logis akibat keterbatasan pengetahuan semata. Apalagi Indonesia sebagai salah satu wilayah yang berada di belahan timur bumi, nyaris akrab dengan hal-hal yang berbau mistik, magis, sebagai warisan dari budaya animisme dan dinamisme yang konon merupakan keyakinan asli dari penduduk Nusantara.
Hipnotis “bermain” dengan pikiran ! Tidak lebih dan tidak kurang ! Oleh karena itu satu-satunya cara untuk dapat memahami hipnotisme secara jelas, adalah dengan memperjelas pengetahuan kita mengenai mekanisme atau cara kerja pikiran itu sendiri.***
Manusia bertindak dengan dilandasi pikiran, dan salah satu model psikologi kontemporer menjelaskan bahwa pikiran terdiri dari bagian utama, yaitu : Pikiran Sadar (Conscious Mind) dan Pikiran Bawah Sadar (Subconscious Mind).
Pikiran Sadar merupakan bagian dari pikiran kita yang bertugas untuk melakukan analisa dan pertimbangan-pertimbangan rasional, seringkali disetarakan dengan bagian kiri dari otak kita (Left Brain).
Pikiran Bawah Sadar berisikan database yang mencerminkan diri kita, dimana database ini merupakan akumulasi dari berbagai pemahaman, penalaran, pengalaman, bahkan penularan (induksi dari pihak lain) sejak mulai kita lahir sampai dengan hari ini.
Pikiran Bawah Sadar seringkali disetarakan dengan bagian kanan dari otak kita (Right Brain), oleh karena itu Pikiran Bawah Sadar merupakan wilayah yang didominasi oleh rasa dan emosi.
Yang paling menarik, Pikiran Bawah Sadar cenderung bersifat “netral” terhadap data atau informasi yang masuk. Netral artinya tidak mengenal “baik” dan “buruk”, “salah” atau “benar”. Suatu data yang telah “berhasil” memasuki Pikiran Bawah Sadar dan telah menjadi memori permanen, maka dianggap sebagai “kebenaran”, walaupun mungkin sebenarnya data tersebut relatif “salah” berdasarkan kaidah umum.

Contoh klasik, pada saat kita kecil, ketika orang tua kita mengatakan “… awas jangan main jauh-jauh, nanti kamu diculik hantu ….”, maka Pikiran Bawah Sadar seorang anak tentu tidak memahami apakah pernyataan tersebut “benar” atau “salah”, yang lebih dipahami adalah bahwa kata-kata orang tua pasti “benar” adanya, maka sejak saat itu di Pikiran Bawah Sadar terdapat data, bahwa hantu itu ada !

Hal lain yang menarik, bahwa ternyata porsi Pikiran Bawah Sadar ternyata sangat dominan dalam menentukan tindakan seseorang, Sebuah buku yang berjudul “Peace of Mind” dari Sandy Mc Gregor menyatakan bahwa kontribusi Pikiran Sadar hanyalah 12%, sedangkan kontribusi Pikiran Bawah Sadar adalah 88%. Beberapa buku lainnya bahkan menggambarkan bahwa peranan dari Pikiran Bawah Sadar adalah mencapai 90% dan Pikiran Sadar hanya 10%.


Dari penjelasan di atas, jelas bahwa pikiran rasional saja tidaklah “cukup” untuk mewujudkan suatu tindakan ! Karena rasional adalah tugas dari Pikiran Sadar yang hanya berkonstribusi sebanyak 12% terhadap mekanisme suatu tindakan.
Oleh karena itu, walaupun mungkin anda belum pernah melihat hantu, atau secara rasional seharusnya hantu tidak perlu dianggap ada, tetapi saya yakin ketika anda melewati kamar mayat RSCM di tengah malam pasti anda akan takut ! Artinya, rasio anda tidak cukup mampu untuk membuat anda “berani”, karena Pikiran Bawah Sadar anda “terlanjur” mempercayai bahwa fenomena hantu adalah benar adanya !


Bersambung…

Sambungan …
Dengan komposisi kontribusi Pikiran Sadar 12% vs Pikiran Bawah Sadar 88%, maka kita dapat dikatakan nyaris merupakan “mahluk bawah sadar” !
Dari uraian di atas mungkin banyak hal yang sebenarnya tidak kita inginkan, tetapi “terlanjur” masuk ke pikiran bawah sadar karena banyaknya induksi dalam kehidupan ini.
Setiap orang secara alamiah pasti memiliki keinginan untuk selalu bergerak maju, tetapi di sisi lain seringkali yang terjadi justru mereka “berbelok” atau “ditarik” ke arah yang sebaliknya oleh pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar dapat menjadi kekuatan yang mendukung keinginan kita, atau sebaliknya dapat menjadi musuh kita yang paling kuat !

Dari berbagai hal yang telah dipaparkan, mungkin timbul suatu pertanyaan, dapatkah kita “membuang” hal-hal yang tidak memberdayakan yang sudah “terlanjur” berada di pikiran bawah sadar kita ? Dapatkah kita memasukkan hal-hal yang lebih positif ke pikiran bawah sadar sehingga pikiran bawah sadar akan bergerak selaras dengan keinginan kita ?
Jawabannya dapat !

Hipnotis adalah salah satu cara yang efektif untuk pemrograman dan pemrograman ulang pikiran bawah sadar !


Dari penjelasan sederhana mengenai pemodelan pikiran ini, tentu anda sudah mulai dapat “meraba-raba”, mengapa pertunjungan hipnotis panggung dapat mendemonstrasikan hal-hal yang tidak masuk di akal ?
Jawabannya adalah, karena terdapat bagian pikiran yang dipengaruh oleh sugesti dari Sang Hypnotist (juru hipnotis). Bagian pikiran inilah yang dikenal dengan nama “Pikiran Bawah Sadar”, yang merupakan area pikiran non kritis, tetapi memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku manusia.


Catatan :
Pemodelan pikiran dengan membagi pikiran menjadi 2 area, yaitu : Conscious Mind (Pikiran Sadar) dan Subconscious Mind (Pikiran Bawah Sadar) mungkin tidak akan pernah kita temui di pengetahuan Psikologi klasik.
Demikian juga pada beberapa kelas Hypnosis atau buku Hypnosis, mungkin saja akan menggambarkan dengan pemodelan yang berbeda pula. Hal ini hendaknya tidak perlu terlalu diperdebatkan, karena pemodelan hanyalah sekedar alat bantu untuk mempermudah penjelasan yang lebih esensi di tingkat berikutnya.

Pemodelan Conscious – Subconscious merupakan salah satu pemodelan yang paling populer dalam pembelajaran Conventional Hypnotism, kitapun pada tahap awal akan mengacu pada pemodelan ini.

makanye kudu hati2 kite, sugesti negatif ye kadang bisa mendatangkan hal2 buruk bagi kite, dan bisa kejadian karena kite kepikiran. contoh aje, kalo ente2 pada persiapan ujian sudah belajar, tapi sebelum harinye ente2 pade gak pede alias merasa yakin kalo kagak bisa ujian besok, yang bise dipastikan 99% ente2 gagal ;D ;D ;D ;D
makanye sugesti positif itu yang kudu dipikirkan yeee… makanye sdh mulai dah ade gereja yang memasukkan unsur new age ;D ;D ;D ;D ralat bukannye mulai ade tapi sudah ade ;D ;D ;D ;D

Hmm, saya ga setuju dengan hipnotis. Biar Kristus saja yang berdaulat atas pikiran kita dan jangan biarkan orang lain menguasai pikiran kita, hanya Kristus yang boleh menguasai pikiranku !

Bagaimana Berlangsungnya Proses Hipnotis ?

Peristiwa hipnotis, terutama hipnotisme panggung, seringkali secara ekstrim mempertunjukkan hal-hal di luar kaidah normal sehari-hari. Oleh karena itu untuk sebagian orang peristiwa hipnotis benar-benar sangat irasional, sedangkan bagi yang lainnya justru menimbulkan sikap skeptis dan dugaan bahwa peristiwa hipnotis sesungguhnya hanyalah suatu rekayasa belaka untuk kepentingan hiburan semata.
Bagian ini akan memberikan penjelasan mengenai apa yang terdapat dibalik proses tindakan manusia, dan bagaimana pula hipnotis dapat mempengaruhi proses tindakan tersebut, bahkan lebih jauh lagi dapat memicu tindakan-tindakan yang dinilai tidak masuk akal dan bertentangan dengan kaidah normal sehari-hari.
Hipnotis adalah
*) seni komunikasi dengan alam bawah sadar seseorang, banyak sekali definisi hipnotis namun dari berbagai definisi tersebut tetap mengarah pada satu arti, definisi hipnotis diantaranya adalah :
*) suatu kondisi yang menyerupai tidur yang dapat secara sengaja dilakukan kepada seseorang, di mana seseorang yang dihipnotis bisa menjawab pertanyaan yang diajukan, serta menerima sugesti dengan tanpa perlawanan.
*) teknik atau praktek dalam mempengaruhi orang lain untuk masuk ke dalam kondisi trance hypnosis.
*) suatu kondisi di mana perhatian menjadi sangat terpusat sehingga tingkat sugestibilitas (daya terima saran) meningkat sangat tinggi.
*) seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya, yang dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak dari Beta menjadi Alpha dan Theta.
*) seni komunikasi untuk meng-eksplorasi alam bawah sadar.
*) kondisi kesadaran yang meningkat.

Definisi hypnosis yang dibuat oleh U.S. Department of Education, Human Services Division, dikatakan bahwa; “Hypnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking” atau “Hypnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau sugesti”


Dalam peristiwa hipnotis, misalkan pada pertunjukkan hipnotis hiburan (stage hypnosis), seringkali memunculkan hal-hal yang tidak dapat dipahami secara rasional misalkan peragaan perilaku di luar kebiasaan normal. Dapatkah dijelaskan secara sederhana, bagaimana hal semacam ini terjadi ?
Seorang stage hypnotist melalui teknik tertentu yang nantinya disebut dengan istilah “induksi” (induction), dapat membuat subyek memasuki “keadaan hypnos”. Kemudian stage hypnotist memberikan saran (sugesti) yang langsung akan diterima langsung oleh sub-conscious mind atau “pikiran bawah sadar” dari subyek, sehingga selanjutnya subyek akan melaksanakan saran yang diberikan tersebut.
Pada umumnya dalam pertunjukkan stage hypnosis saran yang diberikan adalah saran yang “tidak masuk akal”, karena ditujukan untuk menghasilkan efek hiburan, misalkan : “Ketika anda membuka mata, maka anda merasa yakin bahwa anda adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-31″

Lanjut kedalam Bentuk Tanya Jawab …

Lanjutan dalam Bentuk Tanya Jawab …

[b]Mengapa sub-conscious mind dapat mengakibatkan seseorang melakukan tindakan yang tidak masuk di akal ?[/b]Dalam bertindak, manusia dipengaruhi oleh 2 perangkat kesadaran yaitu conscious mind (pikiran sadar) dan sub-conscious mind (pikiran bawah sadar).
Perangkat yang bertugas melakukan analisa adalah conscious mind, sedangkan sub-conscious mind tidak melakukan analisa, karena memang memiliki tugas yang lain.

Anda baru saja menjelaskan bahwa tindakan manusia dipengaruhi oleh conscious mind dan sub-conscious mind, tetapi mengapa dalam hal ini seakan-akan peran dari conscious mind dikalahkan oleh sub-conscious mind ?Sub-conscious mind memang memiliki peran dominan dalam mempengaruhi tindakan. Sebuah buku berjudul Peace of Mind karangan Sandy Mc Gregor menggambarkan bahwa dalam kondisi normal sub-conscious mind memberikan pengaruh sebanyak 88% dalam proses bertindak, artinya conscious mind hanya memiliki daya pengaruh sebanyak 12%.

Apakah tugas atau peran lain dari sub-conscious mind ?
Sub-conscious mind mirip dengan “bank data pengalaman & pemahaman”, didalamnya berisikan berbagai pengalaman dan pemahaman mulai dari kita lahir sampai dengan hari ini.
Berarti seluruh peristiwa yang kita alami dalam kehidupan kita akan terekam di sub-conscious mind ?
Bukan saja yang kita alami langsung, bahkan informasi dari orang lain yang belum tentu benar akan dapat memasuki sub-conscious mind dan akan memasuki “bank data pemahaman & pengalaman” pula. Pengalaman yang berasal dari orang lain atau pihak lain disebut juga sebagai pengalaman induktif.
Dapat dijelaskan lebih lanjut, bagaimana sub-conscious mind dapat menerima data yang “tidak benar” ?
Sub-conscious mind adalah perangkat kesadaran yang bersifat netral, artinya ia tidak membedakan apakah suatu data bernilai “benar” atau “salah” karena analisa “benar” dan “salah” merupakan tugas dari conscious mind.
Sub-conscious mind dapat menerima data yang berasal dari pengalaman langsung, maupun data berasal dari edukasi pihak lain. sub-conscious mind tidak memberikan penilaian, dan juga tidak membedakan kedua macam data ini. Seluruhnya akan disimpan di “bank data pemahaman & pengalaman” dan dianggap sebagai kebenaran.

Ada hal yang belum dapat dipahami, sewaktu kita menerima informasi dari pihak lain, bukankah conscious mind kita juga aktif ? Seharusnya conscious mind dapat melakukan analisa terlebih dahulu sebelum meneruskan data ini ke sub-conscious mind ?
Pertanyaan yang sangat baik ! Memang benar antara conscious mind dan sub-conscious mind terdapat sebuah perangkat yang akan memproses informasi sebelum informasi tersebut memasuki sub-conscious mind. Perangkat ini disebut dengan critical area, atau area kritis yang bertugas menampung, menilai, memodifikasi, atau bahkan menghapus informasi yang masuk. Critical area dalam kondisi normal dikendalikan oleh conscious mind.

Kenapa data yang “tidak benar” masih dapat memasuki sub-conscious mind, padahal ada critical area yang bertugas menyaring data ?
Hal ini dikarenakan efektivitas critical area juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain : emosi, tingkat fokus, minat, moral, etika, tingkat kepercayaan, dll.

Dapat diberikan contoh sederhana ?
Ketika kita berhadapan dengan tokoh yang kita kagumi, maka seluruh informasi yang diberikan cenderung akan kita terima bulat-bulat, nyaris tanpa analisa lagi ! Hal ini terjadi dikarenakan kita sangat mempercayai tokoh ini. Secara teknis critical area kita berkurang efektifitasnya karena tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap tokoh dimaksud, sehingga informasi dengan mudah memasuki sub-conscious mind.

Dapat diberikan contoh lain yang dapat menjelaskan hubungan antara tingkat fokus dengan efektivitas dari critical area ?
Ketika kita benar-benar santai beristirahat sambil menyaksikan televisi, maka mata kita cenderung untuk terus terfokus di layar televisi. Pada saat ini critical area akan berkurang efektivitasnya, sehingga seluruh hal yang ditayangkan di televisi tersebut akan mudah memasuki sub-conscious mind dan akan dianggap sebagai pengalaman dan pemahaman, termasuk jika yang kita saksikan adalah tayangan film “Ibu Tiriku Kejam Sekali”, maka besar kemungkinan mulai saat itu sub-conscious mind akan berpendapat bahwa setiap ibu tiri pasti bersifat kejam.

Bersambung…

Lanjutan dalam Bentuk Tanya Jawab (2) …

Berarti “keadaan hypnos” adalah suatu kondisi dimana critical area berkurang efektivitasnya ?
Benar sekali ! Oleh karena itu di “keadaan hypnos” seseorang akan cenderung lebih mudah menerima saran atau informasi, karena peran dari critical area berkurang.

Bagaimana dengan sebaliknya, jika critical area seseorang berkurang keaktifannya, apakah dapat diartikan ia akan memasuki “keadaan hypnos” ?
Benar !

Dari berbagai penjelasan yang telah anda sampaikan, apakah dapat diambil kesimpulan bahwa seorang hypnotist memiliki kemampuan untuk membuat critical area orang lain menjadi berkurang efektivitasnya ?Benar sekali ! Seni komunikasi persuasif dalam proses hipnotis bertujuan untuk membuat critical area menjadi berkurang efektivitasnya !

Apakah pemilihan model yang membagi perangkat kesadaran menjadi conscious mind dan sub-conscious mind berdasarkan paradigma psikologi tertentu ?
Pembagian perangkat kesadaran manusia menjadi conscious mind dan sub-conscious mind mungkin tidak terdapat di model psikologi klasik, walaupun mungkin jika sedikit disesuaikan akan mirip dengan model psikologi dari paradigma psikoanalisa Sigmund Freud yang membagi kesadaran menjadi conscious mind, un-conscious mind, dan pre-conscious mind.
Pembagian di atas hanyalah suatu model yang umum dipergunakan di dunia hipnotis, dan bertujuan untuk mempermudah pemahaman awal bagaimana peristiwa hipnotis. Pada pengetahuan hipnotis yang lebih dalam lagi, terutama pada aplikasi clinical, maka model inipun menjadi tidak relevan lagi, bahkan seorang jenius di bidang hypnotherapy, yang juga seorang psikiater dan peletak dasar hypnotherapy moderen yaitu Milton H. Erickson akhirnya tidak pula memperdulikan model ini, karena fenomena manusia ternyata jauh lebih kompleks dari model psikologi manapun juga !

Setelah seseorang kita hipnotis, apakah kita dapat memberikan saran yang mengancam keselamatannya, misalkan menyuruhnya untuk bunuh diri ?
Saran yang bertentangan dengan nilai dasar (basic belief system) tidak akan dilaksanakan walaupun saran ini berhasil memasuki sub-conscious mind.

Kontradikitif ! Di bagian awal anda katakan bahwa sub-conscious mind bersifat netral, tetapi sekarang anda mengatakan bahwa saran yang bertentangan dengan nilai dasar tidak akan dilaksanakan, bagaimana penjelasannya ?
Manusia bukan mahluk sederhana. Setiap model psikologi hanya efektif dalam konteks pembahasan tertentu. Model psikologi manapun tidak dapat menjelaskan mekanisme utuh dari manusia sebagai mahluk yang sangat sempurna.
Sub-conscious mind sampai dengan saat ini diasumsikan bersifat netral sehingga dapat menerima informasi apapun juga. Dalam mekanisme secara utuh, sebenarnya sub-conscious mind juga memiliki kemampuan analisa yang mekanismenya sangat berbeda dengan conscious mind, analisa ini berlangsung terutama bila berhadapan dengan informasi yang terkait dengan pertahanan diri. Hal ini akan dijelaskan di bagian berikutnya karena akan terkait dengan efektivitas pemrograman sub-conscious mind untuk keperluan therapeutic.

Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa peristiwa hipnotis berasal dari kekuatan sugesti atau komunikasi persuasif dari sang hypnotist. Artinya, hipnotis tidak dapat dilakukan dengan cara “diam” atau komunikasi secara “bathin” saja ?
Ya benar sekali, hal ini menyangkut definisi ! Jika yang dimaksudkan adalah hipnotis, lebih tegas lagi hipnotis moderen, maka harus dilakukan melalui proses komunikasi nyata, baik secara verbal (lisan) maupun non verbal (bahasa tubuh).
Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita pernah mendengar atau mengalami sendiri, suatu pengiriman pesan yang dilakukan secara “bathiniah”, misalkan seorang ibu yang rindu kepada anaknya yang berada di tempat lain sehingga secara alamiah terus menerus memikirkan sang anak, dan berakibat timbulnya dorongan yang begitu kuat dari sang anak untuk pulang mengunjungi ibunya.

Ilustrasi di atas secara definisi bukanlah peristiwa hipnotis, tetapi lebih tepatnya disebut sebagai peristiwa “telepati”, yang lebih relevan untuk dijelaskan melalui pengetahuan “mind control” bukan melalui pengetahuan hipnotis.
Pada kelas pelatihan hipnotis, terkadang terdapat beberapa peserta yang berharap dapat melakukan hipnotis dengan hanya melalui “diam” atau secara “bathiniah”. Tentu saja hal ini merupakan kesalahan persepsi yang sangat mendasar mengenai ruang lingkup pengetahuan hipnotis. Pengetahuan hipnotis moderen tidak membahas teknik untuk “mempengaruhi” orang lain secara “telepatik”.