Kakek 64 tahun Pilih Dipecat daripada Turunkan Salib

Sikap taat dan mulia diperlihatkan seorang kakek di Inggris yang berprofesi sebagai pegawai kelistrikan dalam mempertahankan iman keyakinannya. Kakek yang telah bekerja selama 15 tahun dipecat hanya karena memajang salib dalam mobil untuk menyambut Paskah.

Dilansir Dailymail, kakek ini bernama Colin Atkinson berumur 64 tahun ketika dirinya dipanggil pihak manajemen dan dinyatakan telah ‘melanggar’ kontrak. Colin dianggap tidak disiplin karena memajang simbol keagamaan di atas dashboard van perusahaannya. Hal ini ditegaskan oleh Denis Doody, Manajer senior Wakefield District Housing’s, perusahaan tempat Colin bekerja yang mengatakan bahwa Colin tidak bisa lagi bekerja karena dianggap telah membuat ketersinggungan rekan kerja lainnya.

Namun Colin menghadapi hal ini dengan tenang bahkan meminta untuk segera dipecat jika pihak kantornya menganggap dirinya melakukan perbuatan melanggar kedisiplinan. “Biarlah saya kehilangan pekerjaan sebagai konsekuensi dari semua ini. Dengan begini saya tidak memiliki kepahitan apa pun. Aku berdiri di atas apa yang aku yakini dan benar di mata Tuhan. ” kata Collin.

Berita inipun segera mengundang reaksi dukungan terhadap Colin. Salah satunya adalah Uskup Agung Canterbury, Lord Carey yang sedang berusaha memperjuangkan nasibnya. “Saya pikir ini adalah hal yang menarik. Orang ini memiliki hak untuk membela kepercayaannya. Ini jelas sangat penting bagi Colin untuk memiliki salib di kabin van-nya. Saya berharap bahwa bosnya melihat hal ini sebagai hal yang baik dan mengurungkan niatanya memecat Atkison,” ujar Lord Carey yang menegaskan bahwa simbol keagamaan adalah ekspresi iman seseorang dan bukan soal kedisiplinan kerja.

Source : DailyMail/DPT

kalau memang peraturan kerjanya seperti itu, kakek itulah yg salah.

betul bahwa simbol keagamaan adalah ekspresi iman, bukan soal kedisiplinan kerja, maka itu jangan tempatkan pada yg bukan tempatnya, apakah melawan aturan kerja adalah bentuk ekspresi iman yg benar?

Damai bagi semua.

Saya pikir, jilbab sedikit beda dengan pemajangan salib. Soalnya, jilbab itu dapat dikategorikan sebagai pakaian, meskipun sebenarnya adalah aksesoris saja. Sementara salib yang dipajang, sungguh merupakan ekspresi keimanan. Jadi, jilbab itu dapat diartikan sebagai aksesoris pakian, ato ekspresi keimanan. Singkatnya, ambivalen, gitu. Pada trit ini, saya sepakat dengan Catman pada reply#1. Tetapi memang memakai jilbab di suatu perusahaan dapat dipersalahkan jika aturan di perusahaan bersangkutan mengatur demikian.

Damai bagi semua.

mungkin sebaiknya dilihat dulu peraturan diperusahaan tersebut.
kalau memang ada larangan mengenakan ataupun memajang atribut keagamaan di area perusahaan ya harus diikuti kalau masih mau kerja disitu.

God bless KAkek Colin…
Sebuah tindakan nyata yang mencerminkan Iman,dari seorang yang dengan sungguh" meyakini akan apa yang menjadi keyakinan-nya.

“Burung pipit yang tidak menanam saja, masih dipelihara oleh Tuhan, apalagi kita yang adalah anak”-Nya, yang sangat berharga di mata-Nya"

benar sekali ^^