Inkuisisi oleh pihak non- Katolik

Inkuisisi oleh pihak non- Katolik

inkuisisi tidak hanya dilakukan Katolik, tetapi juga gereja Protestan. Baik Luther maupun Calvin mengakui hak negara untuk menangani heretik. Calvin tidak hanya mengusir mereka dari Geneva, tetapi juga menghukum mati mereka (contohnya Jacques Gouet, yang dipenggal kepalanya tahun 1547, dan Michael Servetus yang dihukum mati dengan dibakar di tahun 1553). Dari Geneva, Calvin mengirimkan utusan kepada England (Inggris) dengan pesan untuk membunuh orang-orang Katolik: “Siapa yang tidak mau membunuh para pengikut Paus, adalah pengkhianat.” Kebijakan ini dikenal tidak hanya oleh orang-orang Inggris yang setia kepada Roma, tetapi juga orang- orang Irlandia, yang hidup dan hak asasinya diambil (sampai 1913), demikian juga tanah mereka. Tahun 1585 parlemen Inggris mengeluarkan dekrit “hukuman mati bagi para warga Inggris yang kembali ke Inggris setelah ditahbiskan menjadi imam Katolik, dan semua orang yang menghubungi mereka.”[5]. Di Inggris dan Irlandia, para reformer itu juga mengadakan inkuisisi dan penghukuman mati, yang diperkirakan juga mencapai ribuan orang Katolik, entah dengan digantung, ditenggelamkan atau dipotong-potong, karena mereka Katolik dan menolak untuk menjadi Protestan. Lebih banyak yang lainnya dipaksa untuk keluar dari tanah air mereka untuk menyelamatkan diri.

  1. Allah tak pernah MEMAKSA !
  2. Allah yg memberikan FREE WILL kepada manusia, sangat menghargai KEPALA yg diberinya AKAL dalam OTAK nya ! Tindakan Pemenggalan Kepala adalah bukan Sifat Allah melainkan Idea Iblis !
  3. INKUISISI yg dilakukan oleh Golongan Kepercayaan manapun, SAAT HAL TSB dilakukan maka IBLIS yg berdiri dibelakangnya “Behind the Screen !”
    Apakah anda tahu DIMANA Tindakan Pemenggalan Kepala yg adalah Idea Iblis masih dipertontonkan ke Seluruh dunia ?

Kedua belah pihak pernah melakukan inkusisi. Sejarah kelam masa lalu.
Apakah kedua belah pihak pernah meminta maaf secara terbuka ?

Gereja Katolik secara resmi melalui pidato Paus Paulus Yohanes II, sudah melakukannya, tahun 1998, reff:

http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/speeches/1998/october/documents/hf_jp-ii_spe_19981031_simposio_en.html

Protestan… kapan nich? :slight_smile:

Saya sudah mencari berharap ada pernyataan permintaan maaf dari pihak Protestan, tapi saya tidak menemukannya, mudah2an dikemudian hari saya dapat menemukannya. Bahwa sejarah kelam ini menjadi guru yang baik bagi Protestan.

Saya sudah mencari berharap ada pernyataan permintaan maaf dari pihak Protestan, tapi saya tidak menemukannya, mudah2an dikemudian hari saya dapat menemukannya. Bahwa sejarah kelam ini menjadi guru yang baik bagi Protestan.

Protestan yang mana? Siapa yang bisa menjadi wakil Protestan di dunia ini?

:smiley: ;D

oh gak jadi, mudah2an tidak ada permintaan maaf… :smiley:

wakilnya bisa saja, the lutheran world federation http://www.lutheranworld.org/

Protestan yang satu minta maaf, yang lain gak berasa, yang lain lagi nggak mengakui.
Ha ha ha ha ha ha

Semoga dapat direalisasikan …

Selama agama menjadi tools dalam berpolitik, selama itu juga agama membuahkan perbuatan yang memilukan anak cucu di tahun-tahun yang akan datang.

Lihatlah islam di Timur Tengah. Apakah konflik terjadi karena agama? Tidak tetapi karena politik dan agama dipakai sebagai tools dalam pergulatan politik. Lihat juga negara kita, Pemilu sudah dekat dan kita lihat agama sekali lagi dipakai sebagai tools untuk mengalang kekuasaan politik.

Belajarlah dari sejarah, bukan menjadikan sejarah sebagai stereotipe. Katolik sudah belajar dari sejarah, protestan juga telah belajar dari sejarah, hari ini mesing-masing berdiri jauh dari kancah politik dan perebutan kekuasaan. Menjadi pembawa damai bagi mereka yang berebut kekuasaan bukan menjadi bagian kelompok yang berebut kekuasaan seperti jaman-jaman lampau.