JANGAN BAYAR PERPULUHAN

awal gw baca buku/e-book ini, gw bingung banget…
…soalnya judulnya aj udah kayak gitu,

mungkin teman teman berniat membaca,

silahkan donwload di sini:

sebelumnya gw minta maaf kalau salah tempat posting/tolong beri pencerahan tempat yang cocok untuk post ini…
soalnya bingung mau taruh di mana pos yang kayak gini…

kalau kurang berkenan,tolong posting yang ini d hapus aj ya :happy0025: :happy0025: :happy0025:

Mungken bro Jhend bisa memaparkan sedikit dengan beberapa kalimat ajah apa isi dari situs dimaksud, khususnya alasan mengapa jangan bayar perpuluhan.

Lebih enak rasanya diberi kata pengantar barang 2 ato 3 kalimat yang kemudian dilanjutkan dengan pencantuman sumber tulisan.

Idem sama dengan di atas… ^____^
Lagi malas baca yang panjang2 dengan isi yang BAGI SAYA sudah pasti salah.

Beritau saja dasar2 utama sehingga ada yang menyarankan demikian. Peace…

Iya neh kasih tahu sedikit intinya…apa?

sdr jhend jng bingung,kan ada firmanya ttg itu.taat aja.perpuluhan gakan buat kita miskin justru itu adlh jalan mnuju kmakmuran krn kita akan dijauhkan dr blalang plahap dan kita akan smakin diberkati.ingat hukum tabur tuai apa yg kita tabur itu yg kita tuai.tabur kebaikan tuai kebaikan , Tabur
kekayaan tuai kekayaan…ocee…

ayo… ayo… TS tolong klarifikasi maksud topik ini…

Saya sudah baca e-booknya, maksudnya kita jangan bayar perpuluhan, tetapi kembalikanlah 10% milik TUHAN itu kepada-Nya. Kalau disebutnya “bayar” berarti itu uang 10% itu milik kita, tetapi ternyata bukan khan. 10% itu milik TUHAN.

berhubung menurut saya banyak yang dengan salah kaprah mengartikan perpuluhan harus diserahkan ke gereja, saya ingin bertanya, kemana sebenarnya perpuluhan, yang adalah milik Tuhan, harus diserahkan?

bukan hanya sekali saya mendapat teguran dari gereja karena saya tidak “membayar perpuluhan”. sementara mereka tidak mengetahui kalau saya mengembalikan kepadaNya lebih dari 10% penghasilan yang Tuhan berikan pada saya, dengan cara memberikannya langsung pada yang membutuhkan (saya lakukan secara anonim) : kawan yang saya tahu jelas membutuhkannya, orang-orang miskin seperti pengemis dan pemulung, atau badan sosial.

bahkan saya pernah mencoba mengungkapkannya pada sebuah gereja dimana saya sempat hadir di kebaktian mingguannya selama beberapa bulan, dan jawaban yang saya terima adalah “tidak boleh, perpuluhan harus diserahkan ke gereja. sedekah silakan langsung ke yang membutuhkan, tapi perpuluhan adalah hak gereja”.

apakah yang saya lakukan salah? atau mereka yang salah kaprah?

Mungkin tergantung kebijakan gerejanya.

Saya pernah pernah bertanya kepada salah seorang pater paroki (saya Katolik) tentang hal yang mirip anda lakukan, beliau cuma menjawab:“ Tuhan mempunyai ‘‘2 sisi kehidupan’’:
Kehidupan sisi I:

  • Tuhan yang mahakaya hingga setiap detik manusia mengemis kepadaNya, mulai dari yang paling ringan hingga yang susah.

Kehidupan sisi II:

  • Tuhan yang mahamiskin hingga ‘‘jika kamu melakukan yang terbaik bagi saudaramu yang hina ini kau lakukan untukKU’’

Jika kamu hendak menyumbang (kolekte/perpuluhan), kamu hendak menyumbang Tuhan yang mana ?’’

make sense…
jadi kesimpulannya, apakah seharusnya dua-duanya atau salah satu tidak masalah selama tetap mengembalikan perpuluhan pada Tuhan?

Kalau mampu keduanya bisa dilakukan, tapi kalau sekiranya kurang mampu menurut saya pribadi apa yang sudah anda lakukan sudah benar.

Tambahan kata-kata dari pastor itu:
‘‘Jika kamu menyumbang kolekte jangan berpikir seperti orang berdagang yang memandang Tuhan berjualan karunia/berkat
sebab sering berakhir dengan
kekecewaan karena orang berdagang mau tidak mau akan menggunakan time-base untuk melihat hasil keuntungan berdagang.’’ Itu saja nasihat dari dia buat saya.

OK, thanks atas jawabannya. saya akan coba lakukan dua-duanya.

@silly: wajar saja jika gereja ingin jemaatnya membayar perpuluhan hanya kepada mereka, karena sumber pendapatan gereja adalah dari sumbangan jemaat, termasuk dari perpuluhan.

kalau pendapatan gereja berkurang, dari mana mereka bisa dapat pendapatan, masa suruh pendeta dan pengerja kerja cari duit di tempat kerja.