Kapolri: Rumah Jangan Jadi Tempat Ibadah

Kalau Rumah tidak boleh jadi tempat ibadah, jalanan juga jangan jadi tempat ibadah.
Maka tidak boleh ada di hari raya Idul Fitri dan hari Jumat yang blokir jalan untuk ibadah di jalan raya :ashamed0004:

Ibadah = komunikasi dengan Tuhan. Berdoa di dalam rumah berarti adalah ibadah.
Apa hak Kapolri melarang orang beribadah ? :mad0261:

Senin, 02 Juni 2014 | 18:54 Soal Penyerangan di Yogyakarta, Kapolri: Rumah Jangan Jadi Tempat Ibadah

Jakarta - Kapolri Jenderal Sutarman angkat suara terkait dua kasus bernuansa SARA yang terjadi di Yogyakarta pada Kamis (29/5) dan Minggu (31/5).

Yakni kasus pembubararan dan penganiayaan jemaat Katolik yang terjadi di Kompleks Perumahan STIE YKPN, Ngaglik, Sleman dan kasus perusakan bangunan di Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman yang dipakai umat Kristen untuk menjalankan kebaktian.

“Pelakunya tentu harus ditangkap. Satu kejadian (di YKPN) satu pelakunya sudah ditangkap. Untuk mencegah kejadian serupa saya menghimbau agar rumah tidak digunakan sebagai tempat ibadah. Pengawasannya sulit,” kata Sutarman pada Beritasatu.com Senin (2/6).

Kalau rumah tidak boleh dibuat ibadah bagaimana dengan mayoritas di masyarakat muslim yang menggelar pengajian dirumah-rumah?

Sutarman menjawab,“Yang saya maksud rumah tidak boleh dijadikan tempat ibadah itu adalah jika rumah berfungsi sebagai tempat ibadah rutin. Seperti misalnya salat jumat rutin, kebaktian rutin, itu yang tidak boleh.”

Seperti diberitakan, Yogyakarta dengan semboyannya “Yogya Berhati Nyaman” itu dirudung aksi kekerasan beruntun.

Yang terjadi pada Minggu (1/6) siang adalah saat puluhan orang merusak sebuah bangunan di Dusun Pangukan yang dipakai sejumlah umat Kristen untuk menjalankan kebaktian.

Bangunan yang dirusak itu milik seorang pendeta. Kejadian itu bermula saat pendeta dan sejumlah jemaahnya menjalankan ibadah di bangunan itu namun setengah jam kemudian belasan warga datang untuk memprotes kegiatan itu.

Warga protes karena mengklaim bangunan itu tidak mendapat izin sebagai gereja dan sejak tahun 2012 bangunan itu telah disegel oleh Pemerintah Kabupaten Sleman.

Tapi protes massa ini berujung kekerasan saat massa yang mengenakan kain penutup wajah itu melempari bangunan tersebut. Mereka juga memukuli bangunan itu dengan palu.

Anehnya puluhan polisi dan tentara yang berjaga tak berbuat banyak dan hanya berupaya mengimbau massa untuk menghentikan perusakan.

“Saya memerintahkan kasus itu juga ditindak penyerangnya,” tegas Sutarman.

Sebelumnya massa menerobos rumah Direktur Penerbitan Galang Press Julius Felicianus di YKPN saat para jemaat Katolik sedang menggelar Doa Rosario dalam rangka bulan suci Maria yang jatuh pada bulan Mei.

Julius yang saat itu sedang di kantor bergegas pulang namun setiba di rumah dia malah dianiyaya. Selain itu jemaat lain yang sedang berdoa juga dianiyaya.

Michael Ariawan, wartawan Kompas TV yang datang meliput juga tak luput dipukul oleh penyerang dan handycam miliknya dirampas.

Penulis: Farouk Arnaz/AF

Sumber : Berita Satu

Ya Tuhan, dunia ini semakin rusak oleh orang2 sesat. Masa seorang Kapolri berkomentar rumah jangan jadi tempat ibadah? Terang2an Kapolri menunjukkan dirinya memihak kepada para penjahat. Perbuatan mereka ini jahat, semua pihak seharusnya bersatu utk merehabilitasi kelakuan dan mental para pelaku kejahatan ini supaya bisa jadi orang baik. *** Saudara2, ini adalah tanda-tanda bahaya utk kalian, berdoa dan waspadalah dan selalu mohon petunjuk dari Tuhan Yesus Juruslamat kita. Para pejabat Pemerintah saja, uda terang-terangan buat komentar yg memihak pelaku kriminal. Benar2 di RI, orang2 Kristen uda tersudut…!!!

Sebetulnya prinsip yang benar dan hakiki adalah apapun makannnya , minumannya pasti tetep teh botol…!! Itu baru joos…!!
Nah…beranjak dari patokan seperti itu disitu , bahwa jelas sudah terjadi suatu kenyataan mutlak yang tidak dapat terbantahkan dan tidak dapat dipungkiri lagi dalam dunia nyata…saat itu di Gereja itu, di mana tidak pernah ada, para makhluk ciptaan Tuhan ( diluar kRISTEN ) yang datang membantu domba-domba yang di aniaya…OLEH PARA SRIGALA-SRIGALA BUAS…
Padahal banyak makhluk-makhluk ciptan Tuhan yang datang berseragam cokelat-cokelat…yang hanya melihat dan berbasa-basi…bahwa mereka datang untuk membuat suasana damai/tenang…namun malah menjadi saksi mata secara nyata menyaksikan kebrutalan para srigala-srigala buas menghancurkan properti milik orang…tanpa dicegah sama sekali.

Jika kemudian pemimpin makhluk Tuhan yang berbaju coklat itu memberi himbauan untuk tidak beribadah di dalam rumah atau rumah tidak boleh menjadi tempat ibadah…?? Wahh…itu diskriminatif sama sekali kepada umat Kristiani…
Padahal solat lima waktunya tetangga sebelah …kebanyakan dilakukan di dalam rumah loh…!!..begitu juga pengajian ibu-ibunya…
Jadi sebetulnya si JENDRAL polisi itu pinter apa gimana seh…?? bodoh…?? munafik…?? pandir…?? asbun…?? atau oon…??
Kasian ya yang mau beribadah saja di musuhi…?? ya…ini tangguing jawab KAPOLRI…!! jIKA TIDAK BISA MENUNTASKAN MASALAH INI MAKA LEBIH BAIK COPOT SAJA JABATAN KAPOLRINYA…!!Karena bodoh dan tidak becus mengurusi keamanan dan kedamaian Masyarakat. Iru namnya sudah menghianati sumpah jabatan…?? KALE…?? hehe…cmiiw,

Salam…

Polri: Tak Ada Larangan Beribadah di Rumah Jumat, 6 Juni 2014 | 19:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, Kapolri Jenderal Pol Sutarman tidak pernah melarang masyarakat untuk beribadah di rumah. Akan tetapi, kata Boy, rumah dilarang beralih fungsi menjadi rumah ibadah.

“Maksud Pak Kapolri itu bukan tidak boleh ibadah di rumah, tapi rumah yang dialihfungsikan. Kalau berdoa di rumah masing-masing, itu adalah hal yang sifatnya pribadi,” kata Boy di Mabes Polri, Jumat (6/6/2014).

Boy mengatakan, untuk mendirikan sebuah rumah ibadah, pemilik harus memenuhi ketentuan sesuai dengan aturan yang diatur di dalam surat keputusan bersama (SKB) dua menteri, yaitu Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Dengan demikian, kata Boy, tidak ada lagi penolakan dari masyarakat sekitar terhadap aktivitas ibadah yang dilakukan oleh suatu kelompok.

“(Persoalan di) rumah Pak Nico (Pendeta Nico Lomboan), sudah disegel oleh pengadilan. Jadi, sudah ada putusan pengadilan bahwa izin pemanfaatan tanah tidak disetujui karena tidak dipenuhinya syarat-syarat itu (SKB). Tetapi kemudian ada kegiatan itu, itu yang memancing reaksi masyarakat sekitar,” katanya.

Sebelumnya, Sutarman mengimbau agar rumah tidak digunakan sebagai tempat ibadah dengan alasan pengawasan sulit. Dia mengatakan hal itu saat ditanya soal penegakan hukum terkait penyerangan rumah Direktur Penerbitan Galang Press Julius Felicianus oleh sekelompok orang, Kamis (29/5/2014) malam. Penyerangan terjadi ketika rumah tersebut dipakai untuk ibadat doa rosario.

Kalau jadi minoritas harusnya nyadar dan mawas diri. Sudah ada tanda2 penolakan dan indikasi masalah masih aja memaksakan idealismenya. Ada banyak cara dan jalan untuk tetap bisa beribadah, tanpa harus memicu potensi konflik sosial.
.
Ketidak adilan kehidupan beragama di indonesia masih dalam kerangka toleransi. Jadi ya jangan terus2an menuntut idealisme kelompok dan selalu cari penyakit.

Nope.

Untuk larangan ‘rumah dijadikan rumah ibadah’ bisa diterima.
Tetapi, beribadah di rumah, entah doa lingkungan, doa rosario, komsel, seharusnya tidak boleh dilarang.
Siapapun yang melarang dan mengganggu harus dilawan secara hukum.

:coolsmiley:

Apakah pernah terjadi kasus seperti? Atau sudah mendekati kasus seperti itu? Patut di waspadai!

Lhoh, yang anda baca tentang peyerbuan bos Galang Press itu apa ya?

:wink:

Menurut saya ibadat doa rosario Katolik, atau kebaktian rumah tangga/komsel di Protestan biasanya tidak hanya di satu tempat/rumah terus menerus, tetapi bergiliran. Kira2 mirip dengan pengajian di kalangan muslim. Itu tidak bertentangan dengan hukum dan tidak perlu ijin khusus. Tentu saja dengan batasan tidak mengganggu ketertiban umum seperti membuat suara gaduh dan bising, atau parkir kendaraan yang mengganggu kelancaran lalu-lintas.

Nah betul, dan karena nyanyian yag dikumandangkan juga lagu-lagu rohani tanpa pengeras suara, jelas suaranya tidak terdengar hingga ke luar ruangan. Jadi apa yang mengganggu? Kendaraan juga bisa dipastikan cuma sedikit, karena lingkungan sendiri, para peserta cenderung jalan kaki karena biasanya tetangga, kalaupun ada yang bawa kendaraan parkirnya juga di carport dan lingkungan sendiri. Tidak ada faktor mengganggu lingkungan sama sekali.

Maka, kalaupun mereka merasa terganggu, itu lebih bersifat kebencian yang tertanam.

Nyanyi nya diam2 saja, terus datang nya pas malam jadi hordeng bisa ditutup or something kaya di negara2 komunis.

Btw, apakah yg pak kapolri bilang tertulis dalam UUD / apa aja selama Indonesia / federal state law

Setahu saya di Cilegon ada aturan tidak boleh bangun gereja atau rumah ibadah non-muslim. Karenanya, umat Kristen yang mau beribadah harus pergi ke Serang setiap Minggu. Kabarnya, ada beberapa kelompok Kristen yang mengadakan kebaktian di rumah, secara diam-diam.

Saya dulu pernah berkunjung ke suatu gereja di Makassar, saya heran kenapa banyak jemaatnya yang gunakan peci dan sarung, saya kira itu kebiasaan jemaat gereja di desa itu. Tetapi setelah saya tanya seorang anggota gereja dan dia cerita, baru tau cerita sebenarnya. Mereka itu bekas orang-orang yang mencoba merobohkan gereja yang di bangun oleh tiga keluarga saja. Tiga kali mereka merobohkan gereja, yang ke tiga beberapa orang diantaranya kerubuhan dinding gereja dan mati, lainnya melarikan diri seperti ketakutan. Beberapa hari kemudian, sang pendeta dipanggil lurah karena ada wabah di desa itu, lurah bermimpi jika orang-orang yang merobohkan gereja itu di babtis, maka wabah itu akan berlalu dari desa tersebut. Saya sengaja tidak sebutkan gereja atau desanya demi kedamaian mereka, tetapi saya memiliki foto dan video ketika berkunjung ke gereja tsb.https://forumkristen.com/Smileys/smilies_smf/smiley.gif

Ane doain kapolri-nya ketemu sama Isa Almasih. Minimal dalam mimpilah. Amin.