Infallibilitas Paus Bukan Berarti Paus Manusia Tak Berdosa

ada sebuah pola pikir praktis yg langsung men- judge dogma Infallibilitas Paus seperti ini:

ya, Ajaran gereja Katolik mengenai Infallibilitas Kepausan adalah salah satu ajaran Gereja Katolik yang umumnya disalahmengerti oleh mereka yang berada di luar Gereja. Fundamentalis dan “Kristen Alkitabiah” lainnya sering bingung antara Infallibility (ketidakdapatan untuk sesat) dan Impeccability (ketidakdapatan untuk berdosa). Mereka membayangkan bahwa umat Katolik percaya bahwa Paus tidak dapat berdosa.

INFALLIBILITAS PAUS

yang pertama infallibilitas Paus itu bukan berarti Paus bebas dari dosa.
Yang kedua, infallibilitas paus itu bukan berarti Paus bebas dari kesalahan2 hidup, bebas dari kesalahan logis, kesalahan politis, kesalahan sains, bahkan kesalahan2 theologis, dan semua kesalahan2 manusiawi lainnya.

Namun, jika Paus menyatakan ajarannnya secara definitif, yaitu secara ex-cathedra, maka ajaran Paus yg di nyatakan secara ex-cathedra itulah yg diimani sebagai yg infallible. jadi, infalibillitas Paus itu hanya pada wewenang mengajarnya… semua kata2 paus, pidato paus, tulisan2 paus, bukan selalu sebagai wewenang. dan tidak selalu dipercaya sebagai yg infallible.

Syarat Infallibilitas:
Konsili Vatikan I memberikan informasi kepada kita mengenai syarat-syarat infallibilitas Paus yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut antara lain:

  1. Paus harus berbicara dari Tahta St. Petrus (ex-Cathedra) dalam kapasitasnya sebagai pengganti Petrus.
  2. Keputusan Paus harus mengikat Gereja secara keseluruhan.
  3. Keputusan tersebut harus mengenai ajaran Iman dan Moral.

Ketiga syarat ini harus dipenuhi seluruhnya. Jika hanya sebagian saja yang dipenuhi, maka keputusan Paus tidak infallible

Infallibilitas sendiri tidak hanya dimiliki oleh Paus sendiri. Sebenarnya, infallibilitas juga dimiliki oleh Magisterium Gereja Katolik, yaitu Paus bersama Para Uskup yang bersatu dengan Paus, ketika mengajarkan secara otentik ajaran Iman dan Moral.

KRISTUS sendiri yang menganugerahkan infallibilitas ini. KRISTUS memberikan kepada Petrus dan Para Rasul kuasa “mengikat dan melepaskan”. Tentunya kuasa ini haruslah disertai dengan karunia Infallibilitas sebab jika Petrus dan Para Rasul sesat dalam “mengikat dan melepaskan” di bumi maka kesesatan masuk ke dalam surga.

Mat 16:19 “Kepadamu (Petrus) akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Mat 18:18 “Aku berkata kepadamu (Petrus dan Para Rasul): Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Tuhan YESUS memerintahkan murid2Nya untuk mengajar…

Matius 28:20dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Dan Tuhan YESUS pun memberi janji bahwa akan menyertai hingga akhir jaman.

Jadi mengajar adalah perintah Tuhan, dan apa jadinnya jika pengajar itu disertai YESUS hingga akhir jaman/
? apa percaya bahwa disertai YESUS itu bisa sesat? jika murid akan disertai hingga akhir jaman, bagaimana implementasinya jika murid2 sekarang sudah meninggal…?

infallibitas dalam rangka mengajar guna memberi kepastian wahyu Tuhan hingga akhir jaman adalah oleh karena Tuhan Allah yang membuatnya demikian.

Tulisan ini saya tujukan untuk umat protestan yg masih mau menggunakan pikiran obyektifnya, yg masih bisa mendengar pemahaman dan penjelasan, yang masih bersih hatinya dari kebencian dan kedengkian terhadap Gereja Katolik.

jelas umat protestan tidak perlu untuk setuju, namun saya hanya ingin anda2 semua mengerti yg dimaksudkan infallibilitas Paus, sehingga anda tidak lagi salah paham mengenai konsepsi ajaran katolik yang satu ini. seperti posting2 ABK pada umumnya.

hal ini dapat dilihat dari “Konsili Hippo, Carthago, dan Trente”…

:slight_smile:

terimakasih brother…

ehm… apa sobat2 protestan sudah pada ngerti ya? sehingga ga ada yg mempertanyakan…

semoga saja ngga ada lagi postingan,

Paus = Tuhan.
semua manusia berdosa, kenapa paus ngga berdosa?
Paus banyak salah… teori heliosentris dan geosentris…

dll…

harapannya: ada one step up for understanding Pope Infallibility… :slight_smile:

Dear Onde32lumut

Penjelasan seperti ini yang saya tunggu-tunggu di FK. Good thread.

Salam

terimakasih MAC untuk pengertiannya…

salam… :slight_smile:

  1. Bagaimana hubungannya dengan mat 12:34

Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.

Sedangkan banyak kasus Paus melakukan hal-hal yang menjijikkan ketika menjabat sebagai Paus, contoh: Paus Alexander VI (1492-1503) memiliki mistress, mempunyai anak haram…

  1. status Infallibilitas Paus ini berlaku setelah Konsili Vatican I (1869 - 1870) ke depan, atau berlaku surut (dalam artian Paus-Paus sebelumnya juga termasuk dalam status Infallibilitas ini…?

Hanya bertanya, jangan dianggap sebagai hostile yaaa…

Willem, sebenarnya dari uraian post #1 sudah jelas,

Syarat Infallibilitas:
Konsili Vatikan I memberikan informasi kepada kita mengenai syarat-syarat infallibilitas Paus yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut antara lain:

  1. Paus harus berbicara dari Tahta St. Petrus (ex-Cathedra) dalam kapasitasnya sebagai pengganti Petrus.
  2. Keputusan Paus harus mengikat Gereja secara keseluruhan.
  3. Keputusan tersebut harus mengenai ajaran Iman dan Moral.

tidak bergantung dari kehidupan “menjjijikan” Paus.
dan AFAIK selama masa pontifikat Paus-paus tersebut, tidak ada keputusan yang dikeluarkan ex-cathedra.

lihat jawabannya di post #1

  1. Maaf broer, dalam keterbatasan saya, masih belum dapat mencerna postingan #1 apakah berlaku maju (setelah konsili vatican I) atau berlaku surut juga…
  1. jadi terlepas dari dosa dan kelakuan menyimpang para Paus ketika menjabat, pada saat dia duduk di kursi ex-cathedra dan memenuhi syarat2 tsb, maka dia secara otomatis menjadi “infallibilitas”… dan ketika turun dari kursi itu, maka dia kembali dalam kehidupan pribadinya… jika dia berbuat kelakuan menyimpang kembali, dan ketika dia akan duduk kembali di kursi itu dan memenuhi syarat2 yang disebut di atas, maka dia kembali menjadi “infallibilitas”… begitukah berulang-ulang…??? Apakah pemahaman yang saya tangkap ini sesuai dengan pemahaman Anda?

  2. Kira-kira, apakah ada daftar kapan saja ex-cathedra terjadi…???

Syarat Infallibilitas: Konsili Vatikan I memberikan informasi kepada kita mengenai syarat-syarat infallibilitas Paus yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut antara lain: 1. Paus harus berbicara dari Tahta St. Petrus (ex-Cathedra) dalam kapasitasnya sebagai pengganti Petrus. 2. Keputusan Paus harus mengikat Gereja secara keseluruhan. 3. Keputusan tersebut harus mengenai ajaran Iman dan Moral.

Bro Onde2 sekarang jadi jelas, bahwa tentang ajaran yang di beri oleh Paus, adalah tidak mungkin salah.

Segala kelakuannya dapat salah.

Ada perbedaan antara katolik dan Kristen :

Kristen , walau sebagai pendeta, ajarannya dapat salah, dapat di perbaiki dan di tegor oleh majelis, kalau ternyata memang ada kesalahan.

Sebagai jemaat, kita tidak mentah2 menerima ( bagi yang sudah belajar theology ) ajaran2, tetapi dengan kristis akan menerimanya.

Jadi Kristen tidak hanya menerima saja, masing2 akan mencari jawaban di dalam Alkitab.

Ini kira2 yang dapat di sharingkan, sehingga kamu juga dapat mengerti kenapa orang Kristen kritis atas ajaran, terutama yang berani mengatakan bahwa ajarannya pasti tidak mungkin salah.

Kita hanya berani mengatakan ALKITAB tidak mungkin salah.

Semoga kamu mengerti kenapa orang Kristen kritis pada ajaran2 Alkitab dan terutama orang yang berani mengaku ajarannya tidak mungkin salah.

Pada pelaksanaannya tidak sesimple itu sis.

Karena ada penafsiran yang harus diputuskan, dan keputusan itu bersifat harus mutlak benar. Dalam hal ini tidak boleh ada keragu-raguan sedikitpun. Mengapa? Karena bersifat pengajaran dan iman. Bayangkan, bagaimana kita bisa menerima ajaran yang berisfat keimanan tanpa jaminan 100% benar, yang timbul adalah keragu-raguan.

Jadi, dalam penafsiran, masing masing pengajar Alkitab bisa menafsirkan sendri sesuai pemahamannya, tetapi, sekali sudah diputuskan oleh Paus secara ex-Cathedra, maka keputusan Paus adalah mutlak benar dan harus dipatuhi dan diimani oleh seluruh umat Katolik, termasuk yang berbeda pemahaman dengan keputusan itu.

Kira kira seperti itu, dan dalam banyak kisah tentang Bapa Gereja, termasuk Agustinus, pernah pada posisi itu. Dan beliau juga mematuhi keputusan Paus yang disampaikan secara ex-Cathedra.

Syalom

Sekarang saya mengerti, dan sorry sepertinya jadi tidak ada kebebasan ya bro.

Sedangkan Galatia mengatakan kita telah merdeka di dalam Kristus, dan Tuhan sendiri yang akan mengajar kita akan segala sesuatu.

Ya memang sebagai umat, kalian harus patuh kepada keputusan Paus.

Sedangkan orang Kristen hanya tunduk kepada Kristus dan Alkitab sebagai pedoman dan dasar kita.

Karena ayat jangan bersandar kepada manusia, selalu dingatkan.

Nah dalam hal ini, kita harus melihatnya secara lebih luas sis.
Betul, dalam beberapa hal, umat Katolik lebih terikat. Tetapi keterikatan itu juga merupakan jaminan terhadap apa yang harus kami lakukan adalah benar. Karena kami juga mengimani, bahwa apa yang sudah diputuskan secara ex-Cathedra itu adalah infalible, dan mendapat bimbingan Roh Kudus seperti yang sudah dijanjikan oleh Jesus dulu.

Jadi, seperti anda juga bisa saksikan, bahwa dalam pemahaman dogma dan doktrin, umat Katolik selalu seragam, tidak ada yang menyimpang. Dalam hal ini, sebenarnya, diakui ataupun tidak, pasti juga terjai dalam denom anda, sis. Karena anda pasti mengetahui mana yang benar benar dipegang oleh GRII dan mana yang menyimpang, betul?

Jadi, pada prinsipnya seperti itu, karena anda juga pastilah tunduk pada ajaran yang disampaikan oleh GRII.

Syalom

@bruce,

menyambung dari sis Rita, adalah sangat terasa dalam ibadah-ibadah bersifat Oikumene terutama di kantor-kantor. Pendetanya berganti-gantian dari semua denominasi Kristen. Sebagai seorang Reformed saya mendengarkan khotbah mereka secara kritis. ada kebenaran2 yang dapat saya terima berdasarkan pemahaman dan ajaran gereja saya, tetapi ada hal-hal yang dikhotbahkan saya dengarkan saja, tidak memprotes, tetapi dalam hati saya tidak mengamini.

contohnya ada pendeta yang mengajarkan mengenai keharusan persembahan persepuluhan karena prinsipnya diberikan sebelum Hukum Taurat (dasa titah) yaitu pada saat Melkisedek dan Abraham.

khotbah demikian kan datang dari pemahaman teologisnya pendeta itu. karena saya sudah mendengar dan memahami pandangan teologis lain tentang perpuluhan, dan menurut saya sinkron dengan ALkitab misalnya soal “melakukan taurat” sudah digenapi TUHAN YESUS, dll, penjelasan mana lebih dapat diterima, maka ajaran pendeta tentang perpuluhan tersebut jadi hanya sekedar informasi saja bagi jiwa saya.

begitulah kira-kira.

Orang Kristen beriman pada Kitab Suci, tetapi pemahaman yang ia ikuti berdasarkan perumusan gereja, dan yang ia imani dalam hatinya juga. Jadi hal tafsiran pada akhirnya akan bermuara pada “ada iaman dan amin untuk tafsiran itu atau tidak”.

jika ada amin dan iman dalam hati orang tersebut, maka ajaran itu baginya menjadi sebuah rhema, dimana TUHAN baginya bersuara dan ia menyembah dan mendengar suara itu.

Itulah sebabnya pendeta Kristen selalu berjuang untuk Alkitabiah, karena ia tahu apabila ia memaparkan pikirannya sendiri, ia tahu bahwa hal itu akan ditolak atau angin lalu dalam pendengaran, pemikiran, hati dan jiwa jemaat.

Itulah sebabnya meski anda berkata Paus Infalibel, dan yang diajarkan Paus itu tidak menjadi rhema atau diterima dalam jiwa jemaat, maka sia-sia juga ajaran tersebut, hanya dijadikan informasi yang dibiarkan berlalu, atau tidak ditaati.

salam

Sorry bro, tadikan saya sudah katakan, jemaat tidak selalu tunduk pada ajaran dimana kalau pendetanya ada yang salah ajarannnya ,setelah dikonfirmasi dengan Alkitab bahasa asli.

Kita hanya tunduk pada Allah Tritunggal dan ALKITAB.

Itulah sebabnya meski anda berkata Paus Infalibel, dan yang diajarkan Paus itu tidak menjadi rhema atau diterima dalam jiwa jemaat, maka sia-sia juga ajaran tersebut, hanya dijadikan informasi yang dibiarkan berlalu, atau tidak ditaati.

Ehhm, saya beri contoh gampang ya bro, tentang keputusan ex-Cathedra yang pernah diputuskan

a. “Tome to Flavian“, Pope Leo I, 449, on the two natures in Christ, received by the Council of Chalcedon;

b. Letter of Pope Agatho, 680, on the two wills of Christ, received by the Third Council of Constantinople;

c. Benedictus Deus, Pope Benedict XII, 1336, on the beatific vision of the just prior to final judgment;

d. Cum occasione, Pope Innocent X, 1653, condemning five propositions of Jansen as heretical;

e. Auctorem fidei, Pope Pius VI, 1794, condemning seven Jansenist propositions of the Synod of Pistoia as heretical;

f. Ineffabilis Deus, Pope Pius IX, 1854, defining the Immaculate Conception;

g. Munificentissimus Deus, Pope Pius XII, 1950, defining the Assumption of Mary.

Untuk detail dari keputusan itu, silahkan anda google. Jika anda kesulitan, saya akan bantu mencarikannya.

Syalom

@rita

Sorry bro, tadikan saya sudah katakan, jemaat tidak selalu tunduk pada ajaran dimana kalau pendetanya ada yang salah ajarannnya ,setelah dikonfirmasi dengan Alkitab bahasa asli.

Kita hanya tunduk pada Allah Tritunggal dan ALKITAB.

Betul sis, tetapi pengertian Alkitab yang anda percayai benar adalah pengertian Alkitab berdasarkan pengajaran dari GRII, kan?

Contohnya adalah masalah rapture, dimana antara penganut rapture dan bukan, bisa berdebat panjang lebar satu sama lain, walau sama sama berdasarkan Alkitab yang sama. Nah, dalam hal ini anda mendapat pemahaman dari GRII.

Syalom

Betul sis, tetapi pengertian Alkitab yang anda percayai benar adalah pengertian Alkitab berdasarkan pengajaran dari GRII, kan?

Contohnya adalah masalah rapture, dimana antara penganut rapture dan bukan, bisa berdebat panjang lebar satu sama lain, walau sama sama berdasarkan Alkitab yang sama. Nah, dalam hal ini anda mendapat pemahaman dari GRII.

Bukan hanya dari GRII, tetapi dari bapa2 Gereja dan bapa2 Reform lainnya, banyak yang saya pakai untuk perbandingan, bukan hanya GRII.

Itu makanya ada perbedaan, karena orang2 Reform seperti Anthonny Hoekema, Palmer, Bavinc, mc Arther dll

Saya suka baca buku, saya bandingkan dengan semuanya, dan mengambil kesimpulan yang saya yakin Roh Kudus terus membimbing saya yang bodoh ini.

Doa terus dalam pergumulan dalam setiap ajaran dalam jangka waktu yang panjang.

Karena Tuhan Yesus sudah katakan, siapa yang mencari kebenaran, PASTI tidak akan kecewa, dan mendapat jawaban.

Dengan iman yang mendasari itulah kristen menilai ajaran2 yang di berikan oleh siapapun, dan menyaringnya melalui Alkitab.

Karena janji Tuhan bahwa Tuhan yang mengajari dan dari pihak kita juga harus tekun belajar, tidak babi buta , dan belajar dengan sungguh2 dan mendalaminya dengan seksama.

Bagaimana jika ada dua atau tiga pendapat berbeda, dan masing masing merasa mendapat pemahaman dari Roh Kudus? Mungkinkah Roh Kudus memberi pemahaman berbeda-beda? Yang mana yang akan anda percaya sebagai pemahaman berdasarkan Roh Kudus?

Kira kira seperti itulah, sis, pentingnya peran Magisterium dalam Katolik. Karena saya tetap percaya bahwa di gereja andapun, ada wewenang mengajar itu.

Syalom

Perbedaan pasti ada, seperti calvin dan arminien, kedaulatan Allah dan free wil manusia.
Mula2 saya Arminien dari John Wesley, lalu saya belajar dua2nya dan sesudah bandingkan dengan Alkitab, selalu ada kepastian di Alkitab.

Saya yakin dengan Kedaulatan Allah, yaitu ajaran Reform.

Manusia harus tetap tunduk pada kedaulatan Allah, dari sana saya tahu saya tidak mungkin salah, kita manusia ciptaan yang harus tunduk pada Allah pencipta kita.

Jangan lupa, bahwa apa yang anda sangat yakini, juga sangat diyakini oleh pihak lain, sis.

Nah, sampai pada suatu titik, dimana kita saling meyakini apa yang kita percayai adalah kebenaran. Kemudian kita berdiskusi dan tetap tidak pernah sependapat. Apa yang kita lakukan? Saling melontarkan caci maki? Atau kita saling memutuskan agree ot disagree, sambil saling mendoakan?

Syalom

Itu yang harus di lakukan, saling mendoakan, supaya Tuhan menunjukkan KEBENARANNYA pada kita, saya percaya dengan sungguh2, kalau kita minta ke Tuhan, kebenaranNya pasti akan di tunjukkan, hanya saja bukan waktu kita manusia, tetapi kairos, waktunya Tuhan.