Jadi Tersangka Gara-Gara Share Berita Kasus Bethany di Facebook

Rabu, 14/08/2013 01:25 WIB
Jadi Tersangka Gara-gara Share Berita Kasus Bethany di Facebook
Norma Anggara - detikSurabaya

Surabaya - Seorang motivator, Johan Yan dijadikan tersangka oleh penyidik Polda Jatim. Gara-garanya, berita kasus dugaan penggelapan uang jemaat Gereja Bethany yang diberitakan media online di-share di facebook miliknya.

Johan Yan (38) warga Delta Tiara, Waru Sidoarjo, mengaku tertarik terhadap pemberitaan tentang ‘kemelut’ Gereja Bethany yang sempat ramai beberapa waktu lalu tersebut.

Setelah membaca berita, Johan berinisiatif meng-update status dengan link berita-berita dari berbagai media online tersebut.

Ditemui di Polda Jatim, Selasa (13/8/2013), Johan Yan menuturkan, status dengan link berita itu sebagai respon atas pemberitaan kasus dugaan penggelapan gereja yang terkuak pada sekitar Februari 2013.

Johan Yan sudah menghapus tautan berita yang dibubuhi dengan pendapatnya tersebut sesaat setelah pihak Gereja Bethany komplain langsung kepada Johan.

“Ya sekedar status saja, karena saat itu beberapa media online maupun media cetak lainnya sedang ramai memberitakan polemik penggelapan dana Gereja Bethany. Saya sekedar merespon dan tidak ada maksud apa-apa,” kata Johan Yan.

Nyatanya, seseorang dari pihak Gereja Bethany mempersoalkan tindakan Johan Yan. “Padahal setelah ada pihak yang merasa tersinggung dengan status saya, saya langsung menghapus status itu,” tambah Johan.

Johan juga sempat meminta maaf, bahkan juga menemui langsung pimpinan gereja di kawasan Nginden Intan Timur Surabaya itu. “Saya juga berinisiatif menemui pihak-pihak yang merasa keberatan untuk meminta maaf. Namun anehnya kok kasus ini justru berlanjut,” kata Johan lagi.

Pada 5 Agustus 2013, Johan Yan menerima surat panggilan untuk dimintai keterangan sebagai tersangka. Surat panggilan tersebut bernomor S.Pgl/1839/VII/2013/Ditreskrimsus tertanggal 30 Juli 2013.

Johan Yan dijerat dengan pasal 45 ayat(1) Jo pasal 27 ayat(3) UU No 11 tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik. Johan Yan menyesalkan atas kejadian ini. Apalagi, Johan Yan dalam beberapa hari ini menerima ancaman dan pemerasan.

Secara gamblang Johan Yan menceritakan bahwa dirinya pernah dimintai sejumlah uang bila ingin kasus ini ditutup dan laporan pihak Gereja Bethany ke Polda Jatim dicabut. “Saya merasa diancam dan diperas,” pungkas Johan Yan. Sementara pihak Bethany belum bisa dikonfirmasi.

Saya bantu tambahkan…

Dinilai Janggal, Bikin Komentar di FB Jadi Tersangka
Penulis : Kontributor Surabaya, Achmad Faizal Rabu, 14 Agustus 2013 | 12:12 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Penetapan status tersangka terhadap Johan Yan (38), pria yang berkomentar di jejaring sosial Facebook atas berita dugaan penggelapan uang senilai Rp 4,7 triliun Gereja Bethany dinilai janggal.

Terkait kejanggalan itulah, tim kuasa hukum Johan melayangkan surat keberatan kepada Kepala Polda Jawa Timur.

“Penetapan tersangka penuh dengan kejanggalan. Pihak media dan saksi ahli belum pernah diperiksa, jadi terlalu prematur dan ceroboh pihak penyidik menetapkan tersangka,” kata kuasa hukum Johan, M Sholeh, Rabu (14/8/2013).

Sholeh juga menyayangkan sikap pelapor yang masih tetap malakukan proses hukum tindakan terhadap warga Perumahan Delta Tiara, Kecamatan Waru, Sidoarjo, yang juga berprofesi sebagai motivator itu. Sebab sebelumnya, Johan sudah mendatangi pihak pelapor dan meminta maaf serta menghapus komentarnya di Facebook.

Menurut Sholeh, kasus ini mirip dengan kasus yang dialami Pritamulyasari, seorang ibu rumah tangga yang berkeluh kesah tentang layanan rumah sakit di Jakarta. “Ini adalah bukti bahwa Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) masih perlu dikaji ulang, kami akan mengajukan uji materi atas UU ini,” tambahnya.

Johan dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik oleh pihak Gereja Bethany. Dia dijerat Pasal 45 Ayat(1) jo Pasal 27 Ayat(3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena berkomentar pada tautan berita yang dipampang di akun jejaring sosial Facebook-nya pada Februari lalu.

Dalam kolom komentar, Johan menulis, “Korupsi atau money laundry yang dilakukan oleh ulama bukan ajaran agama Kristen”.

Johan mengaku tidak punya maksud apa-apa, dan hanya sekadar berkomentar karena isu di berta tersebut memang sedang hangat dibahas di sejumlah media cetak dan elektronik.
Editor : Glori K. Wadrianto

Gara-gara Komentar di Facebook, Johan Jadi Tersangka
Penulis : Kontributor Surabaya, Achmad Faizal Rabu, 14 Agustus 2013 | 09:22 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Gara-gara mengomentari berita terkait penggelapan uang Gereja Bethany senilai Rp 4,7 triliun, Johan Yan (38) ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Johan dilaporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik oleh pihak Gereja Bethany. Warga Perumahan Delta Tiara, Kecamatan Waru, Sidoarjo, yang juga berprofesi sebagai motivator ini dijerat Pasal 45 Ayat(1) jo Pasal 27 Ayat(3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena berkomentar pada tautan berita yang dipampang di akun jejaring sosial Facebook-nya pada Februari lalu.

Dalam kolom komentar, Johan menulis, “Korupsi atau money laundry yang dilakukan oleh ulama bukan ajaran agama Kristen”. “Saya tidak punya maksud apa-apa, hanya sekadar berkomentar karena isu di berta tersebut memang sedang hangat dibahas di sejumlah media cetak dan elektronik termasuk di Kompas.com,” kata Johan, Rabu (14/8/2013).

Menurut Johan, setelah ada pihak yang keberatan dengan komentarnya, dia mengaku segera menghapus komentar tersebut, bahkan meminta maaf kepada pihak yang merasa dirugikan. “Saya juga kaget, padahal saya sudah menemui mereka yang berkepentingan, tapi saya tiba-tiba ditetapkan tersangka,” terangnya.

Berita yang dikomentari Johan membahas dua kelompok jemaat Gereja Bethany, Surabaya, yang saling lapor ke Polda Jatim. Pihak pengelola gereja dilaporkan terkait dugaan korupsi dana gereja senilai Rp 4,7 triliun. Sebaliknya, pengelola gereja melaporkan balik si pelapor dengan dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik.

Editor : Glori K. Wadrianto

Terima kasih masbro @sangmurid untuk tambahan beritanya.

Ane sendiri setelah membaca berita ini & mengunjungi facebook @Johan Yan, sempat heran karena tidak menemukan sesuatu yg bisa membuat @Johan Yan ini untuk terjerat pelanggaran UU No.11 tentang ITE. Informasi-informasi yg ditampilan hanyalah copas dari beberapa situs & @Johan Yan tidak pernah menulis nama siapa pun dalam komen-komennya. Setiap pernyataaan yg dikeluarkan hanyalah bersifat umum saja & tidak mengarah kepada pribadi atau golongan. Semoga polisi yg menangani kasusi ini bersikap profesional sehingga cepat selesai.

itu artinya pihak yg melaporkan , sudah kebakaran jenggot

istilahnya kurang cedas menyikapi masalah

pencemaran nama baik masuknya delik aduan. kalo aku liat, laporan pelapor terlalu mengada2, karena terlapor kan hanya mendownload berita yg sebelumnya sudah dipublikasikan… lagipula komentarnya tidak menjelekkan pihak2 yang bertikai saat itu, tulisan johan itu hanya pendapat pribadi, kan bebas toh mengeluarkan pendapat… siapa yg secara explisit dicemarkan kan tidak ada. wong diantara yg bertikai itu sudah saling melaporkan koq.

malahan, fakta bahwa kalau kemudian pihak yg bertikai berdamai, dan polri menghentikan proses pemeriksaanya karena semua pihak berdamai, itu justru menegaskan ada masalah “saling tuduh” diantara mereka.

hehehe… harusnya kalo kasus ini bergulir kepengadilan karena salah satu pihak yang bertikai itu menggugat, kalo saya sebagai johan, saya ladeni…

saya yakin pihak yg menggugat ujung2nya ngajak damai juga, kalo musti kepengadilan tinggal panggil pers aja, biar kasusnya diexspos sekalian dimedia, aneh memang negeri ini…

nanti jangan2 saya juga digugat, dengan tuduhan menghasut… wkwkwkwk. padahal saya mengutarakn pendapat pribadi aja.

soal nama kalaupun disebut, itukan berdasarkan berita dimedia. bukan menyebarkan fitnah. smoga hal ini bisa dibahas di acaranya bang karni ILC,… yakin deh… banyak pemuka agama ketawa didalam hati.

apalagi kalo mereka sampe mendengar kotbah dengan topik “mengampuni " , “ditampar pipi kiri, kasih yg kanan” wkwkwk”, tapi kalo ada yg mencemarkan nama baik… TUNTUT aja !!! :mad0261: karena itu tidak sesuai dengan firman Tuhan ? :mad0261:

tuntut balik dengan UU ITE , kebebasan berpendapat di depan publik :afro:

mantep kakpoo… :afro:

maen tangkep tuduhannya apa cuma copas

Apakah kalo ane mo komen yg menyangkut nama seseorang/perusahaan dengan menyisipkan/menambahkan/menghilangkan karakter-karakter di antara nama tersebut, tidak melanggar uu ite?

Misalnya, samsung, son_y atau bambang

Atau masbro2 punya alternatif yg lebih baik?

Bro shadowing, bagaimana seandainya anda kena juga dituntut ?

kenapa media2 informasi yg memberitakan hal ini tidak dituntut juga ???
koran2, situs2, kan ada puluhan.

Makanya ane juga mo klarifikasi dulu. Ane inget bener kasus ibu prita yg dituntut bahkan sampai masuk penjara “cuma” karena “curhat” kepada temen-temennya. Nah, seandainya ibu prita menyebutkan nama rumah sakit dengan cara yg ane tanyakan, apakah dia masih kena tuntut juga?

Lain halnya dengan kasus terbaru yg masih hangat antara benhun vs missbakhumm (sengaja ane ubah/tambahin hurufnya). Di sini bener-bener “gila” banget umpatan-umpatannya.

Makanya kalo ada metode yg lebih baik & bisa menghindari dari jeratan UU ITE, mohon dijabarkan di sini.

Bro shadowing,

UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Bab 1 Pasal 1: “Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.”

http://datahukum.pnri.go.id/index.php?option=com_phocadownload&view=category&download=297:uuno11th2008&id=20:tahun-2008&Itemid=27

Berdasarkan kutipan “yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya”, kalau menurut saya, rasanya kita juga tetap harus berhati-hati jika kata yang telah kita modifikasi tersebut masih dapat dipahami dengan jelas berarti rasanya masih bisa terkena jerat UU ITE ini, berkaitan dengan Bab VII (Perbuatan yang Dilarang):

  • pasal 27 (3) – penghinaan/pencemaran nama baik
  • pasal 28 (1) – menyebarkan berita bohong & menyesatkan
  • pasal 28 (2) – menyebarkan SARA.

Jadi menurut saya, di negeri ini kita memang harus hati-hati sebelum bertindak (i.e. mengirimkan data elektronik apapun seperti posting forum, email, SMS, posting FB/Twitter/dll, sampai Status BBM sekalipun). Terutama jika kita tidak mengetahui kita berurusan dengan orang yang seperti apa. Hal yang kita anggap cuma komentar/kritik sepele terhadap kalangan tertentu yang kita rasakan “aman” (seperti kalangan gereja), tetap saja bisa dibikin panjang sampai ke meja hijau.

Sebaiknya kita selalu berdoa kepada Tuhan supaya kita dilindungi dari orang-orang yang bisa berbuat jahat kepada kita.
Atau paling aman, ikuti apa kata orang: DGI. Don’t Get Involved. Make friends, don’t make enemies.

:smiley: :smiley: :smiley:

Sebenarnya pointnya di:

  • pasal 27 (3) – penghinaan/pencemaran nama baik
  • pasal 28 (1) – menyebarkan berita bohong & menyesatkan
  • pasal 28 (2) – menyebarkan SARA.

Medianya apa saja… dan UU ITE menjawab tantangan jaman (biar tidak kelihatan gaptek) dan untuk menegaskan bahwa media elektorinik termasuk (biar tidak asal komentar).

Disisi lain, kebebasan berbicara seakan dikengkan, kebebasan berfikir seakan diancam. Bagi sebagaian orang akan disikapi arif dengan memilih kata-kata yang santun dan menahan emosinya saat hendak menulis, bagi sebagaian orang yang sudah biasa bebas sebebasnya, itu masalah besar.

Dibilang belum saatnya, belum cukup dewasa diatur sampai sedetil itu dalam berbicara, saya benarkan. Masyarakat kita masih terlalu jauh dari memahami dan mengerti bagaimana berfikir secara dewasa dan matang sebelum berkata-kata. Tetapi kalau tidak dimulai dengan adanya hukum positif yang mengaturnya, kita tidak juga belajar untuk berkata-kata bijak dan arif.

Penyalah gunaan hukum itu selalu akan ada, dan hati nurani penegak hukum yang dapat membendungnya. Tetapi menghadapi hukum, kita tidak bisa mengandalkan hati nurani, sebab hukum adalah soal hitam dan putih. Jadi jika polisi sudah tahu itu permainan hukum, dan tidak bisa dibilang hitam atau putih juga, dan mereka meluangkan waktu untuk memprosesnya, kita harus melihat lebih luas dari sekedar hukum dan keadilan.

Betul bro, untuk saat ini kapan saatnya harus berpikir secara hitam putih ataupun hati nurani masih belum jelas batasannya.
Dalam kasus-kasus lain, ada kalanya pihak yang melakukan tindakan informasi & transaksi elektronik (ITE) tersebut dari sisi pandang umum memang salah, ada kalanya kasus tertentu yang sebenarnya sepele dibuat jadi ‘lebay’.

Jadi sekarang masih tergantung dari penegak hukum di negeri ini, apakah bisa adil objektif ataukah membela kubu tertentu. Pada akhirnya masyarakat luas yang bisa menilai sendiri. Menilainya juga di dalam hati masing-masing saja… :slight_smile:

Tapi kembali lagi, kita memang harus hati-hati dalam membuat pernyataan tertulis di area publik.
Edit-baca-edit-baca baru post.
Kecuali kalau kita postingnya pakai ID atau email gratis sekali pakai buang, di komputer orang lain. Habis meludah kabur… :ashamed0004:

Misalnya kita dimarahi oleh Bambang, lalu membuat keluh kesah publik dalam bentuk informasi elektronik against “bambang” (masih deket banget tuh bro, bunyinya…).
Lalu tulisan kita itu bisa terakses oleh si Bambang lalu dia merasa dicemarkan nama baiknya dan menuntut, lalu kita ketangkep setelah dilacak IP address kita (lebay banget sih), kita tetap bisa kena atas dasar argumen: “memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.”

… cerdik seperti ular…

Kira-kira spt itulah solusi yg ane inginkan. Ane udah ubek-ubek via mbah gugel, ya dapetnya cuma gitu-gitu doang, kalo ga ditambahin, ya dihilangkan beberapa karakter. Kalo mau yg lebih sip, pake software acak ip tp inipun bisa dicari kalo pake jaringan internet kabel. Yg lebih serius, browsing pake hp/sp, sekali pake kartu langsung buang.

Ane sering tuh “ngata-ngatain” jaringan “sapidi - telkam” di beberapa forum, abis lemot banget, man (asli, suer, sumpah pemuda ane berani). Syukur sampe sekarang lom ada surat panggilan untuk menghadap dari yg berwenang.

Trus ane juga kesel liat “pihak yg berwenang” (kok jadi samar-samar semua yach?), maen panggil aja, kayaknya terkesan “males” banget buat pelajari seluk-beluk duduk perkaranya. Kayak kasus “share berita di facebook” ini misalnya, masak sih salah benernya mesti diputusin di pengadilan? Absurd banget.