Jiwa Sabahat Yang Membuahkan Keluarga

Lelaki itu telah berkeluarga saat usianya 24 tahun, Saat menginjak umur 21 tahun ia telah akbrab dengan seorang kristiani selama kuliah dijakarta. “STIS jakarta” namanya, ia adalah seorang muslim yang taat. Waktu itu semester terakhir ia ingin persahabatannya menjadi semakin erat kelak ketika ia sudah bekerja hingga umur paruh baya. Maklum ia seorang muslim, yang mana seorang muslim dengan orang kristen dipisahkan oleh tata ibadah dan ajaran masing-masing agama. “Pangestu” itulah namanya, sejak lahir ia dibesarkan oleh keluarga muslim layaknya muslim yang lain. Ketika belajar dibangku SMP ia telah berkenalan dengan orang kristiani bahkan ia ingat selalu namanya “Lady dan Febe”. ketika dibangku SMA ia pun mempunyai temen dekat kristiani, sebut namanya “Oktova Darmawan”, temen SMA itu selalu jadi temen deketnya tiapa hari, hingga pas waktu ujian saling contek-contekkan. Nah ketika masa kuliah temen kristiani yang namanya “Yohanes” selalu ia ingat ketika ia sudah bekerja di Lembaga Pememrintah Non Departemen.
Kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Lumajang, disanalah lelaki itu bekerja dengan dikarunia seorang istri dan dua orang anak. Menginjak umur 26 Tahun ia merasa ada sesuatu yang merasuk dalam hati, pikiran dan jiwanya hingga ia tertarik pada kehidipan kristiani, hingga ia membayangkan andaikan ia suatu saat bisa akrab dengan orang-orang kristiani walaupun lain agama. Kekuatan itu semakin kuat pada jiwanya, hingga pada bulan januari 2009 ia punya niat untuk pindah agama karena keinginannya pribadi, maklum selama ini kekuatan itu selelu menyelimuti dirinya untuk mengenal lebih jauh tentang kristiani. Akhirnya berangkat dari niat yang kuat itu ia mulai mencari daftar telepon yang bisa ia hubungi dan alhasil ia dihubungkan oleh nomor telepon yang ada dipapan nama gereja kristen jawi wetan jemaat lumajang.
Dari nomor telepon itu ia dihubungkan kepada pihak gereja dan berkenalan dengan konsulen gereja bapak “Kurniawan” namaanya. Sejak itu ia mulai berkenalan dengan pihak gereja dan para jemaat disana. Pihak gereja mungkin terkejut, kok bisa-bisanya lelaki itu masuk gereja tanpa ada yang membawa. Dari perjumpaan dengan konsulen itu, kemudian lelaki itu “Pangestu” disuruh melihat-lihat peribadatan digereja. Jika lelaki itu tertarik silahkan dilanjutkan, akan tetapi jika tidak tertarik silahkan mundur. Sudah 6 bulan ia ikut kebaktian digereja, hampir tiap minggu ia hadir terus selama acara kebaktian. Tercatat hanya satu kali waktu tanggal 31 Mei 2009 ia tidak hadir karena terlambat. Selama ini Gereja Kristen Jawi wetan Jemaat Lumajang tidak punya Pendeta Baku(2 tahun, red), baru tanggal 16 Agustus 2009 ada pendeta baku. Maka saat-saat itulah yang dinanti lelaki itu, perjumpaan dengan pendeta baku berarti sudah dekat saat dirinya diterima sebagai anggota kelurga jemaat gereja kristen jawi wetan jemaat lumajang. Tanggal 1 september 2009, lelaki itu telah bertemu dengan Pendeta Baku Legal Hendriawan untuk membicarakan Katekisasi yang akan dilaksanakan beberapa waktu lagi.
Yang menarik dari kisah ini adalah Lelaki itu yang punya jiwa sahabat dengan kristiani akhirnya mau datang untuk lebih bersahabat dan berkeuarga dengan orang-orang kristiani. Persahabatan itu kini semakin dekat dengan kekeluargaan. Selamat Pangestu. “SUGENG PANGESTU” :slight_smile:

Memang perlu di teladani sahabat2 dari pangestu yang menginspirasikan “life style” kekristenan ke dalam hati nuraninya…ini juga memotivasi agar kita senantiasa menjadi pelaku firman yang hidup. mari belajar kasih dan mengasihi sebagai dasar life style kita juga. terimakasih …kesaksiaannya memotivasi dan menginspirasi.