Kanon PL dalam Iman Kristiani

Kanon Perjanjian Lama sering dipertanyakan oleh beberapa orang kristen, karena mengacu pada pendapat beberapa tokoh gereja yang menunjuk pada kitab tertentu dalam Kanon Perjanjian Baru sebagai bagian terpenting dalam iman kristiani, dimana ada sementara orang Kristen yang menganggap Kitab Roma sebagai bagian yang lebih penting dibanding kitab-kitab lain dalam kanon, baik dalam kanon Perjanjian Baru maupun kanon Perjanjian Lama, karena menganggap bahwa surat rasul Paulus kepada jemaat Roma itu sudah mencakup keseluruhan pengajaran tentang iman kristiani, sehingga berpendapat bahwa seorang kristiani sudah cukup hanya berdasarkan padanya saja. Dan yang lain ada yang menganggap bahwa Injil Yohanes yang terpenting; tetapi ada juga yang menganggap Kitab Ibrani sebagai yang paling penting. Bahkan ada yang menganggap kanon perjanjian Lama tidak penting lagi, karena sudah digenapi oleh Yesus Kristus sehingga berpendapat bahwa kanon Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi, yang penting hanya kanon Perjanjian Baru saja.

Yusuf dihadapkan Firaun
Dengan adanya silang pendapat seperti di atas itu maka terjadi kerancuan pemahaman tentang pentingnya kanon perjanjian Lama diantara jemaat Kristen sendiri. Hal yang demikian sering ditemukan pada tulisan-tulisan dan forum kristen di media-sosial, jadi bagaimana posisi kanon Perjanjian Lama yang benar dalam iman kristisni yang seharusnya dimengerti oleh orang kristen, agar dapat memberikan manfaat bagi pertumbuhan iman kristiani, baik bagi setiap pribadi kristiani secara khusus, maupun bagi jemaat Kristen pada umumnya.

Apabila seorang Kristen secara sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus Kristus, maka sebenar-benarnya ia akan mengetahui bagaimana seharusnya memposisikan kanon Perjanjian Lama dalam kaitannya dengan iman kristiani. Hal ini dimungkinkan karena ia mendapat bimbingan Roh Kudus, yang memberinya hikmat dan memimpinnya untuk mengerti dengan benar bagaimana seharusnya menempatkan kanon Perjanjian Lama. Ia akan disertaiNya , dibimbingNya, dihiburNya, ditegurNya, dan dikuatkanNya di dalam menjalani hidupnya selama mengikut Tuhan, sehingga ia dimampukan melakukan segala sesuatu sesuai dengan yang firmanNya (Yoh.14:25-26).

Yoh.14:15-31 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu . Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku.Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”

Seorang Kristiani tidak akan dapat mengerti dengan benar bagaimana menempatkan posisi kanon Perjanjian Lama apabila ia memahaminya dengan mengandalkan akalnya sendiri, kepintarannya sendiri, atau pendapatnya sendiri. Tetapi ia akan dengan mudah mengerti dan memahaminya, apabila ia menggunakan iman dan mau berusaha melakukan kehendak Tuhan Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh; dengan sepenuh hati, dengan segenap kekuatannya, dan dengan segala kemampuannya.

Dengan sepenuh hati berarti ia mau melakukannya tidak dengan ragu-ragu, tidak dengan terpaksa, dan tidak dengan pamrih mendapatkan imbalan yang diinginkannya. Dengan segenap kekuatannya berarti ia berusaha dengan maksimal sampai batas terakhir yang bisa dilakukannya. Sedangkan dengan segala kemampuannya berarti ia menggunakan segala yang ada pada dirinya untuk dapat melakukan kehendak Tuhan Yesus Kristus, dengan segala yang dimilikinya, yang ada pada dirinya baik materiil (misalnya barang, uang, atau kepemilikannya terhadap segala sesuatu) maupun yang immateriil (misalnya keahliannya, kepandaiannya, waktunya, dan seluruh hidupnya). Yang demikian ini sebenarnya bukan hal baru, karena semua itu telah dilakukan dan dialami oleh orang-orang beriman yang diceritakan dalam kanon Perjanjian Lama, hal ini juga telah dikatakan oleh Yesus Kristus pada khotbah Nya di atas bukit kepada murid-murid dalam Injil Matius.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. "(Mat.5:11-12)

Sebagai contoh untuk menerangkan hal yang berkaitan dengan itu adalah cerita tentang Yusuf dalam kitab Kejadian (sebagai pelajaran, refleksi diri dan hikmah serta perenungan atau introspeksi diri bagi orang beriman pada masa sekarang), dimana Yusuf sebagai seorang anak-muda yang masih remaja ternyata telah mampu memilih yang terbaik, dengan merespon firman TUHAN itu dan hidup menurut kehendakNya. Tindakan Yusuf ini sesuai dengan perkataan Yesus kristus: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. " (Mat.6:19-24)

Kesimpulan demikian diambil berdasarkan pengalaman Yusuf, seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian, yang menceritakan pengalaman rohaninya kepada saudara-saudaranya dan kepada Yakub bapanya; ketika pertama kalinya TUHAN berfirman kepadanya melalui mimpi tentang berkas gandum saudara-saudaranya yang sujud pada berkas gandumnya; dan yang ke dua mimpi tentang matahari, bulan dan sebelas bintang yang bersujud kepadanya; oleh karena itu ia kemudian dibenci oleh saudara-saudaranya yang kemudian bertindak lebih lanjut dengan melakukan tipu daya dan menjualnya sebagai budak; tetapi kemudian TUHAN mengirim Potifar seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja yang membelinya dan kemudian menjadikannya kepala dalam rumah tangganya dan memberinya kuasa atas rumah dan segala miliknya; tetapi kemudian difitnah oleh istri Potifar yang terpikat oleh ketampanannya dan berakhir di penjara, karena tidak mau menuruti kehendak wanita itu untuk berzinah dengannya; di dalam penjara ia menafsirkan arti mimpi dua orang pegawai istana raja, yaitu: juru minuman dan juru roti raja Mesir, yang dipenjara karena melakukan kesalahan; oleh karena kemampuannya itu pada suatu saat ia dipanggil ke istana untuk menafsirkan arti mimpi Firaun, yang kemudian berakhir dengan penunjukkan oleh Firaun yang menjadikan dirinya sebagai seorang penjabat yang berkuasa penuh di Mesir, yang kekuasaannya hanya di bawah Firaun saja. (Kej.37-50)

Bila merenungkan cerita tentang Yusuf itu, dari mulai remaja sampai usia tiga puluh tahun ketika ia diangkat menjadi penguasa di Mesir , ia harus mengalami banyak kesulitan dan penderitaan yang tidak sedikit dan tidak ringan dalam waktu yang lama (tidak kurang dari dua belas tahun lamanya). Tetapi dalam menjalani kesulitan dan penderitaannya itu, ia tidak pernah melupakan TUHANnya dan menjalaninya dengan tabah, oleh karena itu ia mengalami pertumbuhan iman yang baik dan menghasilkan buah iman, yaitu karakter yang diinginkan Allah, yang tercermin dari perkataannya ketika ia menghibur saudara-saudaranya, setelah Yakub meninggal dunia (Kej.50:15-21).

Kej.50:15-21 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya. " Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu. " Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu. " Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Perkataan Yusuf itu menunjukkan imannya yang telah mencapai dewasa, dan dapat disimpulkan menjadi tiga karakter yang dikehendaki Allah, yaitu:

  1. Rendah hati

Yusuf dikatakan sebagai seorang yang rendah hati tercermin dari pernyataannya kepada saudara-saudaranya, katanya: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?”. Karena dengan kalimat itu ia yang biarpun sudah mencapai puncak kesuksesannya, sebagai seorang yang mempunyai kuasa sangat besar di Mesir, ia tidak menjadi lupa diri, tidak menjadi sombong, dan tidak menjadi gila hormat; melainkan tetap mengingat bahwa ia sebenarnya hanya seorang hamba saja, yang harus meninggikan Allah saja. Hal ini sesuai dengan yang diajarkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan “Tuan dan hamba” dalam Injil Lukas.(Luk. 17:7-10)

Luk. 17:7-10 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. "

  1. Mau memaafkan orang yang bersalah dan berbuat jahat kepadanya.

Perkataan Yusuf selanjutnya: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” mencerminkan kesadarannya sebagai hamba TUHAN yang digunakan sebagai alat Nya untuk memelihara suatu bangsa yang diinginkan TUHAN, yaitu Israel. Karenanya ia bisa menerima semua kesulitan dan penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun dengan rela dan tidak mendendam kepada orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Hal ini sesuai dengan yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus kepada murid-muridnya tentang Hukum Taurat dalam Injil (Mat.5: 17-48).

Mat.5: 17-48 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu:

Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah , ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.

  1. Membalas kejahatan dengan kebaikan.

Kalimat terakhir yang dikatakan Yusuf : “Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” ini mencerminkan kemurnian, ketulusan, kesucian dan kebesaran hatinya serta cara pandang yang benar tentang hidup. Tindakan yang demikian hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah mengalami pendewasaan iman, yang merupakan hasil pendidikan yang dilakukan TUHAN kepadanya dengan melalui banyak kesulitan dan banyak penderitaan yang berlangsung lama; sebagaimana yang dikatakan Tuhan Yesus Kristus kepada jemaat di Laodikia dalam wahyu kepada rasul Yohanes di pulau Patmos (Why.3:14-22).

Why.3:14-22 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat .”

Dari semua uraian diatas maka cerita-cerita dalam kanon Perjanjian Lama menjadi satu cerita pendidikan yang berguna bagi orang kristen sebagai pelajaran, teladan, dan hikmat di dalam hidupnya sehingga ia tidak sampai jatuh terkapar dalam dosa, baik pada saat ia sedang mengalami kesulitan dan menderita, maupun pada saat ia dalam keadaan yang senang dan bahagia. Karena pada kedua keadaan itu manusia dapat saja jatuh ke dalam dosa, apabila tidak berpegang kuat pada imannya.
Oleh karena itu kanon Perjanjian Lama mempunyai posisi yang sama penting dengan kanon Perjanjian Baru, dan semua kitab dalam kanon Alkitab merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan menjadi buku panduan hidup rohani bagi orang yang beriman kepada Tuhan Yesus, dalam usahanya mengikuti jalan Tuhan yang sesak dan sempit itu (Mat.7:12-14). Hal ini sesuai dengan ajakan Tuhan Yesus kepada semua orang untuk datang dan belajar kepadaNya, supaya mendapat kebahagiaan bersama Nya dalam Kerajaan Sorga. (Mat.11:25-29)

Mat.7:12-14. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

Mat.11:25-29. Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan. "

jika anda menghapus untuk mengimani perjanjian lama, anda tidak mengenali betapa Besarnya Kristus…

maka banyak pengikut2 Kristen sering bertanya, dan mengambil kesimpulan: Bahwa Yesus itu hanya seorang nabi, atau suruhan saja… lalu mereka kecewa dan menolak Dia.

Orang Farisi, dan Ahli taurat berkata: Abraham Bapa kami, adakah Engkau (Yesus) lebih besar dari Bapa kami Abraham? mereka (AHLI TAURAT) mengenali BETAPA DASYATNYA IMAN ABRAHAM BAGI YAHUDI…

Betul sekali Yesus sangat jauh2 sekali lebih besar dari Abraham, (sesuai konteks manusia bertemu dengan manusia Yesus), sehingga Yesus menyebut: Abraham akan bersuka cita melihat hari nya Yesus.

Saat anda tidak mengenali Ayub, Elia, Abraham, Ishak Yakub, salomo dan banyak lagi tokoh2 di perjanjian lama, anda akan kehilangan rantai yang sebenarnya, betapa Dasyat Yesus…

dan Ia hanya utusan bagi sebagain kalangan…