Jadikan Alkitab sebagai Otoritas tertinggi dalam hidup kita

Mzm 112: 1-3 “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.”

Gerakan reformasi pada abad ke 16 yang dipelopori oleh Luther, Calvin, Zwingli dan Knox telah memberikan dasar yang teguh bagi perkembangan gereja selanjutnya. Salah satu kebaikan yang dihasilkan oleh gerakan ini adalah dikembalikannya kewibawaan Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam gereja. Para reformator mempunyai pendapat yang teguh bahwa kewenangan Paus, dewan gereja dan teolog berada di bawah Kitab Suci. Bila kita ingin memiliki pondasi hidup Kekristenan yang kokoh maka kita harus menjadikan Alkitab sebagai otoritas yang tertinggi dalam hidup kita.

(ngutip dari sebuah blog)

Bila kita ingin memiliki pondasi hidup Kekristenan yang kokoh maka kita harus menjadikan Alkitab sebagai otoritas yang tertinggi dalam hidup kita.

Hmm…pengulangan topik…anyway let me make a short comment about the above statement…

Kenyataannya yg menjadi otoritas tertinggi adalah para penafsir itu sendiri. Tafsiranku adalah otoritas tertinggi dlm hidupku (karena yg disebut sesuai dgn Alkitab adalah bila sesuai dgn tafsirku).

Salam

Iya klo tafsiran itu benar, klo ternyata tafsiran itu salah bgmn ?

e.g. -Paus menjual surat pengampunan dosa

maksudnya ape, dijawab ape??? he he :mad0261:

maksudnya gini loh bro.
kan selama ini Katolik masih menjadikan Paus sebagai penafsir yang tidak bisa salah.
nah mungkin ada salah satu umat katolik yang mungkin mempunyai pertanyaan tentang tafsiran Paus, tapi dia takut menanyakan lebih lanjut karena takut dikucilkan atau sebagainya, sehingga tidak berani bertanya lebih lanjut.

Iya klo tafsiran itu benar, klo ternyata tafsiran itu salah bgmn ?

Tau darimana kalo tafsir itu salah? Seseorang yg mengatakan tafisr itu salah berarti telah mengasumsikan bhw tafsiranya benar.

Menentukan sesuatu itu benar atau salah parameternya adalah sesuatu yg pasti benar (tdk bisa salah/Infallible).

e.g. -Paus menjual surat pengampunan dosa

Sdh berkali2 dibahas. Silahkan dilihat pada topik yg membahas hal itu…

maksudnya gini loh bro. kan selama ini Katolik masih menjadikan Paus sebagai penafsir yang tidak bisa salah. nah mungkin ada salah satu umat katolik yang mungkin mempunyai pertanyaan tentang tafsiran Paus, tapi dia takut menanyakan lebih lanjut karena takut dikucilkan atau sebagainya, sehingga tidak berani bertanya lebih lanjut.

Dalam Katolik anda bebas bertanya. Katolik tdk anti thd pertanyaan. Bahkan mau mengkritikpun boleh. Jadi silahkan tanya kalo ada tafsiran Gereja Katolik/Paus yg “ngak pas” di hatimu…Malu bertanya sesat di neraka, hehehe. Jgn keburu takut sama yg namanya pengucilan/ekskomunikasi.

contoh tafsiran yang salah>

Maria tetap perawan setelah melahirkan Yesus (bagi umat Katolik ini merupakan HAL YANG PENTING)

sedangkan bagi Protestan Keperawanan Maria setelah melahirkan Yesus bukan suatu hal yang penting.
Klo maria bersetubuh setelah melahirkan Yesus dan setelah Yesus Besar itu tidak menjadi masalah.
Karena di Alkitab tertulis bahwa Maria dilarang bersetubuh dengan Yusuf sebelum Yesus lahir.

ini orang asal ngomong ajah, tanpa tau apa yang dia katakan…

ini anda baca baik2 :

Pengajaran dari para pendiri gereja Protestan

  1. Martin Luther (1483-1546): “Sudah menjadi iman kita bahwa Maria adalah Ibu Tuhan dan tetap perawan…. KRISTUS, kita percaya, lahir dari rahim yang tetap sempurna (‘a womb left perfectly intact’).”from : Martin Luther, Works of Luther, Vol. 11, p. 319-320; Vol. 6, p. 510.
  2. John Calvin (1509-1564): “Ada orang-orang yang ingin mengartikan dari perikop Mat 1:25 bahwa Perawan Maria mempunyai anak-anak selain dari KRISTUS, Putera Allah, dan bahwa Yusuf berhubungan dengannya kemudian, tetapi, betapa bodohnya pemikiran seperti ini! Sebab penulis Injil tidak bermaksud merekam apa yang terjadi sesudahnya; ia hanya mau menyampaikan dengan jelas hal ketaatan Yusuf dan untuk menyatakan bahwa Yusuf telah diyakinkan bahwa Tuhanlah yang mengirimkan malaikatNya kepada Maria. Yusuf tidak pernah berhubungan dengan Maria …(He had therefore never dwelt with her nor had he shared her company)… Dan selanjutnya Tuhan kita YESUS KRISTUS dikatakan sebagai yang sulung. Hal ini bukan berarti bahwa ada anak yang kedua dan ketiga, tetapi karena penulis Injil ingin menyampaikan hak-hak yang lebih tinggi (precedence). Alkitab menyebutkan hal ’sulung’ (firstborn), baik ada atau tidaknya anak yang kedua.”from : John Calvin, Sermon on Matthew, 1:22-25, published in 1562.
    John Calvin bahkan mengecam Helvidius, yang mengatakan bahwa Maria mempunyai banyak anak.
  3. [b]Ulrich Zwingli /b: “Saya yakin dan percaya bahwa Maria, sesuai dengan perkataan Injil, sebagai Perawan murni melahirkan Putera Allah dan pada saat melahirkan dan sesudahnya selalu tetap murni dan tetap perawan (‘forever remained a pure, intact Virgin’).” from : Zwingli Opera, Vol. 1, p. 424.
  4. John Wesley (1703-1791)menulis: “Saya percaya bahwa Dia (Tuhan YESUS) telah menjadi manusia, menyatukan kemanusiaan dengan keilahian dalam satu Pribadi; dikandung oleh satu kuasa Roh-Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria yang terberkati, yang setelah melahirkan-Nya tetap murni dan tetap perawan tak bernoda.” from : John Wesley, Letter to a Roman Catholic, July 18, 1749.

bapa reform ada TIDAK menjadikan Alkitab sebbagai yang tertinggi yah???

lagian pembahasaan ini sudah ada di apakah-sola-scriptura-kitab-suci-saja-cukup? - Ajaran Kristen - ForumKristen.com

kenapa pada seneng banget yah buat tread2 baru?

nah itu dia bro. Gereja terus bertumbuh menuju lebih baik (transformasi) namun tetap berpondasi pada Alkitab. Saya sendiri tidak menganggap bahwa seluruh ajaran Marthin Luther adalah benar.
jangan tersinggung dahulu.
karena tidak ada satupun manusia yang benar dan sempurna. Yang benar dan sempurna hanya Yesus.

sebuah ilustrasi :
orang2 dulu beranggapan bahwa orang tidak bisa pergi ke bulan.
Namun nyatanya sekarang orang bukan hanya bisa ke bulan, ke mars pun sudah bisa.

Pertanyaanya simple…

Apakah bapa reform ada memengang Alkitab sebagai yang tertinggi?

A. Iya
B. Tidak

cukup jawab itu dulu…

protestan sekarang tidak lebih benar dari protestan mula2…
jadi jangan mengatakan protestan mula2 sebagai tidak benar…

kalau saya menganalisa dari statement beliau (Luther) yang menyatakan Maria tetap perawan.
Beliau (luther) belum/tidak menjadikan Alkitab sebagai pedoman yang tertinggi.

maksud saya seperti ini bro…
contoh…

apakah reformasi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menurunkan tahta Soeharto harus berhenti begitu saja, hanya sekedar menurunkan Soeharto??

jadi maksud saya, bahwa saya bersyukur dengan reformasi yang dilakukan oleh beliau (Luther, dkk)
namun reformasi Luther harus terus bertransformasi menuju kebenaran yang sejati yaitu berpusat pada Kristus Yesus. berdasarkan Alkitab dengan pimpinan ROH KUDUS.

-Saya tidak menganggap bahwa seluruh ajaran Katolik itu salah, saya sendiri sering mengikuti ibadah Ekaristi ataupun misa pagi yang tujuannya terus memperbaharui dan menguatkan iman saya-

yang saya sayangkan dari umat Katolik yaitu bahwa Maria tetap perawan setelah melahirkan Yesus merupakan hal yang penting-tidak boleh diganggu gugat-

ini ada tulisan bagus…bisa baca2 dulu utk memperkaya pemahaman…


Saya hanya ingin berbagi pemahaman saya tentang otoritas Alkitab. Ini tulisan saya beberapa tahun yang lalu… semoga membawa berkat.

OTORITAS ALKITAB
[b]

I. Pendahuluan[/b]
Otoritas Alkitab merupakan tema dasar teologis yang menghantar pada pembahasan mengenai penyataan, pewahyuan, ketidakbersalahan dan beberapa tema yang lain mengenai Alkitab. Dalam Tata Gereja GKI pasal 3, mengenai Pengakuan Iman, pada ayat 2 berbunyi:
“GKI mengaku imannya bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Allah, yang menjadi dasar dan norma satu-satunya bagi kehidupan gereja.”
Dari pernyataan ini maka kita memahami beberapa hal mengenai pengakuan iman GKI terhadap keberadaan Alkitab:

* Alkitab terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
* Alkitab adalah Firman Allah
* Alkitab adalah dasar dan norma tunggal kehidupan gereja.

Sebagai pedoman tunggal kehidupan gereja, maka kita perlu memegang Alkitab sebagai Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, sehingga kita memahami dan menghidupi serta tidak kehilangan Firman itu pada kita.

II. Alkitab
Saat ini kita memahami kata Alkitab sebagai nama dari Kitab Suci kita, orang Kristen. Kata Alkitab merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang seharusnya ditulis Al Kitab. Kata ‘kitab’ memiliki makna buku pegangan atau ‘buku wajib’ dalam kegiatan belajar mengajar. Sementara ‘Al’ merupakan artikel, yang menunjuk hal tertentu yang ditunjukkan oleh kata berikutnya, hal ini dapat diartikan sama dengan kata the dalam bahasa Inggris.

Alkitab terdiri atas Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), yang masing-masing perjanjian terdiri atas kitab-kitab yang bersifat kanonik. Keseluruhan kitab yang berjumlah 66 ini, 39 PL dan 27 PB, diterima sebagai kitab-kitab kanon, dan disatukan pada abad 2-4 masehi. Istilah kanon akan dibahas lebih lanjut dalam bagian berikutnya.

Secara keseluruhan Alkitab ditulis oleh lebih dari 40 penulis dari berbagai latar belakang. Pengilhaman isi Alkitab tidak menggunakan manusia sebagai robot yang menerima firman kata per kata. Isi Alkitab datang kepada kita dengan perantaraan manusia, dan tanpa mengurangi keberadaan manusia tersebut. Walaupun dituliskan, ditulis ulang dan diterjemahkan oleh manusia, kita percaya bahwa itu semua terjadi dalam kuasa dan bimbingan ROH KUDUS. Penulisan seluruh Alkitab terjadi dalam kurun waktu lebih dari 1500 tahun, yaitu mulai jaman Musa hingga abad pertama masehi, namun demikian kita memahami Alkitab sebagai satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh.

Alkitab berisikan kesaksian menyeluruh tentang Allah, selain itu Alkitab juga berisikan kesaksian mengenai tanggapan manusia terhadap pernyataan Allah. Kesaksian-kesaksian itu berpusat pada KRISTUS yang padanya kita terhisap dalam keselamatan yang disediakannya sehingga kita berikutnya akan mengalami penggenapan Kerajaan Allah.

III. Kanon
Kanon Kitab Suci dapat diartikan secara sederhana sebagai susunan kitab yang terdapat dalam Kitab Suci. Daftar ini dikenali sebagai tulisan berharga yang digunakan dalam perkumpulan ibadah orang. Dalam konteks Kristen dapat dikatakan sebagai ‘daftar tulisan yang diterima Gereja sebagai dokumen-dokumen dari wahyu ilahi.’ Kata kanon berasal dari bahasa Yunani yaitu kanw`n atau kanon yang memiliki arti buluh atau batang, sebuah batang atau buluh yang lurus yang digunakan sebagai aturan. Dalam bahasa Inggris biasa digunakan sebagai ukuran atau standar. Yang kemudian pada bahasa-bahasa lain menunjuk pada karakter dan struktur buluh itu.

Penggunaan istilah kanon ini pada masa Kekristenan yang mula-mula adalah untuk menunjuk pada peraturan iman atau pada tulisan yang memenuhi standar, berotoritas. Dengan demikian kanon dapat diartikan sebagai tulisan yang diterima mencapai standar yang sebenarnya adalah Firman Tuhan.

Dari arti kata kanon yang dasar, kemudian berkembang dengan memiliki pengertian metafora. Yaitu, bahwa kanon berarti standar atau norma. Pada jaman Latin penggunaan istilah kanon ini telah mengacu pada pengertian metafora antara lain untuk mengambarkan standar dalam etika, seni, literatur dan pada bidang-bidang lain. Dalam pengertian teologis, pada masa Kekristenan yang mula-mula, kata kanon ini dipakai untuk menyatakan standar iman atau Alkitab yang berotoritas, Firman Tuhan.

1. Standar
Ukuran yang digunakan untuk menentukan suatu kitab termasuk kanon adalah:

A. Otoritas
Otoritas dalam istilah Yunani menggunakan kata exousia berarti kuasa yang adil, sungguh, dan tak terhalangi bertindak, atau memiliki, mengontrol, memakai atau menguasai sesuatu atau seseorang. Otoritas ini menuntut ketertundukan, kepatuhan dari mereka yang ada dibawah otoritas tersebut. Gereja dapat merasakan dan mengalami otoritas itu, tetapi otoritas Alkitab tidak didapat dari gereja walaupun gereja yang mengumpulkan, menyatukan kitab-kitab tersebut dan menggunakannya. Otoritas hanya didapat dari Dia, Allah yang mengilhamkan, yang adalah sumber penulisan itu sendiri. Sebagai sebuah ilustrasi dapat digambarkan sebagai berikut:
Ada seorang bapak memiliki anak yang suka bermain dengan mainan yang menggunakan baterai. Si anak telah memiliki banyak baterai tapi banyak, sebagian besar, diantaranya sudah tidak memiliki daya. Kemudian sang bapak membelikan lagi banyak baterai baru, yang masih memiliki daya yang kuat. Kemudian oleh si anak, baterai yang masih ada dayanya dan yang sudah tidak berdaya dicampur. Untuk menentukan baterai mana yang masih memiliki daya maka perlu diuji. Namun demikian yang membuktikan apakah baterai itu masih memiliki daya atau tidak adalah baterai itu sendiri.

Diwahyukan oleh Allah Sendiri, tanpa Allah menyatakan diri-Nya tidak mungkin manusia, umat-Nya, dapat mengenal diri-Nya. Dalam 2 Pet 1:21 “… oleh dorongan ROH KUDUS orang-orang berbicara atas nama Allah.” Pada bagian kedua ini jelas sekali ditekankan bahwa Roh Kuduslah yang mendorong para nabi untuk berbicara dan atau menulis, menyampaikan, apa yang dikehendaki Allah kepada manusia. Para penulis kitab sendiri menuliskan sesuai apa yang dinyatakan Allah kepada mereka yaitu dengan segala kerterbatasan yang dimilikinya. Allah bertindak, seperti pengasuh terhadap bayi, Allah berbicara kepada kita’ , merendahkan diri-Nya agar dapat dipahami oleh umat manusia.

YESUS menghormati Firman Allah. Dalam Mat 5:17 tertulis, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakan, melainkan untuk menggenapinya.” Pada bagian ini jelas bahwa YESUS menghormati otoritas Firman Tuhan yang datang melalui para nabi dan kemudian menunjukkan bahwa dirinya adalah penggenapan dari Firman Tuhan.

B. Kudus dan Dinamis
Dalam suratnya yang kedua kepada Timotius Rasul Paulus menuliskan, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Tim 3:16-17). Hal pertama yang dapat kita pelajari adalah bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah. Kemudian dapat kita lihat bahwa kata ‘diilhamkan’ dalam bahasa Inggris terjemahan NIV digunakan kata ‘God breathed’, dinafaskan Allah, hal ini menunjukkan bahwa Alkitab adalah penyataan diri-Nya. yaitu Allah sendiri. Hal kedua yang dapat kita pelajari adalah peranannya dalam membentuk orang kepunyaan-Nya. Firman-Nya bukanlah tulisan yang mati yang tidak mempengaruhi kehidupan para pembacanya, namun ia aktif dan dinamis mengubah orang ke arah yang dikehendaki oleh Allah. Firman Allah dinamis, mampu memberikan pencerahan dan mengubah karakter dan hidup manusia. Sangat penting sehingga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia pada semua generasi dan waktu.

C. Orisinalitas
Kita mempercayai bahwa pada penulisannya, Alkitab tidak memuat kesalahan. Dan dalam penyalinannya ada pemeliharaan Allah yang nyata dengan suatu aturan penyalinan yang ketat. Tulisan-tulisan Alkitab dapat ditelusuri hingga pada tulisan yang mendekati asli. Penemuan arkeologi sangat membantu dalam membuktikan kebenaran tulisan Alkitab. Salah satu penemuan yang menonjol adalah Dead Sea scrolls, yang kemungkinan digunakan oleh kaum Essenes.

D. Satu Kesatuan dan Menyeluruh
Ada banyak teolog menyatakan bahwa Alkitab mengandung Firman Allah, ada juga orang yang mengatakan bahwa dalam Alkitab banyak terdapat kesalahan dan pertentangan ayat. Namun demikian kita. Seperti keyakinan Iman GKI mengakui Alkitab sebagai Firman Tuhan yang utuh dan menyeluruh. Kitab-kitab yang dikumpulkan untuk dijadikan kanon tidak saling bertentangan, bahkan saling melengkapi.

Pandangan bahwa terjadi kontradiksi dalam Alkitab dapat dijelaskan sebagai berikut:

* Pertentangan dalam Alkitab yang dilihat merupakan kontradiksi adalah paradoks, dimana hal ini menunjukkan bahwa penyalin dan pembaca tidak memiliki proses berpikir yang cukup teliti.  Seakan-akan bertentangan, walaupun sesungguhnya tidak.

* Banyak hal yang tidak dapat dimengerti sehubungan dengan keberadaan Allah. Namun demikian hal ini tidak berarti bahwa hal itu, hal tentang Allah, tidak rasional, lebih tepat hal-hal yang berhubungan dengan Allah dikatakan sebagai sebuah misteri.

Setiap kitab yang diakui dan termasuk dalam kanon memiliki pola pikir yang menyeluruh dalam rangkaian janji dan penggenapan keselamatan dari Allah dalam diri YESUS KRISTUS.
Ukuran-ukuran inilah yang utama yang digunakan dalam menentukan suatu kitab termasuk dalam kanon atau tidak, termasuk untuk melihat keberadaan Apocrypha dalam Kekristenan. Gereja Kristen Protestan tidak mengakui Apocrypha PL sebagai kanon dengan beberapa alasan antara lain:

* Tuhan YESUS, secara umum penulis-penulis dalam PB, tidak pernah mengutip tulisan-tulisan yang terdapat dalam Apocrypha secara nyata.

* Perjanjian Lama versi bahasa Ibrani tidak memuatnya dalam kanon dan hanya pada bahasa Yunani yang memuat, itu pun baru terdapat pada abad 4 M sedangkan penterjamahannya dilakukan abad 3 SM.

* Dalam konsili besar orang Yahudi di Jamnia pada tahun 90 M, dinyatakan bahwa Apocrypha tidak termasuk kanon PL.

Namun demikian Apocrypha masih bermanfaat untuk mempelajari masa kekosongan wahyu Allah. Untuk dapat melihat budaya dan pengharapan umat pada waktu itu. Sehingga dapat mengungkapkan latar belakang cara pandang mereka terhadap kedatangan Tuhan YESUS.

2. Penutupan Kanon
Kita ketahui bahwa PL telah rampung jauh sebelum kedatangan Tuhan YESUS KRISTUS. Sepertinya jarang terjadi perselisihan paham di antara orang Yahudi mengenai isi kanon tersebut. Beberapa bukti yang menunjukkan penutupan Kanon Perjanjian Lama:

* Pernyataan Tuhan YESUS. Dalam Mat 5:17-18 dan Mat 11:13.

* LXX, Septuaginta, terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Latin dimulai pada abad 3 sebelum masehi. 

Sehubungan dengan PB, usaha paling dini yang diketahui untuk membuat daftar kita-kitab kanonis adalah ‘Kanon Muratori’ sekitar tahun 175 M. Daftar lengkap yang paling dini, dibuat oleh Eusebius (meninggal tahun 340 M). Dan Kanon yang kita kenal sekarang merupakan daftar yang disusun oleh Athanasius pada tahun 367 M, yang disahkan oleh Konsili Carthage pada tahun 397 M.

3. Penyalinan dan Terjemahan
Penyalinan Kitab Suci yang secara pasti tidak dapat diketahui permulaannya. Pembuatan salinan yang pertama yang dapat dilihat dalam Alkitab adalah salinan kembali hukum Musa oleh Yosua dihadapan orang Israel (Yos 8:32, bnd. penulisan Kitab Ulangan). Kita percaya akurasi penyalinan Alkitab antara lain karena:

* Penyalinan Perjanjian Lama hingga masa YESUS masih dapat dipercaya. Dimana Tuhan YESUS sendiri dalam pengajarannya menggunakan kitab-kitab Perjanjian Lama dan dengan demikian YESUS menyatakan bahwa Perjanjian Lama adalah benar dan tak bercacat, sempurna (bnd. Mat 5:17-19).

* Untuk penyalinan setelah masa Tuhan YESUS hingga sekarang kita juga dapat mempercayai kebenaran dan ketelitiannya. Hal ini disebabkan cara dan budaya penulisan ulang Kitab Suci memiliki aturan yang sangat ketat dengan ketelitian dan perhitungan yang sangat akurat. Penulisan salinan ini dilakukan oleh Kaum Masoretes, yakni orang-orang yang khusus diberi tugas untuk menyalin naskah-naskah Alkitab.

Alkitab dan penyalinannya ada dalam pemeliharaan Allah yang berdaulat. Dengan demikian tidak ada lagi alasan untuk tidak mempercayai penyalinan yang akurat.

Dalam hal penterjemahan sedikit berbeda dengan hal penyalinan. Dalam proses penterjemahan akan ditemui beberapa kendala yang akan menyebabkan suatu perbedaan, hal-hal itu antara lain:

* Keterbatasan kosa kata pada bahasa tujuan

* Penggunaan istilah yang berhubungkan dengan budaya

Dengan demikian perbedaan yang terjadi tidak bisa dianggap sebagai suatu kesalahan, tetapi hal itu terjadi karena adanya proses penafsiran pada saat penterjemahan (hermeneutik). Namun demikian tetap bahwa semua penterjemahan terjadi dalam pemeliharaan Allah sehingga akan didapat suatu terjemahan yang sesuai dengan konteks nats dalam nuansa budaya setempat.

IV. Penutup
Otoritas dan Kekudusan Alkitab, mengacu pada pribadi Allah sendiri, bukan berdasarkan otoritas maupun kekudusan dari gereja atau bahkan nabi atau rasul-Nya. Keraguan atas otoritas Alkitab merupakan cerminan dari keraguan atas otoritas Allah.
Pada penulisannya Alkitab tidak terdapat kesalahan. Penulisan ulang, penyalinan maupun penterjemahan dilaksanakan dalam pemeliharaan Allah sehingga juga tidak terdapat kesalahan yang mempengaruhi tujuan keselamatan di dalam Tuhan YESUS KRISTUS. Segala tulisan lain yang adalah apocrypha, perlu diuji dan diperhatikan bahwa itu semua tidak dapat masuk dalam kanon. Walaupun demikian masih terdapat manfaat yang didapat daripadanya, secara khusus untuk memahami budaya dan keadaan masyarakat pada masa itu.

Dengan memahami sifat otoritas, yaitu otoritas Allah dalam Alkitab, maka pengakuan atas otoritas ini menuntut ketertundukan, kepatuhan dari kita. Untuk dapat taat terhadap Alkitab sebagai Firman Tuhan, maka kita perlu mengenal dan mencintainya, memegang erat dalam kehidupan kita sebagai gereja.

Daftar Pustaka

* Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia, Tata Gereja: Gereja Kristen Indonesia, Cetakan Pertama, Jakarta: BPMS GKI, 2003

* F.F. Bruce, The Canon of Scripture, Glasgow: Chapter House, 1988.

* R.P.C. Hanson, Origen’s Doctrine of Tradition, London, 1954

* Harrison, R.K. Introduction to The Old Testament, Grand Rapids: Eerdmans, 1991

* J.D. Douglas, ed.; Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, ‘Otoritas Alkitab’ Jilid 2; Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih / OMF, 1996

* Bruce Milne, Mengenali Kebenaran: Panduan Iman Kristen, terj. Connie Item-Corputty, Jakarta: Gunung Mulia, 1996

* John R.W. Stott, II Timotius: Pelihara harta yang indah itu, terj. Dr. R. Soedarmo, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1989

* Walter A. Elwell, ed, Student Bible Handbook: A Guide to the Best Book in the World, London: Candle Books, 1995

* J. I. Packer, D. J. Wiseman, F. F. Bruce and Donald Guthrie, The New Bible Dictionary, Wheaton, Illinois: Tyndale House Publishers, Inc. 1962.

* R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen, Terj. Dr. Rahmiati Tanudjaja, Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1998

sumber: Otoritas Alkitab - Ajaran Kristen - ForumKristen.com

ajaran itu setahu saya merupakan “dogma” Gereja Roma Katolik. artinya semua umat Katolik mesti mengamini dan mengimani. cmiiw…

kalo ada umat katolik yg nolak, nasibnya gimana ya? apa sebatas ditegur? atau dikeluarkan dari Gereja Roma katolik? mungkin tmn2 katolik disini bisa ksh answer…tq :slight_smile:

Penjelasan yang mantap Bro…

@ Victor

ada hal yang crucial yang harus kamu liat :

  1. yang mengatakan maria tetap perawan itu bukan hanya martin luther…
    tetapi banyak para reform protestan yang mengatakan demikian.

  2. coba buka wawasan… datang ke gereja2 lutheran… tanya apakah mereka percaya maria tetap perawan atau tidak! pasti jawabnya sama yaitu “tetap perawan”

  3. kitab suci yang anda pegang sekarang sama dengan kitab suci yang dipegang oleh para bapa reform protestan… emg anda pikir Kitab suci seperti KUHPerdata yang ada perubahannya… tafsiran anda tidak lebih benar dari tafsiran mereka…

  4. seandainya pelopor anda tidak bersola scriptura, knp pengikutnya disuruh sola scriptura? bodoh sekali jika pelopornya saja tidak mau kejebur sumur, tetapi pengikutnya mau kejebur sumur… coba anda renungkan…

anda mengatakan paus menjual belikan surat Indulgensi?
sebaiknya anda belajar sejarah dulu sebelum anda berkomentar…

anda tau kalau martin luther percaya Indulgensi Paus?
ada pada dalil 95nya pasal ke 49 :

  1. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa indulgensi dari Paus itu berguna, jika mereka tidak meletakkan kepercayaan mereka pada penyucian; tetapi paling berbahaya, jika melaluinya mereka kehilangan rasa takut mereka kepada Allah. (Sumber: Martin Luther, Disputation of Doctor Martin Luther on the Power and Efficacy of Indulgences, 1517, Project Wittenberg, 2 July 2008).

ikutan yaa… :tongue:

bacanya sampai habis donk…

paling berbahaya jika melaluinya (yaitu indulgensi) mereka (orang2) kehilangan rasa takut kepada Allah.

it means indulgensi COULD cause people lost their fear of the Lord… :mad0261:

itu makanya dia menentang praktek indulgensi + perdagangan surat pengampunan dosa (purgatory)
coz itu akan membuat org gak lagi takut akan Allah…
coz itu akan membuat org mikir “ya beli aja itu surat, aman deh saya dari hukuman purgatory…”

itu makanya dia menentang praktek indulgensi + perdagangan surat pengampunan dosa (purgatory)

gimana sich bentuk surat “pengampunan dosa” ?

kira-kira seperti ini bro ,

Matius 16
16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Nah itu dia yang salah bro, mereka dan termasuk bro menganggap bahwa ajaran Paus, Luther dkk sudah sempurna.
apalagi salah satu contohnya mengatakan Maria tetap perawan.

apakah saat ini masih ada di dalam Katolik yang menjual surat pengampuna dosa??
sudah tidak ada kan.
karena itu memang tidak benar.
berarti ajaran yang mengatakan bahwa Paus benar 100% adalah salah.
karena penjualan surat pengampunan dosa itu dari perintah Paus kan??
namun sekarang penjualan surat pengampunan dosa itu sudah tidak ada di dalam Katolik.

memang nya paus yg menjual surat indulgensi itu ???

kaga nambah-nambah pengetahuan-nya bro!!! :slight_smile: :cheesy: