Ibadah itu sebaiknya kreatif atau menurut contoh yang sudah ada?

[i]Kel 25:9 Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya."

Kel 25:40 Dan ingatlah, bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."

Kis 7:44 Kemah Kesaksian ada pada nenek moyang kita di padang gurun, seperti yang diperintahkan Allah kepada Musa untuk membuatnya menurut contoh yang telah dilihatnya.

Ibr 8:5 Pelayanan mereka adalah gambaran dan bayangan dari apa yang ada di sorga, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah: “Ingatlah,” demikian firman-Nya, “bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.” [/i]

Mengingat begitu banyak model ibadah yang dikemas dalam berbagai bentuk kreatifitas manusia ZAMAN INI, terbersit di benak saya tentang mereka yang mengaku SOLA SCRIPTURA atawa BACK to BIBLE, mengenai bentuk ibadah yang seharusnya ada di Alkitab.

  1. Apakah seharusnya mengacu kepada bentuk tertentu seusai Alkitab, ataukah
  2. Tergantung kreatifitas komunitas, mau dibuat seperti apa keq terserah, YANG PENTING tidak bertentangan dengan Alkitab. (Lha kalo Alkitabnya sendiri bilang suruh ikut contoh gimana donk?)

Silaken…

anda membawa ayat dimana itu merupakan aturan dalam PL,

namun Tuhan Yesus sendiri berkata begini :

Yohanes 4:21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Salam

kitab Ibrani itu di PB bro.
:slight_smile:

Yang dikatakan Yesus kepada wanita Samaria itu berbeda dari konsep kristen kontemporer. Tata ibadah orang Samaria memang beda dari tata ibadah orang Yahudi. Kata ‘kami’ yang disebutkan Yesus itu jangan diartikan Kristen karena jelas Yesus waktu itu masih hidup dan dia mengacu kepada orang Yahudi, bukan Kristen.

Gimana dong?
:slight_smile:

yang dibicarakan di ayat yang anda bawa itu adalah mengenai yang ditunjukan di gunung Sinai pada Musa. Musa itu adanya di PL om

Anda membawa ayat-ayat yang merupakan aturan untuk kaum Yahudi. kenapa mau anda terapkan dalam ke-Kristen-an ?

Gimana dong ? :slight_smile:

Jadi apakah contoh ibadah di sorga tersebut tidak berlaku lagi menurut anda?

Konteks ayat yang anda berikan di Yohanes 4:21 adalah bagi orang Yahudi bukan? Kan dikatakan “KAMI menyembah apa yang KAMI kenal.”
Atau menurut anda perkataan Kristus kepada wanita Samaria itu berlaku bagi orang Kristen?

kalo di-Sorga saya tidak tahu.
tapi kalo di bumi ya sudah tidak, karena :
Efesus 2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,

yang saya bicarakan adalah ayat yang anda bawa itu aturan untuk Yahudi. kita selesaikan punya anda dulu baru masuk pada ayat yang saya bawa.

Gimana ? :slight_smile:

Salam

Ada buku tebal tentang Tabernakel atau Kemah Suci di toko-toko buku, anda bisa pelajari disana tentang “contoh” yang dimaksudkan sesuai dengan penggenapan didalam Kristus. Kita semua walau kreatif dalam beribadah tidak terlepas dari “contoh” tersebut yang diberlakukan secara rohani (buikan lagi secara jasmani).

Untuk menjelaskan disini panjang sekali. Sejarahnya, pertama kali dijabarkan oleh Pendeta Belada, F.G.Van Gessel dan di Indonesia Pdt. In Juwono yang melanjutkannya yang melahirkan beberapa organisasi gereja pentakosta yang namanya mengandung kalimat “tabernakel”. Gerekan ini dimulai dari Surabaya seperti juga gerakan Pentakosta pertama datang ke Indonesia juga dimulai dari Surabaya, karena itu kota Surabaya melahirkan banyak kegerakan kharismatik diseluruh Indonesia.

Yang dibatalkan, IMHO, adalah keselamatan melalui Taurat. Ini tampak dari frase selanjutnya, menciptakan keduanya (Yahudi dan Non-Yahudi) menjadi SATU MANUSIA baru, yaitu Kristus.

CEV
Eph 2:15 to destroy the Law of Moses with all its rules and commands. He even brought Jews and Gentiles together as though we were only one person, when he united us in peace.

ESV
Eph 2:15 by abolishing the law of commandments expressed in ordinances, that he might create in himself one new man in place of the two, so making peace,

“Two” di ESV tentunya orang Yahudi dan Non-Yahudi, seperti yang dimaksud dari konteks.

Apakah kita sepakat disini?

Kalau anda sepakat, bukankah berarti kini kita yang Non-Yahudi jadi terhisab dalam ke-Yahudianya, yang nantinya tata ibadahnya juga berdasarkan pola Yahudi?

Silakan saja.

Nah ini menarik. Memang kalau mau diakui, tata ibadah Kristen itu memiliki jejak keyahudian yang bisa dilihat secara jasmani. Penggunaan mimbar misalnya, sudah dimulai sejak zaman Ezra.

Neh 8:4 (8-5) Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam.

Dan sampai kini, tata ibadah Kristen masih tetap menggunakan mimbar.

Pertanyaannya mungkin, jika sudah sampai sini, berkembang menjadi “seberapa kreatifkah kita bisa berkembang dari contoh yang sudah ada?”.

Apakah, misalnya, perjamuan kudus boleh diberikan dengan cara sambil saling suap, atau mungkin anggurnya diganti air atau teh, DENGAN PEMAKNAAN ROHANI?

Silakan…

Di zaman PL dan PB, semua contohnya tidak ada yang menggunakan listrik. Sementara sekarang ini lebih banyak yang memakai lampu (dan peralatan elektronik) daripada yang tidak.

Salam

Jika tidak ada anggur, teh pun jadi. Jika anda melayani dipedalaman, tidak ada roti dan anggur, adanya sagu dan air sungai, maka apakah jadi halangan bagi anda untuk mengingat akan Tubuh dan Darah Kristus?

Kisah 8:36, Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”

Tradisi menempatkan sungai Yordan sebagai tempat dibabtis, tetapi air menggenangpun tidak jadi masalah. Demikian juga roti dan anggur adalah roti dan anggur (makanan) tetapi saat kita mengenang akan Tubuh dan DarahNya, sagu dan air sungaipun dapat kita pakai. Karena bukan yang jasmaninya yang membuat kita dibenarkan tetapi apa yang lahir dari rohanilah yang membenarkan kita, yaitu iman.

Sambil saling suap suami dan isteri menurut saya ide yang kreatif tetapi butuh penjelasan panjang lebar sebelum hal itu dilakukan untuk membuat mereka paham apa maksudnya suami menyuapi isteri dan isteri menyuapi suami. Tidak baik jika dilakukan secara terus menerus, dan juga tidak benar jika dilakukan bukan antar suami isteri.

Kreatif boleh batasannya adalah Firman Tuhan. Dihadapan Tuhan didunia ini suami dan isteri adalah satu, mereka saling menyuapi dapat menjadi sebuah pengingat bahwa suami bertanggung jawab terhadap isterinya dan isteri berkewajiban menolong suaminya didalam Kristus mereka adalah satu dan saling menguatkan dan membangun. Bla-bla-bla lainnya lalu baru kejadian kreatif ide kamu itu bisa dijalankan, dan berikutnya tidak keterusan sebab orang lain akan janggal melihat hal itu dan malah menjadi batu sandungan.

1 Korintus 8:10-11, Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan,” sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala? Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena “pengetahuan” mu.

Tradisi itu bagus, tetapi kreatif itu membawa kemajuan, ekstrim salah satu akan membuat kekacauan beradapan.

Jadi apakah yang tidak pakai lampu lebih tidak kreatif daripada yang pakai lampu?

bisa sih kreatip asal tidak menyimpang, berdoa ke Roh Kudus, tanya tema apa, dari tema itu bisa dikembangkan lebih lanjut.
patron itu hanya membantu saja, ada kalanya ketika Roh Tuhan menyuruh keluar dari patron selama itu alkitabiah it’s ok.

“kreatif asal tidak menyimpang” ini yang rada-rada susah diterjemahkan.
:slight_smile:

Ya tergantung definisi kreatif itu apa, lalu pengkategorian kreatif itu bagaimana.
Yang saya sebutkan tadi hanya menuruti contoh dan tidak menuruti contoh, bukan kreatif atau tidak kreatif.

Salam

Ini saya coba ambil dari wikipedia,

Creativity is a phenomenon whereby something new and valuable is created (such as an idea, a joke, a literary work, a painting or musical composition, a solution, an invention etc.).

Berarti ada perubahan dong dari suatu contoh ke bentuk kreatif selanjutnya?

Jika definisinya demikian, berarti jawabannya ya, yang menggunakan lampu lebih kreatif daripada yang tidak. Saya pikir poin pentingnya bukan yang mana yang kreatif dan mana yang tidak, tetapi lebih ke sejauh mana kreativitas itu diizinkan dan masih sesuai dengan ortodoksi.

Salam

Alkitab menjelaskan makna ibadah, bukan tata caranya…

[email protected]

Judul trit yang anda buat diatas ini adalah bentuk kreatifitas anda bukan…?? : “” Ibadah itu sebaiknya kreatif atau menurut contoh yang sudah ada? “”"

Terus …?? 2 pertanyaan yang anda ajukan seperti yng dibawah ini ( saya copas saja ) :

  1. Apakah seharusnya mengacu kepada bentuk tertentu seusai Alkitab, ataukah
  2. Tergantung kreatifitas komunitas, mau dibuat seperti apa keq terserah, YANG PENTING tidak bertentangan dengan Alkitab. (Lha kalo Alkitabnya sendiri bilang suruh ikut contoh gimana donk?)

Menandakan anda tidak membaca Kitab Suci anda ( Alkitab PB ), DAN kalaupun membacanya pasti tidak anda renungkan Firman Tuhan itu siang dan malam ya…?? ( maaf)…heehee…

Karena pertanyaan anda adalah menanyakan cara ibadah.atau cara beribadah bukan…?? ( cmiiw )

Padahal jika kita membaca Injil MATIUS, LUKAS, MARKUS DAN YOHANES, maka jelas contoh-contoh cara beribadah tsb dipertontonkan / digambarkan dng jelas dalam cerita keempat Inlil tsb. Dan itu semua adalah kreatifitas ALAMIAH
dari Tuhan YESUS KRISTUS dalam kerja PelayannanNYA…

Terkadang TUHAN MEMBERI KHOTBAH DI ATAS PERAHU DI PINGGIR PANTAI…DAN SEMUA MURID DAN PENGIKUTNYA BERADA DI PANTAI…

Terkadang Tuhan Duduk diatas batu di suatu Bukit. dan memberi pengajaraNYA atau berkhotbah ,sedangkan para murid dan pengkutNYA berada duduk dibawah bertaburan seperti domba…mendengarkan dng antusias pengajaran
Khabar Baik…dariNya.

Terkadang di sinagok-sinagok atau di Bait Allah di Yerusalem…dst…dstnya…

Tapi itulah cara ibadah ala / versi Tuhan Yesus saat masih dalam pelayannan…Dan itulah yang dicontohkan dalam Alkitab.
TAPI YANG SPEKTAKULER ada di munculkan dalam Alkitab…yaitu JANJI TUHAN DALAM MEMBANGUN JEMAATNYA DIATAS BATU KARANG…bla…bla…bla… Itulah nantinya yng menjadi cikal bakal timbulnya suatu tata cara bagaimana seharusnya dan sebaiknya umat percaya memiliki tempat yang khusus untuk melakukan tata acara ibadah yang baik serta nyaman dan aman…dll.

Semoga dapat direnungkan…

Salam GBU…

Yang menentukan ortodoksinya siapa donk?