Jemaat Gereja Memberi Persembahan di Gunung Kidul

Kemarin (12/6) Gereja Kristen Jawa Wonosari mempersembahkan persembahan mereka di Gunung Kidul, tentu saja bukan kepada ilah lain tapi mereka melakukannya dalam rangka merayakan Pentakosta dengan tradisi tahunan keagamaan yang dinamakan ‘Persembahan Undhuh-Undhuh”.

Acara ini dimulai dengan mengarak hasil bumi dan beragam persembahan yang diikuti oleh ribuan jemaat. Sambil diarak, diiringi juga sejumlah kesenian tradisional. Banyaknya persembahan undhuh-undhuh yang diarak yang di antaranya pisang, kacang, jagung, ketela, unggas, dan persembahan lain membuat jemaat harus menggunakan mobil bak terbuka untuk mengangkut barang-barang tersebut. Jemaat secara sukarela berjalan kaki hingga 3 kilometer dan bahkan tidak ada raut muka lelah. Hal ini tentu saja menarik perhatian masyarakat sekitar.

Menurut Pendeta GKJ Wonosari Dwi Wahyu Prasetyo, tradisi tahunan ini merupakan rangkaian dari perayaan Hari Besar Pentakosta atau hari turunnya Roh Kudus. “Persembahan undhuh-undhuh merupakan simbol ungkapan syukur jemaat kepada Tuhan atas segala berkat yang diterima. Melalui perayaan ini, diharapkan jemaat akan semakin memahami bagaimana seharusnya jemaat mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan,” kata Dwi Wahyu.

Selanjutnya, persembahan yang sudah terkumpul tersebut, dilelang kepada jemaat. Lelang persembahan undhuh-undhuh ini mendapatkan perhatian yang besar dari jemaat. Mereka rela membeli makanan yang murah dengan harga tinggi. Cermin hias, misalnya. Dilelang dari harga Rp 10.000 terlelang dengan harga Rp 200.000, sementara itu buah pisang dibuka dengan harga dasar Rp 45.000 berhasil laku Rp 150.000. Menurut Dwi, seluruh hasil lelang akan dipersembahkan kepada gereja untuk kegiatan jemaat.

Jemaat tidak hanya rela mempersembahkan benda-benda yang dipersembahkan, mereka juga rela berjalan kaki, berjerih lelah mengikuti perayaan ini dan mungkin ambil bagian dalam membuat acara berjalan lancar, mereka bahkan rela membeli suatu barang dengan harga yang tinggi. Semua itu tentu datangnya dari hati untuk Tuhan. Terkadang, kita merasa kita sudah cukup banyak memberi untuk Tuhan, tapi sesungguhnya pemberian itu bukanlah apa-apa, karena yang Tuhan berikan kepada kita jauh lebih besar. Marilah kita dengan rendah hati datang kepada Tuhan dan berkata, “Semua yang kulakukan, akan kupersembahkan yang terbaik untuk-Mu, Tuhan.”

Source : kompas/lh3

Ajaran kristen tertentu sering mengadopsi adat istiadat/kepercayaan/ kebudayaan setsmpat Apalagi di zaman PL waktu dimulainya zaman monotheisme menggantikan paham polytheisme