iman

Apakah maksud dari iman explisit dan implisit, dan apa maksud dari extra
eclesiam nula salus, dan bagaimana hubungan ketiganya? Menurut pengelola
dan menurut sudat pandang konsili vatikan terakhir?

Extra Ecclesiam nulla salus, adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin, artinya adalah: “Di luar Gereja, tidak ada keselamatan.” Sebuah dogma Gereja Katolik yang telah diimani umat Kristiani secara umum sejak zaman Gereja Kristen awal.

Ibr. 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

secara implisit Iman adalah percaya.

soal hubungannya tanyakan FKers lain :slight_smile:

salam :slight_smile:

Orang beragama sejak kecil umumnya diindoktrinasi oleh para rohaniwan dari berbagai agama untuk selalu mengutamakan iman dibandingkan akal budi ketika mereka sedang menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan mereka, atau ketika mereka sedang mencari pengetahuan objektif yang dapat diandalkan bagi kehidupan manusia.

Ketika seorang beragama sedang menghadapi suatu kesulitan berat, pengasuh rohaninya umumnya mengajarkannya untuk jangan bergantung pada akal budi sendiri, melainkan harus hanya dengan iman bergantung penuh dan pasrah pada Allah Yang Mahakuasa, dan menyerahkan semua persoalannya kepada-Nya. Yang dimaksud dengan “iman” dalam hal ini tentu adalah rasa percaya yang dikuat-kuatkannya sendiri dalam hatinya kepada Allah yang dilihat sebagai suatu figur Bapa atau Ibu pelindung dan penolong.

Tentu sikap berpasrah total kepada Allah bisa memberi suatu ketenteraman pada diri orang beragama yang sedang bermasalah berat dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Tetapi rasa tenteram yang ditimbulkan oleh kepasrahan total bisa merupakan suatu rasa tenteram yang palsu, keliru dan berbahaya, karena membuat si mukmin tidak mau lagi memikirkan persoalannya dengan sungguh-sungguh dan tidak mau lagi mencari jalan keluar secara rasional. Rasa tenteram yang semacam ini bisa berbahaya bagi dirinya karena menyebabkannya menunda menyelesaikan persoalannya dan membuat persoalannya makin menumpuk, makin rumit, dan makin membelit dan mematikan dirinya dari waktu ke waktu. Rasa tenteram semacam ini tidak produktif karena juga membuatnya bukan makin aktif mencari solusi persoalannya, melainkan membuatnya makin pasif dan akhirnya mematikan semua fungsi kreatif otaknya.

Para rohaniwan biasanya juga meminta umat mereka untuk beriman hanya kepada kebenaran Kitab Suci ketika mereka menjumpai konflik atau benturan antara apa yang ditulis dalam Kitab Suci dan apa yang menjadi pandangan sains modern tentang sesuatu hal. Yang dimaksud dengan “beriman” di sini adalah meyakin-yakinkan hati dan pikiran sebisa-bisanya dan sekuat-kuatnya, menyugesti diri sedalam-dalamnya dalam ketakwaan kepada Allah dan kepada suatu akidah keagamaan, bahwa apa yang ditulis dalam Kitab Suci adalah benar sementara yang menjadi pandangan sains modern adalah salah.

“Beriman” secara demikian juga merugikan dan membahayakan diri si mukmin. Sebab pada satu pihak beriman semacam ini akan mendorong dirinya untuk selalu berupaya berargumentasi dengan cara pseudo-ilmiah untuk mempertahankan bahwa apa yang harfiah ditulis Kitab Suci adalah benar, sedangkan pandangan sains tentang hal yang sama adalah salah. Para pembela dogma kreasionisme dalam berbagai agama dewasa ini adalah contoh orang-orang semacam ini, orang-orang yang atas nama kewibawaan ilahi suatu Kitab Suci menolak pandangan-pandangan astrofisika, kosmologi, Darwinisme dan biologi modern!

Pada pihak lainnya, beriman semacam ini juga akan memaksa si mukmin untuk menjalani kehidupan dalam dua dunia yang berbeda dan berbenturan satu sama lain. Pada satu pihak dia harus hidup dalam suatu “dunia sakral” yang mengharuskannya membela dan mempertahankan mati-matian segala hal yang (dalam keyakinannya) ditulis oleh Allah dalam Kitab Suci. Tetapi pada pihak lainnya, di “dunia sekularnya” dia harus juga menerima pandangan-pandangan sains modern yang bertabrakkan dengan apa yang ditulis dalam suatu Kitab Suci tentang hal yang sama. Pandangan-pandangan sains modern ini diajarkan di sekolahnya dan harus diterimanya jika dia mau menjadi seorang nara didik yang berpikiran normal dan akhirnya bisa lulus dengan baik dari pendidikan formalnya. Inilah suatu bahaya psikologis patologis berupa keterpecahan kepribadian yang dialami setiap mukmin yang tidak bisa menempatkan dengan benar kedudukan suatu Kitab Suci keagamaan yang bukan kitab sains dan yang tidak mengajarkan sains, dan kedudukan sains modern sebagai pemandu kehidupan manusia dalam mencari kebenaran pengetahuan objektif dari berbagai hal yang mengitari kehidupan manusia setiap hari dalam kosmos yang sangat luas.

Untuk menghindari kekeliruan dan bahaya seperti yang sudah digambarkan di atas dalam pendidikan keagamaan, sudah seharusnya kita memandang bahwa iman dan rasio adalah dua hal yang sesungguhnya sama-sama diproses di dalam organ serebral maha penting dalam rongga kepala kita yang melahirkan dan mengatur pikiran kita, dan bahwa karena itu iman adalah pikiran juga. Jadi, jika kita dapati iman seorang mukmin tertentu sebagai iman yang membuta, kita harus memandang iman semacam ini juga sebagai pikiran yang membuta. Pikiran yang membuta adalah pikiran yang tidak di-manage dengan benar menuju suatu pencerahan. Begitu juga, iman yang naif, yang membuat seseorang mengambil sikap “asal percaya saja terhadap apa yang ditulis dalam Kitab Suci!”, adalah juga pikiran yang naif. Pikiran yang naif adalah pikiran yang tidak di-manage dengan kritis dan dengan saksama. Demikian juga, jika iman sekelompok mukmin membawa masyarakat ke dalam bahaya dan menjadikan kehidupan masyarakat tidak sehat, maka kita harus menyatakan bahwa pikiran mereka berbahaya dan sakit, dan pikiran semacam ini membuat masyarakat juga sakit atau dibawa ke dalam bahaya.

Dengan memandang dan memperlakukan iman sebagai pikiran, maka ketika kita menyatakan suatu ketidaksetujuan atau perlawanan kita terhadap suatu perilaku beriman seorang atau sekelompok orang beragama yang tidak betul atau yang mengancam kesehatan dan keutuhan masyarakat, kita bukan sedang berperkara dengan Allah Yang Mahakuasa yang diklaim melindungi kelompok ini, melainkan dengan pikiran-pikiran insani mereka yang keliru. Mereka keliru karena mereka telah lama diindoktrinasi dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan dan anti-sains, dan yang karenanya membahayakan dan memecahbelah masyarakat dan mengancam peradaban manusia yang dibangun di atas rasionalitas manusia.

Kadang kita memang harus berhenti memikirkan, ketika kita menghadapi masalah berat.
Pikiran akan capek dan stres bila dipaksa untuk memikirkan suatu masalah.
Itulah sebabnya disarankan untuk berpasrah diri.
Dengan berpasrah diri, kita bisa menenangkan diri dan refreshing.
Dan kadang pada saat kita tidak memikirkan masalah tersebut, justru solusinya bisa kita dapatkan.

Bagus nih jadi masukan untuk Harun Yahya :smiley:

cloud :

Kadang kita memang harus berhenti memikirkan, ketika kita menghadapi masalah berat. Pikiran akan capek dan stres bila dipaksa untuk memikirkan suatu masalah. Itulah sebabnya disarankan untuk berpasrah diri. Dengan berpasrah diri, kita bisa menenangkan diri dan refreshing. Dan kadang pada saat kita tidak memikirkan masalah tersebut, justru solusinya bisa kita dapatkan.

cloud ada pepatah italia mengatakan : “Dalam badai, berdoalah pada Tuhan tetapi kayuhlah
dayung menuju pantai.” dalam ayat Ioanes 1:1 AKAL adalah pelita Hati wkwkw kidding bro ;D

mengenai harun Yahya, entah kalangan evangelikal dan atheis sensi sekali sam Ybs

salam :slight_smile:

betul bro… :afro:
“Ora Et Labora”

Extra Ecclesiam nulla salus, adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin, artinya adalah: "Di luar Gereja, tidak ada keselamatan." Sebuah dogma Gereja Katolik yang telah diimani umat Kristiani secara umum sejak zaman Gereja Kristen awal.
salah satu cara untuk menakut nakuti manusia agar percaya dgn mereka yang bicara seperti itu..

semoga tidak ada pertanyaan : GEREJA MANA YG LEBIH BISA MEMBAWA SELAMAT :ashamed0004:

Percaya karena memang dapat dibuktikan. Jauh lebih afdhol dan membekas di hati sampai mati.

Percaya karena memang dapat dibuktikan, maka apa yang diperintahkan akan dengan sangat ringan dapat dilakukan.

Percaya karena memang dapat dibuktikan, maka tidak akan ada keraguan, jauh dari syak wasangka.

Percaya karena memang dapat dibuktikan, akan menghilangkan kekhawatiran di dalam hati.

Percaya karena memang dapat dibuktikan, akan menyadarkan bahwa apa yang kita ketahui hanya sebatas relatif.

Percaya karena memang dapat dibuktikan, ternyata manusia memang tidak memiliki pengetahuan apa apa secara absolut.

Anda sudah mulai mengerti sekarang rupanya.
Karena hanya Tuhan-lah ada Absolut.

Dan kami diberikan cara untuk mengetahui itu
Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Kelihatannya anda juga sudah dapat menerima bahwa kita manusia memang sangat relatif.

Tuhan adalah absolut. Jauh berbeda pemahamannya dengan manusia mengetahui tuhan secara absolut.
Pemahaman manusia sangat relatif, lalu bagaimana mungkin manusia dapat mengetahui tuhan secara absolut.

lah kan sudah sering diberitahu

TUHAN yang memberitahu siapa dirinya lewat FIRMAN, dan ROH Nya yang mengkonfirmasi bahwa FIRMAN nya adalah Diri-Nya

tapi kalau anda belum percaya jangan pernah bermimpi untuk anda dapat mengerti rahasia ilahi yang mulia ini

kalau anda percaya, saya pribadi yang akan membimbing anda supaya anda bisa mengerti, tapi kalau anda hanya gemar untuk merasa eksis dalam forum ini dengan mencari2 hal2 yang tidak relevan, silahkan saja, dan kamipun akhirnya bisa tahu itulah motivasi saudara

hanya untuk sekedar eksis, bukan untuk mencari kebenaran

:slight_smile:

Jika anda berbicara tentang percaya, silahkan anda dengan apa yang anda percayai.

Saya berbicara tentang percaya karena dapat dipahami.

Percaya karena memahami secara logis, akan menghilangkan segala keraguan.

Dulu, ketika saya beribadah, saya selalu bertanya, kenapa saya tidak percaya saja bahwa X adalah tuhan. Ketika saya meninggalkan logika saya, maka ada kecenderungan untuk itu. Lalu saya berfikir, jika saya percaya bahwa x adalah tuhan, kenapa saya tidak percaya bahwa y juga adalah tuhan. Akhirnya saya berkesimpulan, hati/percaya saja, akan menimbulkan banyak keraguan dan pertanyaan.
Akhirnya saya bertanya, bagaimana saya harus membuktikan bahwa mereka mereka itu adalah salah satunya adalah tuhan.

Sukur saat ini, saya sudah mendapatkan jawabannya. Ibadah saya semakin khusuk.

Jawaban saya, Tuhan adalah absolut,
Pengetahuan manusia tentang tuhan sangat relatif, bahkan nol. Kecuali hanya menyebut namaNYA.

Kita akan mengetahuinya kalau Tuhan itu sendiri yang datang memberitahukannya.

setuju…
karena:

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.
Matius 22:14

memangnya ada manusia di muka bumi ini yang bisa menyelami karya dan rencana Tuhan…?

mari jelaskan secara selogis logisnya siapa allah yang anda percayai itu?

tentu dengan logika yang benar-benar logika sepeti logika matematis dsb, bukan logika alam gaib macam ini

metode pembuktian apa yang anda lakukan?
apa parameter sahihnya?

kalau cuma ibadah, semua orang beragama pun bisa lebih khusuk dari anda, dan bagaimana metode pengukuran kekhusukan itu

mari jelaskan dengan apa yang anda sebut penalaran “logis”

:slight_smile:

Bagaimana kita tahu kalau yang datang itu adalah tuhan ?

Bagaimana kita tahu kalau yang memanggil itu adalah tuhan ?
Bagaimana kita tahu bahwa kita dipanggil tuhan ?
Bagaimana kita tahu kalau yang memilih itu adalah tuhan ?
Bagaimana kita tahu kalau kita dipilih tuhan ?
Kriterianya ? Jangan sekedar normatif.

Makanya selalu saya katakan, pengetahuan manusia itu sangat relatif. Lalu bagaimana mungkin manusia bisa mengetahui tuhan secara absolut.