Ini Dia Negara Paling Berbahaya Bagi Wanita

Afghanistan telah terpilih sebagai negara yang paling berbahaya bagi wanita menurut jajak pendapat para ahli yang dilakukan oleh Thomson Reuters Foundation.

Antonella Notari, ketua dari Women Change Makers, sebuah kelompok yang mendukung pengusaha sosial wanita global, mengatakan bahwa kombinasi dari konflik yang sedang berlangsung, serangan udara NATO dan praktek-praktek budaya menjadikan Afghanistan sebagai “tempat paling berbahaya” bagi wanita untuk hidup di sana.

“Wanita yang melakukan usaha untuk berbicara atau mengambil peran publik yang menentang stereotipe gender yang telah tertanam di masyarakat membuat wanita yang menjadi polwan atau penyiar berita seringkali diintimidasi atau terbunuh,” ujarnya.

Para ahli diminta memberikan peringkat terhadap negara-negara sesuai dengan persepsi bahaya secara keseluruhan dari resiko spesifik seperti ancaman kesehatan, faktor budaya dan agama, perdagangan manusia dan kekerasan seksual.

Mereka memberikan peringkat kepada Afghanistan sebagai negara paling berbahaya bagi wanita secara keseluruhan khususnya dari kategori kesehatan, kekerasan non seksual dan kurangnya akses ke sumber daya ekonomi.

Perhatian khusus ditekankan pada kurangnya akses ke dokter dan tingginya angka kematian ibu yang dialami negara tersebut, selain itu tidak adanya hak-hak ekonomi terutama bagi wanita.

Elisabeth Roesch, yang bekerja pada International Rescue Committee di Washington yang mengurus kekerasan berbasis gender, mengatakan kurangnya layanan atau sumber daya bisa sama berbahayanya bagi wanita seperti bom atau kekerasan fisik.

“Saya pikir Anda harus melihat pada seluruh bahaya dan resiko yang harus dihadapi para wanita dan anak perempuan,” ujarnya. “Jika seorang wanita tidak dapat mengakses layanan kesehatan karena kesehatan mereka bukanlah suatu prioritas, hal itu dapat menjadi sebuah situasi yang berbahaya juga.”

Posisi Afghanistan diikuti oleh Democratic Republic of Congo, dimana pemerkosaan dalam skala besar-besaran digunakan sebagai senjata perang.

Clementino Cantoni, pekerja bantuan ECHO, komisi Eropa untuk bantuan kemanusiaan mengatakan para wanita direkrut sebagai tentara dan dipaksa untuk menjadi budak seks.

“Fakta akan pemerintahan yang korup dan hak-hak wanita sangatlah tidak diperhatikan di dalam agenda pemerintah menjadikan tidak adanya jalan keadilan bagi wanita,” ujarnya.

Perkiraan terbaru akan wanita yang diperkosa di negara yang dilanda perang setiap tahun itu mencapai 400.000.

Pakistan, India dan Somalia menempati peringkat ketiga, keempat dan kelima.

Praktek-praktek budaya, suku dan agama menempatkan wanita Pakistan pada resiko tinggi, dimana Komisi HAM negara tersebut memperkirakan sekitar 1.000 korban pembunuhan demi kehormatan terjadi setiap tahun.

India menempati peringkat keempat karena tingginya angka aborsi janin perempuan, pembunuhan bayi dan perdagangan manusia – pemerintah memperkirakan sekitar 100 juta orang, kebanyakan wanita dan anak perempuan, diperdagangkan di India tahun 2009.

Di Somalia, wanita beresiko tinggi akan tingkat kematian ibu, perkosaan dan mutilasi alat kelamin wanita, serta miskinnya layanan kesehatan dan pendidikan dan terbatasnya akses kepada sumber ekonomi.

Menteri wanita Somalia, Maryan Qasim, terkejut bahwa negaranya tidak berada di peringkat teratas.

Kepada Trustlaw, layanan berita hukum dari Thomson Reuters, beliau mengatakan, “Saya sungguh terkejut karena saya pikir Somalia akan berada di peringkat satu dan bukannya peringkat lima.”

Sungguh miris melihat kenyataan masih adanya negara-negara yang merendahkan harkat dan martabat wanita. Padahal tak sekalipun Tuhan menciptakan wanita dengan kedudukan yang lebih rendah dari pria. Berharap melalui jajak pendapat ini, kepedulian terhadap nasib kaum wanita di negara-negara tersebut dapat semakin ditingkatkan.

Source : christiantoday