Ilmuwan Israel koreksi naskah Perjanjian Lama

Ilmuwan Israel koreksi naskah Perjanjian Lama
Reporter : Ardyan Mohamad

Pakar Yudaisme asal Israel Profesor Menachem Cohen baru saja selesai memperbaiki naskah Kitab Injil Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani. Upaya ini merupakan koreksi besar-besaran kitab suci itu selama 500 tahun terakhir.

Surat kabar Haaretz melaporkan, Selasa (7/8), Cohen mengkoreksi kesalahan tanda baca ataupun kesalahan penyalinan naskah Injil saat ini melalui perbandingan dengan ribuan naskah kuno. “Penganut Yudaisme percaya Injil tidak berubah dari pertama kali turun sampai sekarang, namun dari pengamatan saya ada 1.500 kesalahan gramatikal dan kontekstual dari teks Perjanjian Lama saat ini,” kata Cohen.

Menurut ilmuwan 84 tahun dari Universitas Bar-Ilan, Ibu Kota Tel Aviv, Israel ini, Yudaisme tidak mengizinkan satu kesalahan tanda baca pun pada kitab suci, mulai dari Zabur hingga Perjanjian Lama. Dari hasil koreksi ini, Cohen menghasilkan 21 jilid buku berisi panduan naskah kitab suci paling asli. Berdasarkan pria ini, hasil penelitiannya cukup berbeda dari Injil milik umat Nasrani atau Samaritan.

Terakhir kali upaya serupa untuk meneliti ayat-ayat Tuhan dilakukan pada 1525, oleh Jacob Ben-Hayim. Dia menerbitkan panduan memeriksa keabsahan kitab suci berjudul ‘Mikraot Gedolot’. Sejak pertama kali terbit, kitab karangan Ben-Hayim menjadi panduan setiap rohaniwan Yahudi untuk memeriksa apakah kitab suci mengalami perubahan.

Cohen mengaku tidak asal-asalan memperbaiki kitab suci Perjanjian Lama. Dia memakai sumber utama kitab Aleppo Codex, teks berusia seribu tahun yang bagi kalangan ahli Yudaisme merupakan teks Injil paling sahih. Selama ini kitab itu disimpan di Sinagog Aleppo, Suriah, sebelum akhirnya pada 1947 naskah itu berhasil dibawa ke Israel. Dari perbandingan telaten selama bertahun-tahun dia mengaku perbaikan versinya melengkapi kajian Ben-Hayim.

Kepala proyek Injil di Universitas Yerusalem , Rafael Zer, menilai karya Cohen masih memiliki kekurangan lantaran tidak terlalu menjelaskan bagaimana dia melakukan koreksi kitab suci. “Ke-21 jilid buku Cohen bagi saya separuh ilmiah karena mendadak langsung memberitahu kita ‘ini versi yang sejati’ tanpa menjelaskan bagaimana cara memilah keasliah ayat Tuhan,” ujar Zer.

(mdk/ard)

sumber : sumber

Tertarik dengan yang cetak tebal di atas, maksudnya berbeda bagaimana? Kalo Injil jelas sudah pasti berbeda dengan PL. Apakah maksudnya yang berbeda PL Yahudi (hasil revisi) dengan PL Kristen? Mungkin kalau ada penjelasan lebih lanjut berbedanya dimana?

Sebenarnya adanya perbedaan2 tanda baca, gramatika di antara naskah2 Alkitab bukanlah sesuatu yang baru diketahui, namun setahu saya perbedaan tersebut tidak mempengaruhi arti atau makna dari isi Alkitab. Karena itu mungkin bro PI bisa memberi info lebih lanjut berbedanya dimana?

Sekali lagi kebenaran tidak dapat lahir dari agama lain. Ulasan yang panda postingkan adalah versi Islam yang menyebut Alkitab dengan sebutan Injil dan penulisnyapun bernama Muhammad. Dari ratusan tulisan yang pernah saya baca dari versi Islam tentang Kristen, 100% adalah salah dan sengaja memalsukan informasi. Anda harus menyadari hal ini, sebab mereka adalah bangsa yang mencari pengakuan. Sebab Alquran yang mereka pegang berbeda isinya dengan Alkitab walau menyebutkan hal yang sama, tetapi Alkitab telah membuahkan banyak temuan arkeologi sedangkan kitab mereka satupun tidak. Karena itu usaha mereka selalu menyalahkan Alkitab sehingga banyak umat Kriseten akan DISESATKAN dan percaya Alkitab kita telah melenceng dari yang asli dan yang asli itu adalah yang dari Muhammad nabinya yaitu Alquran. Dengan demikian maka apa yang berbeda didalam Alquran dan Alkitab dapat diselesaikan dengan menciptakan persepsi global Alkitab salah, Alquran benar.

Ini daftar yang dipakai penterjemah http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Hebrew_Bible_manuscripts

Alkitab Perjanjian Lama memang memiliki dua sumber yang sama tetapi berbeda dalam penggunaan kalimatnya, sebab keduanya berjalan dari jalur yang berbeda. Satu secara tradisi diwariskan ke generasi dan satu lagi berasal dari pendidikan yang diajarkan dari genrasi ke genarasi. Secara kasar istilah saya satu versi rakyat satu versi sekolah.

Perjanjian Lama yang kita miliki bukan berdiri sendiri dibuat oleh orang Kristen sendiri tetapi merupakan kerjasama antara Kristen dan Yahudi. Menggunakan sumber-sumber yang orang Yahudi yakini paling tua dan dapat diterima.

Tuduhan seperti ini sering dilontarkan muslim dan sekali pernah dibungkam Allah dengan ditemukan naskah-naskah di Laut Mati, yang isinya menunjukan kesempurnaan penyalinan naskah selama ini. Kedua dengan ditamparnya tokoh yang melantangkan penghujatan terhadap kitab suci (kanker tenggorkan sehingga tidak dapat bicara lagi) dalam dekade ini.

Tetapi karena gerenasi sudah lewat, generasi muda seperti kita yang kurang membaca akan mudah sekali lagi dibodohi dengan informasi yang di poles dahulu sehingga memasukan ide dan pemikiran mereka bukan menyampaikan berita.

Demikian tanggapan singkat saya.

:afro: lagian langsung ketahuan belangnya :smiley: PL dia sebut Injil

Link sumbernya kok beda isinya? :coolsmiley:

Biar ga bingung aslinya di sini: http://www.haaretz.com/news/features/reconstructing-the-bible.premium-1.451823

Prof. Menachem Cohen of the Bible department at Bar-Ilan University has no doubt that all Hebrew Bibles sitting on bookshelves in Jewish homes around the world contain errors. Sometimes scores of errors can be found in a Bible, sometimes they number in the hundreds. For the most part these are not dramatic mistakes: perhaps the absence of the letter yod, an incorrect diacritical mark, a mistaken cantillation…

Kesalahan bukanlah kesalahan yg besar, melainkan hanya kesalahan pemberian tanda baca, dan hal kecil lainnya.

Itulah…berita mengenai adanya perbedaan yang dibesar-besarkan, tetapi tidak bisa menunjukkan dimana perbedaannya.

Kalau cuma soal tanda baca, wajar kalau ada perbedaan mengingat ketika Alkitab pertama kali ditulis tidak mengenal adanya tanda baca.

Yang bikin jadi besar itu pemberitaan dari si anu yang di copas diatas… (kan udah saya kasih tahu)

maaf link sudah di rekonstruksi, salah copy paste.

@all
lha saya sendiri pengen ngerti apa yg di rekonstruksi si Cohen…

ini ada berita lain, mungkin malah sumbernya :

http://www.huffingtonpost.com/2012/08/08/israeli-scholar-completes_n_1755571.html

GBU

Menachem Cohen, Israeli Scholar, Completes Mission To ‘Fix’ Hebrew Bible
By ARON HELLER 08/08/12 09:03 AM ET

RAMAT GAN, Israel – For the past 30 years, Israeli Judaic scholar Menachem Cohen has been on a mission of biblical proportions: Correcting all known textual errors in Jewish scripture to produce a truly definitive edition of the Old Testament.

His edits, focusing primarily on grammatical blemishes and an intricate set of biblical symbols, mark the first major overhaul of the Hebrew Bible in nearly 500 years.

Poring over thousands of medieval manuscripts, the 84-year-old Cohen identified 1,500 inaccuracies in the Hebrew language texts that have been corrected in his completed 21-volume set. The final chapter is set to be published next year.

The massive project highlights how Judaism venerates each tiny biblical calligraphic notation as a way of ensuring that communities around the world use precisely the same version of the holy book.

According to Jewish law, a Torah scroll is considered void if even a single letter is incorrect or misplaced. Cohen does not call for changes in the writing of the sacred Torah scrolls used in Jewish rites, which would likely set off a firestorm of objection and criticism. Instead, he is aiming for accuracy in versions used for study by the Hebrew-reading masses.

For the people of the book, Cohen said, there was no higher calling.

“The people of Israel took upon themselves, at least in theory, one version of the Bible, down to its last letter,” Cohen said, in his office at Bar-Ilan University near Tel Aviv.

The last man to undertake the challenge was Jacob Ben-Hayim, who published the Mikraot Gedolot, or Great Scriptures, in Venice in 1525. His version, which unified the religion’s varying texts and commentaries under a single umbrella, has remained the standard for generations, appearing to this day on bookshelves of observant Jews the world over.

Since Ben-Hayim had to rely on inferior manuscripts and commentaries, numerous inaccuracies crept in and were magnified in subsequent editions.

The errors have no bearing on the Bible’s stories and alter nothing in its meaning. Instead, for example, in some places the markers used to denote vowels in Hebrew are incorrect; or a letter in a word may be wrong, often the result of a centuries old transcription error. Some of the fixes are in the notations used for cantillation, the text’s ritual chants.

Most of the errors Cohen found were in the final two thirds of the Hebrew Bible and not in the sacred Torah scrolls, since they do not include vowel markings or cantillation notations.

Cohen said unity and accuracy were of particular importance to distinguish the sacred Jewish text from that used by those sects that broke away from Judaism, namely Christians and Samaritans.

To achieve his goal, Cohen relied primarily on the Aleppo Codex, the 1,000-year-old parchment text considered to be the most accurate copy of the Bible. For centuries it was guarded in a grotto in the great synagogue of Aleppo, Syria, out of reach of most scholars like Ben-Hayim. In 1947, a Syrian mob burned the synagogue, and the Codex briefly disappeared before most of it was smuggled into Israel a decade later.

Now digitized, the Codex, also known as the Crown, provided Cohen with a template from which to work. But because about a third of the Codex – nearly 200 pages – remains missing, Cohen had to recreate the five books of Moses based on trends he observed in the Codex as well as from other sources, such as the 11th-century Leningrad Codex, considered the second-most authoritative version of the Jewish Bible.

Cohen also included the most comprehensive commentaries available, most notably that of 11th-century Rabbi Shlomo Yitzhaki, known as Rashi.

The result is the completion of Ben-Hayim’s work.

“It was amazing to me that for 500 years, people didn’t sense the errors,” said Cohen, who wears a knitted skullcap and a gray goatee. “They just assumed that everything was fine, but in practice everything was not fine.”

He’s not the only scholar to devote decades to the task. In 1976, Rabbi Mordechai Breuer published a version of the Torah based mainly on the Aleppo Codex. The Hebrew University Bible Project in Jerusalem has also been working on a scientific edition of the Hebrew Bible, but theirs is directed toward scholars, while Cohen’s output is aimed at wider consumption.

Rafael Zer, the project’s editorial coordinator, called Cohen’s work “quasi-scientific” because it presents a final product and does not provide the reader a way of seeing how it was reached. He credits Cohen for bringing an exact biblical text to the general public but said it “comes at the expense of absolute accuracy and an absolute scientific edition.”

With the assistance of his son Shmuel, a computer programmer, Cohen launched a digital version he hopes will become a benchmark of the Israeli education system. He said his ultimate goal was to “correct the past and prepare for the future.”

As a former teacher, Cohen said he took particular pride in a sophisticated search engine that allows even novices to explore his work with ease. He called computers a “third revolution” to affect Jewish scripture, following the shift from scrolls to bound books and the advent of the printing press.

“I want the Bible to be user-friendly,” said Cohen, a grandfather of eight. “Today, we can create sources of information and searches that allow you to get an answer to everything you are wondering.”

nah lebih jelas maksudnya, silahkan membaca

Lha wong yesus aja baca ga ngoreksi kok…

Kepala proyek Injil di Universitas Yerusalem , Rafael Zer, menilai karya Cohen masih memiliki kekurangan lantaran tidak terlalu menjelaskan bagaimana dia melakukan koreksi kitab suci. “Ke-21 jilid buku Cohen bagi saya separuh ilmiah karena mendadak langsung memberitahu kita ‘ini versi yang sejati’ tanpa menjelaskan bagaimana cara memilah keasliah ayat Tuhan,” ujar Zer.

qoute…

maaf oot sedikit…

yang saya bold…

saya jadi ingat perkataan Yesus: dengan menggunakan kata “digagahi”

jika disambungkan…

begini kata Rafael Zen menilai koreksi cohen:

karya cohen masih memiliki kekurangan lantaran tidak terlalu menjelaskan
bagaimana dia menggagahi kitab suci" :onion-head29:

Hahahaha…ternyata…oh ternyata…versi islam toh…pantesan saja…niatnya mereka itu juga udah ga baik ko. toh juga tanda baca atau tanda kutip bisa membedakan arti?secara pengertian memang iya tp unsur gramaticalnya sama aja tuh…tetep aja ada Subjek Objek dan Predikat plus minus Keterangan…hehehe…
Kudu berhati2 neh membaca naskah2 begini, kudu diteliti dulu…
http://www.laymark.com/l/m/m174.gif

hahahahahaha…

http://www.laymark.com/l/m/m209.gif


http://www.laymark.com/l/m/m146.gif

The errors have no bearing on the Bible’s stories and alter nothing in its meaning. Instead, for example, in some places the markers used to denote vowels in Hebrew are incorrect; or a letter in a word may be wrong, often the result of a centuries old transcription error. Some of the fixes are in the notations used for cantillation, the text’s ritual chants.

ya, errornya hanya berupa hal hal kecil yang tidak mengubah arti.

Setuju :afro: dari judulnya sudah dapat kita tahu itu pasti tulisan islam. Dari judulnya “injil dikoreksi” sudah pasti ingin menjelek-jelekan alkitab sudah dipalsu. Ya, lebih parah lagi generasi kristen sekarang ga punya mental analitis, melainkan mental asal telan ga pernah menguji. Apa yang berbau kristen masuk aja. Yang analaitis malah dikomen katanya terlalu menghakimi lah, aneh lah, nyeleneh lah padahal ga seperti itu.